
Sebelum ke kantornya, Bryan mengantarkan Shea ke kantor terlebih dahulu. Runtinitas mengantar Shea adalah hal baru yang begitu menyenangkan bagi Bryan. Karena dirinya bisa menghabiskan waktu dengan Shea, dan mencuri-curi pandang untuk melihat wajah cantik Shea.
Mata Bryan yang sedang melihat jalanan di hadapannya, sesekali melirik Shea. Bryan melihat dengan jelas, wajah cantik Shea pagi ini tampak lebih segar. Bryan berpikir, mungkin wajah Shea segar karena pagi ini Shea tidak muntah.
"Ceritakan tentang dirimu padaku?" Suara bass milik Bryan terdengar di keheningan perjalanan mereka ke kantor.
Shea yang mendengar suara Bryan menoleh. "Apa yang ingin kamu tahu?"
"Semuanya, seperti apa masa kecilmu, seperti apa orang tua, yang jelas semua tentangmu." Bryan menjelaskan pada Shea yang ingin dia tahu dari Shea.
Mendengar apa yang ingin Bryan tahu, Shea langsung memikirkan apa yang akan dia ceritakan pada Bryan. "Aku anak tunggal," ucap Shea mulai bercerita. "Ayah dan ibuku meninggal dua tahu lalu," lanjut Shea.
Saat menceritakan ayah dan ibunya, suara Shea sedikit bergetar. Mengingat kedua orang tuanya, Shea begitu merasa merindukan mereka.
Bryan yang menyadari akan hal itu pun menoleh pada Shea. Mata Bryan menangkap kesedihan yang tergambar dari sorot mata Shea.
Aku sibuk dengan keegoisanku, hingga tidak sadar jika tidak memiliki orang tua.
Bryan memutar ingatannya saat dimana hari pernikahannya tidak melihat orang tua Shea. Tidak ada wali dari pihak Shea, hingga akhirnya Regan lah yang mengantikannya.
"Maaf aku mengingatkanmu." Bryan saat Shea terlihat sedih saat mengingat orang tuanya.
"Tidak apa-apa," ucap Shea dengan senyuman kecil di ujung bibirnya.
"Kamu bisa menganggap mama dan papa sebagai orang tuamu, jadi kamu tidak akan merasa sendiri." Bryan dengan semangat berkata pada Shea.
"Iya, aku akan menganggap mereka orang tuaku." Shea bersyukur karena kedua orang tua Bryan begitu menyayanginya, dan menganggapkanya anak juga.
Tapi wajah ceria Shea menyurut saat mengingat jika kebahagiaan itu hanya akan dia rasakan sesaat. Karena setelah dirinya berpisah dengan Bryan, pasti semua akan berubah.
"Kenapa?" tanya Bryan. Bryan yang melihat wajah Shea, menyadari jika Shea sedang memikirkan sesuatu.
"Jika kita berpisah, pasti mereka juga akan berubah padaku, mengingat aku bukan menantunya lagi." Kalimat itu keluar dari mulut Shea, saat mendapat pertanyaan dari Bryan.
Bryan yang mendengar kata 'perpisahan', langsung menepikan mobilnya. Bryan benar-benar tidak menyangka Shea akan membahas perpisahan, disaat dirinya sedang berjuang mendapatkan cinta Shea.
Shea yang menyadari jika mobil Bryan berhenti langsung bertanya. "Kenapa berhenti?" Shea menatap Bryan.
"Kenapa di saat aku sedang berjuang untuk membuatmu jatuh cinta, dirimu membahas perpisahan?" Bryan malah balik bertanya pada Shea. Rasanya hati Bryan sakit sekali saat Shea membahas perpisahannya. Bryan menyadari, jika perpisahan itu terjadi karena dirinya sendiri. Karena perjanjian yang di buat Bryan sendiri, perpisahan itu akan terjadi.
"Bryan, bukan maksudku seperti itu." Shea yang menyadari jika kata-katanya membuat Bryan sedih mencoba menjelaskan.
"Se, jika aku berusaha membuatmu mencintaiku, tanpa kamu juga berusaha mencintaiku, semua akan sia-sia pada akhirnya." Rasanya Bryan berat sekali saat Shea belum berusaha membuka hatinya. Sebenarnya Bryan menyadari, jika tidak mudah bagi Shea membuka hati, mengingat apa yang sudah di lakukannya. Tapi Bryan merasa sudah kalah sebelum dirinya berjuang.
Shea terkesiap mendengar ucapan Bryan. Shea membenarkan ucapan Bryan, jika semuanya akan sia-sia saat dirinya tidak berusaha mencintai Bryan.
"Sudah lupakan," ucap Bryan. Bryan tidak mau melanjutkan membahas kembali masalah Shea yang tidak mau berusaha. Bryan sadar diri, jika sekarang hanya dirinya lah yang mencintai, dan wajar jika Shea berpikir tentang berpisahan.
Melajukan mobilnya kembali, Bryan menuju ke kantor Shea.
Shea hanya diam membeku saat Bryan memilih mengalihkan pembicaraan sebelum dirinya menjawab. Mata Shea sesekali melirik pada Bryan, melihat reaksi apa yang di tunjukan oleh Bryan, dan Shea melihat jelas, jika Bryan diam saja.
Sampai tiba di kantor Shea, Bryan memilih untuk diam saja. Tidak ada obrolan setelah Bryan mempertanyakan seberapa besar usaha Shea.
"Kenapa belum turun?" Bryan yang melihat Shea masih diam dan tidak beranjak pun bertanya.
"Kiss my baby," ucap Shea lirih.
Mata Bryan membulat saat mendengar permintaan Shea. Bryan mengingat jika tadi pagi Shea melayangkan protes saat dirinya mencium perutnya. Tapi sekarang, Shea meminta sendiri untuk dirinya mencium perut Shea. Senyum pun tertarik di bibir Bryan. Satu hal yang Bryan sadari, dengan memberikan kesempatan untuknya, Shea belajar membuka hatinya.
Tanpa berlama-lama Bryan langsung mendaratkan satu kecupan di perut Shea. "Yang pinter ya, jangan buat mommy susah," ucap Bryan seraya membelai perut Shea setelah mendaratkan kecupan di perut Shea. Perasaan bahagia benar-benar melingkupi hati Bryan, saat mendapatkan kesempatan berharga ini.
Menegakkan tubuhnya, Bryan menatap Shea. "Apa boleh satu kecupan untuk mommy-nya," ucap Bryan.
Shea menatap tajam pada Bryan, saat mendengar permintaan Bryan. Shea tidak menyangka Bryan akan meminta hal itu pada Shea, di saat dirinya mengizinkan Bryan mencium perutnya.
__ADS_1
"Oke, jawabannya tidak." Melihat reaksi yang di tunjukan Shea, Bryan menyadari, jika Shea tidak mengizinkan. Memundurkan tubuhnya, Bryan menjauh dari Shea.
"Di pipi." Suara Shea terdengar lirih saat Bryan memundurkan tubuhnya.
Bryan yang sedang menjauhkan tubuhnya dari Shea, langsung menghentikan tubuhnya. Bryan mengerjap menyadarkan jika yang di dengarnya tidaklah salah. "Di pipi?" tanya Bryan memastikan.
Shea mendengus kesal saat Bryan bertanya kembali. Dirinya sangat malu saat Bryan memastiskan ucapannya. "Sebelum aku berubah pikiran," ancam Shea pada Bryan.
Tidak mau kehilangan kesempatan berharga, Bryan langusung memajukan tubuhnya. Mata Bryan melihat dengan jelas wajah mulus Shea, yang berada tepat di hadapannya. Seperti remaja yang baru pertama kali mencium kekasihnya, Bryan merasakan hal serupa. Jantungnya berdebar saat ingin mendaratkan bibirnya di pipi Shea. Tapi mengingat kesempatan tidak akan datang dua kali, Bryan dengan cepat mendaratkan bibirnya, memberikan satu kecupan di pipi Shea.
Bibir Bryan yang melekat di pipi Shea, merasakan kulit halus milik Shea. Aroma wangi kulit bercampur aroma bedak yang di pakai Shea pun terasa di indera penciuam Bryan. Bryan pun merasakan kehangatan di pipi Shea, yang tercipta karena pipi Shea yang mulai merona.
Melepaskan perlahan kecupannya di pipi Shea, Bryan meliat rona pipi di wajah Shea memerah. Bryan menyadari jika Shea sangat malu dengan apa yang sedang mereka kerjakan.
"Aku akan masuk, sampai ketemu makan siang," ucap Shea seraya membuka pintu. Shea yang merasa sangat malu, ingin segera menghindar dari Bryan. Shea tidak mau Bryan sampai tahu wajahnya yang memerah.
Menutup pintu mobilnya Shea menuju ke dalam kantor. Shea mengatur detak jantungnya yang berdebar begitu kencang. Walaupun sebenarnya tadi dirinya berdebar-debar saat bibir Bryan mendarat di pipinya, tapi Shea berusah tenang di hadapan Bryan.
Sebelum menuju ke ruanganya, Shea menuju ke toilet di lobby. Masuk ke dalam toilet, Shea melihat wajahnya di depan cermin. Rona merah masih tersisa di wajah putihnya, dan itu menandakan dirinya masih begitu merasa malu.
Memeganggi pipinya, Shea mengingat bagiamana rasanya bibir Bryan mendarat di pipinya. Shea masih merasakan dengan jelas, bibir Bryan yang menepel di pipinya. "Ich..." teriak Shea seraya menangkup kedua pippinya, saat membayangkan kembali kecupan Bryan. Shea benar-benar malu, saat mengingat kejadian tadi. Walapun Bryan pernah menciumnya dulu, tapi rasanya ini berbeda. Jika dulu Bryan memaksa, tapi kali ini Shea sendiri yang mengizinkan.
"Shea," panggil Chika yang melihat Shea di toilet.
Mendengar ada suara yang memanggil namanya, Shea menoleh. Saat menoleh Shea mendapati Chika sudah berdiri di sampingnya. "Chika." She kaget saat ada Chika yang sudah berdiri di sampingnya.
Mata Chika memperhatikan wajah Shea yang tampak berubah. Warna kulit Shea yang putih terlihat merona saat Chika melihatnya. "Kamu kenapa?" tanya Chika.
"Memang kenapa?" Shea yang bingung dengan pertanyaan Chika pun balik bertanya.
"Wajahmu memerah."
Shea yang mendengar ucapan Chika, langsung melihat wajahnya di cermin. Dari pantulan cermin, Shea memang melihat jika wajahnya yang menghangat, menciptakan rona merah di pipinya.
Dahi Shea berkerut dalam saat mendapatkan pertanyaan dari Chika. "Tidak," elak Shea.
Mata Chika menelisik ke dalam kedua bola mata Shea, mencari kebenaran atas elakan Shea. "Lalu kenapa pipimu merona?" Chika menaikan sedikit dagunya saat bertanya.
Shea yang di tanya kenapa rona merah di pipinya bisa tercipta, menjadi salah tingkah. Shea benar-benar bingung mau menjawab apa pertanyaan Chika. "Tadi aku hanya malu karena..." Shea memikirkan alasan apa yang tepat di berikannya pada Chika.
"Karena apa?" Chika begitu penasaran saat Shea menghentikan ucapannya.
"Sudah lupakan," ucap Shea mengalihkan pembicaraan. "Kamu kenapa disini?" tanya Shea melanjutkan ucapanya.
Chika mendengus kesal saat Shea mengalihkan pembicaraan. Tapi kekesalan Chika beralih saat mengingat untuk apa dirinya ke toilet. "Tadi aku melihatmu masuk toilet dan aku menyusulmu."
"Apa kamu merindukan aku?" tanya Shea mengoda Chika.
"Iya, aku rindu jalan-jalan denganmu," ucap Chika. "Semenjak menikah, kamu sibuk sekali sepertinya," sindir Chika.
Shea menyadari jika selama ini dirinya dan Chika hanya bisa berbincang lewat pesan singkat saja, karena saat di kantor Shea jarang sekali melihat Chika. Biasanya Shea akan bertemu saat pulang kerja, karena mereka akan pulang bersama. Tapi semenjak Shea pulang dan pergi bersama Bryan, Shea jarang bertemu Chika.
"Baiklah, kita atur kapan kita jalan." Akhirnya Shea pun mengajak Chika untuk pergi bersama.
"Bagaimana kalau pulang kerja, sekalian kita cari dress untuk ke acara pesta ulang tahun perusahaan," ucap Chika semangat.
Saat Chika membahas ulang tahu perusahaan, Shea baru ingat jika perusahaan tempatnya berkerja akan mengadakan ulang tahun. "Baiklah." Shea pun menerima tawaran Chika.
***
Bryan yang langsung menuju ke kantornya, terus mengembangkan senyuman di wajahnya. Hati Bryan, benar-benar merasakan bahagia, saat dirinya mencium Shea.
Sampai di kantor pun wajah dengan hiasan senyum terus di pasang oleh Bryan. Semua karyawan pun merasa sangat heran melihat CEO mereka yang begitu terlihat bahagia.
Masuk ke ruangan kerjanya, Bryan mendudukkan tubuhnya di kursi. Pikiran Bryan masih melayang membayangkan ciuman yang dia berikan pada Shea.
__ADS_1
Sampai saat terdengar suara ketukan pintu, dan membuat Bryan menghentikan pikirannya yang mengingat kembali kejadian pagi ini.
"Masuk!" seru Bryan.
Membuka pintu setelah terdengar suara Bryan, Felix masuk ke dalam ruangan Bryan. Felix meletakkan beberapa berkas di meja Bryan dan langsung mendudukkan tubuhnya di kursi.
"Bagaimana semalam?" tanya Felix Felix ingin tahu apa yang terjadi antara Bryan dan Shea.
Bryan menatap malas saat Felix menanyakan apa yang terjadi pada dirinya dan Shea semalam.
Melihat reaksi Bryan, Felix bisa menduga jika tidak terjadi apa-apa antara Bryan dan Shea. Felix menarik senyum di bibirnya, saat menebak apa yang terjadi antara Bryan dan Shea.
Bryan yang kesal, meremas kertas di mejanya, dan langsung melepar pada Felix. "Diam!"
"Ternyata kamu susah sekali mendapatkan Shea," ledak Felix.
"Kata siapa?" Bryan menatap tajam, san tidak terima saat Felix meledeknya.
"Lalu kamu dapat?" Felix memajukan tubuhnya mendekat pada Bryan. Dia ingin mendengar dengan jelas apa yang di dapat Bryan.
Bryan tersenyum saat mengingat apa yang di dapatnya dari Shea. "Iya, aku dapat menciuam pipinya." Dengan wajah yang masih mengembangkan senyuman, Bryan menyombongkan diri pada Felix.
Felix membulatkan matanya sempurna. "Ciuman pipi?" Felix memastikan pada Bryan.
"Iya," jawab Bryan semangat dengan menganggukan kepalanya.
Seketika tawa Felix mengelegar mengisi ruangan Bryan, saat mendengar jika ternyata Bryan hanya mendapatkan sebuah ciuman dan itu hanya di pipi. Lebih membuat Felix tertawa adalah, saat melihat wajah Bryan yang begitu bahagia, karena mendapatkan sebuah ciuman atau pun lebih tepatnya sebuah kecupan.
Bryan menajamkan pandangannya saat melihat Felix yang tertawa keras. Bryan tahu apa yang Felix tertawakan.
"Lihat wajahmu, baru mendapatkan kecupan saja sudah bahagia," ledek Felix. "Dirimu seperti remaja yang baru pertama kali mendapatkan ciuman." Felix memegangi perutnya yang sakit saat melihat wajah bodoh Bryan.
"Sial!" Bryan mendengus kesal saat Felix meledekanya. Tapi Bryan tidak dapat mengelak, jika dirinya memang bagai remaja yang baru pertama kali mencium gadis yang di sukainya.
"Kalau orang tahu, jika seorang Bryan Adion sebegitu bahagia hanya mendapatkan kecupan, pasti semua akan menertawakanmu." Felix tidak menyangka jika Bryan yang bisa mendapatkan kenikmatan ciuman dari seorang wanita, bisa sebahagia itu saat hanya mendapatkan sebuah kecupan.
Mendengar ucapan Felix, rasanya Bryan ingin menertawakan dirinya sendiri. Dirinya yang bisa mendapatkan wanita manapun untuk di cium bahkan lebih, bisa sebahagia ini mendapatan sebuah kecupan.
Felix yang sudah puas tertawa pun menghentikan tawanya. "Aku rasa kamu benar-benar jatuh cinta." Kini Felix yakin, jika Bryan benar-benar mencintai Shea. Felix berpikir, kalau Bryan tidak mencintai Shea, tidak mungkin Bryan akan sebahagia itu mendapatkan sebuah kecupan.
Bryan hanya menarik senyumnya, saat ucapan yang di ucapankan Felix adalah kebenaran. Mencintai Shea benar-benar mengubah hidup Bryan, hingga hal kecil yang di dapatnya dari Shea, menjadi sesuatu yang sangat berharga baginya.
"Ya, aku benar-benar jatuh cinta, dan ini benar-benar membuatku gila." Bryan menyadarkan tubuhnya di kursinya, merasakan lebih dalam apa yang ada di hatinya.
Melihat Bryan yang begitu tulus mencintai Shea, Felix bisa merasakan jika Bryan tidak sedang main-main dengan semua ini. Apa yang di lakukan Bryan benar-benar tulus dari hatinya.
"Sebagai teman aku hanya bisa berharap, semoga perjuanganmu berakhir bahagia."
"Terimakasih, aku berharap juga seperti itu."
.
.
.
.
.
Jangan lupa like dan vote😉
Up jam 12 WIB.
Yang tanya visual, bisa main-main ke ig Myafa16.
__ADS_1