My Baby CEO

My Baby CEO
Tidak takut


__ADS_3

Sesuai rencana, Bryan dan Shea akan ke dokter kandungan, untuk memeriksakan kandungan Shea, atau lebih tepatnya untuk Bryan berkonsultasi.


Setelah menjemput Shea. Bryan dan Shea langsung menuju ke rumah sakit. Karena Bryan sudah membuat janji, Shea dan Bryan tidak perlu menunggu lama untuk antrian pemeriksaan dokter kandungan.


Saat sampai di depan ruangan dokter, perawat langsung mempersilakan Bryan dan Shea untuk masuk ke dalam.


"Sore dokter." Shea yang masuk ke dalam ruangan dokter langsung menyapa dokter Lyra.


"Selamat sore Bu Shea dan Pak Bryan," ucap dokter Lyra. Dokter Lyra mengulurkan tangan dan mempersilakan Shea dan Bryan duduk.


Shea dan Bryan menarik kursi dan duduk tepat di depan meja praktek dokter Lyra.


"Apa ada keluhan?" tanya dokter Lyra. Dokter Lyra yang seraya melihat data rekam medis milik Shea pun bertanya.


"Tidak dok, kami kemari hanya ingin berkonsultasi." Bryan yang menjawab pertanyaan dokter Lyra.


Mendengar jika hanya ingin konsultasi, Shea menoleh pada Bryan.


Bukannya tadi Bryan bilang ingin memeriksakan kandunganku, kenapa dia hanya bilang ingin konsultasi saja.


Shea hanya merasa bingung dengan ucapan Bryan pada dokter.


"Syukurlah jika kondisi Bu Shea baik-baik saja. Saya pikir ada keluhan, hingga membuat Bu Shea dan Pak Bryan datang kemari."


Shea hanya menjawab dengan anggukan, dan memaksakan senyumnya. Rasanya dirinya bingung menjawab apa, karena dirinya tidak tahu konsultasi apa yang ingin Bryan lakukan.


"Jadi apa yang ingin Bapak atau Ibu tanyakan?" Dokter Lyra memulai konsultasi.


Bryan bingung harus mulai dari mana. Dirinya berpikir, tidak mungkin tiba-tiba dirinya mengatakan tentang hubungan suami istri. "Olahraga apa yang baik untuk ibu hamil, dok?" Akhirnya Bryan menanyakan hal itu pertama kali pada dokter.


Oh, jadi Bryan kemari untuk menanyakan hal itu.


Shea baru mengerti untuk apa Bryan mengajaknya ke dokter.


Dokter Lyra tersenyum dan menjelaskan. "Tidak semua olahraga bisa dikerjakan oleh ibu hamil. Saya bisa sarankan untuk yoga, pilattes. Tapi tidak hanya itu, ibu hamil juga bisa melakukan aktifitas lain yang bagus untuk kesehatan seperti jalan-jalan."


Bryan mengangguk saat dokter menjelaskan. "Lalu aktifitas apa yang tidak boleh di lakukan istri saya?"


"Akifitas yang terlalu berat, sangat tidak boleh dilakukan oleh ibu hamil, seperti mengangkat-angkat barang, karena itu sangat beresiko pada keguguran."


"Apa berhubungan suami istri juga tidak boleh, dok?" Akhirnya Bryan sampailah ke inti pertanyaan yang dari tadi di pendam.


Mendengar pertanyaan Bryan, Shea membulatkan kedua bola matanya sempurna.


Untuk apa dia menanyakan hal itu?


Jantung Shea berdetak kencang saat Bryan menanyakan hubungan suami istri pada dokter.


"Hubungan suami istri boleh selama kehamilan aman-aman saja," jelas dokter, "karena banyak juga manfaat dari hubungan suami istri, seperti menjaga badan ibu hamil tetap fit, karena kegiatan suami istri membakar kalori sekitar lima puluh kalori," lanjut dokter menjelaskan.


Bryan menarik senyumnya saat mendengar ucapan dokter. Serasa mendapatkan angin segar, Bryan puas sekali mendengarkan penjelasan dokter.


Sedangkan Shea hanya membeku mendengarkan penjelasan dokter.


Sebenarnya apa maksud Bryan menanyakan hal itu pada dokter?


Shea masih menerka-nerka apa yang ada di pikiran Bryan.


"Selain manfaat itu, ada banyak manfaat lain. Seperti membantu menurunkan tekanan darah, membantu ibu hamil lebih nyenyak tidur, karena relaks setelah melakukan hubungan suami istri, serta membantu suasana hati ibu hamil menjadi lebih baik." Dokter terus menjelaskan pada Shea dan Bryan. "Tidak hanya itu, untuk bayinya pun akan sangat baik, karena saat ibu hamil relaks dan tidak stres, bayi dalam kandungan pun merasakan hal yang sama." Dokter melanjutkan menjelaskan.


"Berarti selama kehamilan, boleh melakukan hubungan suami istri ya, dok?" tanya Bryan. Bryan benar-benar menunggu dokter memberikan lampu hijau padanya.


Shea yang berada di samping Bryan hanya melirik tajam pada Bryan. Pertanyaan Bryan yang dilontarkan dengan begitu semangat, seolah benar-benar membuat Shea bingung.


Kenapa dia semangat sekali, bertanya hal ini?


Shea terus berpikir apa yang menjadi alasan Bryan.


"Boleh Pak, tapi untuk kasus Bu Shea yang kemarin sempat di rawat karena kelelahan, saya sarankan untuk melakukannya di trimester kedua. Dimana kondisi janin dan kondisi ibunya sudah siap."


Bryan yang tadinya sudah sangat bersemangat tiba-tiba merasa lemas. Bayangnya untuk menikmati pergumulan panjang dengan Shea seolah terbang begitu saja.


"Lalu trimester kedua itu kapan?"


"Setelah usia kandungan di atas tiga bulan, Pak." Dokter menjelaskan dengan senyuman. Dokter sudah sering sekali mendapatkan pertanyaan seperti ini dari para suami.


Tiga bulan? Kalau usia kandungan Shea dua bulan berarti masih satu bulan lagi?


Bryan menghitung usia kandungan Shea untuk tahu kapan dirinya bisa melakukannya.


Tidak masalah, satu bulan tidak akan lama bukan?


Bryan menyakini jika waktu yang dia butuhkan untuk menunggu tidak akan lama.


Walaupun Shea masih ragu untuk menebak jika Bryan menginginkannya, tapi Shea bernapas lega saat dokter mengatakan jika Bryan bisa melakukannya saat usia kandungannya di atas tiga bulan.

__ADS_1


"Baiklah, dok, terima kasih untuk informasinya." Bryan yang merasa sudah mendapatkan informasi dari dokter merasa sudah cukup.


Shea termenung saat Bryan mengakhiri pertemuan dengan dokter. "Apa kita tidak memeriksakan kandungan sekalian?" tanya Shea yang merasa kesal saat Bryan hanya datang untuk berkonsultasi.


"Oh, iya, aku akan hampir lupa," jawab Bryan. Bryan yang memang berniat konsultasi saja, melupakan alasan membawa Shea ke dokter.


"Silakan dok, di periksa." Bryan meminta dokter untuk memeriksa Shea.


"Mari Bu Shea," ucap dokter pada Shea.


Shea berdiri dan mengikuti dokter untuk naik ke ranjang periksa. Diikuti Bryan di belakangnya, Bryan ikut melihat Shea diperiksa oleh dokter.


"Apa masih mual, Bu Shea?" tanya dokter seraya memeriksa Shea.


"Masih dok, mual tapi justru di sore hari." Shea menjelaskan pada dokter mengenai kondisinya.


"Tidak apa-apa, di trimester pertama mual masih akan sering dirasa, tapi akan berangsur menghilang memasuki trimester kedua." Tangan dokter terus memeriksa kondisi janin dalam kandungan Shea. Menempelkan stetoskop di perut Shea, dokter memeriksa detak jantung janin Shea.


"Iya, dok," jawab Shea.


"Kondisi janin dan ibunya sepertinya sehat," ucap dokter, "saya harap tetap jaga kesehatan, makan makanan yang bergizi, dan istirahat yang cukup." Dokter pun melangkah meninggalkan Shea dan kembali ke kursinya.


Shea pun bangkit dari ranjang priksa, dan di bantu oleh Bryan.


"Saya akan cek USG di minggu ke dua belas, dan saya akan tambahkan beberapa vitamin untuk Ibu Shea." Dokter mencatat resep vitamin untuk Shea.


Setelah mencatatkan resep, dokter memberikan pada Bryan.


Bryan dan Shea keluar dari ruang dokter, dan menuju ke apotek.


Sebenarnya Shea ingin sekali menanyakan pada Bryan, mengenai pertanyaan yang Bryan berikan pada dokter. Tapi mengingat masih di rumah sakit, Shea mengurungkan niatnya.


Setelah menebus vitamin, Shea dan Bryan memutuskan untuk pulang ke rumah.


Saat sampai di rumah, akhirnya Shea memberanikan diri untuk bertanya. "Kenapa kamu bertanya seperti itu tadi?"


Bryan yang sedang yang sedang membuka pintu rumahnya, menoleh pada Shea, saat Shea memberikannya pertanyaan. "Seperti apa maksudmu?" Bryan balik bertanya pada Shea.


Shea hanya bisa mendengus kesal saat Bryan balik bertanya. "Yang tadi," ucap Shea lagi.


"Yang tadi apa?" Bryan tersenyum. Bryan tahu sebenarnya Shea menanyakan tentang apa yang di tanyakan Bryan pada dokter.


"Hubungan suami istri," ucap Shea. Akhirnya Shea mengatakan hal itu pada Bryan.


"Oh itu," jawab Bryan enteng.


"Kamu dengarkan, jika itu bagus untuk ibu hamil." Bryan mengulang lagi ucapan dokter.


"Tapi ...."


"Aku tahu, kamu pasti belum siap, tapi coba pikirkan juga untuk anak kita. Kalau baik untuk anak kita, tidak ada salahnya bukan?" Bryan mencoba membujuk Shea dengan alasan anaknya.


Kenapa anak yang dia jadikan alasan.


"Apa kamu sengaja mengajakku dengan alasan anak, karena takut setengah sahammu hilang?" Satu hal yang terlintas dipikiran Shea, akhirnya Shea ucapkan.


Bryan yang masuk ke dalam rumah, langsung menarik Shea dan mendorong Shea ke tembok. Mengunci Shea dengan kedua tangannya, Bryan menatap Shea tajam Shea.


"Aku tidak takut kehilangan setengah saham," ucap Bryan tegas, "sekalipun semua seluruh saham dan hartaku hilang. Aku akan merelakannya."


Tatapan tajam Bryan, mampu membuat Shea membeku. Shea tidak bisa menjawab apa pun. Suaranya seolah tercekat di tenggorokan.


"Aku ingin melakukan semuanya dengan cinta. Jadi buang jauh-jauh pikiranmu yang berpikir jika aku mengajakmu, karena aku takut kehilangan saham."


Tidak ada suara yang keluar dari mulut Shea. Mata Shea hanya terus terfokus pada Bryan.


"Aku mencintaimu, dan jika kamu tidak mau melakukan denganku, aku tidak akan memaksa." Bryan sadar jika tidak akan mudah untuk mendapatkan Shea. Apa lagi Bryan pernah melukai Shea.


Bryan melangkah meninggalkan Shea, karena tidak mau membuat Shea tertekan dengan semua yang dia inginkan.


Tapi belum sempat Bryan meninggalkan Shea, tangan Shea sudah menariknya. Membalikkan tubuhnya Bryan menatap Shea.


"Berikan aku waktu," ucap Shea. Kalimat itu lolos begitu saja dari Shea. "Aku takut melakukan semua itu." Shea melanjutkan ucapannya.


Bryan tahu apa yang membuat Shea takut. Mendekatkan kembali pada Shea, Bryan membelai wajah Shea. "Saat kamu melakukannya dengan cinta, kamu tidak akan takut." Bryan memcoba meyakinkan Shea.


Shea tidak tahu kenapa dia bisa mengatakan itu pada Bryan. Tapi mendapatkan jawaban Bryan, ada kelegaan tersendiri di hati Sea. Shea pun mengangguk, walaupun dirinya tidak yakin dengan anggukannya.


Mendaratkan kecupan di dahi Shea, Bryan bersyukur Shea mendengarkannya. "Aku akan menunggumu."


Shea mengangguk kembali, menjawab ucapan Bryan.


Setelah dari dahi Shea, Bryan menyusuri wajah Shea. Satu tempat yang di tuju Bryan adalah bibir Shea. Bryan yang tadi pagi merasakan bibir Shea, merasa bibir Shea sudah menjadi candu baginya.


Menuju bibir Shea, Bryan mendekatkan bibirnya pada bibir Shea. Perlahan, Bryan mendekat dan bersiap mendaratkan bibirnya, di bibir ranum Shea.

__ADS_1


Ting ... tong ...


Suara bel terdengar, dan seketika menghentikan acara Bryan yang hendak mencium Shea. Mata Shea dan Bryan langsung menatap ke arah pintu, saat mendengar bel pintu rumahnya berbunyi.


"Mungkin itu kurir makanan," ucap Shea. Saat perjalanan dari rumah sakit, Shea memesan makanan, karena dirinya tidak mungkin masak, di saat dirinya sudah sangat lelah.


Bryan mendengus kesal, saat dirinya harus menghentikan kegiatannya untuk mencium Shea. Akhirnya Bryan melepas Shea, dan membiarkan Shea membuka pintu.


Dengan cangung Shea berlalu meninggalkan Bryan, dan membuka pintu. Saat membuka pintu, terlihat seorang pria di depan pintu.


"Pesanan atas nama Olivia Shea," ucap kurir.


"Iya," jawab Shea. Shea langsung menerima makanan uang di berikan oleh kurir.


Setelah mendapatkan makanannya Shea menuju meja makan. Disana sudah tampak Bryan yang menunggu dirinya.


Membuka pesanan makanan, Bryan dan Shea memulai makannya. Tidak ada obrolan saat makan. Rasa cangung keduanya, membuat mereka saling diam.


***


Setelah mandi, Shea dan Bryan merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.


Shea yang merebahkan tubuhnya, melihat foto Bryan terpampang di dinding. Ukuran foto yang besar membuat matanya memicing.


Kemarin waktu pertama kali melihat rumah, aku tidak melihat foto itu.


Shea hanya bisa mengingat dalam hatinya, apa yang di lihatnya pertama kali saat ke rumah.


"Bryan, sejak kapan ada fotomu sebesar itu disana?" Akhirnya Shea bertanya pada Bryan.


"Sejak kemarin."


Kemarin? Shea mengingat jika kemarin dirinya sibuk menenangkan Bryan, hingga tidak memperhatikan ada foto besar di kamar.


"Kenapa fotonya sebesar itu?" Shea benar-benar ingin tahu alasan Bryan menaruh fotonya di dinding.


"Aku ingin kamu melihatku setiap waktu, saat bangun tidur, ataupun saat akan tidur. Jadi anakku akan semakin mirip denganku."


Dahi Shea berkerut dalam saat mendengar ucapan Shea. Shea mencerna ucapan Bryan. "Tanpa aku melihat fotomu yang sebesar itu pun, anakmu akan mirip dengamu." Shea benar-benar gatal untuk tidak mengomentari pendapat Bryan yang aneh.


"Iya aku tahu." Bryan mengingat penjelasan penjelasan Felix, jika anaknya akan tetap mirip dengannya karena dirinya yang menaruh benih dalam rahim Shea.


"Kalau sudah tahu kenapa fotonya masih disana?" Shea memiringkan tubuhnya dan menatap Bryan.


"Anggap saja itu caraku untuk membuat alam bawah sadarmu memikirkan aku."


"Apa semacam hipnotis?" tanya Shea seraya tertawa kecil.


"Iya, aku mau menghipnotismu agar kamu cepat mencintai aku."


"Bryan," panggil Shea.


"Iya-iya, kamu butuh waktu," jawab Bryan malas.


Shea tahu, Bryan benar-benar menanti dirinya untuk mencintainya. Bukan Shea tidak merasakan cinta, tapi Shea ingin menyakini perasaaanya lebih dalam.


Mengingat apa yang di katakan Jessie, Shea belum sepenuhnya merasakan semua perasaan yang diceritakan oleh Jessie. Satu perasasan yang belum Shea rasakan yaitu rindu, karena Shea belum merasakan merindukan Bryan.


"Sudah lupakan, dan biarkan foto itu disana, tanpa alasan apapun," ucap Bryan, "kemarilah, aku akan memelukmu!"


Bryan menarik tangan Shea lembut dan membawanya dalam pelukannya. Seperti yang di contohkan tadi pagi, Bryan membuat Shea berada di atasnya, dan memeluknya dari samping.


"Tidurlah!" Kepala Shea yang berada di dada Bryan, membuat Bryan dapat membelainya rambut Shea.


Tinggal sedikit waktu saja, setelah aku yakin, aku akan dengan lantang mengatakan aku mencintaimu.


Dalam hatinya, Shea hanya bisa memikirkan semua yang di rasa olehnya.


Saat dengkuran halus terdengar dari Bryan, akhirnya Shea menyusul Bryan untuk menikmati tidur malamnya.


.


.


.


.


Maaf untuk keterlambatannya.


Walapun dari noveltoon sudah bilang kalau sistenya eroro, aku tetap sedih juga, nunggu kenapa babnya ga muncul-muncul. Jadi yang nunggu, nggak cuma kalian.


Semoga kedepan dari Noveltonn/Mangatoon ga kan ada hal begini.


Selamat membaca dan

__ADS_1


Jangan lupa berikan Like dan Vote


__ADS_2