My Baby CEO

My Baby CEO
Baby El


__ADS_3

Setelah melihat anak Bryan dan Shea. Helena memberanikan diri untuk menemui Bryan dan Shea. Ditemani Alex, dia menuju ke kamar rawat.


"Maafkan aku sudah membuatmu seperti ini." Suara lirih Helena terdengar penuh penyesalan.


Shea tersenyum, dia bukan orang yang pemarah. Dengan Bryan saja yang dulu pernah menyakitinya, dia tidak pernah bisa marah. "Lupakan! Ini sudah takdir Tuhan, jika anak kami harus lahir lebih awal."


Mata Helena berkaca-kaca. Setelah apa yang dia lakukan hingga menyebabkan Shea melahirkan, wanita itu masih memaafkannya.


Pantas Bryan begitu mencintainya.


Satu pujian dalam hatinya saat melihat seorang Shea. Kini dia menemukan apa yang membuat Bryan begitu mencintai istrinya.


"Terima kasih, Se."


"Iya."


Bryan sebenarnya masih sangat kesal, tapi mengingat Helena adalah klien pentingnya, dia berusaha memaafkannya. Dia pun membenarkan ucapan Shea, jika semua terjadi karena takdir Tuhan.


"Selamat untuk kalian, kini sudah menjadi orang tua." Alex pun ikut memberikan ucapan selamat.


"Terima kasih, Kak."


"Terima kasih." Bryan juga membalas ucapan Alex.


"Kami izin untuk pulang sekalian. Semoga anak kalian cepat sehat, dan Shea cepat pulih." Alex mengulurkan tangan pada Bryan dan Shea. Bersama Helena akhirnya dia memilih pulang.


"Iya, terima kasih sudah mau menemani kami." Sebelum melepas Alex dan Helena pulang, Bryan pun mengucapkan terima kasih.


Melihat Alex dan Helena keluar, Bryan dan Shea saling pandang. "Jika semua wanita pengganggu rumah tangga orang sadar sebelum melakukan aksinya, aku rasa tidak akan ada seorang istri yang terluka."


Shea ingin tertawa mendengar kalimat yang lolos dari mulut Bryan. Namun, tawanya dia tahan, karena saat dia tertawa rasa sakit bekas operasinya terasa nyeri.


Terdengar lucu saat seorang yang ingin menghancurkan rumah tangganya, mengakhiri aksinya sebelum memulai. Namun, mungkin itulah cara Tuhan mencegah keburukan.


"Meskipun ada seribu Helena di luar sana yang akan menggodaku. Aku tidak akan tergoda," ucap Bryan seraya mengecup dahi Shea.


"Kalian!" ucap Felix yang masuk ke dalam ruang rawat. Saat masuk, Felix melihat Bryan yang sedang asik mengecup dahi Shea.


"Bisakah kamu ketuk pintu dulu!" Bryan merasa kesal dengan temannya satu itu.


"Sekalipun pintunya tidak aku ketuk, harusnya kamu tidak main cium saja di Rumah sakit," ucap Felix malah.


"Suka-suka aku." Bryan menjawab tak mau kalah dengan Felix.


"Terserah padamu. Aku mau pulang." Felix pun juga sama, setelah melihat anak Bryan dan Shea dia meminta izin untuk pulang. Sebelum pulang dia masih menggoda Bryan jika anaknya tidak mirip sama sekali dengannya. Perdebatan kecil pun terjadi antara dua teman itu. Shea yang melihat dua orang dewasa yang begitu seperti anak kecil hanya bisa menggeleng.


Setelah Felix pulang, mama dan papa Bryan memilih untuk pulang juga. Mereka berjanji akan menjenguk dua hari sekali, karena jarak puncak cukup jauh. Ditambah lagi, Melisa juga harus menjaga dan mengecek kondisi Selly yang sedang hamil juga. Melihat Shea yang melahirkan lebih awal, Melisa tidak mau sampai hal itu juga terjadi pada Selly.


Di kamar rawat tinggallah Bryan dan Shea. Pasca operasi, Shea berusaha untuk cepat pulih. Dibantu Bryan dia belajar memiringkan tubuhnya. Rasa sakit pada bekas operasi membuatnya terkadang merintih kesakitan. Namun, mengingat anaknya membutuhkannya, Shea berusaha untuk berjuang.

__ADS_1


Bryan benar-benar tersiksa saat melihat istrinya merintih kesakitan. "Apa tidak pereda rasa sakit. Aku tidak tega melihatmu kesakitan," gerutu Bryan.


Shea hanya bisa tersenyum mendengar ucapan Bryan. "Semua adalah nikmat saat melahirkan, mau itu sakit karena lahiran normal atau pun lahiran caesar."


"Bagaimana bisa menikmati jika sakit." Bryan masih menggerutu mengomentari ucapan Shea.


Shea hanya bisa menggeleng, suaminya memang seperti itu, selalu tidak sabar, dan mudah kesal, tapi hal menyebalkan itulah yang dia suka.


Setelah berjuang menahan rasa sakitnya akhirnya Shea sudah mulai bisa duduk. Shea juga berusaha untuk memeras air susunya. Beruntungnya produksi air susu dalam tubuhnya bagus. Mengikuti kelas ibu hamil, membuatnya belajar merangsang produksi air susu miliknya. Hingga anaknya kini tidak perlu meminum susu formula.


Air susu yang diperas oleh Shea diberikan pada perawat. Baby El belum bisa minum langsung dari sumbernya, jadi para perawat memakai pipet untuk membantu minum susu.


***


Pagi ini Shea di bawa untuk ke ruang bayi. Dia akan menjalani metode skin to skin pada bayinya. Walaupun sudah ada inkubator, kehangatan tubuh ibu membantu menghangatkan bayi lebih ampuh.


Mata Shea terus melihat betapa menakjubkannya anaknya yang sedang berada di dadanya. "Cepat sehat, mommy dan daddy ingin segera pulang denganmu," ucap Shea pada anaknya dalam dekapannya.


Bryan tersenyum melihat istri dan anaknya. Dua orang yang kini menjadi harta paling berharganya. Tidak ada kata selain kata bahagia yang bisa mewakilkan perasaan mereka. Apapun takdir Tuhan untuk mereka, mereka sadar Tuhan akan memberikan kebahagiaan setelahnya


Metode skin to skin berlangsung dua jam sekali, dan selang dua jam sekali Bryan mengantarkan Shea untuk ke ruang bayi. Saat melakukan metode skin to skin, Shea mendekatkan dadanya untuk membuat bayinya dekat dengan air susu ibu. Shea berharap secepatnya baby El bisa minum air susu langsung dari tubuhnya.


Kembalinya dari ruang bayi, Bryan dan Shea melihat Regan berada di depan ruang rawat. "Kak," panggil Bryan, "sudah lama di sini?"


"Belum," jawab Regan, "bagaimana keadaan anak kalian?" Regan lebih menanyakan anak Shea, karena dia sudah melihat Shea yang tampak kuat di hadapannya, walaupun Shea duduk di kursi roda.


"Masih dalam perawatan, Kak," jawab Bryan.


"Ayo, masuk!" ajak Bryan ke dalam kamar rawat. Mendorong Shea yang duduk di kursi roda, Bryan masuk ke dalam kamar rawat. Bryan membantu Shea untuk naik ke atas ranjangnya, dan beristirahat.


"Kakak kemari, lalu kak Selly dengan siapa?" tanya Bryan pada Regan.


"Mama Melisa ada di rumah, jadi aku sempatkan untuk melihat keadaan kalian." Melisa yang kemarin langsung datang ke rumah setelah dari Rumah sakit, akhirnya membuat Regan meminta untuk menjaga Selly sementara dirinya pergi menjenguk Shea dan anaknya.


"Apa keadaan kak Selly baik-baik saja mendengar aku melahirkan, Kak?" Suara Shea terdengar bertanya pada Regan. Sebagai wanita yang sama-sama hamil, dia takut kakak iparnya cemas menanti kelahiran anaknya.


"Dia sempat kaget mendengar kamu melahirkan, dia juga ketakutan, tapi aku sudah berusaha menenangkannya," jelas Regan.


Shea bersyukur saat mendengar kakak iparnya baik-baik saja.


"Oh ya, tadi dia juga memintaku menghubungi kalian jika aku sudah sampai, karena nomer ponsel kalian tidak dapat dihubungi." Regan merogoh kantung celananya mengambil ponsel miliknya.


"Astaga, aku lupa dengan ponselku." Bryan merogoh saku celananya mencari ponselnya. Sejak kemarin dia benar-benar melupakan ponselnya. "Ternyata mati," ucapnya saat melihat layar ponselnya.


"Apa punyaku juga mati?" tanya Shea pada Bryan.


Bryan langsung mengecek tak milik Shea yang kemarin sempat diberikan Felix padanya. Benar saja, dia juga mendapati jika ponsel Shea juga mati. Seharian kemarin mereka sibuk, sehingga membuat mereka tidak ingat benda pipih itu.


"Pantas saja kalian tidak ada yang bisa dihubungi," timpal Regan. Tangan Regan mengusap layar ponselnya dan menghubungi Selly.

__ADS_1


Saat sambungan vidio terhubung Regan memberikan ponselnya pada Shea. "Shea ... " panggil Selly dengan nada bergetar. "Dasar anak nakal, kenapa pergi menyusul Bryan!" Walaupun dengan nada kesal tapi suara Selly menahan untuk tidak menangis. Selly yang kemarin ke rumah Shea, mendengar jika Shea sedang menyusul Bryan ke puncak. Seharian dia panik memikirkan adik iparnya itu. Hingga sore hari mamanya datang dan memberi kabar jika Shea sudah melahirkan.


"Maafkan aku, Kak." Shea tahu sebesar apa kakak iparnya itu menyayanginya. Jadi wajar saja jika kakak iparnya kesal dengan ulahnya menyusul Bryan.


"Sudah lupakan! Sekarang bagaimana keadaan kamu dan anak kalian?"


"Aku sudah baik, tapi anak kami masih dalam perawatan." Shea menjelaskan pada kakak iparnya itu.


"Semoga baby El cepat sehat, aku sudah tidak sabar untuk melihatnya." Selly tersenyum pada Shea.


Shea tersenyum mendengar panggilan Selly. Sudah dipastikan jika itu pasti dari mama mertuanya. "Iya, aku pun juga sudah tidak sabar ingin pulang bersama baby El." Kini Shea pun ikut memanggil anaknya dengan sebutan baby El seperti mama mertua dan kakak iparnya.


"Baiklah, jaga dirimu baik-baik!"


"Baiklah." Shea memberikan ponsel kembali pada Regan.


"Lakukan vidio lagi nanti saat kamu ada di ruang bayi!" pinta Selly pada Regan.


"Baiklah." Regan mematikan sambungan telepon dan mengembalikan ponselnya ke dalam kantung celananya. Regan beralih menatap Bryan "Aku membawakan baju untuk kalian," ucapnya.


"Terima kasih, Kak." Bryan memang kemarin meminta mamanya untuk membawakan baju jika nanti mamanya kembali ke Rumah sakit. Namun, karena Regan berencana datang mungkin mamanya menitipkan pada Regan.


"Baiklah, kita ambil bajumu di mobil sekaligus aku akan melihat anak kalian di ruang bayi," ajak Regan pada Bryan. Regan beralih menatap Shea. "Cepat sehat! Kami semua menanti dirimu dan anakmu pulang."


"Baik, Kak, terima kasih."


Regan dan Bryan keluar untuk ke ruang bayi terlebih dahulu sebelum mengambil baju di mobil Regan. Dari balik kaca, Regan melihat bayi mungil sedang tidur nyenyak di inkubator. Tubuhnya yang kecil itu terlihat menakjubkan. "Aku tidak menyangka dirimu akan memiliki anak." Kata-kata itu keluar dari mulut Regan.


Bryan tersenyum kecil. "Terima kasih sudah memaksaku untuk bertanggung jawab pada Shea dan anaknya waktu itu." Tangan Bryan memegang kaca pembatas antara dirinya dan anaknya. Seolah dia sedang membelai lembut tubuh mungil anaknya.


"Jadilah ayah yang sempurna!" Regan menepuk bahu Bryan.


"Ya, aku akan jadi ayah yang sempurna untuk anakku, hingga nanti anakku akan dengan bangga memanggil dengan sebutan my perfect daddy," ucapnya pada Regan.


Regan hanya bisa tersenyum mendengar ucapan Bryan. Bryan yang dia kenal sudah sangat berubah. Kini tidak ada Bryan yang bermain wanita. Kini hanya ada Bryan yang setia pada Shea, dan Bryan yang akan menjadi ayah yang sempurna untuk anaknya.


Sebelum mengambil baju, Regan melakukan vidio dengan Selly untuk memperlihatkan seperti apa anak Bryan dan Shea.


.


.


.


.


...Jangan keasikan baca sampai lupa like ya. Scrol lagi siapa tahu belum like. Itu adalah salah satu cara kalian mendukung penulis. ...


...Masih sama aku akan ingatkan....

__ADS_1


...Jangan lupa like, koment, dan vote ...


__ADS_2