
Pagi ini Selly dan Regan pergi untuk ke dokter kandungan. Sedangkan Shea di rumah sendiri bersama asisten rumah tangga. Karena Shea akan mengunjungi dokter saat Bryan datang.
Setelah melakukan pemeriksaan dengan dokter, Selly dan Regan kembali ke rumah, agar Shea tidak sendiri di rumah. Akan tapi baru saja mereka berdua masuk ke dalam mobil, ponsel Selly berdering.
Tangan Selly langsung mengambil ponsel di dalam tasnya. Saat melihat layar ponselnya, Selly melihat nama mamanya yang tertera di layar ponsel.
"Mama," ucap Selly pada Regan.
"Angkat saja!"
Selly pun mengusap layar ponselnya, dan menempelkan di telinganya. "Halo, Ma."
"Halo, Sel, mama mau ke rumah kamu dan rumah Shea," ucap Melisa dari sambungan telepon.
Mata Selly langsung membulat saat mendengar ucapan mamanya. Dia tidak mau mamanya tahu jika Bryan sedang tidak di rumah, karena akan berakibat papanya juga tahu.
"Bryan dan Shea sedang pergi, Ma, jadi mama tidak akan bertemu mereka." Akhrinya Selly memilih berbohong.
"Kemana mereka?"
"Selly tidak tahu."
"Ya sudah, mama akan ke rumah kamu saja."
Otak Selly langsung memikirkan jika Shea ada di rumah. "Kebetulan Selly baru saja dari dokter kandungan, Ma, jadi Selly akan ke rumah mama saja."
"Oh ... ya sudah kalau begitu mama tunggu."
"Iya, Ma." Selly merasa lega, karena ternyata mamanya percaya padanya.
Mematikan sambungan telepon, Selly menatap Regan. "Kita ke rumah mama."
Regan yang mendengar percakapan Selly dan mamanya sudah tahu untuk apa Selly ke rumah mamanya. Jadi tanpa bertanya, Regan langsung melajukan mobilnya.
"Sebaiknya kamu pulang saja, aku kasihan dengan Shea sendiri di rumah." Selly yang hendak turun setelah sampai di rumah mamanya pun meminta pada Regan.
"Baiklah. Nanti aku akan menjemputmu."
"Baiklah, sampai ketemu nanti." Selly mengecup pipi Regan sebelum membuka pintu.
Regan yang melihat Selly keluar dari mobil, langsung melajukan kembali mobilnya untuk ke rumah.
Sesampainya di rumah, Regan melihat Shea sedang sibuk menyirami bunga di taman depan. Keluar dari mobilnya, dia melangkah menghampiri Shea yang tampak sedang asik dengan kegiatannya.
"Kak Regan sendiri, dimana Kak Selly?" Shea yang melihat Regan menghampirinya sendiri pun bertanya.
"Selly ke rumah mama."
Mama, batin Shea, seketika Shea merasa sangat takut saat mertuanya itu tahu perihal kepergian Bryan. "Oh ... apa mama tahu Bryan pergi?"
"Justru Selly ke sana agar mama tidak tahu. Karena mama tadi hampir saja akan ke sini."
Penjelasan Regan, membuat Shea tidak menyangka, jika Selly berusaha membuat mertuanya tidak tahu perihal kepergian Bryan. Dia bisa menebak jika Selly berusaha menutupi kepergian Bryan.
"Apa kamu susah selesai menyirami tanaman?" Regan yang melihat seluruh taman yang sudah basah pun bertanya.
"Sudah."
"Biar aku yang matikan airnya." Regan melangkah untuk mematikan kram air yang di pakai untuk menyirami tanaman.
Shea mengangguk dan ikut melangkah juga untuk masuk ke dalam rumah. Namun, baru saja langkahnya mengijak lantai di depan pintu, Shea terpleset karena sendal yang di pakainya basah.
Ach....
Teriak Shea saat mendapati dirinya terpleset.
Tanpa Shea sadari Regan yang berada di belakangnya, menerima tubuh Shea yang baru saja akan terjatuh ke lantai.
"Kenapa kamu tidak bisa berhati-hati?" Suara Regan tampak sedikit kesal dengan kecerobohan Shea.
__ADS_1
Shea yang tadi memejamkan matanya karena pasrah dengan apa yang akan menimpanya. Rasanya dia hanya bisa pasrah, jika sampai dia benar-benar jatuh.
Akan tetapi Tuhan masih memberikannya pertolongan, Shea membuka matanya perlahan, saat mendengar suara Regan, dan merasakan tangan kokoh Regan menangkup tubuhnya.
Shea patut bersyukur, Regan ada tepat di belakangnya, dan menangkupnya tepat waktu. "Maaf, Kak, sendal yang aku pakai licin." Shea menatap Regan dengan merasa bersalah.
Shea pun menegakkan tubuhnya, dan bangkit dari tangan Regan yang menangkup tubuhnya.
"Sangat bahaya jika sampai kamu terjatuh."
"Iya." Shea menyadari, memang sangat bahaya jika dirinya sampai terjatuh. Apa lagi dirinya sedang hamil.
"Sudah ayo masuklah!"
Shea mengangguk, dan masuk ke dalam rumah. Mengeringkan sandalnya yang basah, dia berusaha tetap berhati-hati masuk ke dalam rumah.
Regan tetap berjaga-jaga di belakang Shea. Dia masih merasa takut, Shea akan ceroboh dan terjatuh kembali.
Saat memastikan Shea aman, Regan pun masuk ke dalam kamarnya.
***
Karena hari ini hari libur, Shea tidak punya kegiatan. Akhirnya dia memutuskan untuk memasak.
Menuju ke dapur, Shea meminta asisten rumah tangga untuk mengizinkannya membuat camilan, dan Shea meminta untuk tidak perlu di bantu, karena dirinya ingin sendiri merepotkan.
Kali ini Shea berniat membuat cookies. Terakhir kali Shea membuat cemilan adalah sewaktu dirinya masih tinggal di apartemen.
Dengan senang, Shea membuat adonan cookies, dan memangangnya. Aroma manis dari cookies buatan Shea pun mengisi ruangan.
"Kamu sedang buat apa?" tanya Regan yang melihat Shea di dapur.
"Aku buat cookies, Kak."
"Oh .... " Regan pun berlalu mengambil air minum, karena memang dirinya berniat untuk meredakan tenggorokannya yang kering.
Tangan Shea sibuk membuka oven dan mengeluarkan cookies dari dalamnya. Melepas oven gloves, tangan Shea langsung mengambil cookies untuk mencicipinya.
Regan yang melihat Shea pun menghampiri Shea. Tangannya langsung menarik lembut tangan Shea dan membawa tangan Shea di bawah kucuran air, untuk pertolongan pertama saat terkena panas.
"Apa sebegitu tidak sabar kamu ingin memakan cookies buatanmu?"
Mata Shea menatap manik mata Regan yang begitu tampak khawatir. "Aku tidak apa-apa."
Tangan Regan masih sibuk meredakan panas di tangan Shea. "Cobalah lebih berhati-hati!"
"Iya." Shea menjawab dengan lirih.
"Kalian sedang apa?" tanya Selly yang melihat Shea dan Regan di depan tempat pencucian piring.
Mendengar suara Selly, Regan dan Shea pun menoleh. Tampak Selly berdiri di depan meja makan, dan menatap bingung pada Shea dan Regan.
Regan pun langsung melepas gengaman tangan Shea. "Sayang, kamu sudah pulang?" tanya Regan yang melihat Selly.
"Iya, aku meminta supir mama mengantar." Matanya masih terus mengawasi apa yang di lakukan oleh Shea dan Regan.
Regan memahami apa yang membuat Selly menatapnya tajam. "Tangan Shea terkena panas, jadi aku mendinginkannya di bawa kucuran air." Dia menjelaskan pada istrinya.
"Oh ...." Perasaan lega menghinggapinya. Tadinya Selly sudah berpikir macam-macam pada Regan dan Shea. "Memangnya kamu sedang apa, Se?" tanya Selly beralih pada Shea.
"Membuat cookies, Kak." Shea benar-benar merasa tidak enak. Dirinya takut jika sampai Selly salah paham.
"Wah ... cookies, sepertinya enak." Wajah Selly seketika berubah senang saat mendengar Shea membuat cookies.
"Cookies-nya masih panas, sebaiknya kamu ganti baju dulu, sambil menunggu cookiesnya dingin." Regan pun menghampiri Selly. "Ayo," ajak Regan.
"Se, nanti kita makan bersama ya," ucap Selly menoleh saat tangan kokoh Regan menariknya.
***
__ADS_1
Setelah menganti baju Selly pun memakan cookies buatan Shea bersama dengan Shea
"Apa kamu tahu, mama tadi mendesak aku untuk mengatakan kemana kamu dan Bryan pergi." Selly memberitahu apa yang terjadi di rumah mamanya seraya menatap Shea.
"Lalu kakak bilang apa?"
"Aku bilang kalian pergi bulan madu."
Shea langsung tersedak saat mendengar ucapan Selly. Selly langsung memberikan gelas berisi air pada Shea.
"Maaf membuatmu tersedak."
"Tidak apa-apa."
"Apa mama percaya?"
"Mama percaya, tapi dia tidak mau kamu dan Bryan melakukan hubungan suami istri. Karena mama bilang tidak baik jika hamil muda melakukan hubungan suami istri. Apa lagi kamu kemarin, baru saja di rawat."
"Lalu?" Shea semakin penasaran apa yang terjadi.
"Aku bilang pada mama untuk tenang, kerena pasti Bryan akan melakukannya dengan perlahan."
Wajah Shea semakin merona saat mendengar ucapan Selly yang membahas ritme dalam hubungan suami istri.
"Aku benar bukan kalau Bryan melakukannya dengan perlahan?" Selly menatap lekat pada Shea.
Shea terkesiap saat mendapatkan pertanyaan dari Selly. Sejauh ini dirinya belum melakukan apa-apa dengan Bryan.
"Jangan bilang kalian belum melakukannya?"
"Kata dokter ...."
"Menunggu tiga bulan?" potong Selly.
"Iya," jawab Shea seraya mengangguk.
Tawa Selly langsung terdengar saat dengan jujur Shea mengatakan menunggu tiga bulan. "Apa Bryan kuat menunggu?"
"Iya, dia menunggu."
"Wah ... aku haru acungi jempol pada Bryan yang mampu menunggu." Selly tahu pasti Bryan yang bisa melakukan rutinitasnya minimal sebulan sekali, tidak menyangka jika Bryan sanggup bertahan tiga bulan.
Shea tidak bisa menjawab apa pun ucapan Selly. "Apa sebegitu tersiksa menunggu?" tanya Shea polos.
"Sangat, dan Regan pun tidak kuat."
"Artinya kakak ....?"
"Iya, aku melanggar larangan dokter," jawab Selly tertawa.
"Apa aman?" tanya Shea lirih.
"Asalkan pelan-pelan."
Shea masih bingung dengan maksud perlahan yang di jelaskan oleh Selly. Pertama kali melakukan dengan Bryan, Shea hanya berusaha untuk menghindar, jadi dirinya tidak tahu seperti apa pelan yang dimaksud Selly.
"Nanti semakin sering melakukan kamu akan paham," ucap Selly seraya mengunyah cookies.
Shea hanya mengangguk, karena dirinya tidak tahu seperti apa, dan dirinya tidak bisa membayangkan seperti apa.
.
.
.
.
Sabar ya nunggu...
__ADS_1
Bryan aja sabar...
Jangan lupa like dan vote