
Sesampainya di apartemen Shea dan Bryan berlalu ke kemar masing-masing. Mereka berdua sama-sama pergi untuk membersihkan diri.
Bryan yang lebih dulu selesai, langsung ke kamar Shea. Tapi sesampainya di kamar Shea ternyata Shea tidak ada. Bryan menajamkan pendengarannya, dan mendengar suara air di kamar mandi.
"Dia belum selesai mandi," gumam Bryan. Seraya menunggu Shea, Bryan merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.
Shea yang keluar dari kamar mandi, terjingkat saat melihat Bryan sudah ada di kamar, dan sedang bersantai di tempat tidur.
"Kamu sudah selesai mandi?" tanya Shea. Shea tidak tahu, kalau Bryan sudah ada di kamar. Kalau tahu Bryan ada di kamarnya, Shea akan berganti baju di kamar mandi.
"Iya," jawab Bryan. Mata Bryan melihat dengan seksama. Shea yang memakai kimono handuk membuat leher jenjangnya terlihat. Tetesan-tesean air yang mengalir di leher Shea, membuat gairah Bryan muncul. Shea begitu tampak sexy di mata Bryan, dan Bryan hanya bisa menelan salivanya.
Shea melangkah, menuju ke lemari baju untuk mengambil bajunya, dan berlalu kembali ke kamar mandi.
"Kamu mau kemana?" Bryan yang melihat Shea kembali ke kamar mandi pun bertanya.
"Ganti baju," jawab Shea enteng.
"Memangnya kenapa jika kamu ganti baju di sini?" Pertanyaan bodoh keluar dari mulut Bryan.
Shea hanya mengerutkan dahinya saat mendengar ucapan Bryan. "Jangan mengambil keuntungan dariku," ucap Shea ketus, dan berlalu begitu saja. Shea langsung masuk ke dalam kamar mandi dan menutup pintu kamar mandi.
Bryan yang melihat Shea kembali ke kamar mandi begitu saja, hanya tersenyum. "Aku sudah mengambil banyak keuntungan dari dirimu, tapi kamu saja yang tidak sadar."
Setelah memakai bajunya, Shea keluar dari kamar mandi. Saat keluar kamar mandi, Shea melihat Bryan sedang asik memainkan ponselnya.
Shea pun ikut merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, bersama Bryan.
"Apa papa sering mengatakan hal itu padamu?" tanya Shea. Shea mengingat apa yang di dengarnya tadi, dan rasanya Shea ingin tahu reaksi apa yang di tunjukan oleh Bryan.
Mata Bryan yang sedang fokus pada ponselnya, beralih pada Shea. Senyum tertarik di ujung bibir Bryan. "Apa kamu mengenggam tanganku karena mendengar ucapan papa?" Bryan memastikan pada Shea.
Shea pun mengangguk.
Bryan meletakkan ponselnya di atas nakas, dan beralih kembali pada Shea. "Aku sudah biasa, jangan khawatir." Bryan tidak menyangka, disaat semua orang tidak tahu apa yang dirasa olehnya, Shea bisa mengerti.
Shea hanya memandang Bryan saat Bryan menjelaskan pada Shea. Pikiran Shea melayang memikirkan sebenarnya sesakit apa hati Bryan saat dibandingkan.
"Jangan menatapku seperti itu, aku baik-baik saja." Bryan yang melihat tatapan Shea, mengartikan jika Shea sedang sangat kasihan padanya.
"Aku yakin kamu akan sesukses Kak Regan, Bry," ucap Shea memberikan semangat pada Bryan.
"Apa kamu mau menemani aku sampai aku sukses?" tanya Bryan.
Shea mengangguk, dan tersenyum pada Bryan.
Aku benar-benar berharap kamu menjadi milikku. Karena aku merasa kamu yang mengerti aku.
Memandang Shea, Bryan hanya bisa berharap dalam hatinya. Bryan ikut Shea merebahkan tubuhnya. Memandangi Shea, Bryan teringat sesuatu. "Apa kamu tadi cemburu?" tanya Bryan dengan senyum tipis.
__ADS_1
Wajah Shea langsung memerah saat mendengar pertanyaan dari Bryan. "Tidak," elak Shea. Shea menatap arah lain, agar Bryan tidak bisa melihat kebohongan dalam hatinya.
Bryan memajukan saat mendengar elakan Shea. "Benarkah?" tanya Bryan, "kalau begitu tatap aku, dan katakan tidak!" lanjut Bryan.
Shea yang melihat Bryan mendekat padanya, menjadi salah tingkah. Jaraknya yang dekat, membuat embusan napas Bryan, begitu terasa oleh Shea.
"Apa dia salah satu wanitamu?" tanya Shea mengalihkan pembicaraan.
Bryan langsung diam saat Bryan bertanya. "Aku tidak ingat," ucap Bryan lirih.
Shea hanya mengerutkan dahinya. "Bagaimana bisa kamu lupa dengan siapa kamu tidur," keluh Shea. Shea benar-benar tidak habis pikir dengan Bryan.
"Aku...."
"Kalau tiba-tiba ada yang datang dan mengatakan kalau dia hamil seperti aku, apa kamu juga akan mengelak, seperti yang pernah kamu lakukan padaku?" Shea memotong ucapan Bryan, dan mendesah kesal saat mendengar Bryan tidak ingat wanita yang ditiduri.
Bryan terkesiap saat mendengar ucapan Shea. Merengkuh tubuh Shea, Bryan membuat tubuhnya melekat pada tubuh Shea. "Sekalipun aku lupa siapa wanita yang aku tiduri, tapi aku ingat dengan siapa aku menaruh benihku." Bryan menatap tajam kedua bola mata Shea, berharap Shea mempercayai dirinya.
Shea yang merasakan tubuhnya melekat pada Bryan hanya merasakan debaran di dalam hatinya yang semakin kencang. Tatapan mata Bryan benar-benar membuatnya tidak berkutik sama sekali.
"Maafkan aku yang dulu pernah mengelak, dan tidak menerima dirimu dan anak kita." Pandangan tajam mulai terlihat lebih teduh saat Bryan meminta maaf pada Shea.
"Aku sudah bilang bukan, jika aku sudah memaafkanmu." Shea menjawab dan menatap mata Bryan, dan membuat pandangan mereka saling mengunci.
Shea benar-benar merasakan debaran dadanya semakin tidak teratur. Sama halnya yang dirasakan Shea, Bryan pun merasakan hal yang sama.
"Apa kamu sudah mencuci bersih wajahmu?" tanya Shea. Shea mencoba mengalihkan pandangan yang saling mengunci.
"Ya agar noda-noda masa lalumu itu hilang," ucap Shea kesal
Bryan melepas tangannya yang merengkuh tubuh Shea. Seraya mendegus dan diiringi tawa kecil, Bryan berucap. "Seluruh tubuhku sudah penuh noda masa laluku, dan tidak akan semudah itu terhapus." Rasanya Bryan ingin menertawakan dirinya sendiri, karena setiap inci tubuhnya sudah tersentuh oleh para wanita.
"Aku akan menghapusnya," ucap Shea tegas.
Bryan hanya tersenyum tipis seolah sedang meledek Shea yang ingin menghapusnya.
"Apa yang mereka lakukan pada tubuhmu?" tanya Shea ingin tahu.
"Hal yang paling ringan mencium yang berat...." Bryan tidak melanjukan ucapannya, karena dirinya tidak bisa mejabarkan apa yang di lakukanya. "Apa kamu akan menghapusnya?" tanya dengan senyum licik.
Belum sempat Bryan melanjutkan ucapannya, Shea sudah mendekatkan bibirnya ke arah Bryan. "Aku akan menghapus yang ringan dulu," ucap Shea.
Tanpa menunggu jawaban Bryan, Shea langsung mendaratan bibirnya di dahi Bryan. Di sana, Shea memberikan satu kecupan lembut untuk Bryan. Menyusuri wajah Bryan, Shea menuju kedua pipi Bryan, dan mendaratkan satu kecupan di kedua pipi Bryan.
Bryan benar-benar membeku, saat bibir Shea mengecup dahi dan pipinya. Bryan hanya bisa memejamkan matanya, saat bibir Shea mendarat sempurna di dahi dan pipinya.
Jantung Bryan yang seolah berhenti berdetak, saat merasakan ketekejutannya, tatkala Shea mendaratkan kecupan di dahi dan pipinya.
Shea beralih pada bibir Bryan, dan mendaratkan bibirnya pada bibir Bryan. Shea memberikan satu kecupan tepat di bibir Bryan. Shea merasanan bibir kenyal milik Bryan, yang terasa oleh bibirnya.
__ADS_1
Bryan membulatkan matanya saat mendapatkan ciuman dari Shea. Jatungnya benar-benar berdetak tidak teratur, saat merasakan bibir Shea.
Shea yang sudah mencium Bryan merasa sangat malu, entah setan apa yang merasukinya, hingga tiba-tiba dengan tanpa paksaan dirinya mencium Bryan.
Pikiran Shea, mungkin karena dirinya tidak terima dengan noda masa lalu, yang sudah menempel di seluruh tubuh Bryan, dan itu memicunya mencium Bryan.
Shea langsung membalikkan tubuhnya, dan membenamkan tubuhnya di dalam selimut. Shea merasakan wajahnya menghangat, dan sudah Shea pastikan jika mungkin wajahnya sudah seperti kepiting rebus.
Bryan yang membeku baru sadar saat Shea membalikkan tubuhnya. Bryan benar-benar di buat linglung dengan ciuman tiba-tiba dari Shea. Bryan tidak menduga, jika Shea akan menciumnya.
"Se," panggil Bryan.
"Tidurlah! Aku juga mau tidur," ucap Shea. Shea tidak mau Bryan melihat wajahnya, karena pasti Bryan akan melihat wajah merahnya, jika berbalik.
Rasanya Bryan benar-benar merutuki kebodohannya. Dirinya sudah seperti remaja yang baru pertama kali mendapat ciuman, karena dirinya malah sibuk terkeget dan tidak membalas ciuman Shea sama sekali.
Aku berimajinasi tentang berciuman dengan Shea, tapi apa yang aku lakukan? Aku malah diam saja.
Bryan merasa kesal dengan dirinya sendiri, karena melewatkan kesempatan berharga ini.
Kalau tadi aku menahan tengkuknya, pasti aku bisa membalas ciumannya, dan memperdalam ciuman tadi. Pasti akan sangat nikmat, jika tadi aku membalasnya.
Bryan hanya bisa mendesah kecewa pada dirinya sendiri. Apa lagi sekarang Bryan melihat Shea sudah tidur dan membelakanginya.
Aku melepaskan kesempatan berharga ini, batin Bryan kesal.
Tapi sejenak Bryan meraba bibirnya. Bryan merasa bibir Shea masih begitu terasa di bibirnya. Seraya mengecap-ngecapkan bibirnya, Bryan merasakan sisa manis dari bibir Shea yang menempel di bibirnya.
Bryan menarik senyum di wajahnya. Rasanya Bryan senang sekali saat mendapatkan ciuman dari Shea.
Baru mendapatkan kecupan darimu saja, aku sudah sesenang ini. Bagaimana aku mendapatkan lebih dari ini?
Dalam hati Bryan, dia berharap akan mendapatkan kesempatan ini lagi.
Melihat Shea yang sudah tertidur, akirnya Bryan memejamkan matanya. Menyusul Shea yang sudah tertidur.
.
.
.
.
.
Tambahan up😉
Dikit doang ya😄
__ADS_1
Selamat malam minggu...
Jangan lupa Like dan Vote