My Baby CEO

My Baby CEO
Tidak akan membiarkan


__ADS_3

"Shea."


Shea yang sedang mengerjakan perkerjaannya, menengadah, saat mendegar suara wanita memanggilnya. Mata Shea menangkap sosok wanita cantik yang sudah beberapa hari tidak dia temui.


"Kak Selly." Shea berdiri menghampiri Selly dan menautkan pipinya.


"Kamu apa kabar?" tanya Selly saat melepas tautan pipinya.


"Baik, Kak," jawab Shea. "Kakak ingin bertemu Kak Regan?" lanjut Shea bertanya.


"Tidak."


Shea mengertukan dahinya saat mendapati jawaban 'tidak' dari Selly.


"Aku kemari mau mengajakmu ke butik." Selly menjelaskan pada Shea.


"Butik?" Shea merasa bingung untuk apa Selly mengajaknya ke butik.


Melihat wajah Shea yang bingung akhirnya Selly menjelaskan. "Besok akan ada ulang tahun perusahaan, jadi aku mau membeli gaun untuk acara besok."


Mendengar penjelasan Selly, Shea baru mengerti. Tapi Shea mengingat, jika dirinya juga memiliki janji dengan Chika untuk membeli gaun. "Aku juga punya janji dengan temanku untuk mencari gaun untuk acara pesta, Kak." Shea menjelaskan pada Selly.


"Kebetulan, kita bisa pergi bersama-sama." Selly yang mendengar merasa senang tenyata Shea punya niat yang sama. "Ayo, ambil tasmu dan ayo berangkat," lanjut Selly.


Shea sedikit terdentak saat mendengar ajakan Selly. "Tapi kami mau pergi selepas kerja." Shea merasa tidak mungkin dirinya mengambil waktu di jam kerja untuk pergi ke butik.


"Kenapa?" tanya Selly bingung.


"Karena aku tidak bisa meninggalkan perkerjaan, Kak."


Selly mengerti yang di maksud oleh Shea. "Aku akan bilang pada Regan, untuk mengajak dirimu dan temanmu ke butik." Selly langsung masuk ke dalam ruangan Regan untuk meminta izin pada Regan.


Shea yang melihat Selly masuk untuk meminta izin Regan merasa tidak enak. Tapi dirinya tidak bisa melarang, apa lagi Selly adalah istri CEO disini.


Selly mendorong pintunya, dan menyapa Regan. "Siang."


Regan yang mendengar sapaan merdu, sudah tahu suara siapa itu. Matanya yang sedang fokus pada laptop beralih pada Selly. "Sayang, kamu kemari?" tanya Regan.


Melangkah lebih dalam, Selly menghampiri Regan yang sedang duduk. "Iya, aku mau pergi membeli gaub untuk acara ulang tahun perusahaan kita," ucap Selly. Selly berdiri di samping Regan yang sedang duduk, dan mendaratkan kucupan di pipi Regan.


"Mau mengajakku?" Regan sedikit menengadah saat bertanya pada Selly.


"Tidak.


"Tidak?" Regan bertanya dan memastikan kenapa Selly tidak mengajaknya.


"Karena aku mau mengajak Shea."


Regan berpikir tujuan Selly adalah mencari gaun, dan pasti tidak akan cukup hanya sebentar. Regan tahu persis seberapa lamanya saat Selly berbelanja. Tapi mengajak Shea, itu berarti Shea akan meninggalkan perkerjaanya. "Baiklah, aku akan izinkan Shea ikut denganmu." Regan tidak punya pilihan selain mengizinkan.


Untung sudah ada Jessie, kalau tidak perkerjaanku benar-benar akan semakin berat kalau Shea terlalu banyak izin, batin Regan.


"Terimakasih," ucap Selly seraya memeluk Regan. "Tapi izinkan juga teman Shea," tambah Selly.


"Teman?"


"Iya, tadi Shea bilang jika dia sudah punya janji dengan temannya yang berkerja di kantor ini juga, jadi aku pikir kita bisa bersama-sama pergi mencari gaun."


Regan hanya bisa mendengus kesal saat Selly mau mengajak dua karyawannya. "Sekalian saja, kamu ajak Jessie," grutu Regan.


"Itu ide bagus, semakin banyak yang ikut, akan semakin seru," jawab Selly saat mendengar grutuan Regan.


Napas Regan berhebus kencang menahan emosinya, saat mendengar ide Selly. "Biarkan Jessie disini, kamu pergilah dengan Shea dan temannya." Regan hanya bisa menolak ide Selly.


"Baiklah, kalau begitu," ucap Selly. "Aku pergi dulu," lanjut Selly seraya mendaratkan kecupan di pipi Regan


Selly pun keluar dari ruangan Regan, dan meninggalkan Regan yang hanya bisa mengeleng saat istrinya begitu bersemangat untuk pergi bersama Shea.


Keluar dari ruangan Regan, Selly langsung menghampiri Shea. "Ayo, Regan sudah mengizinkan," ucap Selly.


Shea sudah menduga, Regan tidak akan bisa menolak permintaan Selly. Menganggukan kepalanya, Shea menjawab ajakan Selly. Seraya mengambil tasnya, Shea berpamitan dengan Jessie dan menitipkan beberapa perkerjaan padanya.


Selly dan Shea berlalu meninggalkan meja kerja Shea, dan menuju ruangan Chika untuk mengajak Chika ke butik.


***


Sesampainya di butik Shea dan Chika hanya bisa tercengang, saat melihat jika Selly mengajaknya ke butik terkenal. Selly masuk terlebih dahulu, dan di sambut oleh pelayan butik dengan ramah.


"Se, aku mana sanggup beli di sini," bisik Chika seraya menarik lengan Shea. Chika yang tadi melihat Shea dan Selly ke ruangannya, begitu kaget. Saat Selly meminta izin ke manager pemasaran untuk mengajak Chika pergi, Chika pun tidak bisa menolak. Tapi saat melihat butik di hadapannya, rasanya Chika tidak akan sanggup membeli gaun di butik ini.


"Kamu pikir aku juga sanggup," keluh Shea berbisik juga.


"Bukannya suamimu itu adiknya Bu Selly, jadi pasti uangmu banyak."


Mendengar ucapan Chika, Shea hanya melirik tajam. Walaupun Shea diberi uang oleh Bryan, tapi Shea memilih berhemat, karena Shea tidak mau sampai suatu saat dirinya tidak berkerja, dirinya tidak memiliki uang.


Mengikuti Selly masuk ke butik, Shea dan Chika tercengang melihat gaun-gaun yang begitu cantik berjajar di galery.


"Wah bagus sekali," ucap Chika melihat satu gaun. Tangan Chika terus meraba gaun cantik yang di pegangnya, hingga sampai matanya menemukan price tag yang menujukan harga lima puluh juta. "Se," panggil Chika berbisik.


Shea yang juga sedang mencari gaun mendengar panggilan Chika yang berbisik. "Apa?"


"Lima puluh juta," bisik Chika seraya menujukan price tag pada Shea.

__ADS_1


Shea hanya bisa menelan ludahnya kasar, saat melihat harga gaun yang di tujukan oleh Chika. Shea tidak bisa membayangkan, jika uang yang disimpannya akan terkuras sebanyak lima puluh juta hanya untuk sebuah gaun saja.


"Se, rasanya aku tidak akan jadi beli disini, kamu saja yang beli," ucap Chika pada Shea.


Kamu pikir aku juga mau beli disini, kalau harganya semahal itu, batin Shea.


Akhirnya Shea dan Chika memutuskan melihat-lihat saja. Sesekali Shea dan Chika saling berbisik saat tahu harga gaun yang mereka lihat. Kekagetan demi kekagetan mereka berdua rasakan, saat melihat harga yang begitu mencekik leher mereka.


"Kalian sudah menemukan pilihan?" tanya Selly pada Shea dan Chika.


Shea dan Chika hanya saling pandang saat mendapat pertanyaan dari Selly. Mereka bingung mau menjawab apa pertanyaan Selly.


"Sepertinya gaunnya terlalu mewah, Kak. Kami mencari yang gaun yang simple." Shea mencoba mengelak agar tidak malu pada Selly.


"Kalau ibu mau gaun yang simple, kami ada di lantai tiga." Pelayan butik yang mendengar ucapan Shea pun menjelaskan pada Shea.


"Ya sudah ayo kesana," ajak Selly.


Rasanya Shea merutuki kesalahannya yang memberikan alasan yang salah. Karena ternyata butik memiliki gaun yang di maksud oleh Shea. Karena tidak bisa mengelak lagi, akhirnya Shea mengikuti Selly dan pelayan butik.


Saat sampai di lantai tiga, Shea memang melihat model gaun yang terpajang lebih simple. Mancari-cari gaun, mata Shea menangkap satu gaun brokat tanpa lengan, terlihat sederhana tapi cantik. Tangan Shea mencari-cari harga gaun yang dilihatnya, dan akhirnya Shea menemukan price tag. "Dua pulug lima juta," gumam Shea.


Melihat harga yang lebih murah, Shea berpikir jika tidak masalah jika dirinya membelinya. Tapi melihat potongannya yang pas di badan, Shea tidak yakin gaun itu muat dengan perutnya yang hamil.


"Muat tidak ya?" gumam Shea.


Selly yang melihat Shea diam saja, tergelitik untuk bertanya. "Kenapa, se?"


Shea menoleh saat Selly bertanya padanya. "Aku hanya berpikir, apa gaun ini akan muat denganku atau tidak." Shea menjawab apa yang sedang dipikirkannya.


"Kenapa tidak di coba saja."


Mendengar saran Selly, akhirnya Shea mencobanya. Rasa sukanya pada gaun yang dilihatnya, membuat Shea begitu penasaran. Masuk ke fitting room, Shea melepas baju kerjanya dan menganti dengan gaun yang di bawanya.


Wajah Shea bersinar, saat ternyata gaun yang ingin di belinya. "Ternyata pas," ucapnya saat melihat dirinya dalam pantulan cermin. "Perutku juga belum terlalu besar." Kandungan Shea yang baru mencapai dua bulan pun belum terlalu terlihat besar.


Akhirnya Shea memutuskan untuk membeli gaun yang dicobanya.


Keluar dari fitting room Shea melihat Chika juga keluar dari ruangan di sebelahnya.


"Shea," panggil Chika semangat.


Shea hanya mengernyitkan dahinya saat melihat Chika yang memanggilnya dengan semangat. Shea ingat betul, jika tadi Chika begitu malas setelah melihat harga gaun di butik.


"Bu Selly, membelikan satu gaun untukku." Chika menjelaskan pada Shea. "Ini, lihat." Chika menujukan pada Shea, gaun yang di pililhnya.


Senyum pun tertarik di wajah Shea, saat melihat Chika yang begitu semangat mendapatkan gaun. Entah apa yang harus Shea ucapkan untuk mengambarkan sosok Selly. Selain cantik, lembut, Selly begitu baik. Melihat Selly yang begitu berbeda dangan Bryan, kadang Shea suka tertawa.


"Ayo kalau begitu," ajak Shea pada Chika. Shea dan Chika menghampiri Selly yang juga sudah selesai memilih gaun.


Setelah selesai memilih gaun, Shea dan Selly membayar gaun di kasir.


"Biar aku yang bayar, se," ucap Selly.


Shea yang mendapat tawaran dari Selly pun terkejut. Bagi Shea kebaikan Selly sudah sangat banyak, dan dirinya tidak mau memanfatkannya.


"Tidak, Kak, tidak perlu," elak Shea. "Bryan sudah memberiku uang, jadi aku bisa membeli gaun ini," lanjut Shea menjelaskan.


"Bryan sudah memberimu uang?" tanya Selly memastikan.


"Iya." Shea menjawab disertai anggukan.


"Baiklah, bayarlah kalau begitu." ucap Selly tersenyum.


Setelah selesai membeli gaun, Selly mengajak Shea dan Chika untuk makan siang terlebih dahulu. Apa lagi makan siang mereka sudah lewat dua jam, karena mereka terlalu asik memilih gaun.


Memilih restoran di dekat butik, Selly, Shea dan Chika menikmati makan siang.


Saat menikmati makan siang, ponsel Shea berdering. Shea langsung mengambil ponselnya untuk tahu, siapa yang menghubunginya.


Bryan, batin Shea saat melihat siapa yang menghubungi dirinya.


Shea pun mengusap layar ponselnya, dan mengangkat sambungan telepon dari Bryan.


"Se, maaf aku tadi meeting, jadi tidak menjemputmu untuk makan siang, apa kamu menungguku? apa kamu sudah makan?" Pertanyaan bertubi-tubi terdengar dengan nada khwatir dari Bryan.


Shea yang mendengar pertanyaan Bryan hanya bisa tersenyum. Aku saja lupa kalau memiliki jadwal makan siang dengan Bryan. Shea hanya bisa membatin dalam hatinya, bagiamana dirinya melukapan jadwal makan siangnya dengan Bryan.


"Aku baru makan," jawab Shea.


"Apa kamu baru makan? apa tadi kamu menungguku?" tanya Bryan yang begitu menyesal.


"Tidak, aku tidak menunggumu, hanya tadi aku baru saja sempat makan." Shea menjelaskan pada Bryan.


"Kenapa baru makan, apa Kak Regan memberimu banyak perkerjaan?"


"Tidak-tidak, aku tadi keasikan memilih gaun, jadi baru sempat makan."


"Gaun?" Bryan bingung gaun apa yang di cari Shea.


Saat Shea sedang berbicara dengan Bryan, Shea melihat Selly meminta ponselnya. Shea pun akhirnya memberikan ponselnya pada Selly.


"Shea mencari gaun denganku," ucap Selly setelah menempelkan ponsel milik Shea di telinganya.

__ADS_1


"Kakak." Bryan keget saat Selly lah yang berbicara dengannya.


"Iya. Tadi aku mengajak Shea mencari gaun untuk acara ulang tahun perusahaan lusa."


"Oh...."


"Nanti aku akan mengantar Shea pulang, jadi tidak perlu khawatir." Selly menjelaskan pada Bryan.


"Baiklah, ingat pastikan Shea sampai dengan rumah dengan selamat. Jika terjadi sesuatu dengan Shea, aku tidak akan mengampuni Kakak."


Selly langsung tertawa mendengar ucapan Bryan. "Aku akan menculik Shea, dan akan aku nikahkan dengan pria baik-baik," goda Selly pada Bryan.


"Kakak," teriak Bryan tidak terima.


Selly semakin tertawa terbahak saat mendengar suara Bryan yang begitu kesal. Selly yang tidak mau memperpanjang perdebatannya menyerahkan ponsel pada Shea.


Shea yang menerima ponselnya, langsung menempelkan di telinganya.


"Aku tidak akan membiarkan kakak melakukan itu!" Suara Bryan yang terdengar emosi menandakan jika Bryan tidak akan merelakan Shea untuk siapa-siapa.


Shea yang mendengar ucapan Bryan hanya menarik senyum. Shea memang mendengar bagaimana Selly mengoda Bryan. Tapi Shea tidak tahu akan seperti apa reaksi Bryan.


"Bry," panggil Shea dari sambungan telepon.


"Shea." Bryan kaget saat ternyata yang dia bentak adalah Shea.


"Iya, ini aku."


"Kamu tidak akan mau bukan dinikahkan dengan pria lain?" tanya Bryan ragu-ragu.


"Kamu ini bicara apa. Aku sudah menikah, bagaimana bisa aku menikah lagi," elak Shea.


"Bisa, setelelah Shea berpisah dengamu." Selly mendekatkan tubuhnya dan berbicara pada Shea. Selly mengecangkan suaranya agar Bryan mendengarnya.


Bryan yang mendengar suara kakaknya begitu kesal. Apa lagi kakaknya membahas perpisahan dengan Shea. "Cepat pulang!" ucap Bryan pada Shea. "Jangan berlama-lama dengan Kak Selly."


Shea yang mendengar perdebatan Bryan dan Selly, hanya bisa mengeleng. Shea tahu Selly hanya mengoda Bryan, karena tawa Selly terlihat di wajahnya. Tapi reaksi Bryan benar-benar tidak Shea sangka. "Iya, aku akan pulang setelah selesai makan."


"Sampai bertemu di rumah," ucap Bryan sebelum mengakhiri sambungan telepon.


"Iya." Shea pun mematikan sambungan telepon.


Setelah melihat reaksi Bryan, Selly menduga jika hubungan Shea dan Bryan sudah jauh lebih baik. Selly sebenarnya mau menanyakan tentang hal itu pada Shea. Tapi Selly urung melakukannya karena ada Chika yang bersama mereka.


Mereka bertiga pun melanjutkan makan siang, yang tertunda karena sambungan telepon dari Bryan.


***


Selly mengantarkan Shea dan Chika untuk pulang terlebih dahulu, sebelum dirinya pulang. Mereka bertiga tadi sempat berjalan-jalan terlebih dahulu setelah makan.


Setelah mengantarkan Chika pulang, Selly mengantarkan Shea pulang.


"Sepertinya hubunganmu sudah lebih baik?" tanya Selly saat perjalanan ke apartemen Bryan.


"Iya," jawab Shea dengan menarik senyum.


Mendapat jawaban Shea, Selly merasa lega. "Bryan sebenarnya sangat baik, terlepas dengan sikapnya yang seperti don juan." Selly menatap Shea di iringi tawa kecil. "Jadi aku berharap kamu dan Bryan bisa bersama, dan tidak ada perpisahan," lanjut Selly.


"Kalau itu aku belum bisa janji, Kak." Shea tidak mau memberikan harapan pada Selly tentang hubungannya dengan Bryan.


"Apa yang membuatmu ragu, perasaanmu, apa perasaan Bryan?"


Shea terkesiap mendapat pertanyaan Selly. Dirinya sendiri pun tidak tahu apa yang membuatnya ragu.


"Lupakan pertanyaaku," ucap Selly saat melihat reaksi Shea yang kaget.


Shea hanya mengangguk, saat mendengar ucapan Selly. Tapi tetap saja, Shea masih memikirkan apa yang membuatnya masih ragu.


"Sudah sampai," ucap Selly.


Shea yang sedang memikirkan ucapan Selly pun tersadar saat ternyata dirinya sudah sampai di apartemen.


"Terimakasih, Kak," ucap Shea seraya menautkan pipinya.


"Iya, hati-hati."


"Iya."


Shea pun keluar dari mobil, dan masuk ke apartemen.


.


.


.


.


.


Jangan lupa like dan vote


Biar author tambah semangat😉

__ADS_1


__ADS_2