My Baby CEO

My Baby CEO
Berkencan


__ADS_3

Libur pertama di rumah baru, membuat Bryan dan Shea begitu bersemangat. Pagi ini, Shea dan Bryan bersiap untuk olahraga. Shea memilih untuk berjalan-jalan di sekitar komplek perumahan. Karena dirinya ingin sekaligus melihat-lihat suasana komplek perumahan tempat tinggalnya.


Shea menarik napasnya dalam dan menghirup perlahan oksigen yag begitu menyejukan. Pepohonan yang masih begitu banyak di sekitar komplek perumahan, membuat udara masih begitu bersih.


Saat merasakan oksigen masuk ke dalam paru-parunya, Shea merasa kelegaan di dadanya.


"Apa kamu suka tinggal di sini?" tanya Bryan yang melihat Shea begitu menikmati susasana komplek perumahannya.


"Iya, aku suka," jawab Shea.


Bryan bersyukur, ternyata Shea suka tinggal di sini. Seraya berjalan-jalan mengelilingi komplek perumahan, Shea dan Bryan saling bercerita.


"Coba ceritakan masa kuliahmu." Saat berjalan-jalan, Bryan teringat dengan buku diary yang menceritakan tentang bagiamana Shea menganggumi para pria.


"Apa yang mau di ceritakan, aku tidak punya cerita waktu kuliah," jelas Shea.


Bohong sekali dia, aku baca dengan jelas, jika dia dan Chika suka menganggumi ketampanan para pria.


Bryan hanya bisa mencibir Shea dalam hatinya.


"Apa tidak ada pria tampan yang kamu sukai waktu kuliah?" Bryan mencoba menggali kembali. Dia ingin tahu kebenaran tentang isi buku diary milik Shea.


"Emm ...." Shea berpikir pria mana yang pernah dia sukai. "Banyak pria tampan di kampus, tapi tidak ada yang aku sukai," jelas Shea.


Bryan menoleh dan menatap kedua bola mata milik Shea. Bryan menelisik, mencari kebenaran dari ucapan Shea.


"Kenapa kamu menatapku seperti itu?" tanya Shea tajam.


"Kamu tidak menyukai tapi mengagumi ketampanan pria-pria di kampusmu bukan?"


"Dari mana kamu tahu, kalau aku suka mengagumi para pria tampan?" Shea yang mendengar pertanyaan Bryan pun balik bertanya.


Bryan yang tanpa sengaja mengatakan isi diary Shea merasa bingung, saat ketahuan. "A-ku, aku hanya menembak saja," jawab Bryan asal.


"Oh ... kamu hanya menebak, aku pikir kamu tahu dari mana."


Bryan yang melihat wajah santai Shea merasa sedikit kesal. "Jadi benar kamu suka mengagumi para pria waktu kuliah?" Pertanyaan itu kembali Bryan ucapkan.


"Iya, aku memang suka mengagumi para pria tampan waktu kuliah." Shea tersenyum mengingat bagaimana dirinya dan Chika suka bergosip menceritakan pria-pria tampan.


Berarti yang dia tulis sesuai dengan yang terjadi.


"Kenapa kamu seperti itu?" Rasanya Bryan tidak suka saat mendengar jika Shea membenarkan ucapannya.


Shea memicingkan matanya, di sertai kerutan dalam di keningnya. "Aku wanita normal, jadi wajar jika aku suka menilai pria tampan."


"Apa dari sekian banyak pria tampan yang kamu kagumi tidak ada yang menjadi kekasihmu?" Sebenarnya menerima kenyataan jika Shea suka mengagumi pria tampan benar-benar membuat Bryan tidak terima, tapi dirinya ingin sekali tahu lebih dalam.


"Tidak ada," jawab Shea dengan yakin.


"Kenapa tidak?"


"Karena aku mau fokus kuliah, dan mengurungkan niatku untuk berpacaran."


"Lalu kapan kamu berniat berpacaran?"


Shea tampak berpikir kapan dirinya akan berpacaran. "Waktu itu aku pikir akan berpacaran setelah berkerja," jelas Shea.


"Bukannya kamu sudah berkerja, dan apa kamu sudah berpacaran?" tanya Bryan kembali.


Shea melirik tajam pada Bryan saat mendapatkan pertanyaan dari Bryan. "Aku baru saja seminggu berkerja di Maxton Company, dan langsung bertemu dengan dirimu," jelas Shea, "lalu bagaimana aku bisa berpacaran," lanjut Shea mengingat.


Shea ingat betul jika dirinya baru saja seminggu berkerja di Maxton Company, sampai saat kejadian nahas yang menimpanya.


Mendengar penjelasan Shea, Bryan merasa bersalah. Bryan memang tahu jika Shea karyawan baru di perusahaan Regan, tapi dirinya tidak tahu jika Shea baru seminggu berkerja.


"Kalau begitu ayo kita berpacaran?"


"Apa kamu sedang bercanda," ucap Shea. Shea yang dari tadi berjalan tiba-tiba berhenti, dan menatap Bryan.


"Aku tidak becanda. Aku akan memenuhi keinginanmu yang ingin berpacaran saat sudah berkerja. Jadi ayo kita berkencan." Bryan mencob meyakinkan Shea.


"Terserah padamu," ucap Shea seraya melangkah meninggalkan Bryan.


Bryan mengejar Shea. "Ayo kita mulai berkencan," ajak Bryan kembali.


Shea mengabaikan Bryan, dan terus melanjutkan langkahnya.


"Kita akan mulai dari mana?" tanya Bryan.


"Mana aku tahu."


"Emm .... " Bryan berpikir apa yang harus dia lakukan saat berpacaran. Sejujurnya Bryan tidak tahu apa yang harus dia lakukan.

__ADS_1


"Sepertinya kita mulai dengan berjalan-jalan dan menonton saja." Shea yang sering mendengar teman-temannya melakukan hal itu pun memberikan ide pada Bryan.


Bryan berpikir apa yang di katakan oleh Shea. "Baiklah, ayo," ucap Bryan. Bryan pun mengajak Shea untuk pulang dan melanjutkan rencananya.


***


Dengan semangat, Bryan mengajak Shea untuk menuju mal. Bryan melajukan mobilnya dengan semangat, karena hari ini adalah hari pertamanya pergi berdua berkencan dengan Shea.


"Ini masih jam sepuluh, apa kita tidak terlalu pagi untuk ke mal?" tanya Shea.


"Tidak, kita akan mulai acara kencan kita lebih awal." Bryan tidak perduli dengan keluhan Shea yang mengatakan tentang apapun.


Shea hanya mengeleng saat Bryan yang tetap dengan pendiriannya untuk pergi pagi-pagi.


Sesampainya di mal, Bryan dan Shea masuk ke dalam mal bersama. Bryan menautkan jemarinya pada jemari Shea, saat masuk ke dalam mal.


Mata Shea tertuju pada jemarinya dan jemari Bryan yang saling bertautan. Shea ingat betul, pertama kali dirinya pergi menonton dengan Bryan, mereka berdua bagai orang asing yang tidak sengaja bertemu dan berjalan beriiringan. Tapi kini, dirinya dan Bryan saling bergandengan.


Shea juga ingat, dirinya sempat iri dengan Regan dan Selly. Tapi sekarang, dirinya sudah dapat merasakan apa yang di rasakan oleh Selly.


Senyum terus mengembang di wajah Bryan dan Shea. Mereka berdua merasakan bahagia, saat bisa pergi berdua.


Sesampainya di bioskop, Bryan dan Shea melihat sudah banyak orang yang juga ingin menonton. Walaupun Bryan dan Shea sudah datang pagi, ternyata tidak hanya mereka yang datang pagi ke bisokop.


"Apa mereka juga mau menonton?" tanya Bryan.


"Tidak, sepertinya mereka kemari ingin makan," jawab Shea malas.


Bryan melirik tajam pada Shea, saat mendengar jawaban Shea. Tapi tatapan tajam Bryan malah mendapatkan tawa kecil dari Shea.


Melihat tawa Shea sungguh membuat Bryan sangat senang.


"Aku akan membeli pop corn dan kamu membeli tiket," ucap Shea pada Bryan.


"Biarkan aku saja yang membeli, kamu duduk saja menungguku."


"Setahu aku, mereka yang berkencan selalu membagi tugas seperti itu." Shea menjelaskan pada Bryan.


Bryan memang tidak tahu seperti apa orang biasanya berkencan. Akhirnya menerima saran Shea, Bryan mengikuti perintah Shea.


Membagi tugas, Shea berlalu membeli pop corn dan minuman, sedangkan Bryan membeli tiket.


"Satu pop corn large, satu soda dan satu orange jus." Shea memesan makanan dan minuman untuk bekal dirinya dan Bryan menikmati menonton film.


"Sudah?" tanya Bryan.


"Belum," jawab Shea. Saat menjawab pertanyaan Bryan Shea melihat tiket bioskop yang begitu banyak. "Itu kenapa banyak sekali tiketnya?" tanya Shea yang heran.


"Iya, aku membeli semua kursi di dalam bioskop."


Shea langsung membulatkan matanya sempurna saat ternyata Bryan membeli kursi satu bioskop. "Maksudmu kita hanya akan nonton berdua?" tanya Shea memastikan.


"Iya," jawab Bryan enteng.


"Tapi ...."


"Ini pesanan Anda." Suara pelayan yang memberikan pesanan Shea, menghentikan Shea yang sedang ingin memprotes apa yang Bryan lakukan.


"Iya," jawab Shea beralih pada pelayan dan menerima pesanan pop corn dan minumannya.


Bryan juga langsung membantu Shea membawakan pop corn dan minumannya.


"Jelaskan dulu kenapa kamu membeli sebanyak itu?" Setelah menerima pop corn dan minumannya, Shea melanjutkan kembali ucapannya yang terjeda.


"Aku hanya ingin menonton berdua denganmu, jadi aku membeli semua." Bryan menjelaskan dengan santai.


"Kalau kamu mau menonoton berdua saja, kenapa kita harus jauh-jauh ke bioskop, kenapa tidak di rumah saja." Shea benar-benar kesal dengan ulah Bryan yang membeli tiket begitu banyak.


"Baiklah, mungkin lain waktu sebaiknya begitu saja," jawab Bryan, "kalau di rumah tidak akan ada yang menganggu," lanjut Bryan tersenyum membayangkan menonton bersama Shea di rumah.


Shea malas sekali mendengar jawaban Bryan. Rasanya Shea ingin sekali menjambak rambut Bryan untuk meluapkan kekesalannya.


"Sudah ayo masuk," ajak Bryan.


Tidak ada pilihan lain, akhirnya Shea memilih masuk ke dalam bioskop bersama dengan Bryan.


Saat masuk Shea ke dalam bioskop, Shea melihat kursi kosong tanpa satu pun orang di dalamnya. Seketika bulu kudu Shea berdiri, saat merasakan hawa dingin yang sebenarnya diciptakan oleh embusan pendingin ruangan.


"Bry, aku takut," ucap Shea.


"Kenapa takut?"


"Apa kamu tidak lihat, kita hanya berdua disini," kesal Shea, "kita seperti sedang masuk rumah hantu, bukan bioskop." Shea bersungut-sungut menjelaskan pada Bryan.

__ADS_1


"Sudah jangan takut, ada aku." Bryan menarik tangan Shea dan mensejajarkan jalannya. Berjalan dengan beriringan, Shea dan Bryan mencari tempat duduk.


"Kamu mau duduk dimana?" tanya Bryan.


"Disana saja, disana lebih pas untuk melihat ke arah layar." Shea menunjuk satu tempat duduk di tengah.


Bryan pun mengajak Shea ke tempat duduk yang di pilih oleh Shea.


Duduk bersebelahan, Bryan dan Shea meletakkan minuman yang mereka bawa, seraya menunggu film di mulai.


"Mau nonton film apa kita?" tanya Shea seraya memasukkan pop corn ke dalam mulutnya


"Film horor."


Seketika Shea langsung tersedak saat Bryan mengajaknya untuk menonton film horor. Shea ingat betul jika tadi dirinya mengatakan memang menyerahkan pilihan film pada Bryan. Tapi Shea tidak menyangka Bryan akan mengajaknya menonton film horor.


"Minumlah!" Bryan menyodorkan minuman pada Shea.


Shea langsung menerima minuman dari Bryan, dan meminumnya. Tenggorokannya yang sakit, seketika mereda saat air mengalir di tenggorokannya.


"Kenapa kamu membeli film horor?" Shea benar-benar gemas dengan Bryan.


"Memangnya kenapa?" Bryan bingung kenapa Shea tiba-tiba marah padanya.


"Kamu tanya kenapa?" Mata Shea membulat sempurna saat menatap Bryan, "apa kamu tidak lihat di bioskop ini, kita hanya berdua? Apa kita kemari untuk uji nyali?" Napas Shea terengah-engah saat meluapkan kekesalannya.


"Kamu takut?" Bryan yang dari tadi melihat Shea marah, memberanikan diri untuk bertanya.


"Aku tidak takut menonton film horor, tapi aku takut menonton film horor dengan kursi kosong yang mungkin saja di huni oleh para hantu." Emosi Shea belum mereda sama sekali, malah semakin menuncak saat menjelaskan pada Bryan.


"Kenapa kamu menakutiku," ucap Bryan seraya melihat keseliling melihat kursi kosong di sekitarnya. Saat Shea mengatakan tentang kursi kosong, nyali Bryan langsung ciut.


"Bu.... "


Baru saja Shea mau menjawab ucapan Bryan, terdengar suara film mengelegar di ruangan bioskop. Mereka berdua tidak sadar saat mereka asik berdebat, ternyata film sudah mulai.


Mata mereka langsung beralih pada layar besar di hadapan mereka. Saat mata mereka menoleh, mereka melihat adengan hantu yang sedang tertaaa. Suara tawa hantu di dalam film seketika membuat Bryan dan Shea berteriak.


"Ach...."


Shea seketika melempar pop corn yang ada di tangannya, dan membuat pop corn berhamburan di tubuhnya dan Bryan.


"Ayo keluar," ucap Shea mendorong Bryan.


"Ayo," ucap Bryan berdiri dan menarik tangan Shea. Bryan yang takut pun menuruti ajakan Shea.


Bryan dan Shea berlari keluar dari bioskop. Mata Shea dan Bryan mencari pintu keluar, karena kepanikan mereka berdua, membuat mereka berdua bingung dimana pintu keluar. Berdiri di tengah tangga dan di depan layar, mereka berdua melihat ke arah kanan dan kiri, mencari pintu keluar.


Tapi saat mereka berada di depan layar, adengan hantu yang keluar secara tiba-tiba membuat mereka berdua kembali menjerit lagi. "Ach...." Jeritan terdengar lebih kencang dari jeritan sebelumnya.


Wajah ketakutan terlihat jelas pada Bryan dan Shea. Tidak bisa mereka gambarkan bagaimana perasaan mereka. Karena dalam pikiran mereka hanya ada kata 'lari'.


"Kesana," ucap Shea menujuk ke arah kanan.


Bryan mengangguk, dan berlari bersama Shea, menuju pintu yang bertulisan 'exit' yang menyala.


Mendorong pintu sekuat-kuatnya Bryan dan Shea keluar dari bioskop. Pikiran mereka hanya satu, keluar dari dalam bioskop, karena mereka tidak mau berada di bioskop dengan hantu-hantu.


Bryan dan Shea yang berhasil keluar, berhenti tepat di pintu dimana tadi mereka keluar. Mereka berdua mengatur deru napasnya, yang masih terengah akibat lari.


Mereka berdua saling pandang, dan akhirnya tawa mereka pecah. Rasanya mereka benar-benar menertawakan kekonyolan mereka berdua.


"Lihatlah wajahmu yang ketakutan," ucap Bryan. Bryan tertawa melihat wajah pucat Shea.


"Kalau aku takut wajar, karena aku wanita, coba lihatlah dirimu. Pria macam apa kamu? Takut juga," jawab Shea tidak kalah meledek Bryan.


Mereka berdua menyadari. Keringat dingin yang mengalir di tubuh mereka masing-masing, menandakan seberapa mereka tadi ketakutan.


.


.


.


.


.


Novel masih on going ya, jadi pastikan sedikit bersabar🙏


Bagi yang tidak, bisa menunggu sampai tamat😊


Infomasi up tidak biasa author bagikan, di IG Myafa16.

__ADS_1


jangan lupa like dan vote


__ADS_2