
Dengan setia Bryan menemani Shea. Tangannya tak berhenti membelai dan memijat lembut punggung Shea.
Sesekali, Bryan menceritakan hal-hal lucu pada Shea, agar mengurangi stress yang di rasa oleh istrinya.
Nanti jika anak kita lahir, jika nanti laki-laki aku akan membuatnya tampil keren. Saat usianya sudah cukup untuk ke gym. Aku akan mengajaknya ke gym, agar badannya kekar.
Shea tertawa mendengar celoteh Bryan. "Saat ikut anak kita ke tempat gym, aku yakin kamu sudah tidak akan kuat mengangkat barbel." Walaupun menahan sakit Shea menjawab ucapan suaminya.
"Kamu pikir aku selemah itu, jangankan barbel, kamu saja aku kuat mengangkat jika nanti aku sudah tua."
"Kita lihat saja," ucap Shea tertawa, "Ach ... " keluh Shea saat perutnya terasa sakit.
"Bertahanlah! Kamu harus lihat sekuat apa tulang tuaku nanti mengangkat tubuh tuamu." Bryan mendaratkan kecupan di pipi Shea. Ada rasa takut yang teramat dirasakan oleh Bryan. Dia tahu, melahirkan adalah pertaruhan hidup dan mati. Namun, dia tidak mau sampai kehilangan Shea ataupun anaknya dalam hal ini.
***
Melisa dan Daniel yang dihubungi oleh Felix langsung datang ke daerah puncak. Mereka merasa sangat kesal, dengan ulah anaknya yang membawa menantunya untuk pekerjaan. Padahal harusnya Bryan tahu jika kondisi Shea sedang dalam keadaan hamil.
"Di mana ruangan perawatan Shea?" Melisa yang melihat Felix di duduk di kursi menghampiri dan langsung bertanya.
"Di dalam, Bi," ucap Felix seraya menunjuk satu ruangan di hadapannya.
Tanpa menjawab ucapan Felix, Melisa langsung masuk ke dalam ruang rawat. Membuka pintu kamar, dia melihat menantunya sedang duduk dan dipijat lembut oleh Bryan.
"Ma .... " Bryan yang melihat mamanya, berdiri dan menyapa mamanya. Dia melihat sorot mata mamanya yang diliputi kemarahan. Bagi mamanya, Shea sudah menjadi bagian penting dalam keluarganya, dan lebih lagi anak dalam kandungan Shea ada salah satu cucu dari Adion.
"Bagiamana keadaan kamu sayang?" Melisa langsung menghampiri Shea. Membelai lembut rambut menantunya.
"Dokter sudah memberikan beberapa obat, dan penguat paru-paru, menghindari kemungkinan jika anak kami akan lahir prematur." Bryan menjawab pertanyaan mamanya.
Mata Melisa menatap tajam Bryan. Rasanya dia geram sekali dengan anaknya itu. Namun, semua sudah terjadi. "Mama tidak perduli kenapa bisa kalian di sini, tapi yang jelas, jika terjadi sesuatu pada menantu dan cucu mama, mama tidak akan memaafkan kamu!"
Bryan hanya bisa menelan salivanya, saat mendengar ancaman mamanya. Sebenarnya Bryan ingin menjawab jika dia juga sangat khawatir dengan Shea. Namun, Bryan urung melakukannya karena akan menjadi perdebatan panjang dengan mamanya.
"Shea, baik-baik saja, Ma." Melihat mertuanya yang begitu terlihat kesal pada suaminya, Shea berusaha menenangkan mama mertuanya. Dia sadar jika semua bukan sepenuhnya salah Bryan.
__ADS_1
Melisa hanya bisa mendengus kesal saat mendengar ucapan anak menantunya. Dalam keadaan seperti ini anak menantunya masih sempat membela suaminya. Melisa membelai punggung Shea, untuk meredakan sakit yang terasa oleh Shea. Sebagai wanita yang sudah pernah melahirkan dua anak, Melisa bisa merasakan bagaimana sakitnya menjelang persalinan.
Saat mama mertuanya sedang memijat punggungnya lembut, Shea merasakan cairan dari jalan lahirnya terasa lebih banyak keluar. "Sepertinya air ketubannya semakin banyak keluar," ucap Shea.
Bryan, Melisa dan Daniel semakin panik saat mendengar ucapan Shea. Bryan langsung menekan bel pasien untuk memanggil dokter. Dokter dengan cepat datang, untuk mengecek keadaan Shea.
Saat melakukan pengecekan ternyata air ketuban yang keluar, kini bercampur dengan darah pekat. Detak jantung bayi juga sudah mulai lemah, dan pergerakan bayi juga mulai berkurang.
"Sepertinya kita sudah harus melakukan operasi caesar secepatnya," ucap dokter pada Bryan.
"Apa operasi?" Melisa benar lemas mendengar jika anak menantunya harus operasi.
"Lakukan yang terbaik untuk istri saya, Dok." Bryan hanya bisa pasrah. Satu hal yang ada di pikirannya adalah keselamatan anak dan istrinya.
"Persiapan operasi caesar sekarang juga," ucap dokter pada perawat.
Keadaan semakin menegangkan. Para perawat pun mulai bergerak mempersiapkan operasi. Mereka memindahkan Shea untuk menuju ke ruang operasi.
Melisa hanya bisa pasrah, melihat menantunya akan di operasi. Dalam dekapan suaminya menangis, merasakan ketakutannya.
Saat Shea di bawa keluar, Alex, Felix, dan Helena melihat dengan kebingungan, tapi mereka tahu, jika pasti akan dilakukan tindakan pada Shea. Mereka bertiga pun tak kalah tengang.
"Lex," panggil Helena ketakutan. Tubuhnya gemetar membayangkan Shea harus di operasi.
Alex yang menyadari Helena yang begitu ketakutan, membawanya ke dalam dekapannya.
"Aku tak bermaksud membuatnya seperti ini," sesal Helena. Air matanya tak bisa dibendung lagi karena membuat Shea harus melahirkan lebih awal.
"Tenanglah! Shea akan baik-baik saja."
Helena mengangguk. Dia berharap Shea baik-baik saja, dan operasinya berjalan dengan lancar, karena jika tidak, dia adalah orang yang paling menyesal.
***
Dinginnya ruang operasi tak membuat Bryan melepas genggaman tangan istrinya. Bryan yang diizinkan menemani proses operasi pun tidak melepas kesempatan itu. Dengan setia dia menguatkan Shea yang sedang berjuang di ranjang operasi.
__ADS_1
Di luar ruang operasi, Melisa, Daniel, Felix, Alex dan Helena pun tak kalah cemas menunggu proses operasi.
Saat dokter terlihat melintasi mereka dan masuk ke dalam ruang operasi mereka yakin jika operasi akan dimulai.
Di dalam ruang operasi, para perawat mempersiapkan alat-alat yang akan digunakan untuk melakukan operasi. Ada pisau bedah, gunting dan beberapa alat untuk melakukan operasi caesar. Perawat mulai memasangkan selang oksigen di hidung Shea. Menutup bagian bawah perut dengan tirai sebagai pembatas proses operasi.
"Sakit, Sayang," rintih Shea.
Bryan semakin merasakan sakit di hatinya saat melihat istrinya yang begitu kesakitan. "Tenanglah, semua akan baik-baik saja. Kita akan bertemu dengan anak kita." Bryan meyakinkan jika semua proses akan lancar. Tak henti Bryan membisikan lantunan doa tepat di telinga Shea.
Dokter memulai tindakan, dengan menyuntikan obat bius di paha kiri dan tulang belakang. Menunggu sejenak, dokter membiarkan obat bius bekerja. Perlahan Shea merasakan setengah tubuhnya mati rasa.
"Apa terasa?" tanya dokter menyentuh perut Shea, untuk mengecek jika obat bius sudah bekerja.
"Tidak."
Saat mendengar jawaban Shea, dan memastikan jika obat bius sudah bekerja, dokter mulai menyayat perut Shea lapisan demi lapisan. Berlanjut dokter menyedot air ketuban yang masih tersisa di dalam kandungan. Terakhir, mencari posisi kepala bayi, dokter mengeluarkan bayi dengan perlahan. Bayi laki-laki dengan tubuh kecil sebesar buah nanas itu berusaha untuk di keluarkan oleh dokter dari perut Shea.
Namun, sayangnya tidak ada tangisan saat bayi keluar, tidak ada denyut nadinya, dan tidak ada pergerakan. Dokter menggeleng menatap Bryan dan Shea, seakan menandakan jika ternyata tidak sesuai keinginan jika semua berjalan dengan lancar.
"Anak kita, Sayang?" ucap Shea menatap Bryan. Air mata Shea seketika pecah, mendapati kenyataan tidak adanya tangisan dari bayi laki-lakinya. Hatinya hancur ketika anak yang dia nanti harus dia relakan.
Bryan tak kalah hancur, air matanya tak kalah menetes saat melihat anak laki-lakinya tidak menangis dan mungkin tidak bernyawa. Kecupan dia berikan pada Shea, untuk menguatkan istrinya. Walaupun dia hancur, tetapi istrinya lebih hancur.
Menunggu dokter yang masih melanjutkan proses operasinya, Shea hanya bisa berdoa akan ada keajaiban dari Tuhan.
.
.
.
.
...Jangan lupa like, koment dan Vote...
__ADS_1