
Mobil Felix langsung berhenti tepat di depan unit gawat darurat. Saat mobil berhenti, para perawat sudah menyambut mereka dengan bangkar pasien.
"Kenapa kamu diam saja, keluarlah, Shea tidak bisa lewat!" Bryan membentak Helena yang tak kunjung keluar. Rasa paniknya benar-benar melupakan siapa Helena, dan sepenting apa Helena bagi perusahaannya.
Helena yang dari tahu fokus pada Shea tidak sadar jika ternyata sudah sampai di Rumah sakit. Dia meraih pintu mobil dan keluar dari mobil. Dia tidak tersinggung dengan bentakan Bryan, karena tahu jika Bryan dalam keadaan panik.
Bryan keluar dari sisi mobil, dan membantu Shea keluar dari mobil. Dengan cekatan pun para perawat membantu Shea untuk naik ke bangkar. Saat sudah dia atas bangkar, para perawat membawa Shea ke ruang unit gawat darurat. Bryan mengikuti dengan terus menggenggam tangan Shea. Meyakini jika dia akan selalu ada untuk istrinya itu.
Perawat langsung menghubungi dokter kandungan yang sedang praktek pagi ini. Perawat meminta dokter datang karena ada emergency, dan harus segera ditangani. Seraya menunggu dokter, para perawat memasang selang infus, dan mengecek tekanan darah.
Saat dokter datang, Bryan membulatkan saat ternyata dokter yang datang adalah dokter laki-laki. Dia tidak rela jika istrinya diperiksa oleh dokter laki-laki. "Apa tidak ada dokter perempuan?" tanya Bryan pada perawat.
"Dokter yang sedang bertugas pagi ini, hanya dokter Andreas, tidak ada dokter perempuan, Pak." Perawat menjelaskan pada Bryan.
Bryan merasa frustrasi karena harus merelakan istrinya diperiksa oleh dokter laki-laki. Dirinya tidak bisa memilih-milih dalam keadaan emergency seperti sekarang. Apalagi melihat istrinya merintih kesakitan, dirinya lebih tidak tega.
"Berapa bulan kandungan ibu?" tanya dokter pada Shea.
"Masuk ke tiga puluh tiga minggu, Dok," jawab Bryan, "sebelumnya keadaanya baik-baik saja, Dok, tidak ada keluhan apapun."
Dokter langsung memeriksa Shea. Perut Shea terasa sangat kencang, dan itu menandakan jika terjadi kontraksi. Seraya memeriksa perut Shea, dokter memeriksa detak jantung bayi, yang ternyata masih sangat baik. Dokter melanjutkan memeriksa fibronektin janin, yang dapat membantu memprediksi risiko melahirkan dini. Tangan dokter beralih mengecek jalan lahir bayi, sudah mencapai berapa centimeter pembukaan jalan lahirnya. Saat mengecek dokter mendapati jalan lahir sudah terbuka selebar dua centimeter.
"Ketuban sudah merembes dan perut istri Anda terasa sangat kencang. Istri Anda harus bed rest di sini. Selama dirawat, kami akan memberikan obat untuk menenangkan rahim, obat untuk mempercepat perkembangan paru-paru bayi, dan antibiotik. Semua itu dilakukan untuk mencegah kelahiran prematur. Namun, jika ternyata tetap saja tidak bisa dicegah, kita sudah berusaha untuk menguatkan patu-parunya agar siap jika harus dilahirkan." Dokter menjelaskan keadaan Shea.
Dokter langsung meminta perawat untuk menyiapkan semua yang tadi diucapkannya.
"Apa berarti anak saya, akan lahir prematur, Dok?" Bryan bertanya pada dokter.
"Kami akan berusaha untuk mencegah kelahiran prematur, tapi semua tergantung Tuhan. Dalam kondisi sekarang, di bawah tiga puluh tujuh minggu, termasuk dalam kategori prematur. Namun, tiga puluh tiga minggu termasuk kategori prematur lambat. Sebenarnya dalam kategori ini, bayi sudah siap dilahirkan, karena paru-parunya sudah berkembang dengan baik, tapi akan lebih baik, jika dilahirkan cukup bulan."
"Apa sebenarnya yang menyebabkan kelahiran prematur, Dok." Bryan menatap dokter penuh rasa penasaran.
"Banyak hal, Pak, tapi jika melihat dari riwayat kandungan yang selama ini baik-baik saja, bisa jadi di karenakan kelelahan dan stress berat."
Bryan benar-benar menyesali, membuat sampai anaknya menjadi korban. Jika tahu akan seperti ini, dia akan memilih untuk tidak pergi dan meninggalkan Shea. Sekarang Bryan hanya bisa pasrah saat istrinya harus di rawat, dan menungggu keajaiban jika semua akan baik-baik saja.
Dokter langsung melakukan beberapa tindakan, sesuai dengan yang dia jelaskan tadi. Setelah selesai, akhirnya Shea di pindahkan ke kamar rawat dan akan dipantau terus keadaannya.
__ADS_1
Perawat pun meminta Shea untuk istirahat. Tubuh Shea yang lelah, dan mengantuk akibat tidak tidur semalam, membuatnya cepat tertidur. Bryan dengan setia menunggu Shea.
Maafkan aku, Sayang, karena aku kamu dan anak kita menjadi seperti ini. Harusnya aku sadar, dalam keadaan hamil, aku tidak seharusnya meninggalkan kamu.
Dengan menggenggam tangan Shea. Bryan menyesali semua yang telah dia lakukan. Saat melihat Shea sudah tertidur pulas, Bryan pun keluar menemui orang-orang yang datang bersamanya ke Rumah sakit.
"Bagaimana keadaan Shea?" tanya Alex yang melihat Bryan keluar dari ruang perawatan.
"Dia sedang istirahat, dokter sedang berusaha mencegah bayi lahir prematur." Wajah Bryan tampak gusar memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi pada Shea dan bayinya.
"Tenanglah semua akan baik-baik saja." Felix menepuk bahu Bryan menguatkan temannya itu.
"Felix benar. Dokter akan berusaha yang terbaik." Alex juga sama menguatkan Bryan yang terlihat sangat rapuh.
Helena yang berada di sana, melihat dengan jelas serapuh itu Bryan saat melihat istrinya dalam keadaan bahaya. Ada penyesalan besar di hatinya, membuat Shea sampai seperti itu. Dia sadar, jika Shea merasakan takut saat suaminya bersamanya, dan itulah yang membuatnya stress, hingga terjadi kontraksi.
"Pulanglah! Aku akan menjaga Shea di sini." Bryan meminta Alex, Felix dan Helena untuk kembali.
"Tidak, aku akan tetap di sini. Aku belum lega jika Shea belum benar-benar dalam keadaan baik," ucap Alex.
"Kami akan di sini, Bry," timpal Felix.
"Baiklah."
Bryan kembali ke ruang rawat untuk menjaga Shea, sedangkan teman-temannya menunggu keadaan Shea di luar. Alex yang melihat Helena dari tadi diam pun memberikan kunci mobil padanya. "Pulanglah dengan mobilku!"
Melihat Alex memberikan kunci padanya, Helena menggeleng. "Tidak, aku akan di sini menunggu."
"Terserah padamu." Alex pun mengabaikan Helena, dan duduk bersama dengan Felix.
Alex dan Helena duduk kembali di kursi, sedangkan Felix pergi menghubungi orang tua Bryan. Helena hanya terdiam memikirkan bagaimana keadaan Shea. Dia juga tidak bisa masuk, karena pasti akan membuat Shea semakin stress.
"Kenapa harus memakai cara licik?" Suara Alex terdengar bertanya.
Walaupun Alex tidak menoleh padanya, Helena tahu jika kata-kata itu ditujukan padanya. "Aku hanya ingin memperjelas kesalahpahaman saja."
Alex hanya bisa menggeleng. "Jika kamu mau menjelaskan, kamu bisa memintaku membantu, tidak perlu sengaja membuat agar bisa berdua dengan Bryan," cibir Alex, "sekarang lihatlah, apa yang terjadi karena ulahmu!"
__ADS_1
"Apa Shea dan bayinya baik-baik saja?" Helena menatap Alex. Matanya berkaca-kaca membayangkan jika akan terjadi hal buruk pada Shea dan bayinya.
Melihat Helena yang tampak menyesal, Alex merasa tidak tega. Alex tahu, Helena hanya wanita yang memikirkan dirinya sendiri. Mendengar dari cerita papanya dan mengenal selama Helena menjadi CEO, dia sudah tahu jika wanita di sebelahnya ini tidak perduli pada orang lain. "Berdoalah semoga Shea baik-baik saja."
Sebagai wanita, Helena membayangkan jika posisi Shea itu adalah dirinya. Bagaimana sakitnya saat suaminya digoda oleh wanita lain, dan lebih lagi keadaanya sedang hamil, pasti semua itu membuat stress. Kini dia hanya berharap jika Shea dan bayinya akan baik-baik saja.
"Lex, aku mau berkerjasama dengan provider atau penyedia jasa internet, agar di daerah deket hotel ada BTS. Aku mau memastikan orang-orang di sekitar bisa mengakes sinyal, jadi kejadian tidak memberi kabar seperti Bryan tidak akan terjadi." Suara Helena memerintah Alex.
Alex hanya bisa tersenyum, mendengar ucapan Helena. Dia menebak ada penyesalan besar dihati Helena. "Baiklah, aku akan mengajukan kerja sama."
***
Bryan yang masuk ke dalam ruangan perawatan, melihat Shea sudah bangun. Menghampiri istrinya, Bryan duduk di samping ranjang rawat. "Kenapa bangun?" tanya Bryan.
"Perutku terasa sakit, jadi aku tidak bisa tidur." Dengan menahan sakit di perut, punggung bagian belakang, Shea menjelaskan pada Bryan.
"Maafkan aku, aku membuatmu seperti ini." Bryan menggenggam tangan Shea, mendaratkan kecupan bertubi-tubi di tangan istrinya. Ada rasa penyesalan yang teramat besar yang dirasakan oleh Bryan karena membuat istrinya merasakan sakit.
"Kamu tidak salah, aku saja yang terlalu curiga dan takut, hingga mengabaikan kehamilanku," ucap Shea, " maaf sudah tidak percaya padamu." Mata Shea berkaca-kaca. Sama hal yang dengan Bryan, dia pun menyesal, karena rasa percayanya pada suaminya membuatnya nekat menyusul suaminya.
"Kamu tidak salah, karena seperti apa aku dulu, mungkin akan sulit percaya. Namun, satu hal yang aku tegaskan padamu. Aku mencintaimu, dan tidak akan mengkhianatimu." Bryan mendekatkan dan mendaratkan kecupan di dahi Shea. "Kamu anugrah yang Tuhan berikan, bagiamana bisa aku menyianyiakan dirimu."
Air mata Shea mengalir mendengar ucapan suaminya. Bagiamana dia bisa meragukan rasa cinta yang teramat besar yang diberikan suaminya. Bryan yang sudah sangat berubah, sudah menjelaskan sebesar apa usahanya membuktikan cintanya.
Bryan menghapus air mata Shea. "Pikirkan hal-hal baik, agar dirimu tidak semakin stress."
Shea mengangguk. Merasakan sakit di punggungnya, dia meminta Bryan untuk membelainya agar meredakan rasa sakit yang dirasakan oleh Shea. Keringat dingin terus mengalir dari tubuh Shea, saat menahan rasa sakit. Walaupun Shea tidak banyak mengeluh, tapi Bryan bisa merasakan sesakit apa Shea. Karena dari cengkraman tangan Shea di tangannya, menandakan seberapa dia menahan rasa sakit.
.
.
.
.
...Segini dulu ya, capek nulisnya......
__ADS_1
...Jangan lupa Like, Koment, dan Vote...