
Saat alarm berbunyi, Shea langsung membuka matanya. Meraih ponselnya, dia mematikan alarm di ponselnya yang terus berbunyi meminta si empunya untuk mematikannya.
Manik coklatnya beralih ke samping tempat tidur dimana biasa Bryan tidur. Sisi kosong benar-benar terlihat hampa, saat si empunya tidak berada di sana.
Ternyata kamu benar-benar tidak pulang.
Shea memikirkan kemana perginya Bryan. Meraih ponselnya, Shea melihat apakah Bryan menghubunginya.
Dahinya berkerut saat melihat panggilan tak terjawab dari nomer Bryan, dan itu berselang sekitar satu jam setelah dirinya merebahkan tubuhnya.
Kenapa aku tidak dengar?
Kepalanya yang pusing dan terlalu mengantuk, membuatnya begitu pulas tertidur. Rasanya Shea merutuki kesalahannya yang tidak mendengar suara ponselnya.
Shea berusaha untuk menghubungi Bryan kembali, tapi sambungan teleponnya tidak diangkat oleh Bryan.
Aku akan mencarinya.
Akhirnya Shea memutuskan untuk mencari Bryan, untuk segera menyelesaikan masalahnya. Dia tidak mau masalah ini terus berlarut-larut. Melangkah menuju kamar mandi, Shea bersiap untuk mencari Bryan.
***
Setelah bersiap Shea keluar rumahnya menaiki taxi yang sudah dipesannya.
"Kemana, Bu?" tanya supir taxi saat Shea masuk ke dalam taxi.
Shea memikirkan kemana Bryan pergi. Dalam keadaan kacau tidak mungkin Bryan berangkat berkerja.
"Apartemen fransia park, Pak," ucap Shea pada supir.
Satu tempat yang di pikirkan Shea adalah apartemen. Dia pikir berharap Bryan tidur disana.
Saat sampai di apartemen, Shea, membayar taxi dan keluar dari taxi. Matanya menatap tower apartemen yang menjulang tinggi, mengingat sudah sebulan Shea sudah tidak ke apartemen.
Melangkah masuk ke dalam tower, Shea menaruh harapan besar jika Bryan ada di apartemen.
Hati Shea berdebar-debar. Pikirnya melayangkan apakah Bryan mau menemuinya atau tidak. Sampai di depan apartemen, Shea masih diam menatap pintu apartemen dan masih berpikir tentang keputusannya untuk masuk.
Apa jangan-jangan Bryan sudah menjual apartemennya? Kalau sampai apartemen sudah dijual, bisa jadi access card milikku tidak akan bisa membukanya.
Shea bertanya dalam hatinya tentang apartemen yang di tinggalkannya sudah sebulan.
Tangan Shea langsung mencari access card yang masih dia simpan di dompet. Dia berpikir untuk mencobanya dulu membuka pintu apartemen. Setelah mencari dan mendapatkan access card miliknya, ragu-ragu Shea menempelkan access card.
Shea memejamkan matanya, berharap jika access card miliknya akan bisa membuka apartemen Bryan.
Suara pintu terbuka saat access card ditempelkan, membuat mata Shea yang terpejam terbuka.
Ternyata bisa.
Shea tidak menyangka jika access card miliknya masih bisa untuk membuka apartemen. Dari pada menerka-nerka apakah Bryan ada di dalam, akhirnya memilih mengecek ke dalam.
Saat baru saja masuk, bau asap rokok tercium begitu menyengat, dan itu membuat kepala Shea sedikit pusing. Akan tetapi niatnya untuk mengecek belum selesai, jadi dia melanjutkan kembali langkahnya.
Dengan meyakinkan dirinya, Shea melangkah menuju kamar Bryan. Tangannya meraih handle pintu dan mendorongnya perlahan. Jantungnya yang berdetak lebih kencang membuat napas Shea semakin tidak beraturan, saat berharap jika Bryan ada.
Mulutnya ternganga dan dia berusaha menutupi dengan telapak tangannya saat melihat pemandangan di hadapannya.
Shea melihat tubuh polos Bryan hanya tertutup selimut. Selimut yang tersingkap pun membuat dadanya terekspos. Mata Shea beralih pada baju yang tergeletak di lantai, dan Shea ingat jika itu adalah baju yang dipakai Bryan kemarin.
Shea tahu betul jika Bryan tidak pernah tidur dengan membuka baju. Tangan Shea menutup pintu kamar Bryan. Dia benar-benar tidak sanggup melihat Bryan terlalu lama. Pikirannya menebak apa yang terjadi dengan Bryan yang tanpa mengenakan baju.
Aku tidak boleh berburuk sangka.
Shea sadar, terkadang apa yang di lihat belum tentu itulah kenyataanya. Dirinya yang tidak menuduh Bryan pun akhirnya memilih pergi. Pikirnya paling tidak dirinya sudah tenang, saat tahu dimana semalam Bryan.
Akan Tapi sebelum dia keluar, dia berbelok ke kamarnya. Entah kenapa dirinya ingin mengecek apa yang ada di dalamnya.
Setelah dia mendapatkan apa yang dicari, akhirnya Shea memilih untuk pergi dari apartemen.
***
Bryan mengerjap saat sinar matahari yang menembus tirai tipis di kamar tepat di wajahnya.
Auch....
Bryan memegangi kepalanya yang terasa berdenyut. Dia membuka matanya sempurna menyadarkan diri dimana dirinya berada.
Apartemen?
Menyadari dirinya di apartemennya, Bryan merasa bingung bagimana dia bisa sampai di apartemen. Memutar kembali ingatanya, dia mengingat jika terakhir kali dirinya berada di club.
Bangkit dari tempat tidur seraya memegangi kepalanya, Bryan menyandarkan tubuhnya di headboar tempat tidur. Namun, saat bersadar dia menyadari jika tubuhnya polos tanpa baju, hanya tinggal boxer saja yang melekat di tubuhnya.
Siapa yang melepas bajuku?
Pikiran Bryan di penuhi dengan berbagai pertanya dengan apa yang dialaminya.
Saat sedang bersandar di headboar tempat tidur, Bryan mendengar ponselnya berdering. Meraih ponselnya Bryan melihat siapa yang menghubunginya.
__ADS_1
Kak Regan, batinnya malas.
Mengusap layar ponselnya Bryan menempelkan ponselnya pada telinganya.
"Dimana kamu?" Tanpa menyapa Regan langsung bertanya pada Bryan.
"Di apartemen," jawab Bryan malas.
"Lalu Shea?"
"Shea?" Dahi Bryan berkerut saat mendengar nama Shea ditanyakan.
"Iya, Shea. Dimana Shea?" Regan memperjelas lagi pertanyaannya.
"Di rumah."
"Aku sedang di depan rumahmu, dan tidak ada Shea. Aku juga sudah menanyakan pada Jessie, dan dia bilang Shea tidak ada di kantor."
Bryan diam, dia bingung mendapati Shea tidak ada. "Aku tidak tahu, dia kemana, semalam aku sudah memastikan jika dia sudah masuk ke dalam rumah."
"Bagaimana bisa kamu sebagai suaminya tidak tahu!" Suara Regan terdengar meninggi saat Bryan dengan polosnya mengatakan tidak tahu.
"Karena aku suaminya, sebaiknya kakak berhenti memerhatikan Shea layaknya suaminya." Bryan tidak kalah meninggi. Dia langsung mematikan sambungan teleponnya, karena kesal dengan Regan.
Apa dia tidak punya kerjaan selain mengurusi istri orang? Rasanya Bryan geram sekali mendengar Regan yang sebegitu perhatian pada Shea.
Kemana perginya Shea? Bryan kembali memikirkan kemana istrinya pergi.
Bryan pun mengeser layar ponselnya dan mencari nomer telepon Shea. Mengusap layar ponselnya, dia mencoba menghubungi Shea.
Sayangnya saat menghubungi Shea, dia mendengarkan suara di sambungan telepon hanya suara mesin penjawab yang menjawab jika nomer Shea tidak aktif.
Kenapa nomer teleponnya tidak aktif? Aku yang marah kenapa dia yang pergi?
Bryan semakin khawatir saat ternyata ponsel Shea tidak aktif. Menyibak selimutnya, Bryan berniat membersihkan diri dan akan pergi untuk mencari Shea.
***
Bryan pergi untuk mencari Shea, tapi dirinya bingung harus mencari Shea kemana. Mengingat jika tadi Regan mengatakan jika di rumah dan kantor Shea tidak ada, Bryan berencana mencari ke tempat lain.
Rumah. Satu tempat yang Bryan melintas di pikiran Bryan. Melajukan mobilnya, dia menuju rumah yang di tempati Shea.
Sampai di rumah milik Shea, Bryan turun dan mencari Shea. Akan tetapi saat turun, dia melihat rumah tampak sepi. Lantai teras pun tampak kotor, seolah memang tidak ada orang di sini.
Namun, dirinya tidak mau menyerah. Mengetuk pintu rumah, Bryan mencoba memanggil nama Shea. "Shea ... Shea, apa kamu di dalam," teriak Bryan seraya mengetuk pintu.
"Pak, Shea sudah lama tidak tinggal di rumah ini," ucap tetangga yang kebetulan lewat.
Bryan kembali ke dalam mobil saat tidak mendapati Shea di rumah. Dia benar-benar bingung harus mencari kemana.
Apalagi Bryan tidak tahu banyak tentang Shea. Dirinya baru mengenal Shea selama tiga bulan ini, jadi dia tidak tahu apa saja yang di lakukan oleh Shea jika sedang sedih.
Saat memikirkan kemana Shea pergi, akhirnya Bryan terpikir satu nama yang bisa dia tanyai. Dengan cepat dia memutar kunci mobilnya dan melajukan mobilnya ke kantor.
Dengan pakaian santai, Bryan sampai di kantornya. Semua karyawan menatap heran saat melihat atasan mereka memakai baju casual ke kantor. Tampilan Bryan yang cool membuatnya menjadi pusat perhatian ke karyawan wanita. Sampai di ruangannya dia langsung meminta Felix ke ruangannya.
Suara pintu ruangan diketuk dan Bryan sudah sadar jika itu adalah Felix. Dia pun meminta Felix untuk masuk ke dalam ruangannya.
"Ada apa kamu memanggilku?" tanya Felix pada Bryan saat masuk ke dalam ruangan.
"Tolong hubungi Chika teman Shea itu kemari."
"Untuk apa?"
"Bisakah kamu bertanya nanti dulu, kerjakan dulu yang aku minta." Bryan begitu malas saat Felix malah balik bertanya.
"Iya." Felix pun menuruti perintah Bryan. Meraih telepon di meja Bryan, dia menghubungi kantor Regan dan meminta untuk Chika menghubungi kantor Bryan.
Setelah selesai, Felix meletakkan teleponnya. "Sebenarnya ada apa?" tanyanya kembali.
"Shea mengatakan cinta pada Kak Regan." Dengan berat Bryan menceritakan pada Felix. Rasanya gemuruh dalam hatinya masih begitu terasa mengingat kejadian semalam.
"Apa!" pekik Felix.
"Kenapa berteriak?" Bryan menatap tajam pada Felix karena suara begitu mengelegar di ruangannya.
"Iya aku hanya kaget saja, kalau kejutan itu yang akan Shea berikan padamu."
Dahi Bryan berkerut dalam saat mendengar ucapan Felix. "Kejutan? Apa maksudmu?"
"Kemarin dia bilang mau memberikanmu kejutan, tapi aku tidak menyangka jika kejutan yang akan diberikan oleh Shea adalah ungkapan cinta."
"Apa dia tahu aku pulang?" Pertanyaan Bryan keluar dengan suara meninggi, matanya tak lupa menatap tajam pada Felix.
Felix tersenyum polos dan memamerkan deretan giginya, saat merasa tertangkap basah tidak bisa menjaga rahasia. "Iya."
"Kenapa kamu memberitahunya? Bukannya aku sudah bilang bukan untuk tidak memberitahu?" Bryan benar-benar geram dengan apa ulah Felix.
"Shea tahu sendiri," elak Felix.
__ADS_1
"Bagaimana dia bisa tahu, jika kamu tidak memberitahu?" Bryan masih sangat kesal dengan Felix yang tidak memegang janjinya.
"Dia mencium aroma parfummu di dalam mobil, dan dia menanyakan padaku. Karena aku takut dengan istrimu yang begitu menakutkan, akhirnya aku mengatakannya."
"Jadi dirimu lebih takut Shea dari pada aku?"
"Iya, istrimu adalah juru kunci atas dirimu, jadi aku lebih takut dengan juru kunci."
"Kamu pikir aku tempat kramat!"
Felix hanya bisa menahan tawanya mendengar ucapan Bryan yang mengatakan dirinya tempat kramat.
"Coba jelaskan dulu tentang kejutan itu?" Bryan yang masih bingung pun meminta Felix menceritakan.
"Kemarin setelah dia tahu kamu pulang, dia marah-marah dan kecewa, tapi aku bisa menenangkannya, aku bilang padanya untuk memberikan kejutan padamu."
"Kejutan untukku?" Bryan memastikan lagi pada Felix.
"Iya."
Bryan memutar kembali ingatanya tetang kejadian kemarin. Dia ingat jika Shea ingin menjelaskan apa yang dilihatnya tapi dirinya menolak. "Apa ungkapan itu sebenarnya untukku?" tanya Bryan ragu-ragu.
"Aku rasa begitu, karena kemarin dia bilang mau memberi kejutan padamu, jadi tidak mungkin bukan, kejutan itu untuk Kak Regan."
Bryan langsung mendesah kesal saat mengingat jika ternyata ungakapan cinta itu harusnya untuknya, tapi dirinya malah menuduh Shea yang bukan-bukan hanya karena buku diary.
"Jangan bilang dia pergi karena kamu menuduhnya menyukai Kak Regan?"
Bryan tidak bisa menjawab apa-apa saat tahu harus menyanggah apa, karena memang kemarin dirinya menuduh Shea.
"Ya Tuhan, Bry, aku saja bisa melihat Shea begitu mencintaimu dari bagaimana dirinya berharap kamu pulang, tapi kamu malah tidak percaya padanya." Felix tidak habis pikir dengan pikiran sahabatnya itu.
"Aku menuduh karena aku membaca buku diary milik Shea jika dia begitu mengagumi Regan dan membenciku."
"Kapan dia menulisnya?"
"Saat awal dia berkerja."
"Wajar Shea membencimu, karena apa yang sudah kamu lakukan pada Shea dulu, tapi itu dulu bukan? Kenapa kamu membahasnya?"
"Ya bagaimana aku tidak membahasnya, dia mengungkapkan cinta pada Regan dan di buku diary di begitu mengagumi Kak Regan."
"Kalau aku jadi wanita aku pun juga akan menganggumi kakak iparmu itu, karena dia begitu tampan di banding dirimu."
"Kamu sedang mengatai aku jelek."
"Tanpa aku menjawab juga kamu tahu jawabanya." Felix memutar bola matanya malas.
"Sial!" ucap Bryan seraya melempar bolpoint pada Felix.
Felix tertawa melihat Bryan kesal. Saat mereka berdua sibuk bertengkar, suara telepon terdengar dan Bryan menganggkatnya
"Siang, Pak," sapa Chika
"Siang." Bryan menjawab sapaan Chika.
"Apa ada yang bisa saya bantu?"
"Chika, apa kamu tahu kemana biasanya Shea kalau sedang sedih?"
Chika sedikit terkesiap mendapati pertanyaan Bryan. Dia berpikir apa yang dia lakukan Bryan hingga membuat Shea sedih lagi.
"Kami hanya sedang salah paham." Bryan yang mengerti pikirkan Chika pun menjelaskan.
Chika merasa lega saat mendengar masalah Shea hanya salah paham. "Biasanya dia ke makam kedua orang tuanya."
Mendengar Chika menyebut makam kedua orang tua Shea, seketika hati Bryan sakit. Rasanya Bryan merasa sangat bersalah telah menyakiti Shea.
Harusnya aku bisa menjadi sandaranmu.
Bryan merutuki kesalahannya yang membiarkan Shea sendiri. Dia sadar, Shea hanya sebatang kara dan harusnya dirinyalah yang ada untuk Shea.
"Tolong beritahu aku alamat makam orang tua Shea," ucap Bryan seraya mengambil kertas untuk mencatat alamat yang diberikan Chika.
Chika pun menyebutkan alamat makam kedua orang tua Shea, dan Bryan mencatatnya.
"Terimakasih, Chika." Bryan menerima alamat menutup telepon, dan berlalu pergi begitu saja untuk mencari Shea.
.
.
.
.
up jam 12
Terimakasih buat kalian yang udah vote, aku kasih dua bab untuk kalian
__ADS_1
Jangan lupa like dan vote lagi ya.