My Baby CEO

My Baby CEO
Sejojo (sejoli jomlo)


__ADS_3

Menuruni anak tangga, Bryan dan Shea menuju ke ruang keluarga. Semua keluarga sudah berkumpul di sana. Selly yang dibelikan oleh Shea gulali pun sedang menikmati manisnya gula kapas itu.


"Terima kasih ya, sudah membelikan aku gulali," ucap Selly yang baru saja melihat Bryan dan Shea baru saja datang di ruang tamu.


"Iya, Kak." Shea tersenyum.


Shea duduk di dekat Selly dan Melisa, sedangkan Bryan memilih duduk di dekat papanya dan Regan. Mereka mengobrol masing-masing. Shea, Selly, dan Melisa bercerita tentang kehamilan, sedangkan Bryan, Regan dan Daniel membahas tentang bisnis. Semenjak Bryan menyelesaikan urusan korupsi Kevin, papanya sudah banyak berubah. Apalagi Daniel mendengar jika Bryan sudah bekerja sama dengan Davis Company, membuat Daniel semakin bangga pada putranya itu.


Daniel melihat banyak sekali perubahan pada anaknya semenjak menikah, dan itu membuatnya begitu senang. Dia merasa beruntung karena menantunya sudah membuat anak laki-lakinya berubah.


"Ma, apa Mama punya es krim?" tanya Shea pada Melisa.


"Kebetulan mama sedang tidak ada stok es krim," ucap Melisa pada menantunya.


Shea yang mendapati mertuanya tidak memiliki es krim pun merasa kecewa. Dia menatap Bryan yang sedang asik berbincang dengan papa dan kakak iparnya, tapi dia tidak berani untuk memotong pembicaraan.


"Bry, Shea sedang ingin es krim, tapi mama sedang tidak punya stok, tolong kamu belikan saja." Melisa yang melihat Shea tidak mau menganggu pembicaraan Bryan, Regan dan suaminya langsung berinisiatif untuk berbicara.


"Sayang, kamu mau makan es krim?" tanya Bryan menatap Shea.


"Iya," jawab Shea seraya mengangguk.


"Ya sudah, ayo kita beli!" Bryan berdiri dan mengulurkan tangan pada Shea.


Dengan wajah senang Shea memberikan uluran tangan Bryan. Dia berdiri dan bersiap untuk ikut Bryan membeli es krim.


"Titip yogurt ya, Se." Selly yang melihat Shea akan pergi membeli es krim pun meminta membelikan sesuatu juga.


"Plain, Kak?" tanyanya.


"Iya, plain saja, aku mau buat campuran salad buah."


"Baik, ada lagi?" Shea menatap ke arah Selly menanyakan apa yang kakak iparnya itu butuhkan.


"Tidak itu saja."


"Ya sudah, kami pamit dulu," ucap Shea pada semua yang berada di ruang tamu.


Melangkah keluar dari rumah, Bryan menarik lembut tangan istrinya menuju ke mobilnya. Namun, langkah mereka terhenti saat melihat langit begitu tampak gelap. Angin bertiup seolah menandakan jika hujan akan segers turun.


"Sepertinya akan turun hujan," ucap Bryan.


Shea memanyunkan bibirnya saat mendengar ucapan Bryan, yang dia artikan jika suaminya itu tidak akan mengantarkannya untuk membeli es krim. "Aku mau es krim," ucapnya merengek pada Bryan.


Bryan tahu istrinya tidak akan bisa dicegah, mau hujan badai sekali pun dia akan tetap dengan pendiriannya. "Sebaiknya kita cari di mini market terdekat saja, ya?" Bryan menatap Shea yang bergelayut manja di lengannya.


"Iya." Bagi Shea di mana pun belinya yang terpenting dia dapat makanan manis tersebut.


Mereka pun buru-buru masuk ke dalam mobil untuk menuju ke mini market terdekat. Dalam perjalanan menuju mini market ternyata hujan turun dengan lebatnya. Hingga membuat Bryan kesulitan melihat ke arah jalanan untuk mencari mini market.


"Sayang, itu ada mini market," ucap Shea yang melihat mini market saat melintasi sebuah apartemen.


"Ya, aku akan putar balik." Bryan memutar kemudinya menuju ke mini market.


Karena hujan begitu lebat, Bryan melarang Shea untuk ikut turun. Dia berjanji akan membelikan es krim sesuai yang istrinya minta. Namun, Shea merengek untuk turun dan memilih es krim sendiri.


Dengan susah payah akhirnya Bryan dapat membujuk Shea dan memintanya tetap tinggal di mobil.


Masuk ke dalam mini market, Bryan memakai payung yang tersedia di mobilnya. Dalam perjalanan ke mini market, Bryan memikirkan kebiasaan istrinya yang suka sekali makan es krim. Cemilan manis yang begitu Shea suka itu memang sudah menjadi candu, hingga terkadang Bryan bingung bagaimana meredakannya. Namun, beruntungnya Shea lebih suka es krim vanilla yang mungkin kadar gulanya tidak akan sebanyak es krim coklat.


Masuk ke dalam mini market, Bryan langsung mengambil keranjang belanja. Namun, belum sempat dia menuju ke tempat es krim, matanya menangkap sosok pria yang dia amat kenal berdiri di depan rak diapers. Untuk meyakinkan dirinya jika dia tidak salah, Bryan mencoba mendekati pria tersebut. "Han!" seru Bryan seraya menepuk bahu pria yang dilihatnya itu.

__ADS_1


Pria itu pun menoleh, dan tepat dugaan Bryan, kalau yang dilihatnya tidaklah salah, dia adalah Farhan temannya di kampus dulu. Pertemuan tidak sengaja mereka di perpustakaan kampus mengantarkan mereka berdua menjadi teman. Farhan yang mengambil S2 di kampus tempatnya kuliah membuat mereka sering bertemu, hingga menjalin pertemanan.


Farhan yang terkenal dengan kepandaiannya membuat Bryan belajar banyak dalam belajar bisnis.


"Bryan?" Farhan menyambut dengan tak kalah heboh. "Ah ... kau di sini rupanya?" Lantas menepuk bahu Bryan dengan tawa lepas.


Bryan pun mengulurkan tangannya dan Farhan menerima uluran tangan dari Bryan. "Kamu sedang apa kamu di sini?" tanya Bryan penasaran.


"Aku tinggal di sini. Di apartemen di depan." Farhan menjawab dengan canggung. Diurungkan niatnya membeli pembalut untuk istrinya. Farhan tidak mau harga dirinya jatuh. Dia tahu Bryan akan mengejek jika tahu dirinya membeli pembalut untuk istrinya.


"Oh ... begitu."


"Kau mau membeli apa?" Farhan balik bertanya.


"Aku sedang membeli cemilan untuk istriku. Dia sedang berada di dalam mobil. Biasa, semenjak hamil Shea selalu menyukai yang manis-manis. Sampai di mobil pun dia terus merengek meminta cemilan."


"Oh ... begitu."


"Kamu sedang membeli apa?" tanya Bryan.


Farhan hanya terdiam dia tidak menjawab pertanyaan Bryan.


"Han!" Bryan memanggil kembali saat melihat Farhan hanya diam saja.


Farhan yang mendengar Bryan memanggilnya, tampak kebingungan dan salah tingkah, mirip maling yang hendak mencuri kotak amal.


"Aku hendak membeli pempers untuk si kembar." Farhan langsung meraih satu bal pempers ukuran jumbo. Melenceng jauh dari niatnya membeli pembalut untuk sang istri. Ia tidak mau dianggap bucin oleh Bryan karena sempat mengejeknya waktu itu.


Bryan mengernyitkan dahinya heran. Dia ingat betul jika keponakan Farhan tidak sebesar itu. Ah sudahlah, Bryan tidak perduli, karena Shea sedang menunggunya di mobil.


"Aku sedang buru-buru, ketemu lain waktu." Farhan segera berlari ke kasir untuk membeli apa yang dia beli. Meninggalkan Bryan yang masih memegangi keranjang kosongnya.


Bryan hanya menatap aneh pada temannya itu. Jarang-jarang dia melihat Farhan yang tampak salah tingkah. Dia ingat sekali, sikapnya yang diam dan dingin membuatnya dia tampil cool.


Mendapatkan semua pesanan dua ibu hamil, dia menuju ke kasir untuk membayar seluruh belanjaannya.


Dengan satu kantung plastik belanjaan, Bryan kembali ke mobilnya. Membuka pintu mobil dan menaruh plastik belanjaan, dia melipat payung yang dia pakai dan meletakkannya di kursi belakang.


"Kenapa lama sekali?" Pertanyaan Shea menyambut kedatangan Bryan.


"Tadi aku bertemu temanku lebih dulu." Bryan menjelaskan alasannya kenapa dirinya lama.


"Perempuan?" tanya Shea penuh curiga. Matanya menatap tajam pada Bryan seolah siap-siap menerkam Bryan seketika jika sampai wanita yang ditemui Bryan.


"Bukan, dia seorang pria. Namanya Farhan."


"Memangnya kamu punya teman pria selain Felix?" tanyanya masih dengan rasa curiga.


"Sebenarnya dia bukan teman seangkatan aku, tapi dia dulu mengambil S2 di kampus yang sama denganku."


"Bagaimana bisa kamu berteman dengan pria itu?" Shea tahu persis akan sulit bertemu dengan teman yang mengambil S2 karena jadwal kuliah berbeda.


"Kami bertemu di perpustakaan. Dia sedang mencari data untuk tesisnya dan kami berkenalan. Karena dia sangat pandai, akhirnya aku belajar banyak darinya. Kamu tahu bukan, papa selalu menuntut untuk menjadi terbaik. Hingga aku tidak punya waktu berpacaran."


Shea hanya bisa mengangguk-angguk mendengar penjelasan Bryan. Dia sudah dengan cerita Bryan tentang tuntutan papa mertuanya pada suaminya itu.


"Dan lebih parahnya lagi, Felix menjuluki aku dan Farhan sejojo," jelas Bryan kembali. Dia mengingat julukan apa yang Felix sematkan,


"Apa itu sejojo?" tanya Shea mengerutkan dahinya.


"Sejoli jomlo."

__ADS_1


Shea langsung tergelak mendengar julukan yang Bryan miliki. "Apa tidak ada julukan lebih bagus?" tanyanya meledek suaminya.


Bryan mendengus kesal mendengar istrinya meledeknya.


"Lalu apa yang dilakukan dua jomlo selama di kampus? Apa kalian selalu pergi bersama-sama." tanya Shea begitu penasaran apa yang dilakukan sesama pria yang memiliki nasib sama.


"Awalnya iya."


"Awal?" Shea semakin dibuat bingung.


"Awalnya kami baik-baik saja, sampai saat aku menyatakan cinta pada Helena."


"Apa hubungannya dengan Farhan?" Shea memang sudah tahu kisah tentang Helena, tapi dia tidak tahu hubungannya dengan teman Bryan yang baru saja Bryan temui di mini market."


"Helena menyukai Farhan."


"Apa Farhan lebih hebat di ranjang?" Rasanya Shea ingin tahu seperti apa pria yang menjadi saingan suaminya itu.


"Dulu tubuhnya lebih bagus di banding aku, dan usianya yang lebih tujuh tahun dari aku, aku rasa mungkin Helena pikir dia akan lebih hebat di ranjang."


Shea membayangkan jika ternyata Bryan kalah dengan temannya sendiri. "Apa akhirnya mereka berdua jadian?" tanyanya masih penuh rasa penasaran.


"Tidak!"


"Kenapa?"


"Karena Felix menyebarkan gosip, kalau Farhan berkelamin ganda."


Mata Shea membulat mendengar gosip yang dibuat Felix. "Tega sekali Felix," ucap Shea, "aku sangat kasihan dia digosipkan seperti itu," lanjut Shea.


"Sayangnya Farhan tidak. Dia justru senang mendapat gosip itu. Karena dengan begitu tidak ada wanita yang mendekatinya. Jadi kami berdua bisa fokus pada tujuan kami menyelesaikan kuliah kami dan mendapat nilai terbaik."


Walaupun terdengar aneh, tapi Shea mencoba mengerti. "Apa pria yang lebih tua umurnya akan lebih hebat saat di ranjang panas." Pertanyaan itu lolos begitu saja dari mulut Shea.


Bryan langsung menatap tajam pada Shea. "Apa aku kurang hebat?" tanyanya mendekat pada Shea.


Shea tersenyum menampilkan wajah polosnya saat mendapati pertanyaan Bryan.


"Walaupun aku lebih muda, aku rasa aku lebih hebat di ranjang." Bryan berkata dengan percaya diri.


Shea hanya bisa menaikan bahunya tanda dia tidak tahu. Kalau dia tahu seperti apa Farhan saat di ranjang, mungkin dia bisa menjawab ucapan Bryan. "Sudah ayo cepat nyalakan mobilnya! Es krimku akan mencair jika kamu terus bercerita.


"Bukankah dia yang dari tadi bertanya," gerutu Bryan. Menginjak pedal gasnya, dia melajukan mobilnya untuk kembali ke rumah sebelum es krim milik Shea cair.


.


.


.


.


.


...Hai ... BryShea lagi kedatang pria saingan Bryan waktu kuliah. Si Farhan pria matang dengan sejuta pesona. Mau tahu sekuat apa Farhan di ranjang panas seperti yang dibayangin Helena?...


...Kalian semua bisa baca di novel....


...Karya Author Anarita...


...Hello, My Boss!!...

__ADS_1


...Jangan lupa Like dan Vote...


__ADS_2