My Baby CEO

My Baby CEO
Perhitungkan sejak awal


__ADS_3

Sesampainya di rumah keluarga Adion. Shea di bantu mertuanya turun dari mobil, dan masuk ke dalam rumah.


Shea mengedarkan pandangannya, melihat sekitar rumah keluarga Adion. Rumah megah bak istana terlihat dalam lensa mata milik Shea. Memang tidak salah, jika keluarga Bryan memiliki rumah semegah ini, karena Shea tahu, jika keluarga Adion adalah salah satu keluarga pengusaha terkenal di kotanya.


Sampai detik ini, Shea tidak pernah membayangkan, jika sekarang dirinya adalah bagian dari keluarga Adion. Menikah dengan anak laki-laki dari keluarga Adion, mengantarkan Shea pada kehidupan bak kerajaaan Adion.


Tapi yang sampai saat ini Shea tidak bisa bayangkan adalah, bagaimana anggota keluarga Adion menerimanya dengan tangan terbuka. Mereka tidak pernah memandang darimana Shea berasal.


Seolah semua itu mematahkan cerita tentang mertua yang kejam, karena menantunya berasal dari kalangan bawah, seperti cerita film atau bahkan novel.


Untuk satu hal itu, Shea patut bersyukur, karena tidak mendapatkan mertua yang kejam bak novel atau film.


Tapi saat mengingat, bagiamana dirinya bisa di titik ini. Shea tersadar, jika keindahan dan kebahagiaan yang di dapatnya sekarang, akan dia lepas setelah melahirkan, dan lebih tepatnya setelah bercerai dengan Bryan.


"Ini kamarmu, sementara kamu bisa tidur di kamar Bryan." Melisa menunjukan kamar Bryan, yang akan dia tempati nantinya, selama tinggal di rumah mertuanya.


Shea yang dari tadi melangkah seraya memutar kembali ingtannya, hanya bisa mengangguk saat mendengar, jika dirinya akan tinggal di kamar Bryan, selama berada di rumah mertuanya.


"Istirahatlah sayang," ucap Melisa seraya membukakan pintu untuk Shea.


"Terimakasih, Ma."


Mendorong pintu kamar, Shea masuk ke dalam kamar Bryan. Kamar dengan dominan warna putih dan hitam, memberi kesan jika sang pemilik pasti seorang pria, karena biasanya pria lebih suka warna-warna netral.


Mengedarkan pandangan, Shea melihat kamar yang tidak banyak perabotan, terlihat seperti kamar milik Bryan di apartemen. Mencium aroma kamar dalam-dalam, Shea masih mendapati wangi parfum milik Bryan. "Padahal pemiliknya sudah lama tidak tinggal disini," ucap Shea mengingat jika kamar ini sudah lama tidak di tempati Bryan.


"Siapa maksud kamu?"


Suara Bryan yang terdengar di telinga Shea, membuat seketika Shea berjingkat karena kaget. "Sejak kapan kamu di belakangku?" tanya Shea yang masih merasakan debaran jatungnya yang kaget.


"Sejak kamu mengatakan, 'padahal pemiliknya sudah lama tidak tinggal disini," ucap Bryan menjelaskan.


Shea menajamkan pandangannya, saat ternyata Bryan mendengar ucapannya.


Aku pikir tadi aroma parfum itu, menempel di ruangan ini. Ternyata, aroma parfum tadi itu, dari tubuh Bryan yang berada di belakangku. Shea hanya bisa membatin dalam hatinya, menganalisa bagaimana aroma parfum bisa tercium di indera penciuamannya.


"Memangnya apa yang kamu pikirkan?" tanya Bryan yang penasaran.


"Tidak ada," elak Shea.


"Tidak mungkin, tadi aku mendengar sendiri ucapanmu." Bryan masih terus mendesak Shea untuk mengatakannya.


"Iya, aku hanya berpikir, kenapa kamar ini masih terlihat bersih, padahal pemiliknya sudah lama tidak menempati." Akhirnya Shea menemukan alasan yang tepat untuk ucapannya tadi.


"Oh itu," ucap Bryan. "Itu karena mama selalu meminta asisten rumah tangga untuk membersihkan kamar ini."


Shea hanya mengangguk saja, untuk melegakan Bryan yang sedang menjelaskan. "Apa kamu mengatar bajuku?" tanya Shea pada Bryan.


"Iya, ini," ucap Bryan. "Sekaligus aku ingin beristirahat." Bryan melangkah menuju tempat tidurnya dan merebahkan tubuhya di atas tempat tidur.


Melihat Bryan tidur di atas tempat tidur, Shea menajamkan pandangannya. "Kenapa kamu tidur di tempat tidur?" tanya Shea terdengar seperti sebuah protes.


"Apa kamu tidak tahu fungsi tempat tidur?"


"Maksudmu?" Shea bingung mencerna ucapan Bryan.


"Halo, Nona Olivia Shea, apa kamu tidak tahu fungsi tempat tidur itu untuk kita tidur," ucap Bryan pada Shea seraya bangun dan bersandar pada headboar tempat tidur. "Jadi, aku sedang mengfungsikan tempat tidur ini."


"Kalau itu aku tahu." Shea yang merasa Bryan menganggapnya bodoh karena tidak tahu pun merasa tidak terima.


"Kalau sudah tahu, kenapa bertanya?" tanya Bryan menaikan dagunya sedikit.


Seharusnya aku bertanya dengan benar, batin Shea.


"Maksudku adalah kenapa kamu tidur di kamar ini?"


"Karena ini kamarku," ucap Bryan enteng.


Rasanya Shea ingin menjabak, rambutnya saat berdebat dengan Bryan. "Iya, aku tahu ini kamarmu. Tapi mama menyuruhku tidur disini."


"Ya sudah kalau mama menyuruhmu tidur disini, tidur saja." Bryan dengan wajah tanpa dosa, menjawab ucapan Shea.


Shea benar-benar geram dengan jawaban Bryan. Rasanya Shea ingin mencakar wajah Bryan yang menyengkelkan itu. "Halo, Pak Bryan Adion, jika kamu tidur disini, lalu aku harus tidur dimana?"


"Nona Olivia Shea Adion, apa kamu lupa jika kamu sekarang adalah istri Bryan Adion. Jadi kamu bisa tidur disini," ucap Bryan Seraya menepuk sisi kosong tempat tidur di sampingnya.


Istri? Shea hanya bisa membatin kata itu. Rasanya Shea sedikit tergelitik, saat Bryan mengatakan kata 'istri' padanya.


"Ya sudah, biar aku meminta mama menyiapkan kamar lain saja." Shea sudah sangat malas berdebat dengan Bryan. Shea berpikir tidak mungkin dirinya tidur satu kamar dengan Bryan. Walapun Shea sudah memaafkan Bryan, bukan berarti dirinya bisa tidur satu ranjang dengan Bryan.


Bryan menyadari, jika Shea masih sangat sulit untuk dekat dengannya. "Tanyakan saja pada mama," ucap Bryan membiarkan Shea meminta kamar pada mamanya.

__ADS_1


Melangkah keluar dari kamar Bryan. Shea langsung mencari mertuanya. Mengedarkan pandangan, Shea mencari keberadaan mamanya.


"Shea, kamu tidak istirahat?" tanya Melisa yang melihat menantunya keluar dari kamar.


"Iya, Shea ingin istirahat tapi..."


"Tapi apa?"


"Tapi ada Bryan di kamar," ucap Shea lirih


Melisa mengerti alasan Shea, mengatakan hal itu padanya. "Mama tahu, kamu tidak bisa berbagi kamar dengan Bryan," ucap Melisa. " Tapi kebetulan tadi pagi, mama baru saja menyuruh orang untuk mengecat semua kamar tamu."


"Tidak apa-apa, Ma. Shea tidak keberatan jika tidur di kamar yang baru saja dindingnya dicat." Shea hanya bisa berpikir, lebih baik dirinya tidur di kamar dengan bau cat dinding, dari pada tidur dengan Bryan.


"Tapi sayang, tidak baik wanita hamil mencium aroma cat dinding." Melisa mencoba menjelaskan pada Shea. "Jadi mama mohon kali ini, tidurlah dalam satu kamar dengan Bryan."


Mendengar ucapan mertuanya, Shea seolah tidak punya pilihan. "Baik, Ma."


"Terimakasih ya sayang, mama jamin Bryan tidak akan melakukan apa pun." Melisa mencoba menyakinkan Shea.


Shea hanya bisa mengangguk, menerima ucapan mertuanya.


"Sekarang kembalilah istirahat."


"Baik." Memutar tubuhnya, Shea kembali ke kamar Bryan. Dengan langkah gontai, Shea membayangkan harus berbagi ranjang dengan Bryan.


Membuka pintu kamar, Shea melihat Bryan yang tidur terlelap di atas tempat tidur. Shea mengedarkan pandangan, mencari sofa. Tapi sayangnya, Shea tidak menemukan sofa di dalam kamar Bryan.


"Kenapa kembali?" tanya Bryan. Bryan masih memejamkan matanya, dan tidak mengalihkan tangannya yang dia letakkan di keningnya.


"Tidak ada kamar, karena kamar tamu sedang di cat," jawab Shea malas.


"Apa kamu tahu, nilai setengah sahamku itu banyak jika di nilai dengan uang. Jadi kamu tidak perlu khawatir."


Mendengar ucapan Bryan, Shea mengerti kemana arah pembicaran Bryan. Memutar ingatannya, Shea mengingat akan perjanjiannya yang di buat Bryan, jika Bryan tidak akan menyentuh dirinya. Kalau sampai itu terjadi, setengah saham milik Bryan, akan menjadi milik Shea.


Akhirnya Shea melangkah menuju tempat tidur. Tubuhnya yang lelah, memang membuatnya ingin merebah. Mengambil sisi yang bersebrangan dengan Bryan. Shea merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.


Bryan yang merasakan Shea sudah tidur di atas tempat tidur, langsung menarik senyum di ujung bibirnya.


Aku akan membuatmu terbiasa dengan diriku dulu.


Shea yang merebah di sisi pinggir tempat tidur, memberi jarak di tengah, dan membuat kekosongan di tengah-tengah tempat tidur.


Saat terdengar suara dengkuran halus dari Shea. Bryan membuka matanya.


Melirik ke arah Shea, Bryan melihat pungung Shea. Senyum pun terlihat lebih jelas di wajah Bryan, saat melihat Shea memilih untuk tidur dengan membelakangi dirinya.


Kamu mau berbagi ranjang denganku saja, aku sudah senang. Mungkin ini akan jadi awal yang baik.


Bryan hanya bisa membatin dalam hatinya.


***


Shea membuka matanya perlahan. Membalikkan tubuhnya ke arah sisi lain, Shea tidak mendapati Bryan di sebelahnya. Mengedarkan pandangannya, Shea melihat jam sudah menunjukan pukul empat sore.


Setelah memilih mandi untuk menyegarkan tubuhnya, Shea keluar dari kamar Bryan. Menuruni anak tangga, Shea mencari keberadaan Bryan. Matanya melihat kesekeliling tapi tidak menemukan pria itu.


"Maaf apa Anda melihat Bryan?" tanya Shea saat melihat asisten rumah tangga yang lewat.


"Pak Bryan sedang berada di halaman belakang, Bu."


Mendengar dari asisten rumah tangga, jika Bryan ada di taman belakang, Shea melangkah ke taman belakang.


Mata Shea membelalak saat melihat taman belakang yang begitu luas. Hamparan rumput begitu menghijau, dan menyengarkan mata saat melihatnya.


Saat mata Shea melihat keindahan taman belakang, tampak dari kejauhan Bryan di sebuah lapangan. Melangkahkan kakinya, mata Shea terus melihat apa yang Bryan lakukan. Mengiring dan memantulkan bola yang berada di tangannya, Bryan melempar benda bulat itu ke ring basket seraya meloncat.


Senyum tertarik di ujung bibirnya, saat Shea melihat Bryan melemparkan bola tepat ke keranjang yang mengantung tinggi di tiang. "Hebat," ucapnya tanpa sadar.


Bryan yang mendengar suara, langsung menoleh mencari sumber suara. "Kamu sudah bangun?" tanya Bryan. Melangkah menuju ke sisi lapangan, Bryan mengambil botol minum. Napasnya yang masih terdengar terengah-engah, menandakan jika dirinya baru saja melakukan kegiatan berat.


"Sudah." Shea yang melihat bola yang tergeletak pun berusaha untuk menjangkaunya. "Sejak kapan kamu suka main basket?" tanya Shea. Tangan Shea pun mulai mendribble benda bulat yang sudah di tangannya.


"Sejak kecil," jawab Bryan seraya meneguk air minum di tangannya.


Menajamkan matanya, Shea memfokuskan diri kearah ring basket. Dalam satu hentakan dan dorongan, Shea melempar bola basket, dan tepat pada sasaran, Shea mampu memasukkan bola ke ring basket


Melihat bola yang tepat sasaran, Bryan tersenyum di iringi gelengan kepala. "Aku rasa kamu akan jadi lawan yang perlu di perhitungkan," ucap Bryan.


"Bukankah, aku adalah lawan yang harusnya kamu perhitungkan sejak awal?" tanya Shea seraya melangkah mendekat pada Bryan.

__ADS_1


Bryan hanya bisa mendengus disertai senyuman.


Kamu benar, dan ternyata aku salah memperhitungkan dirimu, batin Bryan.


Senyum tertarik sedikit di ujung bibir Shea. "Jadi berhati-hatilah melawanku," ucap Shea berdiri tepat di hadapan Bryan. Mata Shea menajam, seakan dia sedang berhadapan dengan musuhnya.


Mendengar ancaman dari Shea tidak membuat Bryan gentar, tapi malah membuat hati Bryan begitu senang. Bryan pun menatap lekat dua bola mata milik Shea.


Benar yang di katakan Felix, jika Shea wanita yang berbeda. Bryan hanya bisa menganggumi Shea dalam hatinya.


"Kalian disini?"


Suara Melisa, seketika menghentikan tatapan mata yang sedang mengunci antara Bryan dan Shea. Mengalihkan pandangan, Shea dan Bryan langsung melihat Melisa yang sedang menghampirinya.


"Mama tadi mencari kalian di kamar, ternyata kalian disini."


"Ada apa mama mencari?" tanya Bryan.


"Selly dan Regan sudah datang, jadi sebentar lagi kita akan makan malam bersama," ucap Melisa melihat ke arah Bryan. Mengalihkan pandangan, Melisa menatap Shea. "Ayo, kita berkumpul di depan." Melisa mengajak Shea dengan menarik lembut tangan Shea.


Meninggalkan Bryan, Melisa melangkah masuk ke dalam rumah. "Cepat mandi dan turun!" Seraya melangkahkan kakinya, Melisa memerintahkan Bryan.


Bryan yang sudah biasa mendengar perintah mamanya, mengabaikannya. Melangkah tepat di belakang Shea dan mamanya, Bryan menuju ke kamarnya.


***


Meja makan sudah di penuhi berbagai hidangan. berbagai masakan sudah tertata rapi di atas meja makan. Di meja makan juga sudah ada Daniel Adion, Melisa Adion, Bryan, Shea, Selly dan Regan, yang sudah duduk menunggu jamuan makan malam yang di adakan Melisa.


"Sepertinya kita akan makan besar," Daniel memandang Melisa-istrinya.


"Apa kamu tidak sadar, jika kita kedatangan anak dan menantu kita?"


"Iya aku tahu." Daniel memang tahu seberapa bahagianya istrinya menyambut anak dan menantunya.


"Sudah ayo makan," ucap Daniel pada semua yang berada di meja makan.


"Bagaiaman bisnismu, Regan?" Suara Daniel mengisi keheningan makan di meja makan.


"Baik, Pa. Pembangunan beberapa properti juga sudah mulai berjalan." Regan menjelaskan pada mertuanya.


"Bagus," ucapnya pada Regan. "Bryan, belajarlah dari kakak iparmu bagaimana mengurus perusahaan," ucap Daniel pada Bryan.


"Iya," jawab Bryan malas. Bryan selalu mendengar kata-kata itu berulang kali, jadi Bryan hanya menghiraukan begitu saja.


She yang duduk di samping Bryan, bisa melihat bagaimana malasnya Bryan menjawab ucapan papanya.


"Belajarlah juga dari Regan, bagaimana memanjakan istri," ucap Selly menatap adiknya.


Mendengar ucapan Selly, Shea yang sedang makan langsung tersedak.


"Pelan-pelan sayang," ucap Melisa yang duduk di samping Shea.


Tangan Shea meriah gelas di atas meja, dan langsung meminumnya, dan meredakan sakit di tenggorokannya.


Bryan yang melihat Shea tersedak hanya mengeleng. Bryan memang mengakui, bagaimana perhatian Regan pada Selly. Tapi sejenak, Bryan mengingat juga bagaimana Regan yang memperhatikan Shea.


"Ya aku akan belajar bagaimana memperhatikan istri, agar istriku tidak di perhatikan orang lain," ucap Bryan dengan menatap tajam pada Regan.


Regan hanya menarik senyum di bibirnya, saat mendengar ucapan Bryan


Bryan yang melihat senyum di wajah Regan, tidak bisa mengartikan senyuman apa yang Regan berikan pada Bryan.


.


.


.


.


.


.


Terimakasih sudah membaca.


Jadwal baru up jam 12 siang.


Tambahan bab akan di infokan di IG.


Jangan lupa like

__ADS_1


Berikan vote kalian juga jika menyukai karya aku😍


__ADS_2