
Setelah puas melihat-lihat seisi rumah, akhirnya Shea dan Bryan memutuskan untuk pulang.
Menuju ke mobil, Shea dan Bryan bersiap untuk pulang. Tapi baru saja mereka membuka pintu mobil, mereka melihat mobil berhenti di depan rumah.
Bryan dan Shea sudah tahu mobil siapa itu.
"Kalian disini?" Selly yang menurunkan kaca mobilnya bertanya pada Bryan dan Shea.
"Iya, Kak." Shea menjawab pertanyaan Selly.
"Apa kalian mau ada acara?" tanya Selly. Tapi belum sempat Shea dan Bryan menjawab, Selly sudah memberikan pertanyaan lagi. "Ayo mampir ke rumah lebih dulu," ajak Selly.
Shea menatap Bryan untuk meminta persetujuan.
"Sudah, ayo," ajak Selly sedikit memaksa.
"Iya," jawab Bryan malas. Bryan langsung membuka pintu mobil, dan di ikuti Shea masuk ke dalam mobil.
Akhirnya mobil Bryan menuju ke rumah Selly dan Regan.
"Apa kamu selalu bertengkar dengan Kak Selly?" Shea yang melihat Bryan selalu malas jika berhubungan dengan Selly pun bertanya.
"Bukan bertengkar, tapi berdebat," jelas Bryan, "seperti diriku dan dirimu," lanjut Bryan seraya menoleh sejenak pada Shea.
Shea hanya tersenyum. Shea menyadari, jika dirinya suka sekali berdebat dengan Bryan. Terkadang untuk hal-hal sepele saja, mereka bisa berdebat.
Mengikuti mobil Regan, akhirnya sampailah mereka di rumah Selly dan Regan. Bryan dan Shea turun dari mobil, dan ikut bersama Selly untuk masuk ke dalam rumah.
Selly langsung mempersilakan Shea dan Bryan untuk duduk di ruang keluarga. "Apa yang kalian lakukan di rumah tadi?" tanya Selly. Selly dan Regan yang baru saja pulang dari hotel, melihat mobil Bryan terparkir di depan rumah Bryan yang di belikan oleh mamanya.
"Kami mau pindah," jawab Bryan datar.
"Wah, akhrinya kamu mau pindah juga," sindir Selly. Selly tahu persis, jika Bryan susah sekali untuk meninggalkan apartemennya.
Bryan hanya memutar bola matanya malas menjawab ucapan Selly.
"Apa kamu tahu, Se, jika Bryan tidak mau tinggal di rumah itu karena dia tidak mau dekat denganku." Selly menjelaskan alasan Bryan pada Shea.
Shea menoleh pada Bryan, seolah mempertanyakan apa yang di ucapkan oleh Selly.
"Siapa yang betah tinggal dekat kakak," jawab Bryan malas.
"Regan betah," jawab Selly pada Bryan. Selly pun beralih pada Regan. "Iya kan, Sayang?"
Regan hanya tersenyum tipis, tanpa menjawab.
"Lihatlah! Kak Regan tidak menjawab." Bryan menyindir keras pada Selly.
"Sayang," panggil Selly merajuk pada Regan. Selly merasa kesal saat Bryan menyindirnya.
"Iya," jawab Regan tersenyum.
Shea yang melihat interaksi dari Selly dan Bryan pun ikut tertawa kecil. Mungkin itu yang terjadi pada Bryan dan dirinya jika berdebat. Tapi bedanya, dirinya tidak bisa merajuk seperti halnya yang di lakukan oleh Selly.
"Kapan kalian akan pindah?" Suara Regan terdengar bertanya.
"Besok." Bryan menjawab dengan cepat.
"Apa berarti besok kamu izin?" tanya Regan menatap pada Shea.
"Tidak, Kak," jawab Shea, "besok Bryan yang akan membawa barang-barangku, lagi pula tidak banyak barang yang akan dibawa," lanjut Shea menjelaskan.
"Syukurlah kalau kamu tidak izin, karena besok aku kita ada jadwal bertemu klien."
__ADS_1
Shea baru ingat jika besok Regan akan ada jadwal bertemu klien, setelah mendengar ucapan Regan. "Iya, Kak."
"Kalau begitu kami permisi pulang." Bryan yang tidak mau berlama-lama pun akhirnya memilih untuk pulang.
"Kalian tidak makan dulu?" tanya Selly.
"Tidak, kami...."
"Makanlah terlebih dahulu! Jangan biarkan anakmu harus menunggu lama karena papanya menunda." Suara Regan memotong ucapan Bryan.
Bryan menatap Shea sejenak. Dalam hatinya dia membenarkan ucapan Regan, jika Shea akan terlambat makan karena dirinya menunda.
"Baiklah." Akhirnya Bryan memutuskan untuk makan di rumah Selly dan Regan.
Menuju meja makan, Shea dan Bryan duduk di kursi, bersama dengan Selly dan Regan.
"Apa kalian tidak pergi bulan madu?" tanya Selly pada Bryan dan Shea.
Shea yang sedang mengunyah makanannya, seketika tersedak saat mendengar pertanyaan Selly.
Bryan dan Regan yang melihat Shea tersedak, langsung menyerahkan gelas minum berisi air pada Shea.
Shea menatap bingung dengan apa yang di lakukan oleh Bryan dan Regan secara bersamaan. Shea pun menerima minum dari Bryan, karena memang posisi Bryan lebih dekat dengannya.
Bryan yang melihat Regan memberikan minuman pada Shea, tidak kalah bingung dengan yang di lakukan oleh Regan. Ingatan Bryan kembali pada dimana Regan yang begitu kesal saat mendengar Shea yang sakit. Regan begitu emosi, dan hampir saja melayangkan tinju pada Bryan.
Apa Kak Regan menaruh hati pada Shea? Rasanya tidak mungkin. Aku tahu sekali seperti apa cinta Kak Regan pada Kak Selly.
Bryan hanya bisa menebak-nebak, apa yang terjadi pada Regan, tapi hatinya pun mengelak, saat dirinya tahu persis apa seperti apa Regan.
Regan langsung meletakkan gelasnya dengan tenang, saat Shea menerima gelas berisi air minum dari Bryan.
"Kamu jangan bertanya seperti itu, lihatlah Shea tersedak," ucap Regan pada Selly.
"Tidak apa-apa, Kak."
Setelah pertanyaan yang membuat Shea tersedak, akhirnya Selly memilih diam. Dia tidak mau membuat Shea kembali tersedak dengan pertanyaannya.
Mereka pun akhirnya memilih untuk melanjutkan makan mereka.
Setelah selesai makan, Bryan dan Shea berpamitan pada Selly dan Regan, karena mereka ingin segera mengemasi pakaian yang akan dibawa untuk ke rumah baru.
"Kamu jangan terlalu lelah ya, Se," ucap Selly pada Shea.
"Iya, Kak."
"Ada Bryan, biarkan Bryan yang mengemasi pakaianmu," ucap Regan menimpali ucapan Selly.
"Benar apa kata Regan," ucap Selly menatap Shea. Selly beralih pada Bryan. "Ingat, pastikan kamu yang mengemasi pakaian!" Dengan tegas Selly memperingatkan Bryan.
"Iya." Bryan tidak mau memperpanjang lagi urusannya dengan Selly dan Regan yang begitu cerewet.
"Kalau begitu kami pulang dulu," ucap Shea.
Bryan dan Shea masuk ke dalam mobil, dan meninggalkan rumah Selly dan Regan.
***
Sesampainya di apartemen, Bryan membantu Shea untuk mengemasi pakaian Shea.
"Aku bisa sendiri, Bry," ucap Shea menolak bantuan Bryan.
"Aku tidak mau kamu terlalu lelah," jawab Bryan, "lagi pula aku akan mengemasi pakaianku besok," lanjut Bryan menjelaskan.
__ADS_1
"Apa kamu membantu karena ucapan Kak Selly dan Kak Regan?"
Bryan tersenyum tipis. "Tanpa mereka memintaku, aku akan membantumu," ucap Bryan.
Shea hanya mengangguk mendengar penjelasan Bryan. Sebenarnya Shea merasa tidak enak, saat Bryan membantunya, tapi Shea tidak punya pilihan untuk melarang Bryan. Akhrinya Shea membiarkan Bryan untuk mengemasi bajunya.
"Kamu kemasi pakaian yang di lemari sana saja," ucap Shea pada Bryan seraya menunjuk satu lemari. Tangan Shea beralih mengemasi pakaian dalam miliknya
"Kenapa tidak itu saja yang aku kemas," ucap Bryan melihat pakaian dalam milik Shea.
Shea menatap tajam pada Bryan yang meminta untuk mengemasi pakaian dalam miliknya. "Cepat kerjakan yang aku minta!" perintah Shea ketus.
"Ya, aku pikir sebelum memegang isinya, aku bisa memegang covernya," gumam Bryan tersenyum tipis.
"Kamu bilang apa?" tanya Shea. Shea mendengar Bryan bergumam, tapi dirinya tidak terlalu jelas mendengar apa yang di gumamkan oleh Bryan.
"Tidak," elak Bryan. Bryan tidak sadar jika Shea mendengar dirinya bergumam.
Shea yang mendengar elakan Bryan, hanya bisa mengerutkan dahinya, dan mengabaikannya. Tangannya kembali sibuk dengan beberapa pakaian miliknya.
Bryan mulai mengambil beberapa baju milik Shea, dan memasukkannya ke dalam koper. Berkali-kali Bryan memasukkan pakaian milik Shea, sampai pakaian milik Shea habis. Saat mengambil tumpukan terakhir pakaian milik Shea, Bryan melihat buku diary milik Shea.
Shea punya buku diary, batin Bryan. Sejenak Bryan melirik ke arah Shea. Saat melihat Shea sedang sibuk dengan memasukkan pakaian, Bryan mengambil buku diary milik Shea dan menyelipkannya di balik bajunya.
"Apa sudah selesai?" tanya Shea. Shea yang sedang bersimpuh merapikan pakaiannya, berdiri dan menghampiri Bryan.
"Sudah, ini yang terakhir," ucap Bryan seraya menyerahkan tumpukan pakaian terakhir milik Shea.
Shea pun menerimanya dan memasukkannya ke dalam koper.
"Aku akan ke kamar sebentar," ucap Bryan, dan Shea pun mengangguk.
Bryan keluar dari kamar Shea, dan menuju ke kamarnya. Sesampainya di kamar, Bryan membuka baju yang di pakainya. "Apa isinya?" Bryan begitu penasaran apa isi buku diary milik Shea. Bryan ingin tahu, apa yang di tulis Shea selama ini.
Tapi saat Bryan ingin membuka buku diary milik Shea, suara ketukan pintu menghentikan aksi Bryan. Bryan buru-buru menyimpan buku diary milik Shea, sebelum Shea melihatnya yang dengan lancang mengambil buku diary miliknya.
Setelah memastikan tempat yang aman untuk menyimpan buku diary milik Shea, Bryan keluar dari kamar, dan menemui Shea. Saat baru keluar kamar, Bryan mendengar Shea sudah berada di dapur. Bryan pun akhirnya menyusul Shea yang sednag berada di dapur.
"Apa sudah selesai berkemas?" tanya Bryan.
Shea yang sedang minum, menyelesaikan minumnya terlebih dahulu. "Sudah," ucap Shea saat dirinya selesai minum.
"Sepertinya kamu haus sekali." Bryan yang melihat Shea mengambil minum lagi, menebak jika Shea begitu haus.
"Iya," jawab Shea tersenyum.
Bryan melihat Shea yang tampak lelah. Dalam kondisi hamil, Shea pasti butuh energi lebih saat beraktifitas. "Kita pesan makanan saja, tidak perlu memasak," ucap Bryan. Melihat kondisi Shea yang lelah, Bryan tidak akan membiarkan Shea semakin lelah.
"Baiklah." Shea memilih menerima tawaran Bryan, karena memang dirinya begitu lelah. Shea kadang juga heran, kenapa baru sebentar saja beraktifitas, rasa lelah begitu menderanya. Tapi sejenak Shea menyadari, jika ini adalah akibat dari kehamilannya.
.
.
.
.
.
Jangan lupa like dan vote lagi ya😊
Malam ini periode terakhir vote, jadi vote sebanyak-banyaknya😉 #ngarep😂
__ADS_1
Ketemu besok jam 12.00 WIB.