My Dangerous Boy

My Dangerous Boy
Part 100 - Really?


__ADS_3

"Wanna escape? Then, I will help you."


Shella sontak memundurkan kepalanya, lalu menggigit bibir bawahnya dengan gugup, membuat wajah Andrew sedikit menjauh dari telinganya. "A--apa?"


Andrew tersenyum penuh arti, sebelum sebelah tangannya menyusup ke arah kedua tangan Shella yang diborgol ke belakang. Ia kemudian membuka paksa kepalan tangan yang sedang menyembunyikan sebuah peniti itu, hendak mengambil benda tersebut dari Shella. Tapi, gadis itu dengan gerakan cepat langsung menghunuskan benda tajam tersebut ke telapak tangan Andrew, membuat pria itu spontan memekik nyaring dan sontak membatalkan niatnya.


"Shit! What the **** are you doing?" erang Andrew dan meremas telapak tangannya yang mulai berdarah, berharap bahwa rasa sakitnya akan berkurang. Ia menatap tajam ke arah Shella.


Namun, Shella malah melirik ke arah sekitar, berharap ia bisa menemukan sesuatu atau apapun itu. Lalu, gerakan matanya berhenti kala ia melihat para penjaga yang berada di setiap sudut ruangan melangkah menuju ke tempatnya, mungkin sempat melihat pemberontakannya di tengah-tengah ikatan ini tadi.


Jangan!!


Tapi, baru beberapa langkah pria bertubuh tegap itu menuju ke tempatnya, seseorang langsung menyerang mereka dengan gerakan cepat dan tak terlihat. Bahkan Shella tidak menyadari semua itu, karena apa yang ia lihat di detik selanjutnya adalah tubuh para pria tersebut sudah berjatuhan di atas lantai.


Dor.


Dor.

__ADS_1


Dor.


Dan... dor.


"Aish, kau menyebalkan sekali Shella," seru suara itu seraya mengernyit menahan rasa sakit akibat dari tusukan peniti milik Shella. Shella menatapnya, lalu terbelalak ketika melihat Andrew sedang menyimpan kembali sebuah pistol yang sepertinya baru saja dipakainya. Apa! Dia yang menyerang semua penjaga di sini?


Mata birunya mengerjap bingung ketika melihat Andrew yang sedang memberengut kesal ke arahnya.


Apa!!


"Kau benar-benar perempuan paling gila. Teganya kau menusukku dengan benda tajam itu," keluh Andrew, sebelum sebelah tangannya bergerak mengambil sebuah kunci dari saku celananya.


Andrew tampak beranjak dari tempatnya dan mendekati kursi Shella, lalu melepaskan borgol besi yang bergelung mengikat kaki dan tangan gadis tersebut dengan menggunakan kuncinya tadi.


Beberapa detik kemudian, Shella akhirnya terbebas, membuat gadis itu menghela napas lega, sebelum bergerak mengambil pistol yang dikantungi oleh para penjaga tadi. Kemudian, diarahkannya moncong pistol itu ke arah Andrew sebagai tanda perlindungannya.


Pria itu hanya mengangkat alisnya tidak percaya. "Setelah membebaskanmu, kau mau menembakku?"

__ADS_1


Shella menganggukkan kepalanya dengan mantap seraya memundurkan langkahnya ke belakang. "Ya. Jika kau maju satu langkah, maka peluru ini langsung menembus ke dadamu," ancamnya dan gadis itu memang tidak bermain-main dengan ucapannya.


Sudur bibir Andrew mengerut sombong. "Then, shot me!"


What the...


Shella terbelalak ketika Andrew berjalan menuju ke arahnya dengan santai, seakan-akan ancamannya tadi memang tidak berpengaruh bagi pria tersebut. Andrew lalu tersenyum miring ketika melihat Shella tergagap dalam menekan pelatuk itu, seolah-olah ia sedang dalam keadaan ragu untuk menembak pria itu atau tidak.


"Kenapa? Tidak mau?" ejek Andrew, membuat Shella langsung emosi dan menekan pelatuk itu tanpa sadar. Namun, bukan dada pria itu yang menjadi sasarannya, tetapi dinding yang berada di belakang Andrew.


Pria itu mengerutkan keningnya heran. "Apa tembok di belakangku adalah sasaranmu?"


Bibir merah milik Shella tampak setengah terbuka, seolah-olah dirinya tidak percaya dengan apa yang baru saja ia lakukan. "Itu hanya sebuah gertakan saja. Jika kau berani untuk melangkah lagi, maka untuk kali ini aku tidak segan-segan untuk menembakmu."


Andrew terkekeh, lalu menggelengkan kepalanya tidak percaya. Pria itu sedikit takjub dengan segala kelakuan dari Shella tadi. "Kau takut, Shella."


"Tidak," bantah gadis itu keras kepala. Yah, walau tidak bisa dipungkiri jika tangannya yang sedang memegang pistol itu bergetar dengan hebat.

__ADS_1


"Well, kau barusan mengelak," ucap Andrew dengan santai seraya memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana, kemudian bergerak mendekati Shella. Ia menurunkan tangan gemetar Shella yang sedang memegang pistol, lalu tersenyum manis.


"Simpan pistol itu karena kita mungkin akan menggunakannya nanti. Sekarang, kurasa kita harus mencari cara keluar dari sini terlebih dahulu sebelum aku ketahuan telah membebaskanmu."


__ADS_2