
Zavier menghentikan mobilnya di depan rumah Shella. Ia melirik ke lingkungan sekitar dengan curiga, sebelum beralih melirik ke arah gadis itu.
"Sebelum aku keluar dari mobilmu, ada beberapa hal yang ingin kutanyakan dari tadi," ucap Shella kemudian.
Zavier hanya mengangkat satu alisnya dengan heran.
"Bagaimana kau bisa mengetahui aku berada di taman itu? Terus, bagaimana kau tahu jika Aron adalah mantan pacarku? Dan yang terakhir, siapa kau sebenarnya?" tanya Shella beruntun dan menatap dalam mata coklat Zavier.
Perempuan ini ternyata penasaran juga.
Pria itu tampak berpikir sejenak. "Aku kebetulan sedang berada di taman itu. Dan mengenai bagaimana caranya aku mengetahui tentang Aron, itu semua dari raut mukamu."
Shella tanpa sadar memegangi wajahnya sendiri. "Mukaku?" tanyanya aneh.
"Aku ingat kau dulu pernah mengatakan Aron adalah bestfriendmu, tapi berbanding terbalik dengan raut mukamu yang berkata sebaliknya. Memang betul kata daddymu, kau tidak pandai untuk menipu orang."
Sebenarnya, Zavier hanya berbohong. Tentu saja tadi dia tidak berada di taman itu, dan mengenai Aron, dia sudah pasti megeceknya terlebih dahulu. Seluruh biodata tentang Shella telah ia cek dengan detail. Berapa tingginya, beratnya, darimana dia berasal, bahkan hingga sampai ukuran dalaman pun Zavier tahu.
"E--eh. Oh!"
Zavier kemudian menghela napas. "Terus, mengenai pertanyaan terakhir, aku tidak akan mengatakannya padamu. Mungkin ini bukan waktu yang tepat untuk menjelaskannya."
"Kenapa?"
"Tidak apa-apa. Hanya saja, aku masih belum nyaman untuk menceritakan tentang kehidupanku."
"Oh, baiklah," sahut Shella dan mulai beranjak keluar dari mobil Zavier.
Namun, gerakan gadis itu berhenti kala merasakan ada sebuah tangan yang mencengkram lengannya dengan erat. Shella akhirnya menoleh kembali dan menatap ke arah Zavier dengan aneh.
"Aku--" Zavier menggigit bibir bawahnya. "--benar-benar menyukaimu."
Jantung Shella kembali berdetak dengan cepat. Ia melirik kesana-kemari, sebelum berusaha melepaskan cekalan dari pria itu.
Tapi, kelakuannya sia-sia saja karena tangan kekar itu meremas lengan mungilnya, menandai bahwa ia masih tidak ingin melepaskan cekalan itu.
__ADS_1
Untuk yang ketiga kalinya, Zavier meraih tengkuk Shella, lalu kembali menempelkan bibir panasnya ke bibir gadis itu. Pria itu tidak pernah bosan untuk ******* bibir gadis tersebut.
"Aku sungguh menyukaimu, Shella. Aku tidak berbohong," ucapnya dibalik ciuman menggairahkan itu.
Tubuh Shella seketika menegang. Ia mulai ragu dengan apa yang diucapkan oleh Zavier barusan.
Geez...
Beberapa detik kemudian, Zavier akhirnya melepaskan ciumannya. Ia beralih menatap ke arah mata biru Shella yang terlihat tidak mengerjap sama sekali.
"I really love you," ucap Zavier sekali lagi.
Shella menggigit bibir bawahnya, lalu mengarahkan pandangannya ke arah lain. Zavier sedang menangkup seluruh wajahnya, dan itu membuatnya harus menahan malu setengah mati.
"Aku tahu kau pasti akan terkaget dengan pernyataan ini. Sebenarnya, aku sendiri juga kaget dengan perasaanku yang kian lama menjadi kuat. Bahkan, daddyku yang mengatakan bahwa aku yang sudah jatuh padamu. Dan sepertinya itu memang benar," jelas Zavier lagi.
"A--aku hanya ingin mengatakan itu," tambah Zavier, lalu tersenyum lembut ke arah Shella. "Sekarang, turunlah."
Merasa telah mendapatkan lampu hijau, Shella langsung menjawab. "Okay," sahutnya cepat dan langsung keluar dari mobil. Dengan gugup, ia menutup pintu mobil itu dan sontak berlari menuju ke dalam rumahnya.
Tiba-tiba, ponsel miliknya berbunyi, membuat sang pemiliknya langsung melihat nama penelepon itu.
Nomor tidak dikenal.
Entah kenapa, Zavier merasa sedikit was-was dengan nomor penelepon itu. Seketika, ia langsung memikirkan hal-hal yang aneh. Apa ini merupakan orang yang sama dengan kejadian yang lalu itu?
Zavier bimbang. Ia berpikir keras dan memejamkan matanya. Angkat apa tidak?
Beberapa detik kemudian, merasa tidak ada yang salah, pria itu akhirnya mengangkat telepon yang sudah berdering lama tersebut dengan terpaksa. "Siapa?" tanyanya dengan nada yang berubah dingin.
"Ini aku," sahut sebuah suara bariton di seberang sana, membuat Zavier tanpa sadar menggenggam erat ponselnya.
Ia tidak mengenal suara asing ini.
"Siapa?" tanya Zavier, mengulangi pertanyaannya lagi.
__ADS_1
"Setidaknya kau harus mengingat suara orang yang baru kau tinju tadi," ucap suara itu.
Orang yang ditinjunya? ARON?
"Apa maumu?" tanya Zavier lagi. Kali ini, ia semakin cemas karena pria sialan itu telah mengetahui nomor ponselnya.
"Tidak apa-apa, aku hanya ingin berbicara denganmu. Jangan terlalu cemas dan mencengkram ponselmu dengan erat."
Mendengar itu, Zavier spontan melirik ke sekitar lingkungan. "Bagaimana kau bisa mengetahuinya?" tanyanya datar, namun tidak bisa dipungkiri jika perasannya sudah menjadi campur aduk sekarang. Zavier menggertakkan gigi.
"Aku selalu tahu apa yang sedang kau lakukan, Zavier. Anak dari Clayton."
Zavier semakin menggeram marah. "Jangan bertele-tele dan katakan langsung apa yang kau inginkan!"
"Zavier, sang mafia yang berkuasa tiba-tiba menjadi takut padaku, huh? Tidak bisa dipercaya. Jika yang kuinginkan adalah Shella, apa kau bisa memberinya?" Suara bariton itu terdengar terkekeh pelan pada kalimat terakhirnya, membuat Zavier merasa telah direndahkan.
"Langkahi dulu mayatku jika kau ingin mengambilnya," seru Zavier sinis.
"Oh, ya? Sebenarnya, aku bisa membunuhmu kapanpun yang aku mau. Bahkan, sekarang juga jika kau menginginkannya."
Zaiver menahan napasnya. Sepertinya ia baru saja diancam balik oleh pria itu.
Ayolah, Zavier. Sejak kapan kau menjadi selemah ini? Membiarkan musuhmu yang berkuasa di atasmu?
"Tapi, sayangnya. Aku tidak tega untuk melakukan hal itu." Suara bariton tersebut bersuara kembali.
Zavier sontak berdesis, merasa ia menjadi terlalu lemah saat ini.
"Lihatlah ke belakang mobilmu."
Zavier mengikuti perintah itu walaupun enggan. Ia melirik ke arah kaca spionnya, lalu mendapati seorang lelaki yang tengah tersenyum mengejek ke arahnya sembari menempelkan ponsel di telinganya.
Aron.
8 May 2020
__ADS_1