My Dangerous Boy

My Dangerous Boy
Part 104 - Getting Worst (2)


__ADS_3

"Aku baik-baik saja. Apa misi penyelamatan gadis itu telah selesai?" tanya Franklin seakan-akan hal tersebut hanyalah sebuah masalah sepele.


Andrew melirik ke arah Shella, lalu mengkode ke arah gadis itu dengan menggunakan tangannya yang disembunyikan di belakang punggung. Kau harus kabur secepat mungkin setelah aku mengeluarkan aba-abaku.


Shella spontan menatapnya dengan tatapan tidak setuju. Aba-aba seperti apa?


"Well, aku memiliki satu berita yang bagus untuk kalian," ujar Franklin lagi, membuat Andrew dan Shella memutuskan pandangannya mereka masing-masing dan kembali beralih menatap pria berlemak itu.


Ish, dasar donat busuk ini!


"Apa?" tanya Andrew. Jantungnya tiba-tiba saja berdetak dengan cepat dan menatap ke arah Franklin dengan khawatir.


Sial, ia bahkan sama sekali tidak tahu apa yang sedang ia khawatirkan saat ini, karena firasat buruk yang aneh itu langsung muncul begitu saja di dalam dirinya.


"Pacarmu dalam bahaya."


Tanpa sadar, Shella dan Andrew sama-sama membelalakan matanya. Entah kenapa, pikiran Shella malah tertuju pada Zavier, sementara Andrew sendiri terpikir dengan pacarnya sendiri, Lina.

__ADS_1


Maksudnya? Pacar siapa yang berbahaya saat ini?


Seakan-akan bisa membaca pikiran mereka berdua, Franklin tersenyum misterius. "Tepat sekali. Tentu saja pacar kalian masing-masing."


Andrew menyipitkan matanya. "Apa maksudmu?"


Sebelah tangan kekar milik Andrew menahan Shella dan sedikit memundurkan gadis tersebut ke belakang, seakan-akan sedang berusaha menjaga tubuh mungil tersebut dari keadaan berbahaya.


Franklin menunjuk ke arah belakangnya, membuat mereka mengernyit heran dan mengikuti arahan dari pria tersebut. Perlahan tapi pasti, Shella dapat melihat ada sosok gadis yang tengah diikat dan kedua tangannya dipegang oleh dua orang pria berpakaian hitam, seolah-olah menahan gadis itu untuk tidak kabur.


Dan, oh astaga... itu adalah Lina.


"Dan, sekarang aku tahu, apa penyebab semua kinerja anak buahku menjadi buruk. Itu semua gara-gara perbuatanmu."


Andrew menyeringai. "Kau bodoh. Kau benar-benar tidak tahu siapa dan apa yang sedang kau hadapi saat ini."


Mendengar itu, Franklin tertawa penuh misteri, lalu menoleh ke arah Lina. "Kau benar. Aku memang tidak pernah memiliki anak," ucapnya, membuat raut wajah Lina langsung berubah menjadi keji. Gadis itu berusaha untuk memberontak melepaskan diri, namun apa yang ia dapatkan hanyalah pukulan bertubi-tubi yang mendarat di tubuhnya yang sudah dipenuhi dengan luka memar.

__ADS_1


Andrew menggeram rendah, sementara Shella menutup mulutnya dengan sebelah tangan tidak percaya dan semakin melangkah mundur hingga ke belakang punggung Andrew, seolah-olah ia sedang mencari perlindungan.


Mendengar perkataan Franklin tadi membuat pria itu menyadari bahwa ternyata dia sudah membuntuti mereka semenjak ia melepaskan Shella. ****, bagaimana ia tidak bisa menyadari hal yang sebenarnya sangat sepele ini?


Franklin kemudian menjongkok dan berusaha menyamakan tingginya dengan tinggi Lina, menatap ke arah wajah cantik yang telah memiliki beberapa luka akibat perbuatannya tadi. Ia mengambil beberapa anak rambut halus itu dan menyelipkannya ke belakang telinga sehingga membuatnya menjadi lebih leluasa untuk melihat penampilan wajahnya saat ini. Amarah dan rasa tidak percaya telah membludak keluar di dalam diri Lina.


"Sebenarnya, namamu bukan Lina, gadis bodoh," kekeh Franklin di hadapan Lina, membuat gadis itu merasakan darah di tubuhnya memanas seketika. Tanpa ragu ataupun takut, ia langsung meludahi wajah Franklin dengan penuh dendam.


Franklin spontan menggeram, lalu mengambil kain yang berada di dalam saku celana dan membersihkan ludah itu dengan perlahan. Namun, setelahnya, pria itu bergerak menampar pipi Lina hingga membuat wajahnya terpaling ke samping kiri. Jejak lima jari tercetak dengan jelas di kulit mulus itu.


"Hey, *****. Namamu Zaviera, ingat itu. And, I am not your father idiot girl," bisik Franklin di telinga kanan gadis itu, lalu seakan-akan belum cukup dengan perbuatannya tadi, ia kembali menampar pipi itu hingga wajahnya terpaling ke samping kanan.


Pria itu terkekeh jahat saat melihat gadis tersebut hanya menatapnya dengan tatapan tajam.


"Hey, son of the *****! Just shut up!" umpat Zaviera dan kembali memberontak melepaskan diri serta berusaha untuk meremukkan wajah Franklin, namun usahanya sia-sia saja. Cengkraman di kedua lengannya semakin erat hingga membuat ia harus merintih sakit.


"Beraninya tangan kotormu itu menampar wajahnya! Aku akan memastikan setelah ini, kau, donat bulat akan kubuat busuk hingga ke akarnya!" bentak Andrew dengan amarah yang mulai meledak-ledak di dalam kepalanya.

__ADS_1


Melihat Lina ditampar dua kali seperti itu membuat Andrew merasakan tangannya menjadi terasa gatal untuk segera memotong benda Franklin dan memasaknya hingga matang, lalu menyuruh pria itu untuk kembali memakannya.


"Heh? Donat bulat busuk?" Tatapan Franklin beralih menatap ke arah Shella, lalu menyeringai sejenak. "Zavier tidak menyelamatkanmu, Shella. Dia hanya ingin menyelamatkan Lina. Oh, salah, namanya bukan Lina. Tapi, Zaviera," ucapnya guna untuk memancing emosi.


__ADS_2