
"Sakit," keluh Shella saat merasakan nyeri yang menjalar di kakinya. Ia mengumat kasar dan terus berusaha untuk menggerakan kakinya agar dapat turun dari ranjangnya.
"That fucking *******. I will kill him," umpatnya.
Ia melirik ke arah jam yang berada di atas nakas, lalu tersentak kaget. Karena terlalu kagetnya, Shella tiba-tiba berdiri dari tempatnya dan sontak langsung terjatuh di lantai karena nyeri yang mendera.
"Shit," umpatnya lagi untuk yang entah ke berapa kalinya.
Shella berjalan terseok-seok menuju ke lantai bawah seraya meringis kesakitan. Sial, dia sudah terlambat pergi ke kampus pagi ini.
And wait?
Shella berhenti bergerak ketika dirinya telah sampai di ruang tamu, kemudian mengernyitkan dahinya aneh. Ia baru ingat jika kemarin ia tertidur di atas sofa panjang itu, lantas kenapa dirinya bisa berpindah ke kamarnya sendiri? Apa kemarin ia terserang yang namanya 'mimpi berjalan'?
Shella kemudian memaksakan dirinya untuk duduk di atas sofa sembari berdesis sakit. Apa mungkin si Brengsek itu yang memindahkannya?
Gadis itu menggertakkan giginya geram, lalu beralih mengambil tasnya yang berada di atas sofa. Ia merogoh benda berpipih miliknya dan membuka ponsel itu.
Namun, ia langsung menghela napas begitu mendapati ponselnya telah kehabisan baterai. Shella lupa untuk mengisinya kemarin malam.
Dengan terpaksa, ia beranjak dari tempat duduknya untuk pergi mengisi daya ponselnya terlebih dahulu sebelum berangkat ke kampus.
__ADS_1
Lalu, dengan langkah kakinya yang lunglai, menuju ke kamar mandi dan membersihkan dirinya. Moodnya langsung turun drastis begitu menyadari bahwa hari ini Shella akan bertemu dengan dosennya lagi.
Oh my god.
Shella membuka seluruh pakaiannya, dan sekali lagi ia berdesis sakit ketika menceburkan kakinya ke dalam bathub. Luka terkutuk itu benar-benar membuatnya kesusahan.
Shella mengabaikan rasa sakit itu dan terus berusaha menceburkan dirinya ke dalam air hingga sebatas leher. Ia menuangkan sabun kesukaannya ke dalam bathub, membuat wangi lavender terasa langsung menyeruak memenuhi setiap sudut kamar mandi.
Wangi yang selalu membuatnya tenang untuk sejenak.
"Dimana kau Shella!" pekik sebuah suara yang membuat gadis itu yang tadinya hendak memejamkan mata sontak membuka matanya kembali.
Ia dengan cepat keluar dari bathub dan tetap berusaha untuk tidak mengeluarkan suara sedikit pun. Dengan berhati-hati, Shella meraih bathrobe yang digantung dan memakainya.
"Shella!" Suara itu sekali lagi terdengar, membuat bulu kuduk Shella langsung merinding. Beruntungnya di dalam kamar mandinya terdapat banyak sekali botol sabun, sehingga Shella bisa menggunakannya sebagai perlindungan.
Ia kemudian melangkah perlahan menuju ke arah pintu dan memutar knop itu, sementara salah satu tangannya sudah menggenggam erat botol sabun itu.
"Kau dimana?" pekik suara bariton itu untuk yang ketiga kalinya.
Shella mengintip sedikit dan melongokkan kepalanya keluar dari pintu, kemudian menatap ke sekitar kamarnya.
__ADS_1
Kosong.
"Kau disini ternyata." Sebuah suara dari arah belakang membuat Shella langsung terlompat. Ia memutar kepalanya ke arah belakang dengan cepat dan langsung menghantam orang itu dengan pintu kamar mandi.
"Hei, kau kenapa?" jerit pria itu ketika wajah tampannya langsung dihajar oleh pintu kamar mandi itu. Shit, ia telah berdiri pada posisi yang salah.
Pria itu terjengkang ke belakang dan lantas terduduk di lantai. Ia meringis dan mengusap tulang hidungnya yang terasa nyeri. Pintu ******* itu telah membuat ketampanannya menjadi hilang.
Tanpa melihat wajah pria itu, Shella langsung melayangkan botol sabun yang masih berisi cairan sabun itu ke wajahnya. Setelah itu, ia langsung menginjak perut pria tersebut beberapa kali dengan menggunakan kakinya.
Ringisan halus yang kesakitan itu membuat Shella menjadi lebih kejam untuk menghajar tubuh kekar tersebut. Gerakan gadis itu mulai berpindah ke area bawah, area yang paling ditakuti oleh pria tersebut.
"Si--sial. Jangan Shella. Hentikan, tolong jangan," pekik lelaki itu dengan ngeri. Ia berusaha bangkit dari lantai dan sedikit menjauh dari Shella.
Shella hendak memekik, namun pria itu langsung menutup mulut Shella dengan telapak tangannya. Akhirnya suara teriakan tersebut langsung terendam, menyisahkan rontaan Shella yang masih berusaha untuk kabur darinya.
Mata coklat yang tenang itu seakan menghipnotis Shella, hingga tak sampai sedetik, ia melebarkan matanya ketika bertemu dengan wajah tampan yang tidak asing baginya.
"Zavier?" bisik Shella di balik telapak tangan kekar milik pria tersebut.
7 May 2020
__ADS_1