My Dangerous Boy

My Dangerous Boy
Part 36 - Meet Dad


__ADS_3

Zavier sedang berjalan menuju ke ruang kerjanya. Ia membuka pintu ruangannya dan matanya langsung menangkap ayahnya yang sedang mengutak-atik barang miliknya. Terlihat daddynya itu tengah duduk di atas kursi kebesarannya.


"Dad. Kau kenapa?" tanya Zavier sembari melangkah masuk dan mendudukkan bokongnya di atas sofa.


"Siapa gadis ini?" Kini, ayah Zavier sedang memeriksa laptop miliknya, membuat pria itu langsung berjalan menuju ke tempat ayahnya.


Biodata milik Shella yang sedang terpampang di benda itu membuat Zavier langsung terkesiap di tempatnya. Ia mematikan laptopnya dan merebut benda itu dari Clayton, ayahnya sendiri.


Pria paruh baya yang nyaris memiliki wajah yang sama dengan Zavier, kecuali dengan sedikit kerutan di bagian matanya. Namun, itu semua tidak mampu mengurangi pesona dan ketampanan ayahnya. Beliau masih sehat di umurnya yang sudah terbilang tua.


"Bukan siapa-siapa," ujarnya sembari tersenyum kikuk.


Clayton mengangkat satu alisnya dan menatap Zavier dengan curiga. Pria paruh baya itu kemudian memutari kursi kebesaran Zavier ke arah belakang. "Perempuan itu cantik."


"Kau mau minum apa, Daddy? Tumben sekali kau datang kesini," ujar Zavier, menghiraukan perkataan daddynya barusan. Ia melangkah menuju ke sofa tadi, lalu meletakkan laptopnya di atas meja.


"Kenapa aku merasa kau seperti sedang melarang daddymu untuk ke sini? Apa tidak boleh aku ke sini untuk menjenguk anak kesayangannya sendiri?" tanya Clayton dan beranjak dari tempat duduknya. Ia berjalan menuju ke sofa yang berhadapan dengan Zavier dan duduk di atas sana.


"Bukan begitu, dad," desah Zavier. "Hanya saja, jarang sekali dad datang kesini semenjak daddy telah mengubah profesi dan mengendalikan perusahaan Turner di kota New York."


"Kau mengkhawatirkan daddy?" Clayton terkekeh geli ketika mendengar semua ucapan anaknya. "Kau sudah tumbuh besar ternyata."


Zavier hanya memutar kedua bola matanya malas. Ia mendesah kesal karena daddynya masih saja menganggapnya sebagai anak-anak.


"Tapi, apa kau masih ingin menjalankan bisnis ilegalmu? Kau bisa berpindah profesi dan menjalankan perusahaan daddy jika kau sudah bosan. Itu tidak buruk juga untukmu," tambah Clayton lagi.

__ADS_1


"Nanti aku baru memikirkannya, dad."


"Kau tahu, Son. Jika bukan karena mommymu, dad pasti akan tetap menjadi ketua mafia hingga sekarang. Terkadang aku merindukan masa-masa dimana umurku masih sama seperti dirimu," ujar Clayton sembari tersenyum tipis, menunjukkan sedikit kerutan samar di sudut bibirnya.


"Oh ya. Son, apa kau bisa menjelaskan kepadaku tentang hot news itu? Dan juga, apa kau baik-baik saja sekarang? Melihat rekaman CCTV itu, aku merasa kau telah menjadi pahlawan bagi perempuan itu."


Zavier mencibir. Pahlawan? Jika Shella bisa berterima kasih saja padanya sudah cukup. Ya, itu lebih baik daripada ia merasakan kekerasan dalam hubungan berpacaran.


Ish, mengerikan.


"Tulang belakangku sedikit retak dan sebelah kakiku terasa sedikit nyeri ketika berjalan. Tapi tidak apa-apa, aku masih sanggup untuk menahannya. Rasa sakit itu masih tidak seberapa untukku," jelas Zavier sembari terkekeh geli pada kalimat terakhirnya.


Clayton mencebikkan bibirnya ketika mendengar perkataan Zavier yang mengandung sedikit nada kesombongan di dalam sana.


"Dad mau minum apa? Biar kusuruh pelayan untuk mengantarkannya kemari."


"Baiklah."


Zavier mengeluarkan ponselnya dari saku celana, lalu mendial sebuah angka dan menempelkannya di telinga. "Angel, cepat antarkan dua cangkir kopi ke ruang kerjaku."


Calyton menggelengkan kepalanya, melihat kelakuan anaknya yang sama sekali tidak berbeda dengannya dulu. Selalu suka untuk memerintah orang, tetapi juga selalu membenci orang yang memerintah dirinya.


Tak lama kemudian, seseorang mengetuk pintu kerja Zavier dari luar, disusul dengan suara pintu yang terbuka. Zavier dan ayahnya menghentikan obrolan mereka sejenak, menunggu pelayan itu untuk meletakkan kopi yang dipesan oleh Zavier.


"Kau menyukai perempuan itu?" tanya Clayton secara tiba-tiba.

__ADS_1


Zavier yang baru saja menyesap kopinya perlahan langsung tersedak dan terbatuk-batuk. Ia dengan cepat meletakkan cangkir kopi itu di atas meja, kemudian beralih menatap ayahnya tidak percaya.


"Siapa?" tanya Zavier, masih tidak mengerti dengan ucapan ayahnya.


"Jangan berpura-pura untuk tidak mengerti ucapanku, Zavier. Kau pasti tahu apa maksudku. Bukankah kemarin dia tinggal di kamarmu?" tanya Clayton sembari terbahak kencang.


Zavier melotot. Ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dan masih terkejut tentang semua pengetahuan ayahnya. Sial.


"Kau tahu darimana, Daddy?"


"Zavier, kau sudah mengenal daddy sejak dulu. Asal kau tahu, Son. Aku meretas semua CCTV di mansion ini dan CCTV yang kau pasang di rumah sakit milikku."


"Astaga! Kenapa dad melakukan itu? Tidak bisa dipercaya," pekik Zavier tertahan.


Ia kemudian memijit pelipisnya, menyadari bahwa semua privasinya telah terbongkar. It's to bad. Geez....


"Zavier, dad ingin mengatakan sesuatu padamu."


Clayton mencondongkan tubuhnya ke arah Zavier, membuat pria itu mau tidak mau juga ikut mencondongkan tubuhnya ke hadapan ayahnya.


"Dia perempuan yang menarik. Aku akan mendukungmu untuk terus berjuang mendapatkannya. Rasanya kasihan sekali melihatmu terus dihina olehnya dan dia juga menolakmu secara terang-terangan," ujar Clayton semakin terbahak.


Zavier sontak kembali duduk tegak. Dirinya semakin terkejut ketika mengetahui daddynya telah mengenali perempuan itu dengan baik.


"Daddy ingin melihat perempuan itu."

__ADS_1


Clayton beranjak dan pergi keluar dari ruangan kerja Zavier. Bahkan pria itu masih terdiam di tempatnya cukup lama, belum menyadari bahwa daddynya telah pergi meninggalkannya selama beberapa menit.


7 May 2020


__ADS_2