My Dangerous Boy

My Dangerous Boy
Part 33 - Shit, Is This Real?


__ADS_3

"Benar-benar menjengkelkan," gerutu Zavier kesal. Ia melangkah masuk ke dalam mansionnya sembari membopong Shella dengan kedua tangannya.


Zavier terus melangkah hingga dirinya sampai di depan kamar dengan pintu yang bercat coklat. Ia membuka pelan pintu itu dengan menggunakan kakinya karena kedua tangannya sedang membopong Shella.


Sepasang kaki itu lalu berjalan masuk ke dalam dan menuju ke tempat tidur yang berukuran king size. Dibaringkannya gadis itu dengan hati-hati di atas kasur, kemudian dengan kasih sayang yang penuh, ia menggunakan selimut berwarna putih untuk menyelimuti tubuh Shella.


Tanpa sadar, ia kembali menghela napas pelan. "I think this is the worst idea," gumamnya kepada dirinya sendiri.


****


08:00 AM


Bulu mata itu bergerak-gerak, lalu tak lama setelah itu, mata biru tersebut terbuka secara perlahan. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali, kemudian memegangi kepalanya yang tiba-tiba terasa pusing.


Kepingan-kepingan kejadian kemarin itu masih bisa diingatnya. Dan sekarang, ia menjadi merasa aneh karena mendapati dirinya tengah tertidur nyaman di sebuah kasur.


Shella menyibak selimut putih yang membungkusnya dan melihat ke sekeliling. Kerutan samar langsung tercipta di dahinya, merasa asing dengan kamar yang ditempatinya saat ini. Wajahnya menunjukkan raut wajah yang bingung sekaligus curiga dalam waktu yang bersamaan.


"Kau sudah bangun?"


Sebuah suara bariton tiba-tiba terdengar, membuat Shella refleks menoleh ke arah asal suara itu. Ia sontak membelalakan matanya, terkejut dengan keberadaan Zavier di sini.


Pria itu sedang duduk di atas sofa dengan penampilan yang berantakan. Rambutnya yang terlihat acak-acakan, mulut yang menguap lebar, dan saat ini Zavier tengah mengucek matanya. Sepertinya pria itu baru bangun dari tidurnya.

__ADS_1


Shella semakin melotot kaget ketika menyadari hal itu. Pria itu tidur di sini?


Gadis itu sedikit memiringkan kepalanya, masih merasa janggal dengan semua ini. Ia tidak mengerti kenapa dirinya bisa bersama dengan Zavier, padahal Shella tidak melihat pria itu pada malam kemarin.


Ia memicingkan matanya dan menatap ke arah Zavier dengan sedikit curiga.


"Tidak, jangan menuduhku!" sergah Zavier duluan ketika menyadari tatapan dari Shella yang seakan-akan ingin menelannya hidup-hidup.


Zavier meneguk salivanya dengan cepat, lalu menatap Shella seraya melipat kedua tangannya di depan dada.


Mata coklatnya menatap perempuan itu dengan jengkel, kemudian berdeham sekali untuk menetralkan suaranya sebelum berbicara. "Aku bisa menjelaskan."


Shella mengernyitkan dahi, semakin menatap curiga ke arah Zavier.


"Sejak kapan aku menuduhmu?" tanya Shella yang akhirnya tidak terima dengan perkataan Zavier. Ia memicingkan matanya aneh dan terus menatap tepat ke manik pria itu.


"Sejak kau terus menatapku dengan tatapan curiga," ujar Zavier seraya memberengut sebal.


Shella memutar bola matanya kesal dan menghembuskan napas jengkel. "Yang penting aku tidak menuduhmu," tukasnya.


"Jadi kenapa kau menatapku dengan tatapan curiga?" tanya Zavier kembali sembari bersedekap angkuh.


"Perempuan mana yang terlihat tidak curiga saat mereka bangun tidur di sebuah kamar yang asing baginya, lalu ada seorang pria lagi yang tidur semalaman dengan ruangan yang sama dengannya!" jerit Shella karena benar-benar sudah tidak tahan lagi.

__ADS_1


Zavier langsung terdiam dan tidak berkutik setelah mendengar perkataan Shella. Di detik selanjutnya, ia menatap gadis itu dengan pandangan horror. "Yang penting aku tidak berbuat macam-macam," bela Zavier.


Shella mencebik bibirnya sebal. "Itulah masalahnya. Bagaimana aku bisa mempercayaimu sedangkan kau saja tidak memiliki bukti apapun untuk membuktikannya?"


"Kau tidak percaya pada pacarmu? Astaga, aku benar-benar merasa terhina sekarang," desah Zavier pelan.


Shella hanya mengangkat satu alisnya tidak peduli. "Kau mau menjelaskan apa?" tanyanya sembari bersedekap, mengikuti gerakan pria itu.


"Aku yang telah menyelamatkanmu dari para brengsek itu," ujar Zavier. Ia menunggu reaksi dari gadis itu, namun apa yang Zavier harapkan ternyata tidak tercapai karena gadis itu tampak tenang-tenang saja.


"Dan para brengsek yang kau sebut adalah teman dari adikmu. Kalian semua sama brengseknya," balas Shella. "But anyway, maybe I have to say thank you for your kindness."


"Hanya itu?" protes Zavier. "Kau tidak terkejut atau mungkin syok?"


"Tidak, kenapa juga harus terkejut?" sahut Shella kembali. "Yang aku terkejut saat ini adalah kenapa kau membawaku ke kamar asing ini. Apa kau berniat untuk bermacam-macam?" tanyanya kembali menuduh.


Mendengarnya membuat Zavier langsung menatap jengah ke arah gadis itu.


"Kalau bermacam-macam, kurasa dari kemarin aku sudah bertindak seperti itu," ujarnya berterus terang yang membuat Shella langsung melemparkan bantal yang berada di atas kasur.


"Keluar kau! Aku sedang tidak ingin melihat wajah jelekmu itu!"


Zavier menangkap benda lembut itu dengan mudah, lalu kembali mengalihkan tatapannya ke arah Shella. "How dare you? Apa kau sedang berusaha untuk mengusirku dari kamarku sendiri?"

__ADS_1


7 May 2020


__ADS_2