
Shella duduk di bangku taman itu, namun tetap menjagak jaraknya antara Aron.
"Umm... kenapa kau menyuruhku ke sini? Apa ada hal penting yang ingin kau sampaikan?" tanya Shella dan menutupi kegugupannya.
Pria itu tampak menghela napas, lalu melirik ke arah Shella. "Beberapa hari ini aku berusaha melupakanmu, melupakan kenangan kita, namun semua itu terasa begitu susah. Aku harus bagaimana Shella? Huh? Katakan padaku," ucap Aron dan memperlihatkan ekspresi terlukanya, membuat hati Shella langsung mencelos sesaat.
"Bisakah kamu mengatakan alasannya dengan jelas? Aku tidak tahu di mana letak kesalahanku, please?" tanya Aron frustasi.
Pria itu kemudian menggenggam erat tangan Shella dengan sedikit memaksa, walau perempuan itu mulai sedikit memberontak serta tidak nyaman dalam posisi ini.
"Aku tidak bisa tidur beberapa hari ini dan kopilah yang selalu menemani malamku," ujar Aron lagi.
"Kamu tidak benar-benar serius pada perkataan hari itu, kan?"
Akhirnya genggaman erat dari pria itu berhasil dilepas oleh Shella. Ia menyipitkan matanya dan semakin memundurkan jaraknya. "Aku benar-benar serius pada perkataan tempo hari itu."
"Kenapa? Apa karena pria itu? Selingkuhanmu?" tanya Aron dingin dan wajahnya langsung berubah menjadi datar.
Shella mengerutkan dahinya. "Apa maksudmu?"
Aron mencibir dengan nada dingin. "Jangan berpura-pura tidak tahu."
"Aku benar-benar tidak mengerti maksudmu!" ucap Shella yang akhirnya menjadi kesal juga.
"Yang benar saja. Jangan berpura-pura untuk tidak mengerti maksudku. Atau tunggu--" Aron menghentikan ucapannya sejenak, lalu kembali melanjutkan. "Kurasa selingkuhanmu terlalu banyak hingga kau menjadi lupa dengan nama-nama mereka."
"Aku tidak berselingkuh!" pekik Shella spontan.
"Jadi bisakah kau menjelaskan siapa pria itu yang kau bilang adalah pacar barumu? Apa dia lebih baik dariku, huh?" tukas Aron dan semakin menaikkan nada ucapannya.
__ADS_1
Ah, iya. Ia baru ingat jika ia pernah mengaku Zavier sebagai pacar terbarunya di hadapan Aron.
"Tentu saja dia lebih baik darimu." ujar Shella dengan mudahnya.
Tentu saja tidak, pekik sisi lain dari dirinya.
Raut wajah Aron langsung berubah menjadi keruh sesaat. "Kuharap kamu memang pandai memilih pria untuk berada di sisimu. Asal kamu tahu, Shella, aku sangat kecewa padamu sekarang."
Shella sontak menggeleng tidak terima. "Kenapa kau harus kecewa? Seharusnya aku yang kecewa karena melihatmu pergi ke mall bersama dengan selingkuhanmu."
"Kapan aku berselingkuh?" bantah Aron datar.
"Kau sudah tidak bisa mengelak lebih jauh lagi, Aron. Kedua mataku melihat sendiri bagaimana kau terus bersama selingkuhanmu dan memperlakukannya dengan baik. Aku yang kecewa, Aron!" pekik Shella dan turut menaikkan nadanya.
Pria itu menoleh dingin, kemudian mendapati mata Shella yang mulai berkaca-kaca.
Cih, devil girl.
Setiap kata yang penuh penekanan itu membuat Shella sukses menjatuhkan sebutir air matanya.
Pria itu masih saja mengelak.
"Sudahlah, aku malas berbicara dengan pria idiot sepertimu. Sekarang, aku ingin pergi. Tolong lepaskan aku," ucap Shella yang mulai lelah.
Ia mendorong dada bidang Aron dengan tangan mungilnya, namun semua itu tidak berefek apapun bagi pria tersebut.
Aron hanya tersenyum sinis, lalu menjauhkan badannya. Ia memalingkan wajahnya, lalu beranjak bangkit dari tempat duduk. "Dia bukan seorang pria yang baik. Percayalah padaku, atau kamu sendiri yang akan menerima akibatnya."
Jantung Shella sontak berdetak cepat secara tiba-tiba. Ia menatap Aron lama. Dan disaat itulah, Shella tahu, bahwa dirinya sama sekali tidak memiliki perasaan suka kepada pria itu lagi. Tidak seperti dulu...
__ADS_1
Shella menghapus air matanya dengan cepat. "Apa maksudmu?"
Pertanyaan Shella membuat Aron menghentikan langkahnya sejenak. "Aku hanya memperingatimu."
***
Sementara di sisi lain...
Zavier menyatukan kedua alisnya dan memperbesar suara headsetnya. Ia meneguk kopinya dan kembali meletakkan cangkir itu di atas meja.
"Dad, aku akan pergi keluar sebentar untuk menemui teman lamaku."
Itu suara Shella. Lalu tak lama setelah itu, sebuah suara bariton menyahut perkataan perempuan tersebut.
"Baiklah."
Itu suara William, daddynya Shella.
Zavier kemudian mendesah kesal. Perempuan ini benar-benar tidak bisa menepati janjinya sendiri. Bukankah ia sudah menyuruhnya untuk tetap menetap di rumah karena lututnya sedang terluka? Astaga.
Beruntungnya ia sudah memasangkan sebuah penyadap lagi di dalam sofa Shella, sehingga ia bisa mengetahui apa yang sedang dilakukan oleh gadis itu di rumah.
Tentu saja itu dilakukannya tanpa membuat Shella curiga, yaitu dengan cara berpura-pura pingsan dan menimpa tubuh mungil gadis tersebut. Lagipula, ia juga mendapat banyak bonus karena bisa memegangi lekuk tubuh Shella yang menggiurkan.
Sungguh licik.
Zavier lalu membuka ponsel yang baru ia beli tadi dan membuka file yang langsung terhubung dengan GPS yang dipasangkan ke tas Shella.
Gotcha...
__ADS_1
You can't run away, Shella.
8 May 2020