My Dangerous Boy

My Dangerous Boy
Part 108 - Are We Lose? (3)


__ADS_3

Ucapan Zavier langsung berubah menjadi suara rintihan sakit kala Franklin langsung berjalan cepat menuju ke arahnya dan menendang perutnya dalam sekali sentakan kuat.


Bugh.


Tubuh Zavier spontan tersentak ke belakang. Ia terbatuk-batuk, membuat Aron hanya menatap ngeri ke arahnya. Kemudian, di detik selanjutnya, Franklin kembali berujar dengan nada yang semakin dingin.


"Borgol mereka berdua di belakang sana," titahnya dan berbalik menghadap ke arah para anak buahnya. Ia menunjuk ke arah Zaviera dan Andrew yang tengah pingsan layaknya orang yang tertidur, sebelum jari telunjuknya bergerak menunjuk ke belakang Zavier.


Dalam waktu yang cepat, Zavier dapat melihat Franklin menyeringai sekilas, lalu pria itu tiba-tiba pergi begitu saja dan membanting pintu ruangan dengan keras, tapi terlalu kerasnya hingga membuat rumah lusuh yang terletak di tengah hutan ini sedikit bergemuruh.


Bagaimana kalau rumah kayu ini ambruk?


***


Shella berusaha untuk menetralkan detak jantungnya yang berpacu cepat, mengingat ia telah berlari lumayan jauh dari rumah tersebut. Napasnya terengah-engah, keringat di pelipis dan lehernya mulai mengalir dan membasahi tubuhnya. Kedua bahunya terlihat naik-turun dengan punggungnya yang bersandar di salah satu pohon di dekatnya.


Mata biru itu terpejam sejenak. Sementara itu, helai-helai rambutnya tampak sedikit bergoyang dan menari, mengikuti gerakan angin yang nakal. Suara-suara burung terdengar berkicau di sekitarnya. Dan yang paling penting dari semua itu, Shella tidak tahu dimana lokasi dirinya sekarang.


Apa yang ia ingat sejak beberapa menit yang lalu hanyalah kakinya yang berlari lurus menembus pepohonan ini, meninggalkan Andrew seorang diri yang bahkan ia tidak tahu bagaimana keadaan pria itu sekarang.


Dan lagipula, Shella sungguh bingung sekarang. Sedari tadi gadis itu sudah berlari beberapa kilometer hingga sebagian energinya sekarang sudah terkuras habis, tapi pandangan yang ia dapatkan hanyalah pepohonan yang besar dan tinggi di sekitarnya. Bahkan Shella tidak menemukan jalan ataupun orang lain di sekitar sini.

__ADS_1


Ya, sejauh mata memandang, hanya pohon-pohon sialan ini yang ditangkap olehnya.


Apa dia sedang berada di dalam hutan?


Kedua matanya birunya kemudian terbuka lebar saat telinganya menangkap suara gemerisik di balik semak-semak belukar di depannya. Ia spontan memasang raut wajah yang siaga dan mengepalkan kedua tangannya, seakan-akan jika suara itu menyerangnya, ia akan meninjunya segera.


Kresek.


Suara itu terdengar lagi, membuat Shella memundurkan langkahnya satu langkah. Ia melirik ke sana ke mari, sebelum dirinya langsung menemukan ada sebuah ranting kecil yang tergeletak di atas tanah begitu saja.


Tangannya berusaha bergerak meraih benda itu, sementara kedua matanya masih saja menatap lurus ke depan sana, hingga tiba-tiba, suara itu terdengar lagi.


Kresek.


Berhasil. Benda itu berhasil dipegangnya. Shella kemudian menggenggam ranting tersebut dengan menggunakan kedua tangannya, sebelum kakinya kembali bergerak mundur ke arah belakang.


Tapi, tiba-tiba saja bunyi itu menghilang selama beberapa menit, membuat Shella berpikir jika apapun benda itu, dia sudah pasti pergi meninggalkannya. Raut wajah waspadanya menghilang seketika.


Namun, belum sempat Shella menghela napas lega, sebuah pistol tiba-tiba ditodongkan ke arahnya di balik semak-semak itu.


Benda itu kemudian terlihat bergerak mendekati ke arah dirinya dan membuat Shella mencengkram erat-erat ranting yang dipegangnya hingga...

__ADS_1


Bugh.


Pistol itu terlempar menjauh darinya begitu saja. Mata Shella sedikit terbelalak ketika ia menyadari bahwa dirinya baru saja melakukan hal tersebut.


Kedua tangannya semakin memegang erat ranting tersebut dengan mata briunya yang menatap tajam ke arah rumput-rumput liar tersebut, seolah-olah dirinya baru saja mendapatkan kekuatan supernatural hingga matanya bisa menembus apapun benda yang berada di sana.


Jika itu orang, maka ia akan menumbuk kepalanya dengan ranting ini. Tapi, jika itu adalah binatang, maka Shella langsung memanjat pohon terdekat di sekitarnya.


And, no...no...no. Sudah pasti itu adalah orang jika mengingat pistol yang ditodongkan ke arahnya tadi.


Semua rencananya tadi langsung buyar begitu saja ketika Shella melihat ada sebuah tangan kekar yang menjulur di balik semak-semak itu.


Dan tanpa membuat Shella kebingungan lebih lama lagi, tangan itu dengan cepat merebut ranting yang dipegangnya, sebelum melempar benda itu hingga jauh dari jangkauan Shella.


Gadis itu terkejut setengah mati. Jantung Shella yang tadinya sudah nyaris berdegup normal kembali memompa dengan cepat.


Suara gemerisik kembali terdengar, membuat Shella yang tadinya hanya terdiam mematung layaknya orang bodoh langsung memundurkan langkahnya ke arah belakang dan sudah bersiap-siap untuk kembali lari.


Tapi, baru saja ia berlari satu langkah, sebuah tangan kekar dari arah belakang terjulur menarik lengannya hingga Shella nyaris terjatuh ke atas lantai. Ia memekik keras dan sontak menutup mata, menantikan detik-detik dimana dirinya akan dibunuh secara menggenaskan di samping semak-semak ini.


Shella kemudian dapat merasakan tubuhnya dibalik secara paksa, sebelum suara helaan napas lega dari seseorang terdengar. Gadis itu hanya memejamkan matanya semakin erat.

__ADS_1


Ia yakin sekali jika dirinya akan meninggal beberapa saat kemudian, karena Shella bisa merasakan hal tersebut.


"Belum mati," gumam orang tersebut.


__ADS_2