
Ia membaca berita itu dengan teliti dan melihat setiap suku kata tersebut tanpa ada satu pun yang terlewat. Namun, beberapa menit setelahnya, pria itu langsung menghela napas lelah sembari menutup laptopnya.
Tangan Zavier kemudian mengambil sebuah remote televisi yang berada di sampingnya dan dengan cepat membuka televisi kecil di depannya. Entahlah, perasaannya berubah menjadi was-was ketika ia selesai membaca berita tadi. Itu masih berita terbaru dan terhangat, sehingga ada kemungkinan jika hal tersebut akan masuk ke dalam berita televisi.
Mata coklat itu memicing tajam, menatap serius ke arah channel yang tengah menampilkan sebuah berita.
Shit.
Itu benar-benar rekaman CCTV tentang dirinya yang sedang menyelamatkan Shella. Ia masih tidak bisa percaya bagaimana kejadian yang baru saja terjadi kemarin langsung tersebar begitu luasnya pada hari ini.
Sungguh buruk.
Namun, kekesalan Zavier tiba-tiba surut begitu saja ketika ia menonton habis video yang ditampilkan oleh berita itu. Dimana caranya ia menolong gadis itu terlihat sangat romatis di depan matanya. Ia kemudian memperbesar volume suara televisi, berusaha membuat Shella tersadar dari gamenya.
It's work.
Sesuai dengan prediksinya, gadis itu tampak menoleh ke arahnya dengan tatapan kesal karena merasa diganggu. Sementara Zavier langsung menunjuk ke arah televisi dengan menggunakan dagunya.
Shella mengikuti arahan pria itu dan menatap ke arah televisi sembari mengerutkan dahinya. Ia masih belum mengerti apa maksud dari dosen gila itu.
Namun tidak butuh waktu yang lama, gadis tersebut langsung membelalakkan matanya, menyadari bahwa itu adalah kejadian kemarin yang baru saja di alaminya sendiri masuk ke dalam berita.
"Bodoh, bagaimana itu bisa terjadi!" jeritnya histeris dan menoleh tajam ke arah Zavier. "Apa kau yang memyebarkan berita itu?" tanyanya dengan mata yang kian menyipit.
__ADS_1
"Aku tid---"
Ucapan Zavier langsung terpotong oleh bentakan Shella yang penuh amarah.
"Sebenarnya apa maumu? Apa kau ingin memberitahu seluruh dunia bahwa kau adalah seorang hero!" bentak Shella yang masih syok dan langsung mengumpat kesal.
Pria itu sontak terlonjak kaget, sementara keringat dingin mulai keluar dan memenuhi pelipisnya. Badannya gemetar kala melihat Shella yang terus menatapnya dengan tatapan penuh peringatan.
Apa dia berbuat salah lagi?
"Aku tidak menyebar-----"
Dan lagi, perkataannya yang belum selesai diucapkan kembali terpotong karena kemarahan gadis itu.
Zavier langsung memejamkan matanya dan menutup kedua telinganya dengan erat. Okay, ia benar-benar kesal sekarang. Bagaimana bisa gadis itu menuduhnya secara sembarangan dan membentaknya dengan amarah yang bahkan belum jelas dari mana asal usulnya.
Dan mengapa dia sendiri bisa tunduk kepada gadis itu?
God, I can't believe this, batinnya tidak percaya.
"Biarkan aku berbicara dulu," ujar Zavier cepat ketika melihat gadis itu hendak menyerocosnya lagi. Shella menatap tajam ke arahnya, namun ia tetap memberikan kesempatan untuknya agar bisa berbicara.
Gadis itu tampak menyilangkan kedua tangannya di depan dada, menunggu Zavier untuk segera berbicara. Ia menatap pria itu dengan tatapan mengintimidasi, membuatnya menjadi sedikit kaku di tempat duduknya.
__ADS_1
Just take a deep breath, Zavier.
"Bukan aku yang menyebarkan berita itu," elaknya pelan, membuat napas Shella langsung memburu ketika mendengarnya.
"Kau pikir aku bisa mempercayai perkataan pria brengsek sepertimu? Don't lie to me pretty boy."
Zavier menahan napasnya frustasi, kemudian menatap sayu ke arah gadis itu.
God? He really hate this moment. Dimana dirinya harus meminta pengampunan kepada Sang Shella Bodoh Yang Langsung Salah Paham Dengan Berita Itu.
Poor you, dude.
"Kau benar-benar tidak percaya pada pacarmu ini?" Zavier memandang gadis itu dengan sedih.
Shella merasakan bulu kuduknya langsung meremang hebat, sedangkan tangannya meremas selimut yang sedang dipegangnya. "Kurasa kau jangan terlalu banyak bertingkah seperti itu. Aku ingin muntah sekarang," ujarnya sarkastik.
"Oh, c'mon. Aku akan membuktikan padamu bahwa bukan diriku yang menyebarkan berita itu. Tunggulah sebentar, aku pasti akan membuktikannya," ucap Zavier serius. "Dan setelah itu, kita bisa berpacaran yang selayaknya, bukan menggunakan adegan kekerasan seperti tadi."
Pria itu terkekeh geli dan dengan cepat beranjak pergi sebelum gadis itu semakin marah besar. Tak lupa juga kedua tangannya membawa laptop miliknya dan memberikan tatapan penuh cinta kepada Shella.
"Love you, girl. And don't miss me too much."
6 May 2020
__ADS_1