
"Apa?" tanya Clara sekali lagi. Ia menjauhi wajahnya, kemudian mengalihkan pandangannya ke arah pria itu. Sementara dokter yang berada di samping ranjang Shella merasa telah diabaikan, langsung mengecek keadaan gadis itu tanpa bertanya apa-apa lagi.
Clara berdiri, lalu berjalan menuju ke tempat pria tersebut, meninggalkan Shella yang hanya bisa melongo melihatnya. "Aku kakak Shella," ujarnya memperkenalkan diri seraya mengulurkan tangan kanan ke arah pria itu.
"Zavier, dosen Shella." Zavier menerima uluran tangan kakak Shella dengan menyunggingkan senyuman tipis, membuatnya terlihat semakin tampan di depan mata Clara.
"Kudengar bapak yang telah menolong adikku dari kecelakaan itu, ya?"
Shella mengintip-intip mereka berdua dari ujung bulu matanya yang panjang, berusaha agar tidak menimbulkan gelagat yang aneh di tempatnya. Namun ternyata, pemikirannya salah, karena itu justru membuatnya tampak semakin aneh dengan sikapnya ini.
"Apa ada bagian tubuhmu yang sakit, Mrs. Taylor?" tanya dokter itu ketika melihat Shella yang terus bergerak gelisah di tempatnya.
"Apa? Ti..tidak," balas Shella. Ia lantas menoleh ke arah dokter yang telah selesai mengeceknya dan mengganti cairan infus. Mata birunya kemudian melirik ke arah jarum infus yang menancap ke tangan kanannya, bertanya-tanya sebenarnya separah apa sakitnya ini hingga membuatnya harus dirawat di rumah sakit. Padahal, ia tidak merasakan sakit apapun di seluruh bagian tubuhnya, kecuali rasa pusing yang sedikit menderanya, mungkin akibat dari demam yang dikatakan oleh Zavier tadi.
"Kapan aku boleh pulang?" tanyanya kepada dokter tersebut sembari menyandarkan punggungnya ke kepala ranjang.
"Sampai demammu sembuh total," sahut sebuah suara bariton dengan nada yang berat dari ujung ruangan. Dokter tersebut hanya menganggukkan kepalanya, mengiyakan perkataan orang itu.
Shella hanya melirik malas ke arah Zavier, pemilik suara bariton tadi. Pria itu tengah tersenyum miring dan membalas menatapnya, membuat Clara kembali melihat mereka berdua secara bergantian.
Sungguh, itu membuat Shella ingin segera meninju rahang yang ditumbuhi rambut halus tersebut dengan kuat. Rasanya ia menjadi sangat geram ketika melihat wajah tampan yang menunjukkan raut tidak berdosa itu.
__ADS_1
Tiba-tiba suara dering telepon milik seseorang terdengar di ruangan itu. Clara langsung merogoh saku celananya dengan cepat dan mengeluarkan ponsel miliknya. Ia menatap ke arah Zavier, kemudian meminta maaf dengan sopan sebelum akhirnya pergi keluar untuk menerima telepon.
Di detik selanjutnya, Shella menegakkan punggungnya ketika mengingat sesuatu. "Di mana tasku?" tanyanya dengan kedua mata yang menatap ke arah Zavier.
"Di dalam lemari," ujar pria itu sembari melangkahkan kakinya. Ia berjalan menuju ke arah lemari yang ia sebut tadi, lalu membuka pintu itu dan mengeluarkan sebuah tas ransel berwarna putih milik Shella.
"Ini tasmu kan?" tanyanya dengan sebelah tangan yang menunjuk ke arah tas itu.
"Iya, benar. Sekarang kemarikan tas milikku," perintah Shella, membuat Zavier langsung menatapnya kesal.
"Apa kau baru saja memerintahku?" tanya pria itu dengan mengangkat satu alisnya.
Mendengar itu, Shella langsung menghela napasnya. "Iya."
"Sudahlah, lempar saja tasku ke sini kalau kau malas untuk berjalan kemari," balas gadis itu sengit. Ia mengulurkan kedua tangannya, meminta agar Zavier langsung melaksanakan perintahnya sekarang.
"Siapa bilang aku tidak mau berjalan ke tempatmu?" Senyuman Zavier kembali berganti menjadi sebuah seringaian. Pria itu berjalan menuju ke ranjang Shella, kemudian menyerahkan tas tersebut kepada pemiliknya.
"Terima kasih," ucap Shella dengan nada yang ketus, merasa mual dengan semua tingkah laku Zavier tadi. Seringaiannya, senyuman mencemoohnya dan senyuman miringnya membuat gadis itu ingin segera merobek bibirnya dengan paksa.
"Mr. Turner, apa Anda yakin untuk keluar dari rumah sakit hari ini? Tulang belakang dan kaki Anda masih belum sembuh total. Saya rasa Anda perlu menginap beberapa hari lagi di rumah sakit," ucap dokter menyarankan setelah terdiam cukup lama dan melihat pertempuran sengit mereka dari tadi.
__ADS_1
"Aku sudah merasa lebih baik sekarang. Jadi kau tidak perlu memerintahku karena aku lebih banyak mengetahui tentang diriku dari padamu atau siapapun itu," ujar Zavier dingin. Ia dari dulu memang tidak pernah menyukai orang yang terus memerintahnya, apalagi orang itu tidak memiliki hubungan apapun dengannya.
Namun setelah diingat-ingat, semuanya menjadi terasa berbeda ketika ia bersama gadis ini. Jiwa usil di dirinya muncul begitu saja ketika gadis itu memerintahnya, seolah-olah ada percikan api yang meledak-ledak di bagian sisinya yang lain.
Geez, sepertinya dirinya akan menjadi gila sebentar lagi karena telah terlalu banyak berbicara dengan orang gila, terutama pada Shella yang saat ini hanya duduk di ranjang dan menatapnya sengit.
"Kalau begitu, saya keluar dulu sekarang Mr. Turner and Mrs. Taylor. Jika ada masalah atau ada yang ingin ditanyakan, silahkan tekan tombol merah yang berada di samping kasur. Sekali lagi, saya permisi untuk mengundurkan diri," ujar dokter itu dengan senyuman ramahnya, sebelum akhirnya berjalan keluar dan menghilang di balik pintu.
"Kau tidak mengatakan padaku tentang tulang belakangmu yang bermasalah," ucap Shella dengan tatapan yang kembali beralih kepada Zavier.
"Apa aku harus mengatakannya padamu?" tanyanya tersenyum."Oh, atau kau sekarang khawatir padaku? God, I can't believe this," tambahnya dengan percaya diri dan mengedipkan sebelah matanya.
Sontak Shella menggelengkan kepalanya dengan keras. "Yang benar saja, aku khawatir padamu? Dunia pasti akan terbalik pada saat ini juga," bantahnya cepat.
Raut wajah Zavier dengan cepat berubah menjadi sedih, membuat Shella langsung menatapnya dengan aneh.
"Sudahlah, aku keluar dulu. Masih ada banyak pekerjaan yang menungguku di luar sana," ujarnya secara tiba-tiba dengan tidak minat, lalu melangkah lunglai dan berjalan keluar dari kamar.
Suara pintu yang terdengar sedikit dibanting membuat Shella spontan tersentak kaget.
Apa lelaki itu sudah tidak waras?
__ADS_1
1 May 2020