
Zavier spontan menjauhi ponselnya, lalu meringis sakit seraya mengusap-usap sebelah telinganya. Matanya kemudian melirik tajam ke arah nama yang tertera di dalam ponselnya dan setelahnya, ia langsung mendengus keras.
Aron.
Zavier kembali mendekatkan ponsel itu ke telinganya seraya melirik penuh peringatan ke arah Shella. Gadis itu tampak hanya memberengut kesal sambil terus mengusap-usap bibirnya yang bengkak dan lehernya dengan tidak nyaman.
Ugh... why is she so sexy?
"Kau, suaramu terlalu keras--"
"JANGAN MEMEGANGINYA!!"
Suara pekikan yang histeris itu, membuat Zavier spontan menjauhkan ponselnya untuk yang kedua kalinya. Tangan kekarnya yang tadinya hendak bergerak menarik tubuh Shella agar lebih dekat ke arah tubuhnya langsung terhenti.
******** sialan satu ini, batinnya dan mengumpat kesal.
Sementara itu, Shella yang berada di sebelahnya hanya mengangkat kedua alisnya, heran dengan semua sikap Zavier barusan. "Siapa yang meneleponmu?" tanyanya aneh.
Pria itu menoleh sesaat ke arah Shella. "Seorang ********," jawabnya dengan cepat. "Lebih tepatnya, ******** sialan yang sesuka hatinya mengganggu kegiatanku."
Zavier kemudian kembali mendekatkan ponselnya ke telinga sebelah kanannya, lalu berdeham sekali.
Jika pria itu kembali berteriak di depan telinganya, ia bersumpah akan mengubur Aron hidup-hidup.
"Tolong berhenti berteriak seperti seorang perempuan yang ketakutan--"
"TUTUP MULUT KOTORMU, SIALAN. SIAPA YANG MENYURUHMU UNTUK MENGUNDANG SHELLA KE DALAM APARTEMENMU? AKU BENAR-BENAR AKAN MEMBUNUHMU, ********!"
Okay, kesabaran Zavier sudah berada di titik kehabisan. Pria itu melemparkan pandangannya ke luar kaca apartemen dan ternyata tidak butuh waktu yang lama, dirinya dapat menangkap seorang lelaki yang sedang berdiri di atas atap sebuah gedung.
Sepertinya Aron.
__ADS_1
Mantan pacar Shella itu tampak menatap tajam ke arahnya seraya mencengkram erat ponsel yang sedang di tempelkannya ke telinga. Mulutnya bergerak mengatakan sesuatu tanpa suara, dan Zavier dapat menangkap apa yang dikatakan olehnya.
Jika kau bermacam-macam dengan Shella, aku akan menghabisi dirimu.
Zavier mendengus kesal.
Apa lelaki itu terus membuntutinya ke mana pun? Mengamati semua gerak-geriknya? Wah, itu merupakan salah satu kejahatan serius.
Dan tunggu... Zavier kemudian mengernyit curiga. Dan kalau begitu, apa Aron juga mengamati dirinya saat sedang berada di kamar mandi? Oh, itu sangat kurang ajar jika pria itu mengamati dirinya yang sedang mandi.
And, what the hell... Pria itu benar-benar sudah gila jika ia berniat untuk melakukan hal tersebut.
"KAU! BERHENTI BERTERIAK DAN MEMERINTAHKU. MEMANGNYA SIAPA DIRIMU YANG BERANI-BERANINYA MENGANCAMKU, HAH!" bentak Zavier dengan amarah yang mulai meluap-luap. Ia memicing tajam ke arah Aron yang sedang berdiri di sebelah gedung, lalu menunjukkan jari tengahnya ke arah pria tersebut.
"DIAM--"
Di detik selanjutnya, telepon tersebut diputuskan secara sepihak, dan itu sudah pasti jika Zavier-lah yang memutuskannya. Ia berdeham sekali, sebelum melemparkan ponselnya ke atas meja dengan tidak senang.
Hening sesaat...
Mendengar pertanyaannya, pria itu bergerak melipat kedua kakinya di atas sofa dan menatap serius ke arah Shella. Ia kemudian menopang dagunya malas.
"Tidak. Hanya untuk kali ini saja," jawabnya santai, namun nadanya terdengar sedikit tidak senang di telinga Shella. "Oke, jangan bicara tentang ******** sialan itu. Lebih baik kita langsung memakan pasta yang kumasak."
***
Suara garpu dan piring yang bertabrakan terdengar berdenting memenuhi ruangan tamu. Shella memakan makanannya dalam diam, sedangkan Zavier menatap perempuan di depannya dengan sedikit cemas.
Kenapa perempuan itu tidak berbicara sepatah kata pun? Apa pasta itu tidak enak?
Zavier menggigit bibir bawahnya dengan gugup seraya menatap sepiring pasta yang berada di hadapannya. Ia kemudian menghembuskan napas panjang.
__ADS_1
"Apa masakanku tidak enak?" tanya Zavier pada akhirnya. Ia menggulung mie panjang itu dengan menggunakan garpunya, sebelum menyendokkan pasta tersebut ke dalam mulutnya.
Enak, kok.
"Eh?" sahut Shella, seakan-akan terkaget dengan pertanyaan Zavier. Ia sedikit mengerutkan dahinya. "Umm... kau yang memasak ini?"
"Ya," sahut Zavier, lalu kembali menyendokkan pasta itu ke dalam mulutnya.
Ugh... pasta ini sungguh enak di mulut. Sama seperti leher Shella yang menggoda.
"Lumayan," jawab Shella dan mengangkat bahu. "Aku tidak tahu kau bisa memasak makanan."
Zavier hanya terkekeh, tidak tahu jawaban apa yang harus diberikan kepada Shella. "Bukankah aku cukup romantis dalam menghadapi seorang perempuan? Well, makanlah sepuasmu, aku akan memasaknya lagi hanya untuk baby."
Mendengar itu, Shella hanya memutar kedua bola matanya dengan malas. "Ya, ya, ya. Terserahmu."
Senyuman Zavier melebar sedikit, sebelum kembali menyendokkan pastanya.
Ini adalah makanan terenak yang pernah ia makan. Makanan yang rasanya sangat sama dengan aroma tubuh Shella.
Owh...
Apa sih, yang diperbuat oleh perempuan itu kepadanya hingga membuatnya menjadi seperti lelaki yang tidak waras?
Mungkinkah Shella menggunakan rahasia ilmu hitam untuk menarik dirinya?
Mata coklat milik Zavier menyelidiki wajah Shella yang berada di depannya, sebelum pandangannya kembali terjatuh pada bibir tipis kemerahan itu.
Sial...
Perempuan yang di depannya sungguh sempurna. Apa sih, kekurangan dari Shella? Dirinya cantik, lehernya yang jenjang, lekuk tubuhnya yang indah serta ia mempunyai kaki yang mulus. Oh ya, Zavier baru ingat jika Shella mempunyai tubuh yang sedikit pendek.
__ADS_1
Sementara itu, Shella semakin menundukkan kepalanya dan menatap pasta yang berada di depannya dalam diam. Ia mengumpat kesal saat tatapan tajam milik Zavier yang rasanya terus di hujamkan ke arah dirinya dan membuatnya merasa sangat risih.
Oh my god, kenapa dengan lelaki ini?