My Dangerous Boy

My Dangerous Boy
Part 92 - The Darkness (2)


__ADS_3

Aron apartment - Amerika, Los Angeles


Aron menatap ke arah Zavier dengan sebelah alis yang terangkat. Ia berdeham, berusaha mengalihkan tatapan pria itu dari layar ponselnya.


"Apa yang sedang kau lihat hingga membuatmu harus mengulum senyum seperti itu?" tanya Aron.


Saat ini, mereka telah duduk di atas sofa. Well, setelah beberapa pertanyaan memusingkan dari Zavier tadi, Aron akhirnya memutuskan untuk membicarakan hal tersebut di atas sofa. Tapi, sebelum itu, tentu saja Zavier sudah memberikan beberapa tinjuan di wajah pria yang diikat tadi, pertanda bahwa itulah balasan yang mereka dapat jika bermain-main dengan seorang Zavier.


Wajah tampan itu akhirnya terangkat saat mendengar pertanyaan Aron. Ia menatap ke arah pria yang sedang berada di depannya. "Apa? Memangnya aku sedang apa?" tanyanya.


Aron melipat kedua tangannya di depan dada dan bersedekap. "Kau terlihat seperti orang gila."


"Apa?"


"Sudahlah, lupakan saja," ujar Aron akhirnya seraya memutar kedua bola matanya. "Apa kita duduk di sini hanya untuk melihatmu tersenyum-senyum sendiri?"


"Tidak," sahut Zavier menjadi tidak senang. Ia menyimpan ponselnya di dalam saku celana, lalu menatap tajam ke arah Aron. "Jadi, ceritakan padaku apa yang kau ketahui."


"Apa itu Shella?" tanya Aron dan menghiraukan pertanyaan Zavier, membuat pria itu langsung menganggukkan kepalanya dengan sedikit bangga.


"Ya, dia sangat cemas dengan lukaku ini. Pasti dia sedang merindukanku saat ini," ucap Zavier dan tersenyum bangga.


Aron hanya meliriknya aneh. "Umm... aku bertaruh bahwa kau pasti belum pernah menerima pesan semacam itu dari Shella. Betul, kan? Pasti hanya kali ini kau mendapatkan pesan tanpa umpatan apapun," sahut Aron yang ternyata langsung menusuk ke hati Zavier.


"Apa? Ti--tidak," elak Zavier dan raut wajahnya langsung berubah menjadi masam sesaat. Apa-apaan lelaki ini? Kurang ajar!!


"Kau tidak bisa berbohong, Tuan mafia," ejek Aron seraya menjulurkan sebelah lidahnya ke arah Zavier. "Kau tahu, dulu Shella selalu mengkhawatirkanku setiap jam."

__ADS_1


"Tapi, itu dulu," geram Zavier. Matanya mulai berkilat tajam saat melihat pria di depannya hanya terkekeh geli sesaat.


"Kau terlalu bodoh, Zavier. Ck, apa kau tidak sadar bahwa ponselmu sudah kubajak berkali-kali? Well, aku sudah melihat semua pesanmu."


Zavier spontan membelalakan matanya. Mata coklatnya semakin menatap tajam ke arah Aron. "Apa!? Kurang ajar! Kau pikir kau ini siapa hingga dengan beraninya membuat hal yang tidak senonoh seperti itu?"


"Hal yang tidak senonoh?" Aron menatap ke arah Zavier dengan tatapan memprotes. Sial! Apa Zavier pikir ia sudah melakukan sebuah pelecehan? Oh astaga, ia baru tahu jika membajak ponsel orang lain adalah sebuah hal yang tidak senonoh.


"Sejak kapan kau membajak ponselku?" tanya Zavier. Ia menyipitkan matanya serius.


"Sejak kemarin malam," ucap Aron dengan tenang. Ia kemudian bergerak melipat kedua kakinya di atas sofa seraya melirik ke arah Zavier. "Tak terkecuali dengan pesan ancaman itu. Aku juga sudah melihatnya."


Kekesalan Zavier tiba-tiba menguap begitu saja ketika mendengar ucapan Aron. Ia spontan melebarkan telinganya tanpa sadar. "Kau melihatnya?"


"Ya. Dan, mengenai pertanyaanmu. Aku akan menjawabnya satu per satu. Jadi, coba kau lontarkan pertanyaanmu sekarang."


"Di mana bagian diriku yang terlihat mencurigakan?"


Zavier spontan mengernyit heran. "Semuanya."


Aron hanya memiringkan kepalanya, sebelum terkekeh geli dan kembali menatap serius ke arah Zavier. "Kuakui kau sangat pintar dalam membaca suasana."


Mendengar itu hanya membuat Zavier tersenyum bangga hingga Aron sendiri yang langsung menyesal karena telah mengucapkan kalimat itu. "Aku kembali menarik perkataanku," sahut Aron dan memutar kedua bola matanya.


Zavier memberengut kesal. "Sialan!"


"Jadi, kembali ke pembahasan. Sebenarnya, aku menemukan sesuatu kemarin malam," ujar Aron dan raut wajahnya berubah menjadi serius.

__ADS_1


"Perempuan yang kau katakan waktu itu, sepertinya memang adikmu, Zaviera. Kau tahu, aku-lah yang membelamu mati-matian hingga membuat diriku harus bergadang sampai pagi hari," tambahnya lagi.


"Zaviera? Tunggu, dari mana kau bisa mengetahui hal itu?"


"Zavier diculik oleh seseorang. Aku melihat semua kejadian itu melalui CCTV."


"CCTV?"


"Ya, CCTV bagian taman."


Zavier dapat merasakan tubuhnya menegang sesaat, terlalu syok dengan ucapan Aron. "Bukankah CCTV di taman tersebut rusak saat kejadian itu terjadi?"


Aron menganggukkan kepalanya, membenarkan perkataan Zavier. "Tapi, itu baru dirusak oleh seseorang setelah kejadian itu terjadi. Aku menemukan semua rekamannya di file tersembunyi dan nyaris terlupakan karena kejadian tersebut sudah lama sekali."


"Re--rekaman? Dari mana kau mencarinya dan mendapatkan semua itu?" tanya Zavier yang mulai gugup.


"Aku menyusup ke tempat keamanan kemarin malam. Yah, ternyata, mereka telah menyembunyikan sebuah rekaman video dan mungkin saja mereka lupa untuk menghapusnya dulu. God, aku tidak tahu bahwa musuhmu itu sangat ceroboh hingga melupakan hal sepenting itu."


"A--apa?" Zavier mulai memundurkan tubuhnya yang semakin menegang setiap saat.


"Ya, aku juga sama terkejutnya sepertimu. Dan karena aku kemarin teringat dengan perkataanmu tentang ancaman pesan dari seseorang, aku akhirnya memutuskan untuk membajak ponselmu," jelas Aron, kemudian menarik napas sejenak, sebelum kembali melanjutkan perkataannya.


"Dan, aku tahu siapa yang mengirimkan pesan itu padamu."


Zavier membeku. Lidahnya tiba-tiba terasa kelu untuk menanyakan sesuatu. "Si--siapa?" tanyanya. Entah kenapa, jantungnya langsung berdebar dengan keras, tidak sabar untuk mendengar jawaban dari Aron.


Pria itu tampak memejamkan matanya sejenak, lalu di detik selanjutnya, ia akhirnya mengatakan sesuatu. "Orang itu adalah... Zaviera."

__ADS_1


__ADS_2