My Dangerous Boy

My Dangerous Boy
New Novel (The Cruel Dreta)


__ADS_3

Hai gais, kembali lagi bersama aku hehehe. Jadi disini, aku mau infoin kalau aku barus saja menerbitkan novel baru lagi nih. Jangan lupa untuk komen sama vote yaa, makasih ;)


.



Sneak peek :


Yazel tersenyum miring, menatap rendah ke arah Ariya yang sedang kesakitan di bawah ikatan rantainya. Belenggu itu terpasang di kedua kaki dan tangannya, membuat perempuan itu tampak sangat tidak berdaya.


"Menyerah?" cemooh Yazel sambil tersenyum mengejek.


Mendengar itu, Ariya sontak menggeleng keras. "Tentu tidak, bastard!" tantang Ariya sedikit terbatuk-batuk. Ia masih terlihat gigih walau sudah hampir tepar di tempat.


"Oh, begitu ya?" Satu alis Yazel terangkat. "Baiklah kalau itu yang kau mau."

__ADS_1


Pria itu tampak memikirkan sesuatu, sebelum tiba-tiba saja ia mengerling tanpa sebab. Yazel dengan cepat meraih sebuah botol berisi cairan hitam dari saku celananya, membuat Ariya seketika bergidik ngeri, merasakan ancaman yang akan mendekatinya.


Lalu tanpa aba-aba, Yazel langsung menuangkan cairan tersebut dengan paksa di mulut gadis itu.


Ariya sempat memberontak di bawah kungkungannya, tapi, pria itu dengan sigap meraih kedua pipinya, menekannya dengan tidak berperasaan, dan langsung memaksanya untuk minum.


Cairan aneh yang pekat itu akhirnya ditelan oleh Ariya dengan terpaksa. Minuman itu langsung mengalir membasahi kerongkongannya.


Ariya sempat berniat untuk memuntahkannya kembali, tetapi Yazel dengan sigap menutup mulut dan hidungnya dengan kedua tangannya, membuatnya tidak bisa bernapas seketika.


Uhuk..


Ariya terbatuk-batuk. Sakit, ini sakit sekali.


Melihat itu, senyum kemenangan lantas terbit di wajah Yazel, ia melepaskan kedua tangannya yang mencengkram hidung dan mulut gadis itu tadi, lalu membuang botol yang sudah kosong itu dengan sembarangan. Mata hitamnya menatap lekat ke arah Ariya.

__ADS_1


Perempuan itu tampak memegangi lehernya sendiri, seakan-akan ia sudah tidak tahan dengan rasa sakit yang terus menyerangnya.


Tidak lama kemudian, darah muncrat dari mulut perempuan itu ketika ia terbatuk-batuk. Yazel kemudian berjongkok, menyamakan tingginya dengan Ariya yang sedang terduduk menyedihkan.


"Bagaimana? Masih mau melawanku?" cetus Yazel, lalu meraih dagu Ariya, memandangi gadis yang sudah tampak sangat berantakan itu. Kedua matanya yang indah itu terus menatap lesu ke arah Yazel.


Cuih, lemah.


Menyerah, Ariya akhirnya menggeleng tidak sanggup. Perempuan itu tidak memiliki kekuatan lagi untuk melawan pria tersebut. Kedua matanya mengeluarkan setitik air mata, tidak tahan dengan rasa sakit yang seakan-akan membunuhnya secara perlahan.


"Bagus kalau begitu."


Di detik selanjutnya, Yazel mencondongkan badannya, mempertipis jarak di antara mereka berdua. Tanpa perlawanan apapun dari perempuan itu, ia lantas menempelkan bibirnya dengan Ariya, menciuminya dengan lembut.


Pria itu sama sekali tidak merasa risih dengan darah yang terus keluar dari mulut Ariya. Ia malah menelan darah kental itu seraya tersenyum di dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2