
"Hei, Zavier. Nice to meet you," ujar Aron di seberang telepon, seakan-akan mereka baru saja mengangkat telepon.
"Jangan mencoba-coba untuk membunuhk--"
Sebelum Aron menyelesaikan kalimatnya, Zavier langsung menutup telepon itu, kemudian menyeringai di balik kaca spion. Ia memegangi setirnya, lalu menginjak pedal dan memundurkan mobilnya dengan kecepatan penuh menuju ke tempat Aron.
Dan, beberapa detik lagi sebelum kematian Aron, lelaki itu langsung menghindari mobil Zavier dengan cara melompat ke atap ferrari kuningnya.
What the ****, batin Zavier saat Aron menggulingkan tubuhnya dari atap mobil menuju ke kap mobilnya, lalu berdiri sempurna di hadapannya sembari tersenyum tipis.
Ia memukul setirnya keras, kemudian akhirnya mematikan mesin mobilnya. Zavier keluar dari mobilnya sendiri, lalu mendengus sebal.
Jujur saja, Zavier merasa sedikit tercengang dengan atraksi Aron tadi. Seakan-akan lelaki itu sudah melatih diri sejak lama.
"Kenapa?" tanya Zavier dengan nada dingin dan berjalan ke arah Aron. "Apa rahangmu meminta untuk ditinju lagi?"
Aron terkekeh geli. "Tidak. Rahangku tidak meminta hal itu."
"Apa maumu?" desis Zavier tidak sabar. "Aku tidak memiliki banyak waktu untuk bercanda denganmu."
"Aku sudah bilang bahwa aku menginginkan Shella kembali," ulang Aron, kemudian memiringkan kepalanya, menatap remeh ke arah Zavier.
__ADS_1
"Kau juga sudah mendengar jika kau harus langkahi dulu mayatku sebelum mendapatkannya."
"Jadi, kenapa kau menanyakan apa mauku lagi?"
"Karena kau terus mengangguku."
"Zavier, anak dari Clayton. Seorang mafia yang terkenal dan sedang memiliki masalah di dalam pabriknya. Kemudian, memiliki masa lalu kelam yang tidak pernah bisa dilupakan."
Zavier menghela napas. "Katakan saja siapa kau! Jangan terlalu bertele-tele seperti itu."
Sebenarnya, jauh di dalam benak Zavier, Aron kadang tidak terlihat seperti musuhnya. Entah kenapa...
"Namaku Aron. Kaki kanan dari Clayton, ayahnya Zavier. Seorang lelaki yang menyukai Shella, namun laki-laki yang bernama Zavier, malah merebutnya dariku."
Aron memutar kedua bola matanya dan menatap ke arah Zavier dengan sebal. "Untuk apa aku membohongimu," tukasnya kesal.
"Raut wajahmu mengatakan bahwa kau tengah berbohong sekarang."
"Tanyakan saja kepada ayahmu itu jika tidak percaya. Dan oh, ya, sebaiknya kita pergi ke restaurant atau kafe untuk melanjutkan permasalahan ini. Tidak nyaman jika kita berdua berdiri di depan rumah Shella."
Tanpa bertanya kepada pemiliknya, Aron langsung naik ke mobil ferrari milik Zavier. Ia duduk di kursi penumpang bagian depan, lalu memasangkan seatbeltnya.
__ADS_1
Melihat itu, Zavier hanya memijit tulang hidungnya, sebelum bergerak untuk turut naik ke mobilnya juga.
***
"Kau sudah percaya, kan?" tanya Aron begitu Zavier menutup teleponnya. Pria itu tengah duduk manis di hadapan Zavier dan menyunggingkan senyuman tipisnya.
Zavier melirik kesal ke arah pria itu dan menaruh ponselnya di atas meja. Aron terlihat kembali melahap steak yang dipesan oleh dirinya.
Ia hanya tidak percaya dengan semua yang baru saja terjadi di kehidupannya.
Pria yang berada di hadapannya adalah seseorang dari kaki kanan ayahnya? Memang ia masih ragu dengan hal itu, namun setelah menanyakannya kepada ayahnya tadi melalui telepon, Zavier mulai percaya walaupun dengan sedikit enggan.
"Zavier, bagaimana kau bisa mengenal Shella? Aku tahu kau memasang GPS pada ransel dan tas jinjing miliknya," ucap Aron dan mengunyah sepotong steaknya.
"Kenapa kau begitu cerewet sebagai bawahanku?"
Aron mengernyit kesal. "Karena Shella adalah pacarku. Tapi, kau malah merebutnya dariku. Aku benar-benar tidak terima dengan hal itu."
"Yang benar saja... aku tidak pernah berpikir untuk merebutnya darimu. Dia sendiri yang mengatakan bahwa aku adalah pacarnya. Apa kau sudah lupa?"
Aron akhirnya menghela napas. "Padahal aku tidak pernah berselingkuh darinya," gumamnya dengan nada kecil, lalu menundukkan kepalanya dan menatap ke arah steak miliknya.
__ADS_1
"Aku tidak tahu apa masalahmu dengannya, tapi sebenarnya aku sudah menyukai Shella. Aku tetap akan menganggapmu sebagai saingan jika hal ini mengenai gadis itu."
Aron tersenyum sendu, lalu menusuk steaknya dengan asal. "Ya, jika aku seperti dirimu, aku juga pasti melakukan hal itu."