My Dangerous Boy

My Dangerous Boy
Part 70 - He Is Too Dirty


__ADS_3

Sial... Zavier!


Shella melotot, lalu menutupi tubuhnya dengan menggunakan pakaian yang diambilnya tadi. Ia memicing tajam ke arah Zavier dan melangkah mundur ke belakang.


"Sedang apa kau ke sini?" tanyanya dengan nada galak, namun tidak bisa dipungkiri jika terselip sedikit nada gugup di dalam sana.


"A--aku, t--ti--tidak. E--eh, maksudku, ayahmu yang menyuruhku untuk langsung menemuimu di dalam kamarmu. Ta--tapi, aku tidak tahu bahwa kau sedang berpakaian setengah telanjang seperti ini," ucap Zavier, lalu meneguk salivanya dengan susah payah.


Keringat panas mulai bercucuran di pelipis Zavier, membuat pria itu mengusap wajahnya beberapa kali. Ia mengerjapkan matanya, menatap langsung ke arah tubuh mulus Shella yang terpampang dengan jelas. Yah, walaupun perempuan itu masih berusaha untuk menutup-tutupi tubuh setengah telanjangnya dengan pakaian yang dipegangnya.


"Hot," gumamnya dengan nada yang kecil, namun Shella masih bisa mendengarnya dari kejauhan.


This bastard! rutuknya dalam hati.


Rasanya gadis itu ingin sekali menampar pipi Zavier beberapa kali, membuat pria itu segera tersadar dengan apa yang baru saja dirinya ucapkan.


"Bisakah kau keluar sebentar?" tanya Shella, lalu menurunkan pakaiannya ke area bawah agar dapat menutupinya dari tatapan Zavier yang nakal.


Pria itu mengangkat satu alisnya. "Kau mengusirku?" tanyanya heran.


"Ya."


Zavier melangkah satu langkah ke depan, membuat Shella semakin gelagapan di tempatnya. Seakan tidak cukup, ia kembali melangkah satu langkah, seolah ingin menikmati ketelanjangan perempuan tersebut.

__ADS_1


"Maju satu langkah lagi, kupastikan benda berhargamu akan kupotong," ancam Shella pada akhirnya.


Zavier terkesiap. Ia menatap ke arah perempuan itu dengan sedikit horor. "Kau terlalu kejam, Shella," sahutnya dan memundurkan satu langkah ke arah belakang.


"Jika kau memotongnya, we can't make the little cute baby," tambah Zavier lagi dengan mata lesunya.


Mesum...


Shella semakin merapatkan dirinya ke belakang lemari sembari menatap ke arah Zavier dengan tatapan yang semakin horor. "Kau terlalu kotor, Zavier."


"Hmm?" gumam pria itu, lalu melangkahkan kakinya dengan cepat dan menuju ke tempat Shella. Tak butuh waktu yang lama, Zavier langsung berdiri tegap di depan perempuan tersebut disertai dengan senyuman menawannya.


"Lagipula, perkataanku betul, kan?"  bisiknya di telinga sebelah kanan Shella, membuat perempuan itu merasakan sensasi geli akibat perbuatannya barusan.


"Kau terlalu maju, Turner!" pekik Shella tertahan saat Zavier semakin merapatkan dirinya dengan tubuh mungilnya.


Pipi perempuan tersebut langsung bersemu merah. Ia terus mencengkram erat pakaian yang dipenggangnya dan memundurkan tubuhnya ke belakang walau sudah dihalagi oleh lemari. Jantungnya semakin memompa dengan cepat, membuat Shella menjadi risih dengan segala kelakuan Zavier.


"Kapan kita bisa membuatnya?" tanya Zavier dengan frontal. Mata coklatnya beralih dari wajah Shella dan menelusuri tengkuknya, lalu turun lagi ke ceruk leher mulus yang selalu indah kapanpun di depan matanya.


Zavier menjilati bibir bawahnya yang tiba-tiba menjadi kering. Ia haus.


"Aku memiliki banyak sabun untuk membersihkan otakmu yang selalu kotor itu, Zavier!" ujar Shella dan menahan dada bidang Zavier yang tiba-tiba semakin mengapit dirinya. Ia sedikit sesak akibat kurungan tubuh besar ini.

__ADS_1


"I didn't need those thing, Shella. I just need you for my life," balas Zavier, sebelum tiba-tiba menyembunyikan wajahnya di dalam ceruk leher yang mulus itu. Ia menggigit kecil kulit tersebut dan mengecupnya sekali.


Ah, ini adalah leher kesukaannya.


"Apa yang kau lakukan!" pekik Shella yang semakin lemas di tempatnya. Ia terus berusaha untuk mendorong dada bidang itu, namun tanpa mengeluarkan seluruh kekuatannya. Entahlah, ia tiba-tiba menjadi lemas untuk melawan Zavier.


Pria itu tersenyum di dalam lekukan leher Shella. Ia terus melontarkan aksinya, yaitu mengecup lehernya dan menghisap aroma tubuh gadis tersebut, membuat Shella semakin mabuk dan tak sanggup untuk melawan lagi.


Zavier menggerakkan kedua tangannya, membawa Shella ke dalam pelukannya. Ia mengusap pelan rambut lembutnya dengan menggunakan salah satu tangan.


"Kau belum mandi, kan?" tanya Zavier, lalu menahan tawanya yang nyaris meledak keluar. Ia menghisap aroma tubuh Shella sekali lagi, sebelum mengalihkan pandangannya ke wajah cantik itu.


Shella yang tadinya sedang memejamkan matanya, sontak membuka matanya dengan lebar. Ia tergagap, sebelum menggeser kepala pria itu agar menjauh dari lehernya.


"A--apa?" tanya Shella terbata-bata. Ia langsung mendorong dada Zavier dengan sekuat tenaga, dan akhirnya berhasil. Pria tersebut sedikit menjauh dari tempatnya tadi. Pelukan tadi pun terlepas.


"Pergi sana! Aku mau memakai baju!" jerit Shella seraya menggeser tubuh Zavier agar dapat keluar dari kamarnya. "Pergi!"


Zavier mengulum senyumannya, sebelum ia akhirnya pergi meninggalkan Shella. Pria itu akan memberikan waktu yang singkat kepada Shella agar perempuan itu dapat kembali berpakaian.


Zavier keluar dari kamar perempuan itu, lalu menuruni tangga dan langsung menemui daddynya Shella.


"Kenapa keluar?" tanya William saat melihat Zavier kembali duduk di atas sofa yang berada di seberang mejanya. Wajah pria itu terlihat sedikit masam, membuat ayah Shella terkekeh geli.

__ADS_1


"Umm... anak daddy masih setengah telanjang di atas sana, sehingga aku langsung diusir keluar dari kamarnya," ucap Zavier dengan menampilkan wajah polosnya. Ia menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal, lalu meminum secangkir teh di atas meja yang memang sudah disediakan William untuknya. Ia harus menyegarkan pikirannya dari tubuh mulus tanpa bulu itu terlebih dahulu.


"Menyedihkan," sahut daddy Shella sembari menggeleng-gelengkan kepalanya. Pria paruh baya itu mengulum senyum diam-diam.


__ADS_2