My Dangerous Boy

My Dangerous Boy
Part 107 - Are We Lose? (2)


__ADS_3

Bayangan itu kian mendekat, hingga akhirnya Zavier dapat melihat dengan jelas siapa saja orang-orang itu.


Zaviera dan Andrew.


Zavier terbelalak ketika melihat diantara semua anak buah Franklin yang sedang berdiri di belakang, terdapat Andrew dan Zaviera yang tengah pingsan serta sedang dibopong oleh dua orang.


Hal itu membuat Zavier sontak menatap tajam ke arah Franklin. *Padahal Aron dan dirinya sudah menyerah kali ini--menyerah sementara--, tapi kenapa pula ******** itu masih belum puas dan menangkap Andrew lagi?


Sial, kalau begitu, dimana Shella sekarang kalau saja Andrew sudah ditangkap*?


"Apa yang kau lakukan dengan mereka?" tanya Zavier dan melirik ke arah Zaviera dan Andrew.


Geez... Kalau saja ia tidak sedang dirantai saat ini, Zavier yakin sekali jika wajah Franklin akan dibuatnya menjadi hancur lebur.


Dasar bedebah!


Franklin hanya menatapnya dengan tatapan tenang, sepertinya tidak ingin menjawab pertanyaan tak bermutu dari Zavier.


Hey, sombong sekali idiot ini!


Tiba-tiba, suara gemerincing rantai terdengar, dan itu berasal dari salah satu anak buah milik Franklin. Pria bertubuh tegap itu tampak membawa beberapa buah rantai dan lantas membuat Zavier menggeram marah ketika menyadari sesuatu.


"Kau bilang hanya kita, sialan! Kenapa pula Andrew dan Zaviera turut masuk ke dalam masalah ini?" bentak Zavier seraya berusaha untuk memberontak meminta melepaskan diri.


Franklin menoleh dengan kedua alis yang diangkat ke atas. Ia menyeringai, sebelum menatap kasihan ke arah tangan kekar Zavier yang sudah memerah akibat rantai besi tersebut. "Kau menyakiti dirimu sendiri," sahutnya dengan nada yang dibuat-buat tanpa berusaha untuk menjawab pertanyaan dari Zavier.

__ADS_1


"******** sialan!" umpat Aron yang sedari tadi hanya terdiam melihat interaksi antara Zavier dan Franklin. Sebenarnya, saat ini ia sedang berusaha menahan diri untuk tidak menghancurkan rantai ini dan segera menerjang ke arah Franklin. Kalau saja rantai ini tidak dibuat dari besi, Aron yakin jika ia bisa terbebas dalam sekejap.


Mendengar itu, Franklin akhirnya menoleh ke arahnya. Tapi, setelahnya, ia kembali menoleh ke arah Zavier. "Kau tahu, sebenarnya aku menyukai Andrew dari sisi kerjanya, tapi mengingat bahwa dia adalah seorang pengkhianat, jadi aku harus memberikan hukuman yang berat, bukan?"


Belum sempat Zavier menyahut, Franklin kembali bersuara. "Sebenarnya, aku dari awal memang sudah curiga dengan Andrew yang baru saja bekerja sebagai anak buahku semenjak satu bulan yang lalu. Dan ternyata, kecurigaanku benar ketika aku mendapati seluruh biodatanya dan siapa yang ia temui dalam satu minggu terakhir ini."


Zavier mengumpat kasar di dalam hati. Berarti Franklin memang sudah tahu apa yang ia rencanakan.


"Kalau tidak salah, dia baru saja menemui Jason kemarin, kan? Atau, apa aku yang salah?" tanya Franklin dengan nada yang bangga, seakan-akan ia baru saja menemukan sesuatu yang berharga.


Shit, seharusnya ia meminta pertolongan dari ayahnya saja kalau semuanya menjadi berakhir buruk seperti ini.


Ia tidak tahu bahwa Franklin bisa begitu cerdik dalam menghadapi lawannya. Jadi, apa yang bisa ia lakukan sekarang? Menghadapi seorang pria yang sudah sangat berpengalaman dalam 50 tahun ini, atau menyerah begitu saja?


Seorang Zavier menyerah? Cih...


Tak bisa Zavier pungkiri jika Franklin memang sangat pandai dalam hal ini, karena pada nyatanya, pria itu sudah pasti menyimpan banyak pengalaman seperti ini. Sedangkan dirinya hanyalah seorang pria yang baru memasuki kehidupan mafia saat ia berumur 20 tahun.


*Siapa yang akan menang jika dibandingkan dengan seorang pria yang hanya memasuki dunia mafia selama 9 tahun, dengan seorang pria yang telah berpengalaman karena sudah 30 tahun berada di dalam dunia mafia?


Tentu saja yang sudah 30 tahun, seperti contohnya Franklin ini.


Tapi, tidak. Zavier masih belum menyerah walau kesempatannya hanya secuil*.


"Heh, ********. Aku baru tahu kalau kau hanya berani menghadapi orang yang sudah terikat seperti ini. Bagaimana bisa kau mendapat gelar itu jika dirimu saja lemah seperti ini?" ujar Zavier dengan senyuman yang mengejek.

__ADS_1


Franklin yang tadinya sedang menyambung rantai ke arah pergelangan tangan Andrew tampak langsung menghentikan kegiatannya karena ucapan Zavier. "Bukankah dirimu lebih lemah?" tanyanya seraya membalikkan badannya untuk menghadap ke arah Zavier.


"Kau menyerah seperti ini karena kau diperbudak oleh rasa kasih sayangmu itu. Sedangkan aku berbeda, karena aku sama sekali tidak memiliki orang yang akan kukasihani sepanjang hidupku," tambah Franklin, lagi.


Okay, pria itu baru saja mengakui bahwa dia kesepian tanpa ia sendiri sadari.


Sudut bibir milik Zavier tertarik sedikit ke atas. "Dan, itulah kelemahanmu. Kau sendiri baru saja mengakui bahwa kau sama sekali tidak memiliki orang yang menyayangimu di dalam sepanjang hidupmu."


Franklin menyuruh anak buahnya untuk berhenti melakukan kegiatan pasang besi itu. "Memangnya, apa yang kau ketahui tentang hidupku?"


"Kau adalah orang yang haus akan cinta kasih. Kau kesepian dan kau sendiri pasti tahu itu."


"Aku tidak membutuhkan itu." Nada tenang milik Franklin mulai diselip dengan nada geram, membuat Zavier sedikit bersorak dalam hati karena emosi Franklin sudah berhasil terpancing sejauh ini.


"Kau membutuhkan orang untuk mendampingi hidupmu," sahut Zavier.


"Tidak."


"Kau lemah dan tidak ada satupun orang yang merasa kasihan padamu."


"Diam!" Franklin mulai membentak Zavier, namun orang yang dibentak hanya tersenyum manis.


"Semua kekerasan ini hanya kau lakukan untuk menutupi semua rasa kesepianmu yang--"


Ucapan Zavier langsung berubah menjadi suara rintihan sakit kala Franklin langsung berjalan cepat menuju ke arahnya dan menendang perutnya dalam sekali sentakan kuat.

__ADS_1


__ADS_2