
Aron menggeram tidak suka. Apalagi ketika mendengar kata 'Shella-ku' yang diucapkan oleh Zavier dan tingkah lakunya yang tampak sangat tidak peduli itu, Aron dibuat kesal sekarang.
"Shella hanya terkejut, bukan menerima ciumanmu. Kau yang menciumnya dengan memaksa," geram Aron dan menekan setiap nada kata-katanya.
Zavier mengangkat bahunya tidak acuh, lalu menjatuhkan dirinya di atas sofa yang tersedia. Ia menatap ke arah Aron yang sedang membuka lemari es dan mengeluarkan air dingin dari mesin pendingin itu.
"Aku cuma punya ini, minumlah," ucap Aron dan melemparkan sebotol air minum ke arah Zavier.
Pria itu berhasil menangkap minuman itu, kemudian membolak-balikkan botol tersebut dengan sedikit curiga. "Kau tidak berencana untuk membunuhku dengan racun, kan?" tanyanya, yang membuat Aron terbahak seketika.
"Aku memilih untuk membunuhmu dengan tanganku sendiri, daripada racun sialan itu yang membuat nyawamu tepar seketika," tutur Aron sembari berjalan menuju ke arah kamarnya.
"Sebelum kau membunuhmu, akulah yang akan menyerangmu terlebih dahulu."
"Sebelum kau sempat menyerangku, aku yang akan balik menyerangmu terlebih dahulu."
Zavier tidak menyahuti perkataan itu. Ia sedang malas bertengkar dengan Aron. Pria itu bahkan sudah menghilang di balik kamar tidurnya, mungkin dia ingin mengambil sesuatu untuk membunuhnya nanti.
Zavier hanya melihat ke sekitar apartemen Aron, lalu berdecak kagum tanpa sadar.
Wow, tempat tinggal pria ini ternyata tidak sekotor yang tadi ia kira, namun tidak sebersih dengan mansionnya juga.
Ck, apa pria itu yang dengan rajinnya membersihkan semua ini? Semuanya, sendirian?
"Lihatlah ini," ujar Aron yang tiba-tiba saja muncul di belakang Zavier. Pria itu melirik kaget dan spontan menghentikan kegiatannya yang sedang menjelajahi ruangan ini.
"Apa kau ingin aku terkena serangan jantung?" pekik Zavier dan melotot tajam ke arah Aron yang tengah membawa laptop di tangannya.
__ADS_1
"Kau terlalu berlebihan," sahut Aron malas dan meletakkan laptopnya di atas meja. Dirinya ikut duduk di atas sofa dan memperlihatkan sesuatu ke arah Zavier.
"Coba kau lihat rekaman ini," titah Aron, membuat Zavier melengos jengkel dan melihat rekaman yang ditampilkan oleh laptop tersebut.
Itu benar-benar rekaman CCTV dimana hari Zaviera menghilang.
Zavier memperhatikan video itu dengan baik-baik, sementara itu, kedua mata coklatnya langsung memicing serius kala melihat sesuatu. Tampak seorang lelaki yang sedang memakai jas hitam, yang mungkin menurut Aron itu terlihat sedikit mencurigakan, tengah celingak-celinguk ke sekitar jalan.
Lalu, setelah beberapa saat, pria tersebut langsung naik ke sebuah mobil bus yang lewat di jalan sana.
Dan di detik selanjutnya, dahi Zavier membetuk beberapa kernyitan samar ketika Aron langsung menghentikan rekaman itu.
Hanya begitu? batinnya heran.
"Sudah?" tanya Zavier aneh dan menoleh ke arah Aron.
Pria itu menyahut pertanyaan Zavier dengan menganggukkan kepalanya singkat. "Ya. Apa kau merasa aneh dengan rekaman tadi?" tanyanya balik.
Aron mendengus kesal. "Kau bodoh sekali, Turner. Lihat baik-baik karena aku akan mengulangi rekaman itu lagi."
Zavier merutuk kesal, lalu menatap ke arah Aron dengan tatapan dongkol.
What the hell?
Ia sungguh merasa terhina sekarang. Bagaimana bisa bedebah ini terus mengatakan dirinya bodoh dan *****? Wah, otaknya mulai mengeluarkan asap jika pria itu masih saja mengejeknya.
Aron memutar balik rekaman itu dari awal dan kembali menunjukkannya ke arah Zavier. Ia melihat video tersebut dengan teliti tanpa mengurangi kernyitan di dahinya.
__ADS_1
"Tunggu sebentar... " Zavier merebut laptop Aron secara tiba-tiba, membuat pemiliknya hanya mengerang jengkel.
Ia memutar video itu beberapa kali, diiringi dengan dahinya yang semakin mengernyit dalam. Ya, sepertinya ada sesuatu yang tidak beres di dalam sini.
"Kau curiga?" tanya Aron dan menatap Zavier dengan tatapan aneh karena pria itu terlihat semakin memajukan wajahnya, membuat kepalanya tampak semakin mendekati layar bercahaya itu. Apa matanya bermasalah? Atau tiba-tiba mata pria itu menjadi buta sesaat?
"Ya, kurasa ada yang mencurigakan di bagian sini," ujar Zavier pada akhirnya.
"Kau tahu apa yang mencurigakan?"
Zavier menoleh serius. "Dia berpakaian jas rapi layaknya seorang pengusaha, namun kenapa orang itu malah masuk ke dalam bus sekolah?" Ada yang tidak beres, sialan. Kenapa dulu para polisi tidak bisa mengetahui hal itu? Astaga!" pekiknya dan menyatukan kedua alisnya dengan penuh keheranan.
"Apa ada kemungkinan jika--" Zavier tampak berpikir sejenak. "--Zaviera diculik?"
Aron sontak menganggukkan kepalanya dengan cepat. "Aku juga berpikir seperti itu."
"Mungkinkah orang itu merupakan pelakunya?" tanya Zavier, lalu memutar rekaman itu, lagi.
"I think he is," sahut Aron pendek. "Karena itulah, kurasa adikmu masih belum meninggal. Mungkin saja wanita yang kau lihat itu adalah--"
"Zaviera!"
Zavier langsung bangkit dari tempat duduknya, membuat Aron sontak mengikuti gerakannya.
"Kau mau kemana?" tanya Aron saat melihat Zavier pergi begitu saja dan meninggalkan dirinya di sofa.
Sebenarnya, Zavier hendak pergi dari apartemen Aron, tapi tidak terjadi ketika ia tiba-tiba saja menyadari sesuatu. "Ah, ya. Kau bisa membantuku, bukan?" tanyanya dan kembali membalikkan badan.
__ADS_1
"Ya," jawab Aron cepat.
"Apa kau bisa membantuku untuk menemukan siapa yang dengan beraninya mengancamku baru-baru ini?"