My Dangerous Boy

My Dangerous Boy
Part 57 - His Angry


__ADS_3

Tiba-tiba, suara dering telepon yang berbunyi membuat Zavier melirik ke arah nama penelepon itu. Setelahnya, ia langsung mengangkatnya.


"Jason, kenapa datanya belum ditaruh di mejaku?" tanyanya cepat.


"Maaf tuan, tapi aku tidak mendapat apapun tentang orang itu. Bahkan darimana asalnya dan siapa kedua orang tuanya pun tidak tertera. Sepertinya, semua biodata tentangnya sudah disusun dan disembunyikan dengan cerdiknya."


Zavier menghela napas. "Kau tidak mendapat apapun? Bahkan sedikit pun tidak ada?"


"Tidak ada. Eh, tunggu-- ada satu hal yang didapat, tetapi sepertinya hal ini tidak terlalu penting. Orang itu, memiliki tanda lahir di lehernya dan sepertinya ia merupakan orang yang sama dengan masalah pabrik tuan yang nyaris kebakaran itu. Hanya itu saja sejauh ini."


Zavier kemudian memijit pelipisnya yang terasa pusing. Tanda lahir? Zavier memejamkan mata sejenak. Informasi yang tidak penting.


"Baiklah, aku akan menutup teleponnya sekarang."


Semua ini terasa begitu rumit sekarang.


"Oh, c'mon!" gerutunya dan bangkit dari tempat duduknya.


Zavier terus menggerutu sambil berjalan ke arah tempat mobilnya yang sedang terpakir. Mobil ferrari berwarna kuning yang dengan gagahnya tengah memamerkan kekerenannya.


Dan, ia kemudian memberengut kesal ketika menyadari sesuatu.


Mobil lamborghininya yang berwarna merah, baru saja meninggal beberapa jam yang lalu.


Sudahlah, jangan dipikirkan lagi Zavier.


Ia membuka pintu mobilnya, diikuti dengan tubuhnya yang duduk di balik kemudi. Tanpa menyia-nyiakan waktu berharganya, ia langsung menancap gas hingga menimbulkan suara deru berisik untuk yang kesekian kalinya.


***

__ADS_1


"Taman?" gumamnya dengan nada kecil.


Untuk apa Shella ke sini?


Ia mengangkat kedua alisnya, lalu menyelusuri taman tersebut.


Ternyata, Zavier tidak membutuhkan waktu yang lama untuk menemukan Shella. Karena selang lima detik kemudian, ia langsung menemukan perempuan itu sedang duduk di kursi taman dan tengah memakai kaos polos serta celana  jins ketat.


Wow, perpaduan yang polos. Namun, tidak bisa dipungkiri jika hasratnya tiba-tiba menaik hanya karena hal tersebut.


Lekukan menggiurkan itu sungguh mengacaukan seleranya. Bahkan baju polos itu sudah membuatnya harus menekan hasrat, bagaimana jadinya jika Zavier melihat Shella hanya memakai dalaman?


The worst thing in his life.


"Shel--" Ucapannya terpotong kala melihat ada seorang laki-laki yang sedang dipandangi  oleh Shella. Laki-laki itu terlihat tidak asing dan sedang berdiri membelakangi gadis itu.


"Apa itu teman lamanya Shella?" gumam Zavier dan tersenyum sinis.


Ia lalu berjalan sedikit terburu-buru ke arah Shella, sebelum telinganya menangkap sebuah kalimat yang terkesan datar dan dingin.


"Dia bukan seorang pria yang baik. Percayalah padaku, atau kamu sendiri yang akan menerima akibatnya."


Setelah itu, ia melirik ke arah Shella. Sepertinya mereka berdua masih belum menyadari kehadirannya ini karena Zavier sedang berdiri di belakang kursi taman yang tengah diduduki oleh gadis tersebut.


"Apa maksudmu?" tanya Shella.


"Aku hanya memperingatimu."


Zavier sontak mengangkat satu alisnya, merasa sedikit heran dengan topik yang mereka bicarakan. Mungkinkah mereka sedang membicarkan tentang dirinya?

__ADS_1


I think yes, batin Zavier dan menoleh tajam ke arah Aron. Namun, mantan pacar Shella tidak menyadari tatapan itu karena sedang berdiri membelakangi dirinya.


Well, memang ia baru saja berdiri di antara pertengahan mereka, tapi Zavier memiliki sebuah firasat yang mengatakan bahwa Aron baru saja selesai membicarakan hal yang buruk tentangnya.


"Really, Dude?" tanya Zavier tiba-tiba.


Shella dan Aron sama-sama tersentak kaget, lalu menoleh ke asal suara bariton tersebut.


"Kalian sedang berpacaran dan dengan beraninya menyinggung soal diriku?" tanya Zavier santai sembari menopang tubuhnya dengan menaruh kedua tangannya di sandaran kursi taman.


"Atau mantan pacarmu ini sedang berusaha untuk kembali padamu, Shella?"


Zavier kemudian melirik ke arah gadis itu yang tampak menegang di tempatnya. Lelaki itu langsung tersenyum tipis melihat raut wajah tersebut. Ternyata tebakannya benar.


Mungkin saja Shella sedang bertanya-tanya dalam hati bagaimana bisa dirinya mengetahui Aron adalah mantan pacarnya, atau mungkin ia sedang kaget dengan kehadirannya yang tiba-tiba?


"Lagipula dia sudah memilikiku, jadi jangan berharap banyak untuk kembali padanya, dasar lemah," ujar Zavier santai, lagi. Namun tidak bisa dipungkiri jika dibalik nada santai itu, rahangnya semakin mengeras dengan kedua tangan yang terkepal erat.


Rahang Aron ikut mengeras karena perkataan itu. "Kau tidak berhak untuk mencampuri urusan kita. Aku sudah tahu siapa kau, apa yang kau sembunyikan, dan dirimu yang sebenarnya," ujar Aron dan tersenyum penuh kemenangan ke arah Zavier.


kepala Zavier sontak terasa langsung mendidih saat itu juga. Ia berjalan melewati bangku Shella dan menuju ke arah Aron. Di detik selanjutnya, Zavier menarik kerah lelaki itu hingga membuatnya harus sedikit berjinjit.


Aron menatap sinis ke arah Zavier, lalu mencengkram kerahnya juga. Alhasil, mereka berdua saling beradu tajam dan mencengkram kerah lawannya.


"Kau sebaiknya berhati-hati denganku, Aron," desis Zavier seperti ular.


Aron hanya tersenyum mencemooh. Ia mendekatkan bibirnya ke telinga kanan Zavier, kemudian berbisik sesuatu di dalamnya. "Kenapa? Kau takut jika dunia akan mengetahui bahwa kau adalah seorang mafia yang sama sekali tidak mempunyai belas kasihan? Atau, karena otakmu yang terus berpikir tentang masalah pabri--"


Ucapan Aron terpotong kala Zavier langsung meninju rahangnya dengan kepalan tangan. Urat-urat nadi di leher lelaki itu mulai muncul karena geram, sedangkan Aron spontan terjengkang ke belakang tanpa sempat menghindar dengan bibir yang berdarah.

__ADS_1


Zavier hanya tersenyum miring penuh arti, lalu berjalan dan mendekatkan bibirnya ke arah telinga Aron. "Don't think your life will be peaceful again,"


8 May 2020


__ADS_2