
"Kenapa kau balik ke sini lagi?" ujar Shella datar. Namun, di balik nada dinginnya itu, terselip juga nada cemas yang terdengar berusaha untuk ditutup-tutupi.
Zavier terkekeh kecil, sebelum terbatuk-batuk karena rasa sakit yang tiba-tiba menyerangnya. "Biarkan aku masuk dulu."
Shella hanya menatap pria itu, lalu akhirnya membuka jalan untuknya karena Zavier terlihat sangat membutuhkan bantuan sekarang.
"Apa kau berkelahi?" tanya Shella sembari menutup pintu gerbangnya, lalu berjalan mengikuti Zavier dari arah belakang.
"Tidak, aku kecelakaan saat sedang mengendarai mobil," ujar Zavier dengan nada tenang. Ia melemparkan dirinya di atas sofa sambil melirik ke arah Shella yang berjalan ke arahnya.
Tanpa sadar, ia menghela napas lega. Beruntungnya perempuan ini tidak kenapa-kenapa.
Shella melebarkan matanya. "Seharusnya kau pergi ke rumah sakit, bukan kembali ke rumahku. Apa itu parah?" tanya Shella dengan nada cemas yang terdengar tidak ditutup-tutupi lagi.
Tentu saja ia cemas. Seseorang yang baru saja terkena kecelakaan seperti itu seharusnya pergi ke rumah sakit dan mengecek apakah ada luka atau patah tulang. Bukan duduk manis di rumahnya dan tetap tenang di tempat.
Astaga, pria ini benar-benar sudah kehilangan kewarasannya.
"Aku tidak butuh obat-obatan yang tidak berguna seperti itu," sahut Zavier tidak peduli. "Apa aku boleh meminjam ponselmu sebentar? Aku ingin menelepon seseorang."
Shella hanya mengernyit, namun ia tetap beranjak pergi dan pergi mengambil ponselnya. setelah itu, ia menyodorkan benda tersebut kepada Zavier.
"Terima kasih," tukas Zavier senang.
"Dimana ponselmu?" tanya Shella sembari memicingkan matanya.
"Tidak selamat." Tangan Zavier bergerak cepat mengetik beberapa nomor angka, kemudian mendekatkan benda itu ke telinganya.
"Bagaimana kau bisa selamat dari kecelakaan itu?"
__ADS_1
"Aku menyelamatkan diriku sendiri."
Jawaban macam apa itu..
Shella mencebikkan bibirnya dan menopang dagunya dengan kesal. Sementara itu, mata birunya menatap ke arah Zavier yang tengah menunjukkan raut wajah seriusnya.
"Jason," ujar Zavier cepat ketika teleponnya telah diangkat pada nada dering ketiga.
"Tuan, apa kau baik-baik saja? Aku mendengar bahwa Anda baru saja mengalami kecelakaan mobil," sahut suara di seberang sana dengan panik.
" Ya, aku baik-baik saja. Sekarang, aku ingin kau untuk segera mencari tahu siapa dalang di balik semua itu dan seluruh data-data tentang dirinya. Aku juga ingin semua itu sudah siap dan berada di atas meja kerjaku saat aku pulang nanti," perintah Zavier dengan serius.
"Baik, Tuan."
"Dan, apa kau sudah menghapus habis semua berita tentang diriku dengan Shella?"
"Sudah, Tuan."
"Sudah, Tuan."
"Kalau begitu, pastikan semua ini tidak terdengar sampai ke telinga keluargaku. Aku akan mematikan teleponnya sekarang." Zavier memutuskan telepon itu secara sepihak, lalu menyodorkan ponsel itu ke pemiliknya kembali.
Sementara itu, Shella hanya menatap bingung ke arah Zavier sembari menerima ponselnya. Setelah beberapa menit tadi ia mendengar seluruh percakapan itu, Shella semakin dibuat bingung oleh perintah dari Zavier.
Apa-apaan? Pria itu memerintah seseorang seenak jidatnya saja, dan yang lebih parahnya lagi, Zavier yang menutup telepon itu secara sepihak.
Manusia yang tidak memiliki sopan santun sama sekali. Dasar orang kaya.
"Sudah siap?" tanya Shella aneh.
__ADS_1
"Ya."
"Apa memang begitu caranya kau berbicara dengan seseorang?"
"Ya."
Shella mengernyit kesal. "Itu tidak sopan sekali."
"Aku tidak peduli," jawab Zavier dengan mudah. Ia kemudian menyandarkan tubuh lelahnya ke sofa sambil melirik ke arah perempuan itu.
"Sungguh, aku benar-benar tidak akan pernah mengerti dengan jalan pikir orang kaya sepertimu."
Zavier mengangkat satu alisnya. "Apa kau miskin?"
"Apa maksudmu? Pertanyaan macam apa itu!" tukas Shella semakin marah.
Zavier mengedikkan bahunya tidak peduli. "Bukannya semua orang kaya memang berkelakuan seperti ini?"
"Tidak semuanya, Zavier!" ralat Shella dan mencoba untuk bersabar terhadap pria di hadapannya ini.
"Oh ya, lalu?" tanya Zavier dan tersenyum tipis.
"Kelakuanku tidak seperti dirimu yang sama sekali tidak mempunyai etika."
"Kau kaya?"
"Ya, bisa dibilang begitu. Keluargaku berada di New York, sementara ayahku menjalankan sebuah perusahaan mobil."
"Huh? Kau yakin? Karena dilihat dari penampilanmu itu, kau terlihat seperti perempuan yang baru muncul dari hutan rimba atau dari selokan."
__ADS_1
7 May 2020