My Dangerous Boy

My Dangerous Boy
Extra Part (4)


__ADS_3

Turner's Mansion - Amerika, Los Angeles


16:30 PM


3 tahun kemudian...


Kedaiman dan ketenangan yang sangat jarang diperoleh oleh Zavier akhirnya didapatkan juga. Seperti sekarang ini. Biasanya, keributan dan kerusuhan-lah yang sering terjadi di dalam rumah, sampai terkadang membuatnya harus bergadang hingga pagi hari. Ralat, bukan terkadang, tetapi nyaris setiap hari.


Ya, pasti ada saja keributan yang dibuat oleh Shella yang sedang mengandung dan anak perempuannya. Benar-benar melelahkan menjadi seorang pria.


Contohnya, saat anaknya merengek meminta untuk digendong olehnya, Shella malah akan ikut-ikutan merengek juga. Dan, yang lebih parahnya lagi, jika ia berani untuk menolak permintaan Shella, bisa dipastikan jika wanita itu langsung mengamuk besar dan berniat untuk tidak makan selama dua malam. Zavier benar-benar trauma dengan kelakuan Shella yang sangat nekat itu.


Jadi, terpaksalah jika hari itu tiba, Zavier harus memastikan kalau semua tangan dan kakinya tidak akan patah karena langsung menerima tiga beban sekaligus. Shella, anak perempuannya, dan anak yang sedang dikandung oleh istrinya.


Well... bayangkan saja Zavier yang harus berdesak-desakkan di atas kasur, menggumamkan kalimat-kalimat pengantar tidur secara berulang-ulang hingga istri dan anaknya terlelap di dalam pangkuannya.


Zavier melirik sebentar ke arah jam dinding terdekat, sebelum menyandarkan punggungnya ke kursi kebesarannya. Baru jam dua belas malam, tetapi anak perempuan dan istrinya itu sudah berhasil ia tidurkan.


Ya, mengenai istrinya, wanita itu sepertinya sedang berada di dalam mood yang tidak bagus. Bahkan, Zavier terkadang heran dengan tingkah laku istrinya yang terlalu manja dari hari menuju ke hari lainnya. Apa mungkin spesies wanita yang hamil seperti itu?


Zavier spontan mengenyahkan pikirannya jauh-jauh. Tidak, tidak. Dulu, sewaktu Shella sedang mengandung anak pertamanya, perempuan itu tidak pernah bertingkah laku seperti ini. Malah saat itu, Shella lebih sering mengamuk padanya tanpa sebab ataupun alasan yang logis.


Bingung? Iya, bingung. Zavier bahkan sempat berpikir jika Shella memiliki sedikit kelainan. Namun, pikiran itu perlahan-lahan ia hempaskan ke belakang begitu dokter kandung Shella, mengatakan jika wanita hamil biasanya akan bertingkah laku aneh seperti ini. Sang dokter juga malah menambahkan,


"Jika kelakuan istrimu tidak seperti sekarang ini, maka itu benar-benar gawat. Setiap wanita pasti memiliki perubahan yang berbeda-beda, tapi pada umumnya, wanita hamil akan memiliki nafsu makan yang lebih tinggi dari biasanya."


Dan, memang perkataan sang dokter terbukti dengan benar. Setiap tengah malam ataupun dini hari, Shella pasti sengaja membangunkan dirinya dari tidur pulasnya, dan itu hanya demi memasakkan sesuatu kepada istri tercinta. Meskipun melihat Zavier dalam keadaan ngantuk, Shella akan terus menjerit tanpa henti jika permintaannya tidak dikabulkan.


Oh, god... betapa tersiksanya Zavier sekarang ini. Tidur hanya sekitar dua jam, ditambah lagi anak sulungnya yang bernama Angeline akan terus-terusan merusuhi pekerjaannya dengan tangisan badai yang amat keras.


Bukan hanya itu, Shella, yang seharusnya menjadi seorang Ibu malah ikut-ikutan menangis keras tanpa sebab layaknya seorang bayi. Bayi besar lebih tepatnya.


Jika dihitung-hitung dengan cermat, baru lima belas menit ini Zavier sempat beristirahat. Pria itu sebenarnya sangat mengantuk, tapi apa daya, pekerjaannya di kantor semakin menumpuk dan membuatnya harus mengerjakannya di rumah hari ini juga.


Memang menjadi kepala rumah tangga itu adalah hal yang paling berat yang pernah dipikul olehnya itu. Pagi hari, membantu Shella mengurusi Angeline yang baru berumur dua tahun lebih. Siang hari, ia akan pergi bekerja. Dan malam harinya lagi, Zavier dijadikan sebagai budak mainan bagi istri dan anak sulungnya. Miris sekali...


Pria itu memijit pelipisnya yang pening, lalu melakukan sedikit gerakan pada kepalanya untuk melonggarkan sendi-sendi lehernya yang terasa kaku.


Mungkin ini adalah karmanya karena telah melakukan hubungan badan terlebih dahulu dengan Shella yang padahal masih kuliah. Bahkan perempuan itu diharuskan untuk putus kuliah karenanya.


Mengerang panjang lelah, Zavier kemudian ikut menggerakkan kedua tangan dan kakinya yang kebas karena telah berada di dalam posisi yang salah dalam jangka waktu yang lama.


"Huaa... Daddy!" Teriakkan khas sang anak kecil membuat Zavier yang sedang bekerja di depan laptop berjengit kaget. Satu kata terlintas di benaknya dengan cepat. Merepotkan.


"Ya, ya. Kenapa!?" Dengan gerakan cepat, Zavier berjalan tergopoh-gopoh menuju ke kamar anaknya yang berada di lantai dua. Pria itu melewati tangga yang melingkar, ruang tamu bagian tengah, dapur, hingga sampailah ia di dalam kamar.


Mata coklatnya menelisik dengan cepat, kemudian ia tiba-tiba saja tertegun ketika tatapannya terjatuh pada anaknya yang sedang menangis histeris di atas kasur.


Lampu remang-remang yang menghiasi seluruh ruangan membuat Zavier harus menyipitkan matanya di dalam kegelapan. Cahaya luar yang masuk melalui sela-sela gorden jendela menjadi penerangan yang cukup minim baginya.


"Kenapa, honey?" Zavier langsung berjalan cepat menuju ke arah ranjang Barbie milik Angeline yang sudah terisak sesugukan. Alarm di otak Zavier berbunyi nyaring, menghantarkan rasa cemas ke seluruh bagian tubuhnya. "Apa yang terjadi?"


Zavier mendekatkan dirinya ke tubuh anaknya yang mungil, lalu membawanya ke dalam dekapan. Dielus-elusnya rambut coklat itu dengan kasih sayang sambil mengucapkan kata-kata lembut berupa bisikan.


Tak lama kemudian, Angeline yang sedari tadi hanya menyembunyikan wajahnya di dalam dada Zavier, akhirnya mengangkat kepalanya dengan mata berbinar yang menatap penuh harap ke arah daddynya.


Zavier dapat merasakan jika bahu Angeline yang tadinya bergetar tidak karuan mulai sedikit tenang. Hal itu membuat ia bisa menghela napas lega.


Zavier menunduk, menyamatarakan tingginya dengan tinggi Angeline yang pendek, lalu mengecup sekilas puncak kepala anak itu penuh kasih sayang. "Jadi, apa yang terjadi, honey? Kenapa kau menangis seperti itu?"


Angeline menghapus air matanya yang masih membasahi pipi chubbynya. "Mommy..." Anak itu kemudian memberi jeda pada kalimatnya.


Dahi Zavier refleks berkerut. "Mommy kenapa?" desaknya karena anak itu tampak sedang bimbang untuk mengutarakan isi kalimatnya.


Ragu-ragu, Angeline melepaskan pelukan Zavier, membuat bahu pria itu merosot ke bawah dengan rasa penasarannya yang sudah berada di tingkat dewa.


"Mommy..." Angeline mengusap hidung mungilnya dengan sebelah tangan, sebelum tiba-tiba saja mulutnya menyunggingkan senyuman secerah matahari. Sangat cerah, sampai Zavier harus menyipitkan matanya untuk memastikan senyuman penuh bahagia itu.


"Mommy menyuluh--ku untuk mengeljai daddy," ujar Angeline dan bertepuk tangan gembira, kelakuan khas dari anak kecil ketika sesuatu yang dilakukannya itu berhasil.


Namun, berbanding terbalik dengan kegembiraan anak pertamanya, Zavier malah mulai menyatukan kedua alisnya penuh keheranan. Ia-- benar-benar dibuat tidak mengerti.


"Dan Angeline belhasil mela--kukannya," tambah Angeline lagi yang sebenarnya masih belum pandai dalam hal berbicara. Anak yang baru berumur dua tahun lebih itu tertawa kegirangan. "Daddy telke--jut!"


"Maksud Angeline?" Zavier semakin dibuat keheranan. "Tadi, Angeline hanya berpura-pura?"


Angeline mengangguk lucu tanpa merasa sedikit bersalah pun. "Mommy--"

__ADS_1


"SURPRISE!! HAPPY BIRTHDAY, ZAVIER!"


Zavier terlonjak kaget. Kepalanya berputar cepat, menatap ke sekitar kamar yang tiba-tiba menjadi terang-benderang. Kedua matanya sedikit menyipit kala tepukan tangan dari beberapa orang terdengar menggema hingga memantul ke segala sudut kamar.


Kapan ada orang?


Pertanyaan bingung itu menyusup ke dalam benak Zavier, membuat pria itu menyatukan kedua alisnya heran.


"Zavier!" Sebuah pelukan yang cukup erat tiba-tiba mendarat di tubuhnya dari arah belakang, membuat Zavier terkejut. Apalagi pelukan itu semakin dipererat ketika orang itu merasa Zavier hendak melepaskan pelukannya dan pergi darinya.


"Happy birthday, kakakku yang jelek. Semoga kau semakin disiksa, dihina oleh Shella, dan pastinya wajahmu itu akan dipenuhi dengan kerutan tua nanti. Kau sudah semakin tua saja, Zavier!" celutuk Zaviera yang sedang berdiri di ambang pintu. Perlakuannya terlihat sangat senang saat mengucapkan kalimat laknat tersebut.


Zavier melengos kesal, meski sebenarnya ia masih bingung dengan semua ini. Pria itu kemudian menyisir rambut coklatnya yang sedikit panjang itu dengan menggunakan kelima jarinya, membiarkan orang yang memeluknya dari belakang tersebut berbuat sepuas hati.


Zavier menunjuk ke arah dirinya sendiri dengan menggunakan jari telunjuknya, lalu menampilkan wajah bingungnya yang terlalu kentara. "Aku ulang tahun?"


"IYA, ZAVIER!" Suara itu diteriakkan oleh beberapa orang secara bersamaan, membuat Zavier sendiri terkaget. Ia lebih terkejut lagi ketika dirinya baru menyadari jika setiap sudut ruangan ini sudah diisi oleh segerombolan orang.


Seluruh keluarganya, temannya, bahkan Christian sendiri yang masih sibuk di New York hadir di sini. Seluruh wajah-wajah yang familiar itu dapat dilihatnya, membuat Zavier sendiri menjadi tidak yakin akan pandangannya sendiri. Setahunya tadi, kamar Angeline sama sekali tidak terdapat manusia satupun.


Is this magic?


Bulu Zavier semakin merinding, ketika seseorang yang sedang memeluknya dari arah belakang itu mulai mengelus-elus perut berototnya dengan gerakan yang erotis. Seketika, Zavier langsung mengenali wangi ini, kehangatan ini, dan kelakuan yang biasa dilakukan oleh orang ini.


"Ugh..." Suara erangan tiba-tiba keluar dari bibir Zavier, sukses membuat Shella yang berada di belakangnya refleks melepaskan pelukannya. Seolah-olah dia terkejut dengan suaranya barusan.


Sadar akan banyak kepala yang sedang tertuju padanya, wajah Zavier memerah menahan malu. "Jadi, ada apa ini?" tanyanya sambil berusaha bersikap senormal mungkin. Ia berdeham, memperbaiki tenggorokkannya yang tiba-tiba menjadi kering.


"Just surprise." Zaviera yang masih berada di ambang pintu memutar bola matanya. Perempuan itu kemudian beralih menatap ke arah Alicia yang tengah berdiri di sudut ruangan dengan senyuman lebar.


"Mom! Sepertinya kakak tidak terkejut sama sekali. Aku pergi dulu, ya. Aku masih memiliki kepentingan pribadi dengan Andrew," celutuknya tanpa bersalah, membuat perhatian Alicia langsung diahlikan kepadanya.


"Heh... kau lebih mementingkan pria itu daripada kakakmu sendiri?" Alicia berdecak dan berjalan mendekati Zaviera. "Sebentar saja, kok. Kita harus terlebih dahulu merayakan hari tua Zavier, sebelum kakakmu cemberut karena mengetahui jika kau tidak ingin merayakan hari ulang tahunnya."


Seketika, Zavier hanya berdecak bingung.


***


"SELAMAT ULANG TAHUN, ZAVIER! SEMOGA KAU SEHAT SELALU DAN LEBIH SERING MENTRAKTIRKU, YA! OH, DAN JUGA, SELAMAT ATAS PERNIKAHANMU YANG SANGGUP BERTAHAN SELAMA 3 TAHUN INI." Suara teriakan nyaring milik seseorang disertai dengan pelukan erat di lehernya terdampar di tubuh Zavier.


"Andrew!!" pekik Zavier dan masih berusaha untuk melepaskan rangkulannya yang mematikan. "Kau berencana untuk membunuhku di sini!?"


Andrew yang berada di belakang hanya terbahak-bahak hingga kedua matanya sedikit menyipit. "Aku menyayangimu," tukasnya yang kelewatan girang, diiringi dengan suara tawa jernih milik Zaviera.


"Aku membencimu!?" desis Zavier yang masih belum berhenti meronta.


Andrew akhirnya melepaskan pelukannya, lalu tersenyum selebar mungkin. Kesenangannya semakin meningkat ketika Zavier terlihat terbatuk-batuk untuk beberapa saat karena lehernya yang dicekik. "Belikan aku hadiah," tukasnya cepat.


"Tidak tahu malu!!" sentak Zavier. "Aku yang berulang tahun di sini, bukan kau!!"


Sontak, wajah Andrew berubah menjadi sayu, sesayu tangannya yang langsung terkulai lemas di kedua sisi tubuhnya. "Ayolah! Aku sudah memberimu hadiah, jadi sekarang giliranmu yang memberikanku hadiah."


"Sejak kapan kau memberiku hadiah?" Zavier melotot tajam, membuat Andrew terkekeh dan tiba-tiba merangkul mesra Zaviera yang hanya berdiri di sebelahnya.


Gadis yang memakai gaun berwarna putih dengan manik-manik mutiara yang bertebaran secara tidak merata itu hanya tersenyum tipis. Renda-renda gaun yang berwarna pastel pink berpadu dengan warna putih, menyiratkan aura yang anggun dan lebih hidup.


Ah, jangan lupakan jika gaun tersebut telah dirancang secara khusus oleh Alicia --yang sebenarnya bekerja sebagai seorang designer-- untuknya.


Naik ke atas lagi, wajah cantiknya yang dirias simpel itu menyiratkan rasa kebahagiaan yang luar biasa. Rambutnya tampak digulung ke atas dengan tata dandanan yang rumit, memperlihatkan setiap lekuk leher jenjangnya. Gayanya cukup keren, ditambah lagi ekor gaunnya yang sedikit memanjang hingga berjatuhan di atas lantai.


Jadi, jangan heran jika banyak sekali teman Zavier ataupun Andrew sendiri terkesima dengan kecantikannya. Kedua mata Zaviera yang memandang setiap sudut pesta dengan tatapan yang datar namun hangat itu mampu membuat semua pria yang masih lajang langsung terhipnotis olehnya. Tapi, khusus untuk Zavier... ia hanya menganggap itu sebagai hal yang biasa. Shella lebih keren!


"Aku dan Zaviera akan menikah sebentar lagi," ucap Andrew dan mengerlingkan sebelah matanya ke arah Zaviera, membuat perempuan itu tersipu malu karenanya.


"Not my business," dengus Zavier, seakan-akan perkataan Andrew tadi bukanlah hal yang patut untuk dipedulikan. "Just... don't ruined my birthday party."


Setelahnya, Zavier pergi begitu saja, menuju ke arah Shella yang sedang berbincang-bincang dengan tamu. Zaviera yang berada di belakang langsung memanas dan mengepalkan kedua tangannya.


"Dia sialan! Seharusnya dia senang ketika melihat aku dan Andrew menikah!! Kakak macam apa itu!?!" teriak Zaviera dengan nada yang kesal, sukses mengundang semua tatapan dari para tamu yang hadir di sana.


***


Shella hendak membuka mulut, membalas perkataan tamu yang berada di depannya dengan senyuman lembut, sebelum tiba-tiba saja ia merasakan pergelangan tangannya ditarik. Perempuan itu menoleh, menatap ke arah sang Suami dengan sebelah alis yang terangkat.


"Maafkan saya yang telah menganggu perbincangan kalian, tapi saya berharap Anda dapat memberikan waktu kepada saya untuk berbincang dengan istriku sebentar," ucap Zavier dengan nada yang sopan kepada teman bisnis ayahnya, sementara mulutnya menyunggingkan senyuman tipis.


Pria yang sudah nyaris berumur lima puluh tahun itu lalu membalasnya dengan senyuman makhlum. Ia mengelus sebentar kepalanya yang sudah berbotak itu, menatap lurus ke arah Shella dan Zavier secara bergantian. "Baik." Pria tua itu menyahut.

__ADS_1


Zavier mengucapkan kalimat terima kasihnya, sebelum dengan cepat melenggang pergi, mencari cara untuk melarikan diri dari gerombolan orang yang berdesak-desakkan di dalam ballroom.


Mereka menaiki tangga yang berputar dan membawa mereka menuju ke lantai tiga, menapaki lantai-lantai marmer yang berwarna hitam, sangat kontras dengan langit-langit ballroom yang dicat warna kuning dan putih.


Tak lama kemudian, Zavier akhirnya berhasil menyeret Shella sampai di depan sebuah pintu kamar yang berwarna coklat. Didorongnya daun pintu itu dengan perlahan, lalu menarik pergelangan Shella untuk masuk ke dalam hingga akhirnya mereka ditelan dalam keheningan.


"Tamu tadi sangat cerewet," keluh Shella dan melepaskan sepatu high heelsnya yang hanya setinggi 2 cm, lalu menghempaskan dirinya sekuat tenaga ke atas ranjang hingga membuatnya berderit.


Beruntung saja Zaviera cukup pintar dalam memilihkannya high heels, karena kalau tidak, Shella yakin jika kedua kakinya pasti akan terluka dan kebas karena sedang mengandung.


Oh... mengenai kandungannya. Shella mengelus lembut perutnya dengan penuh kasih sayang sambil menyandarkan kepalanya ke kepala ranjang, memikirkan segumpal daging yang baru saja tumbuh empat bulan di dalam perutnya.


"Jangan turun ke lantai satu lagi," ujar Zavier dan melepaskan sepatu hitamnya, sebelum ikut turut masuk ke dalam selimut yang sedang dipakai oleh Shella. Ia mengecup sekilas bibir mungil Shella, lalu menyandarkan kepalanya ke bahu istrinya.


"Kenapa?" tanya Shella dan mengangkat sebelah alisnya dengan heran.


"Temani aku tidur di sini. Aku capek," tandas Zavier dan memejamkan kedua matanya, sementara tangannya melilit perut Shella yang mulai besar dan membawanya lebih dekat ke dalam tubuh.


"Tapi, para tamu sudah hadir dan acara ulang tahunmu akan--"


"Aku tidak menerima penolakan," sela Zavier dengan nada yang merajuk, membuat Shella terkekeh geli sambil mengelus puncak kepala Zavier.


"Harus kuingatkan jika hari ini adalah hari ulang tahunmu. Jadi, seharusnya kaulah yang menjadi tokoh utama di dalam pesta," sahut Shella dengan nada yang memperingati.


"Aku tidak pernah mengharapkan pesta sebesar ini," bela Zavier. "Mommy yang kepo karena telah menyusun pesta ini tanpa memberitahuku terlebih dahulu."


Shella mendesah pasrah. "Itu tidak akan menjadi surprise lagi jika mommy memberitahumu."


"Lagipula aku tidak membutuhkannya. Kalian hanya mengingatkanku pada hari tuaku saja."


Shella langsung dibuat geli oleh ucapan Zavier barusan. Ia membiarkan tubuhnya dipeluk erat oleh suaminya, kemudian bergumam. "Dimana Angeline? Aku baru ingat jika sedari tadi aku hanya melayani para tamu hingga tidak sempat untuk memperhatikannya."


Zavier menguap lebar, tanda bahwa ia sudah sangat mengantuk. Mata coklatnya mengerjap, menatap Shella dengan pandangan polos. "Dia sedang bersama mommyku."


Shella membulatkan mulutnya hingga menjadi 'oh', lalu tersenyum lega.


"Dan, lagipula, apa kau tidak merasa capek?"


Dahi Shella spontan mengerut dalam. Senyumannya pudar seketika. "Kau pikir aku lemah?"


Buru-buru Zavier meralat perkataannya. "Bukan, Baby. Maksudku, kau sedang hamil dan itu sangat tidak bagus buat kesehatan," ucap Zavier dan semakin mempererat pelukannya pada Shella. Pria itu menganggukkan kepalanya dengan ritme yang cepat, berusaha meyakinkan Shella yang sudah tampak mengerucutkan bibirnya.


Jangan sampai istrinya salah sangka dengan perkataannya tadi.


Tiba-tiba seakan-akan teringat sesuatu, Shella mengangkat alis, sebelum ia bertepuk tangan gembira. Wanita itu memasang raut wajahnya yang jahil, lalu bibirnya bergerak mendekati telinga kiri Zavier.


"Come on, let's having fun."


Jantung Zavier langsung berdetak tidak karuan, sementara tubuhnya refleks menjauh dari Shella. Namun, ternyata perempuan itu sudah mengunci pergerakkan Zavier terlebih dahulu hingga membuat pria itu hanya bisa meneguk ludahnya ngeri.


Shella mendorong tubuh Zavier sekuat tenaga sampai terlentang di atas kasur, kemudian mengerling dan tubuhnya bergerak cepat ke atas tubuh berotot itu. Shella menduduki perut Zavier, membuat pria tersebut mengerang secara tiba-tiba.


"Time for fun," ujar Shella dan memainkan matanya. Sebelah tangannya bergerak, menelusuri dada bidang milik Zavier dengan gaya yang sensual. Ia menindih suaminya tanpa berusaha sedikit pun mengurangi berat badannya.


"Baby, aku sedang capek," erang Zavier, berusaha untuk menolak sentuhan-sentuhan mematikan dari Shella. Pria itu kemudian menggeliat geli ketika hembusan napas hangat milik Shella menerpa wajahnya.


Shella cemberut. "Aku ingin sekarang. Dan lagipula, Angeline sedang bersama neneknya. Kita harus menikmati ini!" serunya girang, membuat Zavier terkekeh.


"Tidakkah kau kasihan dengan suamimu ini yang bahkan baru tertidur selama satu jam?" sentak Zavier dengan nada yang dibuat-buat. Ia menunjukkan tatapan sayunya.


Ya, Zavier memang hanya tertidur selama satu jam, tidak lebih ataupun kurang. Setelah tadi jam 12 malam ia dikejutkan oleh seluruh para keluarga yang berkumpul di mansionnya, ia hanya diberikan waktu satu jam untuk tidur lelap, sebelum pesta ulang tahunnya dimulai.


Oh, my hell. Godness!!


Shella spontan menggeleng cepat, namun tegas. "Aku tidak peduli."


Zavier berkedip, lalu akhirnya mendesah jengkel. Wanita hamil itu... memang merepotkan.


"I'am yours," ujar Zavier pada akhirnya. Kedua tangannya ia rentangkan lebar-lebar, membiarkan istrinya untuk melakukan apa saja yang ingin dia lakukan. This is call... woman on top, right?


Shella menyeringai. Ia sedikit membungkuk, berusaha mengecup bibir Zavier walau dihalangi oleh perutnya yang mulai sedikit membesar. Tatapannya berbinar-binar, memandangi tubuh Zavier dengan rakus. "Habislah kau malam ini."


Zavier bergumam. "Kurasa... tamu-tamu diluar sana akan kebingungan mencari kita berdua."


"Aku tidak peduli. Bukankah tadi kau mengatakan jika kau tidak ingin turun ke lantai satu lagi?"


~ The End ~

__ADS_1


__ADS_2