My Dangerous Boy

My Dangerous Boy
Part 87 - Shella Didn't Knew It!


__ADS_3

Satu peluru berhasil menghiasi betis pria itu, membuat dia langsung mengerang sakit.


Zavier spontan menelan ludahnya susah payah saat melihat darah segar yang mengalir di kaki itu. Bahkan peluru yang sudah bersarang di dalam sana, sama sekali tidak dipedulikan oleh Aron.


Zavier yakin sekali jika dia tidak akan memiliki kesempatan untuk menyiksa orang di depannya. Karena lihatlah, sudah sekitar lima sampai enam peluru yang bersarang di tubuh lemah itu.


Argh...


"Dua orang yang berada di sisi kiri dan kanan itu merupakan orang yang membopongku ke dalam mobil setelah membiusku, sedangkan pekerjaan orang yang berada di tengah adalah menembakmu." Aron menjelaskan hal tersebut secara tiba-tiba, membuat Zavier hanya menganggukkan kepalanya sedikit ngeri.


"Oh, dan bisakah kau menceritakan bagaimana dirimu membawa 3 orang ini?"


Aron menggagukkan kepalanya dengan bangga. "Oh, hal itu mudah sekali. Setelah mereka selesai melakukan pekerjaannya dan hendak menjalankan mobil, aku langsung menghabisi mereka satu per satu. Dan beberapa menit kemudian, aku langsung mengambil alih mobil hitam tersebut dan membawa para ******** ini ke apartemenku. Mudah, kan?"


"Oh, ya?" tanya Zavier, sontak membuat Aron menatapnya dengan pandangan tidak terima.


"Kau meragukanku?" tanyanya dengan tidak percaya.


"Of course. Dan, bisakah kau menjelaskan apa yang terjadi di ruang tamumu?"


Aron melipat kedua tangannya di depan dada. "Ah, itu. Pria sialan yang sekarang sedang duduk di tengah ini tiba-tiba saja menyerangku di dalam ruangan tamu. Aku yakin kau sendiri pasti bisa membayangkan perkelahiannya."

__ADS_1


Zavier tampak berpikir sejenak, sebelum kembali melirik ke arah Aron. "Jadi, inti dari semua ucapanmu sedari tadi adalah, setelah kau selesai meneleponku waktu itu, tiba-tiba ada seseorang yang membiusmu dan membawamu ke dalam mobil. Namun, kau langsung memberontak dan menghabisi mereka?" tanyanya yang tampak semakin berpikir keras.


"Ya."


Zavier mengerutkan dahinya, lalu kembali berpikir. "Ada satu hal yang aku curigai."


Aron mengangkat alis. "Apa?"


"Kenapa mereka ingin menculikmu?" tanya Zavier. Wajahnya berubah menjadi serius selama beberapa detik. Ia kian menyipitkan matanya.


"Memangnya, apa yang mereka ketahui tentang dirimu? Apa yang menarik dari dirimu? Dan untuk yang terakhir, ada sesuatu yang mencurigakan dari dirimu."


"Jadi, bagaimana dengan sarapan kalian? Apa itu seru? Kemana Zavier mengajakmu? Apakah dia romantis? Dia tidak kaku, kan? Kau sudah menyukainya? Shella--"


Gadis itu menghela napas jengkel. Ia melirik ke arah ayahnya yang terlihat sedang menyorotinya dengan tatapan penuh tanya. Kadang, pria itu tampak berdecak kagum tanpa sadar, sebelum kembali melontarkan seluruh pertanyaannya yang mampu membuat Shella pusing sejenak.


Ia melipat kakinya di atas sofa dan mendengus sesaat. Gadis itu lalu menatap ke arah ayahnya dengan frustasi.


"Dad!" pekik Shella pada akhirnya, membuat William spontan menghentikan pertanyaannya. Pria itu kemudian mencengir lebar.


"Jadi bagaimana? Apa Zavier adalah tipe priamu?" tanya William lagi, masih tidak menyadari bahwa raut muka Shella sudah berubah menjadi keruh sesaat.

__ADS_1


"Tidak ada hal yang romantis dan tipe pria, Dad. Sudahlah," ujar Shella dengan kekesalan yang semakin meningkat.


"Tidak ada? Kenapa? Memangnya Zavier membawamu ke mana?" tanya daddynya lagi. Namun kali ini, William mulai menatap tajam ke arah Shella. Sebenarnya, ia sedikit curiga terhadap segala kelakuan anak keduanya ini.


Ya, Shella mulai menampilkan wajah masamnya saat memasuki rumah tadi. Apalagi William menyadari bahwa bukan Zavier yang mengantarkannya pulang, melainkan sebuah mobil taksi yang mengantarkannya.


"Hanya memiliki sedikit masalah, Dad," ujar Shella, lantas membuat ayahnya langsung menyipitkan matanya.


"Masalah apa?" tanya William dengan tatapan yang penuh intimidasi.


Shella hanya menghela napas. "Tidak apa-apa, Dad."


William mengerutkan dahinya. Sebenarnya, ia ingin bertanya beberapa hal lagi, namun melihat wajah anaknya yang sepertinya sedang tidak bersahabat itu, ia akhirnya memutuskan untuk bertanya nanti. "Apa Zavier memiliki pekerjaan yang lain selain sebagai dosen?"


"Memangnya kenapa?" Shella malah bertanya balik. Ia sedikit mengangkat kedua alisnya ke atas.


"Sekedar ingin tahu," jawab William, kemudian menopang dagunya dengan heran.


"Entahlah. Aku tidak mengetahuinya," sahut Shella seraya mengangkat bahu. Hal itu membuat William kembali mengerutkan dahinya.


Tunggu... jangan bilang bahwa Zavier belum mengatakan perihal dirinya sebagai seorang mafia? Oh, lord! Ia harus berbicara dengan Clayton nanti.

__ADS_1


__ADS_2