
Temui aku di rumah kosong yang berjarak beberapa meter dari rumahmu. Dan, jika kau menemukan seseorang yang sedang memakai kaos hitam dan celana pendek hitam, artinya kau sudah menemukan diriku. Cepat!
- From Unknown Number -
Di detik selanjutnya, Shella malah memiringkan kepalanya dengan heran. What the... Siapa sebenarnya ini?
Well, jika dilihat dari perintah itu, sepertinya pesan ini berasal dari Zavier.
Tapi, jika saja ini memang Zavier, kenapa pula pria itu harus menggunakan nomor yang tidak dikenal segala? Apa pria itu sedang ingin bermain-main?
Shella mencebik, sebelum jarinya mengetik cepat di atas layar ponselnya.
Siapa kau?
Send.
Hanya dalam sepersekian detik, pesannya langsung dibalas oleh orang yang berada di seberang ponsel, seakan-akan orang tersebut memang sudah mengetahui pertanyaan yang akan dilontarkannya.
Kau tidak perlu tahu siapa aku. Yang harus kau tahu hanyalah, aku sedang memakai pakaian serba hitam.
Shella mulai memandang aneh ke arah pesan itu.
Apa maksudmu? Katakan dulu siapa kau dan darimana kau mengetahui letak rumahku!
Entah kenapa, setelah Shella membaca balasan tadi, ia mulai mengira-ngira bahwa orang ini bukanlah Zavier. Gadis itu sudah mengenal dengan baik tulisan pesan dari pria tersebut. Karena, pada biasanya, Zavier akan menulis pesan yang mengandung kata menggelikan seperti 'baby'.
Datang saja, atau kau akan menyesal nanti.
Shella hanya menggelengkan kepalanya dengan tidak percaya.
__ADS_1
Apa!? Memangnya siapa dirimu yang bisa membuatku menyesal?
Namun, sepertinya Shella langsung menyesal setelah menulis pesan itu, karena di detik selanjutnya, balasan yang ia dapat darinya cukup mengerikan.
Tidak datang? Kalau begitu, itu berarti sebuah pertukaran yang sangat bagus. Aku akan mengambil nyawa Zavier sekarang.
Wajah Shella spontan berubah menjadi sepucat mayat. Tanpa sadar, jemari yang hendak mengetik balasan kepada orang itu langsung terhenti dan bergetar dengan hebatnya.
Siapa orang gila ini? Apakah hanya orang iseng yang mengganggunya?
Shella menatap dalam pesan itu, sebelum ia langsung memutuskan untuk segera memberitahukan hal ini kepada Zavier. Dan ternyata, bersamaan dengan itu, sebuah pesan balasan dari Zavier masuk.
Dewi fortuna sedang berada di pihaknya.
Shella membuka pesan dari Zavier dengan gerakan cepat, lalu membaca balasan tersebut.
Kenapa? Kau merindukanku?😗
Entah kenapa, Shella merasa harus segera memberitahukan hal ini kepada Zavier.
Zavier, ada seseorang dari nomor yang tidak dikenal baru saja mengirimkanku pesan. Dia mengancamku akan membunuhmu jika aku tidak mendengar perintahnya. Apa yang harus kulakukan?
Shella yang baru saja hendak menekan tanda kirim itu terhenti kala sebuah telepon yang tiba-tiba saja masuk. Dan itu berasal dari nomor tidak dikenal.
Shella meneguk salivanya dengan susah dan terus menatap ke arah ponselnya itu. Tubuhnya menjadi sedikit menegang, sebelum akhirnya ia memutuskan untuk tidak menjawab telepon tersebut.
Shella menggigit bibir bawahnya dengan ketakutan yang amat tinggi. Jemarinya kemudian bergerak, hendak menekan tombol kirim itu, namun kembali berhenti saat sebuah pesan yang tiba-tiba saja masuk.
Beritahu Zavier, maka aku tidak akan segan-segan untuk langsung membunuh pria itu dari sini. Atau yang lebih memungkinkan lagi, aku akan mendobrak paksa pintu rumahmu sekarang. Jadi, pilih mana? Ikuti perintahku, atau aku akan membuatmu menyesal seumur hidup.
__ADS_1
Shella spontan menghentikan gerakannya, membuat jemarinya hanya berjarak beberapa senti saja dari tanda kirim itu. Salah sedikit saja, maka sudah dipastikan ia telah mengorbankan sesuatu.
Shella meringkuk di atas kasurnya. Hatinya bimbang untuk segera memberitahukan Zavier tentang hal ini atau tidak. Karena, ia hanya perlu menggerakan jemarinya beberapa senti lagi untuk menuju ke tanda kirim itu. Dan, saat ini juga, Gadis itu harus segera memutuskan untuk menekannya atau tidak.
Ingat, salah bergerak sedikit saja, nyawa Zavier akan berada di ujung tanduk. Aku hanya perlu mengarahkan moncong pistolku dari sini ke arah pria itu, dan tamatlah riwayatnya.
Shella dapat merasakan seluruh tubuhnya bergetar takut, lalu akhirnya ia berusaha mencoba untuk tenang dan membalas pesan itu.
Jangan membohongiku. Kau tidak mungkin tahu dimana Zavier berada!
Send.
Dan tak butuh waktu yang lama, Shella langsung mendapatkan balasan dengan cepat.
Apa yang tidak aku tahu, girl? Zavier sedang berada di dalam sebuah apartemen dan aku hanya perlu menembaknya dari sisi gedung yang lain. Ya, nyaris sama dengan kejadian tadi pagi. Tapi, saat itu, aku hanya menyuruh anak buahku untuk menakut-nakuti kalian.
Bulu kuduk Shella semakin merinding ketika orang itu langsung mengirimkan sebuah foto padanya. Foto yang sepertinya di ambil dari sisi gedung yang lain dan Zavier berada di dalam kamar apartemen yang di maksud. Namun, tunggu... ada orang yang dikenalnya juga di dalam sana.
Untuk apa Aron di dalam apartemen itu?
Dia berada di dalam apartemen Aron, mantan pacarmu yang menyedihkan itu. Ah, atau aku menembak mereka berdua saja?
***
Seorang pria tengah menyeringai dan menatap tajam ke arah ponsel yang berada di depannya. Ia terkekeh jahat, membuat perempuan yang berada di belakangnya melihatnya dengan alis yang terangkat.
"Kau yakin ancamanmu akan berhasil?" tanya perempuan itu dan menyipitkan matanya. Angin yang berhembus kencang di atas gedung membuat beberapa anak helai rambut coklat itu bergoyang-goyang.
Pria itu menoleh, lalu tersenyum manis dan menyesap perlahan bir kaleng miliknya. "Kau bisa mempercayaiku, honey. Dan, lagipula, aku memang tidak bermain-main dengan ancamanku. Aku sudah menyuruh beberapa anak buahku untuk berjaga di sisi gedung apartemen itu."
__ADS_1
Perempuan tersebut hanya tersenyum, sebelum ia bergerak mengecup pipi pria itu dengan penuh cinta. "Aku mempercayaimu. Tapi, sebaiknya kita turun sekarang, sebelum perempuan yang dicintai sepenuh hati oleh Zavier tiba terlebih dahulu di rumah itu."