
Shella menarik napas sejenak, lalu menghembuskannya secara perlahan. Jantungnya berdegup tidak karuan, sementara di sisi lain, keringat dingin mulai bercucuran dengan keras saat pisau kecil itu menari-nari di sekitar lehernya.
Bibir bawahnya digigit keras, berusaha menyalurkan seluruh rasa takut yang menggerogoti dirinya.
Mata birunya kemudian dipejam sejenak ketika merasakan pria itu menarik tubuhnya secara paksa hingga menyisahkan beberapa lembam dan luka-luka kecil di sekitar tubuhnya.
Gadis itu meringis sakit, apalagi sesaat setelahnya ia dapat merasakan tubuh tidak bersalahnya di banting ke batang pohon yang berada di dekatnya. Nyeri di kakinya semakin terasa ketika ia tanpa sengaja terpeleset akibat ranting yang timbul di tanah tadi.
Pelupuk mata Shella mulai terasa panas dan jika ia mengerjap sekali saja, setitik air mata pasti akan mengalir membasahi pipi mulusnya. Mata biru itu menatap takut ke arah Franklin.
Ingin rasanya Shella menjerit minta tolong, namun lidahnya terlalu kelu dan kaku untuk berniat mengeluarkan suara.
"Menjerit, maka kau berarti ingin bermain-main dengan pisauku ini," ujar Franklin dengan dingin, sebelum ia memutar benda tajam itu di depan Shella. Ia tersenyum mencemooh.
Dilanda dengan ketakutan yang amat dalam, Shella hanya terdiam seraya menggerakkan kedua tangannya yang diikat ke belakang. Punggungnya disandarkan ke batang pohon, berharap bahwa Zavier atau siapapun itu datang menolongnya sekarang juga.
Beberapa waktu yang lalu, setelah ia berhasil membuat para penjaga itu kebingungan mencari jejak kakinya, Shella memutuskan untuk berhenti sebentar di salah satu pohon yang berada di dekatnya. Gerombolan orang jahat tadi sudah berhasil dipecahkannya hingga ke mana-mana.
Namun, sialnya, baru sekitar beberapa detik Shella beristirahat dengan mata yang tertutup, seorang manusia yang kurang ajar tiba-tiba menabrak tubuhnya hingga oleng terjatuh ke lantai. Shella tentu saja meringis, apalagi kedua mata birunya langsung membola begitu melihat siapa pelaku tadi.
Franklin.
Saat itu, Shella ketakutan bukan main. Kedua kakinya yang terasa nyeri akibat berlari beberapa kilometer kembali dipaksa untuk berkayuh.
Tapi, pria itu dengan cepat menyadari apa yang akan ia perbuat, karena Franklin yang tanpa memiliki belas kasihan sedikit pun langsung mengeluarkan sebuah pisau kecil dari saku celana dan menusukkannya ke betis Shella dengan cepat.
Gadis itu spontan terjatuh ke tanah dengan kepala yang terantuk ke tanah. Ia mengerang, berusaha untuk tidak terlalu peduli dengan rasa sakit dan pusing yang tiba-tiba mendera dirinya.
Shella berusaha untuk bangkit, tapi Franklin malah menarik rambutnya ke arah belakang dan kembali menusukkan benda tajam itu ke sebelah pahanya lagi.
Sakit. Rasa mengerikan itu dirasakan di tubuh bagian bawahnya. Luka besar terpampang jelas di kedua kakinya, sementara darah segar terus mengalir tanpa henti, seakan-akan sedang mengejek dirinya yang lemah.
Namun, tidak ada setitik pun air mata yang berhasil mengalir dari kedua matanya. Shella saat itu hanya meringis, apalagi Franklin dengan kasar menarik kedua tangannya ke belakang punggung untuk diikat dengan sebuah tali. Simpul acak-acakkan yang Shella tidak tahu bagaimana pria itu mengikatnya.
__ADS_1
"Aku benci untuk mengatakan ini, tapi aku benar-benar sedikit salut dengan pemikiran cerdas Zavier. Heh, dia pacarmu, bukan?" tanya Franklin, sebelum ia sedikit mendekatkan wajahnya ke arah Shella yang tampak terengah-engah dengan hebatnya.
Kemudian, bulu kuduk gadis itu merinding tidak karuan ketika Franklin mengambil beberapa helai anak rambutnya dan menyelipkannya ke belakang, sebelum menusukkan benda tajam itu lagi ke tempat yang berbeda, yaitu ke arah lengannya.
Shella spontan mengerang. Air matanya yang selama ini ia tahan akhirnya tumpah, bersamaan dengan darah segar yang mengalir lengannya. Franklin hanya menyeringai, kemudian mencabut pisau itu dengan kuat.
Shella sesugukan. Ia mengerjapkan matanya ketika merasakan rasa pening itu kembali melandanya, sebelum gadis itu terjatuh di atas tanah begitu saja. Rasa sakit yang melebih segalanya itu membuat Shella semakin jatuh lemah tak berdaya.
"Hen--hentikan," tukas Shella dan mengerang nyeri. Udara dingin yang lewat membuat luka di kulitnya semakin terasa sakit.
Yang dimohon hanya tersenyum meremehkan. "Kau pikir kau siapa? Beraninya kau memerintahku seperti itu?"
Dengan tenaga yang nyaris habis, Shella menangis keras. Napasnya tersendat-sendat dengan air mata yang tak hentinya mengalir. Kenapa tidak ada satupun orang yang menolongnya?
Shella menunduk, meratapi tanah yang berada di bawahnya. Lalu, tiba-tiba saja simpul tali yang diikatkan di kedua tangannya berhasil di lepaskan. Gadis itu sedikit terbelalak, menyadari bahwa ternyata Franklin sudah cukup ceroboh untuk mengikatnya tadi.
Shella kemudian dapat merasakan kepalanya diangkat oleh Franklin dengan paksa, lalu disusul dengan tamparan yang amat keras mendarat di wajahnya hingga membuatnya harus terpaling ke kiri. Ia kembali berdesis sakit.
"Aku tahu semua rencanaku gagal. Tapi, aku tidak akan menyerah begitu saja. Aku akan membuat Zavier terjatuh hingga ke pelosok lubang yang amat dalam, yaitu dengan cara menghunus jantungmu dengan menggunakan benda tajam kesayanganku ini," kekeh Franklin.
Pria gila itu lalu mengangkat pisau kecil yang berada di genggamannya seraya menyeringai keji di atas Shella, sebelum kemudian mengarahkan benda itu tepat di samping leher Shella dengan cepat. Jika saja Franklin bergerak ke arah samping sedikit saja, maka bisa dipastikan nadi leher milik gadis itu langsung terputus dan meninggal di tempat.
"Any last word?" bisik Franklin dengan nada suara yang mengecil. Ia menatap lurus ke arah mata Shella yang tampak hanya menatapnya dengan penuh benci.
**** off...
Lama menunggu, Franklin akhirnya melengos. "Tidak ada? Maka, baiklah."
Pisau tajam itu bergerak mendekati kulit mulus milik Shella, namun anehnya, gadis itu hanya terdiam dan membisu, seakan-akan ia sama sekali tidak peduli dengan apa yang sedang pria itu perbuat.
Salah satu alis Franklin terangkat heran. Dan tanpa membuang-buang waktu lagi, ia segera melaksanakan aksinya. Pria itu telah berpikiran bahwa Shella mungkin telah pasrah hingga dia tidak berniat untuk mengatakan apapun lagi.
"Berhenti. Ada sesuatu yang ingin kukatakan," ujar Shella tiba-tiba, membuat Franklin otomatis membatalkan niatnya untuk sementara. Matanya menatap mengejek ke arah Shella.
__ADS_1
"Katakanlah," seru Franklin dan menyeringai.
Wajah gadis itu tampak menoleh kaku ke arah Franklin, sementara mata birunya berkilat penuh benci. "I am gonna kill you!" Suara Shella nyaris tidak bisa didengar oleh pria itu dan sebelum Franklin menyadari apa maksudnya, gadis itu langsung menodongnya dengan sebuah pistol yang sebenarnya sudah ia sembunyikan sejak tadi.
Tanpa membuang-buang waktu lagi, untuk yang kedua kalinya, Shella menekan pelatuk itu dan nyaris menembus tepat ke jantung Franklin, namun terpeleset beberapa senti dari sasarannya.
Setelahnya, Shella langsung menjatuhkan pistol yang dipegangnya ke tanah, tergagap dengan apa yang ia perbuat sendiri. Gadis itu memundurkan tubuhnya ke belakang, berusaha menjauhi diri dari Franklin.
Sungguh, ia sangat takut sekarang.
Darah segar dari kedua kakinya berjatuhan di atas tanah saat Shella berusaha untuk berdiri tegap, berniat untuk kabur kalau saja Franklin tidak membuka suara.
"Kau tahu--" Franklin menghentikan ucapannya saat sesak di dadanya semakin menjadi-jadi. Ia menggunakan sebelah tangannya untuk menutupi bagian dadanya yang mulai mengeluarkan darah segar, lalu menatap ke arah Shella dengan tatapan nanar.
Bahkan dalam keadaan yang menyiksa seperti ini, pria itu masih sempat-sempatnya terkekeh gila di hadapan Shella. Tangannya yang sudah dilumuri dengan darahnya sendiri bergerak dan berusaha memegang gadis itu, namun berhasil ditepis oleh Shella dengan takut.
"Aku membenci kalian semua. Aku ingin sekali membunuh kalian," jerit Franklin di sisa-sisa tenaganya yang tersisa. Ia merosot ke tanah dengan kedua bahu yang bergetar hebat menahan rasa sakit.
Uhukk... uhukk...
Franklin tiba-tiba terbatuk hebat dengan sebelah tangan yang meremas pakaiannya sendiri, mengeluarkan banyak darah dari mulutnya. Pria itu kemudian menatap penuh benci ke arah Shella, lalu dengan tangan yang gemetar, ia meraih pistol yang dibuang oleh gadis itu tadi, kemudian diarahkannya ke arah Shella.
Dor...
Sepersekian detik setelahnya, suara peluru yang ditembakkan ke arah Shella terdengar. Gadis itu spontan terhuyung ke belakang karena rasa sakit yang mulai mendera di kepalanya, lalu merintih sakit karena tubuhnya terantuk batang pohon.
Kedua matanya berkunang-kunang dan samar-samar, Shella dapat melihat Franklin sendiri terjatuh di atas tanah serta melepaskan pistol itu tadi.
Kemudian, tak sampai sedetik, rasa panas itu menjalar dengan cepat di seluruh tubuh Shella, seakan-akan hal tersebut telah berhasil mematikan seluruh sarafnya. Napasnya melemah, jantungnya berdebar tidak karuan, darah segarnya mengalir mengotori tempatnya sendiri.
Mulutnya menyunggingkan senyuman miris, sementara pandangannya mulai menggelap. Tangannya yang tadinya sedang memegang lukanya sendiri akhirnya terjatuh dan terkulai lemah di atas tanah, sebelum suara yang tidak asing itu memasuki indera pendengarannya.
"Shella!" Suara itu terdengar gusar dan panik, hingga pada akhirnya, kegelapan itu menghalangi seluruh pandangannya yang berkunang-kunang. Mata birunya akhirnya terpejam sempurna, tidak lagi menyadari suara derap langkah kaki milik beberapa orang. Apa yang ia lihat hanyalah, warna hitam.
__ADS_1
Kegelapan yang ia tidak tahu sampai kapan ini akan berakhir sempurna. Apakah selamanya, atau beberapa saat saja?