
07:30 PM
Mata coklat milik Zavier kembali melirik ke arah adiknya yang sedang duduk termangu di sampingnya dengan mata yang menatap kosong ke arah luar kaca. Zaviera tampak mendesah pelan selama beberapa kali semenjak mereka pulang dari kuburan, seakan-akan gadis itu sedang ditimpa oleh masalah yang berat.
"Kenapa?" Dengan pandangan yang masih terfokus pada jalanan, Zavier akhirnya bertanya setelah keheningan yang cukup lama tercipta di dalam mobil.
Yang ditanya hanya menggeleng pelan. "Aku merasa takut dengan Shella."
"Kenapa?" tanya Zavier lagi, membuat Zaviera langsung berdecak kesal.
"Aku tanpa sengaja membunuh adiknya yang ternyata juga memiliki nama yang sama denganku," serunya tanpa melirik ke arah Zavier.
Pria itu hanya terkekeh pelan. "Kenapa kau terus mengingatnya? Yah, walaupun kau tidak sengaja melakukan hal itu, aku juga merasa gugup saat berada di depan Shella. Tapi, tidak apa-apa, gadisku juga tidak membencimu, kok."
Di detik selanjutnya, sebelah tangan Zavier terlepas dari setir dan bergerak mengacak-acak rambut Zaviera hingga berantakan.
Perempuan itu berdesis jengkel. "KAKAK!!"
Zavier menyemburkan tawanya dan spontan melirik ke arah Zaviera. "Jangan marah adikku yang lucu."
Perempuan itu mengernyitkan dahinya dengan jengkel. Mata coklatnya menatap kesal ke arah Zavier yang tampak terus tertawa. "Diam!" desisnya pelan.
"Bagaimana bisa Andrew menyukai perempuan galak sepertimu, ya?" Tanpa mendengarkan ucapan Zaviera, Zavier malah bertanya dan berhasil memancing emosi perempuan itu hingga sampai ke puncak.
"AKU AKAN MENYURUH SHELLA UNTUK MEMUTUSKANMU!!"
***
Suara bising yang berasal dari luar kamar membuat seorang gadis yang sedang membaca buku di atas ranjang merasa terganggu. Ia menutup bukunya seraya menahan kesal. Kedua telinganya menajam tanpa sadar, berniat untuk mencari tahu siapa sebenarnya orang sialan itu.
"Shh... Zaviera, ini rumah sakit. Bukan taman bermain."
"DIAMLAH!!"
"Aish... suaramu!"
"TIDAK PEDULI!"
Senyuman tipis tiba-tiba mengembang di wajahnya setelah menyadari siapa pemilik kedua suara itu. Ia berdeham, kemudian menggelengkan kepalanya seraya mengulum senyum, merasa takjub dengan segala kelakuan dari Zaviera.
Wow, bahkan suara gadis itu bisa didengarnya hingga sampai di dalam kamar pasien.
"AKU AKAN MELAPOR KE ANDREW!!"
"Zaviera!"
Suara itu terdengar semakin dekat hingga di depan pintu kamarnya, membuat gadis itu tanpa sadar merapikan ranjangnya dan menaruh buku novel ke atas laci terdekat. Ia lalu menyandarkan punggungnya ke kepala ranjang.
Pintu tiba-tiba terbuka, menampilkan kedua orang yang dikenalnya itu. Zavier dan Zaviera sama-sama masuk, sementara ia hanya sedikit terkekeh melihat wajah masam yang ditampilkan oleh gadis itu.
Namun di detik selanjutnya, senyuman yang ditampilkan di wajah Shella tadi langsung berubah menjadi datar. Ia spontan menampilkan sorot mata yang dingin.
"Kenapa terlambat?" Ia melipat kedua tangannya di depan dada, lalu menatap ke arah Zavier dengan tatapan yang cukup mengerikan.
__ADS_1
Tubuh pria itu menegang seketika, sebelum menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. Zavier bergerak meletakkan keranjang buah-buahan di atas laci, lalu menatap ke arah Shella. Kedua mata coklatnya berubah menjadi sayu.
"Kita pergi mengunjungi makam adikmu tadi sebelum datang ke sini," jelas Zavier dan mendekatkan diri ke arah ranjang Shella. Gadis itu masih memakai pakaian pasien, mengingat kedua kakinya belum sembuh.
Dah ah, mengenai tembakan dari Franklin, pria itu sedikit bodoh karena tembakannya sama sekali tidak mengenai Shella.
Sebelah alis milik Shella terangkat penuh penasaran. "Zaviera?"
"Ya?" Zaviera yang sedang berdiri di belakang langsung bertanya.
"Eh-- maksudku, kenapa kalian mengunjungi makam adikku, Zaviera?" ralat Shella dan tersenyum ke arah Zaviera, sebelum wajahnya kembali berubah menjadi dingin saat ia beralih menatap Zavier.
Oh, dan mengenai nama adik Shella dan adik Zavier, dulu Clayton dan William pernah berperang hanya karena nama itu. Sebenarnya, William-lah orang pertama yang menemukan nama Zaviera, namun Clayton malah mengambil nama itu tanpa permisi dan tanpa izin dari William terlebih dahulu. Sialan!!
"Yah, hanya mengunjungi," sahut Zavier dan mengedikkan dagunya ke arah Zaviera. "Dia yang meminta."
Mata biru milik Shella melirik ke arah Zaviera yang tampak semakin memundurkan diri ke arah belakang. Gadis itu menyunggingkan senyuman tipis, tahu bahwa Zaviera sedang merasa takut dengannya. "Terima kasih. Asal kau tahu, aku telah menganggapmu sebagai kakakku."
Senyuman milik Shella semakin mengembang begitu Zaviera menegang. Ih...
Kedua mata coklat Zaviera sedikit membesar, terlalu terkejut dengan perkataan Shella. Senyuman cantik sontak terbit di wajahnya.
Sementara itu, Zavier yang berada di sampingnya hanya berdecak sebal. "Zaviera, kau terlalu menganggu. Bolehkah kau keluar terlebih dahulu? Aku masih memiliki urusan dengan pacarku," tukasnya, membuat senyuman adiknya langsung terbenam begitu saja dengan wajah yang berubah menjadi masam.
Zaviera kemudian melirik ke arah Shella, sebelum akhirnya gadis itu beranjak pergi dari tempatnya berdiri. Yah, sayang sekali... sepertinya mereka berdua memang memiliki urusan yang belum terselesaikan.
Lalu, pintu kamar tertutup, bersamaan dengan Zavier yang menatap ke arah Shella. Pria itu berjalan cepat ke arah pacarnya, hendak membawanya ke dalam dekapan, namun Shella malah menepisnya kasar.
"Tapi kau tetap terlambat dan aku tidak suka itu," rengut Shella dengan wajah yang datar, menatap ke arah Zavier dari atas hingga bawah.
Shella mengulum senyumannya diam-diam, namun dengan raut wajah yang tidak berubah sedikit pun. Ia kemudian memajukan bibirnya cemberut.
"Cium," pinta Shella dan menunjuk ke arah bibirnya sendiri, membuat Zavier sedikit kebingungan. Okay, jujur saja, Shella tidak pernah seperti ini.
"Apa?" tanya pria itu memastikan.
Shella memutar kedua bola matanya dengan malas. "Bodoh! Aku tidak mau lagi!" sungutnya, lalu membaringkan tubuh mungilnya ke atas tempat tidur.
Tapi, baru saja ia hendak mengatur posisi tidurnya yang nyaman, sebuah tarikan dari arah samping membuat Shella spontan terkesiap.
"Zavier! Apa yang kau--"
Suara Shella direndam oleh bibir Zavier yang menempel di bibirnya, membuat gadis itu terbelalak hebat. Degup jantungnya berdetak tidak karuan tanpa ia cegah.
"Kau bilang ingin ciuman," ujar Zavier di sela-sela ciumannya. Telapak tangannya yang besar menangkup seluruh wajah milik Shella. "Maka, dengan senang hati aku akan memberikannya ke pacarku."
Ya, perkenalkan, Shella adalah pacar resmi Zavier. Mereka mulai berpacaran sejak satu minggu yang lalu. Walau dirinya masih belum sembuh total dan sedang menginap di rumah sakit yang sekarang sudah milik Zavier, pria itu setiap hari mengunjunginya sebelum berangkat kerja dan setelah sepulang kerja. Well, setiap hari tanpa absen sedikit pun.
Sebenarnya, Shella telah mengetahui segalanya tentang kembaran Zavier. Pria itu yang menjelaskan semuanya itu sendiri tanpa ada satupun yang terlewat.
"I love you," ungkap Zavier dan melepaskan ciuman panasnya sejenak. Matanya menatap sayu ke arah mata milik Shella, sementara napas mereka terengah-engah dan saling menerpa wajah lawan masing-masing, seakan-seakan mereka baru saja melakukan hal yang sangat hebat.
Wajah Shella merona, menatap Zavier yang entah kenapa terlihat semakin tampan. Yah, tidak bisa dipungkiri jika Shella semakin jatuh cinta terhadap laki-laki itu setiap detiknya.
__ADS_1
"I love you too."
Zavier tampak tersenyum lembut, sebelum ia kembali menarik Shella ke dalam ciuman memabukkannya. Bibir merah merekah itu, mungkin akan menjadi candunya seumur hidup.
Dengan ragu-ragu, Shella mengalungkan kedua tangannya ke leher Zavier, lalu membalas ******* bibirnya.
Zavier, adalah nama pria yang berhasil membuat Shella untuk jatuh hati yang pertama kalinya. Mungkin mereka berdua adalah pasangan yang cukup aneh dan unik, namun, itulah ciri khas mereka.
Dan, mengenai Aron, Shella meminta maaf kepadanya karena telah berprasangka buruk terlebih dahulu. Ternyata, gadis yang ia pikir adalah selingkuhan Aron ternyata saudara dari pria itu sendiri. Bayangkan saja, hal itu sungguh memalukan.
Tapi, walaupun begitu, Shella tidak berniat untuk kembali kepada Aron lagi. Sebab, hatinya sudah berlabuh untuk Zavier, sang pria yang selalu dipenuhi dengan misterius.
Mungkinkah misterius dan sikap ******** Zavier yang membuat Shella jatuh cinta? Mungkin saja! Aneh? Sepertinya tidak.
Semuanya berjalan dengan cepat dan lancar. Aron pergi ke New York, yang katanya ia berniat untuk mundur diri sebagai anak buah Clayton dan mencari pekerjaan yang lain. Aron juga berkata bahwa ia ingin sekaligus melupakan cinta pertamanya dan mencari jodoh yang lain.
Apa Shella kejam karena telah menelantarkan Aron? Sepertinya tidak. Mungkin saja Shella bukan jodoh Aron.
"Kau tahu kenapa aku bisa jatuh cinta padamu?" Zavier melepaskan ciumannya dan sedikit terengah-engah, menatap Shella yang berantakan akibat perbuatannya.
Shella menggeleng polos. "Tidak. Kenapa?"
Zavier tampak tersenyum penuh arti, kemudian memandangi tubuh Shella yang memakai pakaian pasien. "Aku suka dengan tubuhmu yang begitu menggoda dan memiliki kulit yang mulus. Lagipula, aku sudah sangat tidak sabar untuk segera mencicipinya--"
Shella melongo dan spontan memberengut. Sebelah tangannya langsung bergerak memukul kepala Zavier bagian belakang. "Hei, mesum!"
Zavier mengaduh sesaat, sebelum sebuah senyuman miring tercipta di wajahnya. Shella mendesah pelan. Mulai lagi... itu adalah salah satu senyuman yang paling tidak disukai oleh Shella.
"Kau adalah satu-satunya perempuan di dunia ini yang mampu untuk membuatku jantungan, bulu kudukku merinding, dan yang lebih tepatnya lagi, bertekuk lutut di depanmu. Serta--"
Ucapan Zavier terhenti kala pria itu beranjak dari tempatnya dan menaiki ranjang Shella. Ia membaringkan gadis itu tanpa permisi ke atas ranjang, sementara dirinya berada di atas Shella. Mata coklatnya terpaku pada bibir tipis milik Shella. "--bibir ini milikku."
Pipi gadis itu spontan memanas. Tidak masuk akal!
"Ini salahmu karena meminta ciuman padaku, karena aku tidak akan pernah berhenti sampai aku merasa puas."
Zavier menangkup seluruh kepala Shella, lalu mendaratkan bibirnya lagi ke bibir merah itu. Kedua kakinya menopang berat badannya agar tidak memberikan beban berat kepada Shella.
Sementara itu, gadis tersebut hanya tersenyum dan kembali mengalungkan kedua tangannya ke leher Zavier.
Inilah pacarnya. Inilah hidupnya. Dan inilah perjalanannya bersama orang yang dicintainya ini. Sebuah hubungan mungkin tidak bisa selalu berjalan mulus seperti yang dibayangkan, karena pasti ada beberapa batu kerikil yang membuatmu tersandung.
But, I will always be patient and pass it along with my love. Yes, my name is Shella, a girl who has fallen in love with Zavier.
This is the new page of my life that I'm going to share with my Zavier. New love, new journey.
As you all know, he is the part of my life.
He is my love.
He is the owner of my heart.
And, the most important of all ...
__ADS_1
He is, My Dangerous Boy.