
Entah kenapa, Shella merasa ada firasat buruk yang mulai menggentayangi dirinya, hingga tiba-tiba saja, ia langsung membelalakan matanya dan tergagap di tempat. Bagaimana bisa? Holly crap!!
'Berencana untuk kabur, girl?' Begitulah kalimat yang dilontarkan oleh Andrew.
"Sebentar, aku akan membuka lakbanmu, Shella," ujar Lina dan bergerak mendekati Shella.
Dengan hati-hati, gadis itu membuka lakban hitam tersebut, sebelum beberapa detik kemudian, benda itu akhirnya terlepas dari mulut Shella.
"Feel better?" tanya Lina, namun Shella hanya menatap gugup ke arah Andrew tanpa mengalihkan pandangannya. Ia tidak mendengar pertanyaan Lina karena pikirannya mulai berkecambuk dengan hebat saat ini. Digenggamnya peniti itu dengan erat, lalu menarik napas panjang. Apa pria itu sudah tahu?
Lina mengerutkan dahinya saat Shella tidak menjawab pertanyaannya, sehingga ia akhirnya memutuskan untuk mengikuti arah pandang Shella. "Kenapa kau terus menatap ke arah Andrew?"
Pertanyaan Lina sontak membuat Shella mengerjap sesaat, sebelum menggigit bibir bawahnya guna menahan rasa cemasnya yang membludak keluar. "Y--ya?"
Dan, ia baru sadar jika lakban yang ditempelkan di mulutnya sudah dilepaskan.
"Ada apa dengan Andrew? Kurasa kau terus melihatnya dari tadi," ujar Lina dengan dahi yang masih berkerut. Mata coklatnya beralih menatap wajah pria yang berada di sampingnya, lalu balik menatap ke arah Shella.
"Ti--tidak, aku--"
"Mungkin dia terkejut melihatku yang tampan dan tebar pesona seperti ini," ujar Andrew dan menyeringai samar ke arah Shella, membuat gadis itu tiba-tiba merasa bingung. Tu--tunggu, apa maksudnya?
Shella melirik heran ke arah Andrew, sebelum kembali mengalihkan pandangannya ke arah Lina.
"Yang benar? Tidak boleh, kau harus melewati mayatku dulu jika kau ingin mengambilnya dariku," seru Lina, lalu merangkul leher Andrew dengan posesif, membuat pria itu hanya terkekeh geli dan bergerak merangkul pinggang Lina.
"Apa aku lebih tampan dari Zavier?" tanya Andrew dengan percaya dirinya, sebelum ia menatap tajam ke arah kepalan tangan Shella yang berada di belakang.
__ADS_1
Menyadari hal itu, Shella sontak semakin mengeratkan tangannya, berusaha menyembunyikan peniti itu dari jangkauan mata Andrew. "Tidak!" sahutnya tanpa sadar.
Andrew dan Lina sama-sama mengangkat alis.
"Kau benar-benar mencintainya? Uh, aku ikut bersedih karena kita sedang membutuhkan Zavier saat ini. Kau tahu, ayahku sangat membencinya dan entah pembalasan dendam apa yang ingin ia lakukan ke Zavier nanti,"
celoteh Lina dengan cerewetnya, bahkan tampaknya gadis itu masih tidak berusaha untuk menghentikan kalimatnya itu.
"Aku akan memberitahumu sesuatu. Kau mau mendengarnya Shella?" tanya Lina dan tersenyum manis.
Seakan-akan telah terhipnotis, Shella menganggukkan kepalanya tanpa ragu. Great, sebenarnya ia juga sudah penasaran dengan hal ini.
"Sebenarnya, Zavier adalah seorang ketua mafia yang lumayan terkenal. Ia menyukaimu dan yah, kau adalah satu-satunya kelemahan yang ia miliki. Ayahku, Franklin, dulunya juga merupakan ketua mafia yang terkenal, sama seperti Zavier. Tapi, aku tidak tahu kenapa, ayah Zavier tidak menyukai ayahku, sehingga ayah Zavier memutuskan untuk menghancurkan Franklin hingga ke akarnya," jelas Lina tanpa ragu. Ia menjelaskan semuanya tanpa sedikit pun kata yang tertinggal.
Shella dapat melihat cengkraman tangan kekar milik Andrew di pinggang Lina semakin erat, sepertinya berusaha untuk menghentikan ocehan dari Lina. Tapi, gadis itu terlihat sengaja menghiraukannya atau mungkin sedang berpura-pura tidak tahu.
Mendengar itu, Shella hanya menyatukan kedua alisnya dengan heran. Tidak bisa dipungkiri jika ia sudah terlalu bingung dengan semua ini. Clayton, ayahnya Zavier? Franklin? Mafia?
Pikirannya terasa seperti akan pecah saat itu juga. Terlalu banyak informasi yang ia dapatkan dalam sekejap membuat Shella harus merasakan rasa pusing yang sedikit mendera.
"Kau terlihat seperti tidak mengetahui apa-apa, Shella," ujar Andrew yang sedari tadi sebenarnya sudah sangat gemas dengan tingkat kecerewetan Lina. Pria itu tampak menatap ke arah Shella dengan senyuman miringnya.
Lina mengerjap sesaat. "Yah, setidaknya kau harus mengetahui informasi tadi. Sebenarnya aku suka sekali menyiksa orang, apalagi mengetahui bahwa kau adalah kelemahan Zavier. Tapi, aku merasa enggan untuk merusak wajah cantikmu," ucapnya dan tersenyum penuh binar, tidak menyadari bahwa raut wajah Shella berubah menjadi pucat pasi.
Tiba-tiba saja, pintu ruangan terbuka, membuat mereka secara bersamaan menoleh ke arah depan.
"Lina!" panggil seseorang dari ambang pintu, membuat gadis itu segera berdiri dari tempat duduknya.
__ADS_1
"Ya, Dad? Ada masalah apa?" tanyanya, membuat Shella langsung tahu bahwa itu adalah Franklin yang diceritakan oleh Lina tadi.
"Mereka datang. Bisakah kau mengurusinya?" sahut orang itu seraya melirik tajam ke arah Shella.
Mereka? Jangan-jangan itu adalah Zavier? Tapi, bukankah kata 'mereka' itu memiliki maksud lebih dari satu orang?
Shella dapat melihat Lina yang menganggukkan kepalanya dengan cepat. "Oh, tentu bisa. Tolong siapkan masker hitamku dan anak buahku."
Setelahnya, Lina kemudian memutuskan pandangannya dari Franklin dan beralih menatap ke arah Shella. Ia tersenyum licik ke arahnya. "Zavier dan Aronmu datang untuk menyelamatkanmu. Tapi, tenang. Aku tidak ingin menghabisi mereka, karena apa yang kuinginkan adalah mempermainkan dirimu nanti, Shella."
Sejenak, Shella merasa ruangan ini menjadi tegang sesaat, apalagi tatapan penuh kilatan marah itu menatap ke arahnya. Gadis itu dapat merasakan tubuhnya membeku hingga lidahnya menjadi terasa kelu untuk membalas perkataan tersebut.
Zavier dan Aron datang menyelamatkannya? Apa ia sedang bermimpi? Tapi, kenapa pula ada Aron?
Setelah mengucapkan kalimat misterius itu, Lina langsung pergi keluar ruangan. Franklin hanya tersenyum, kemudian melirik ke arah Andrew. "Jaga dia."
Sepersekian detik setelahnya, tanpa menunggu sahutan dari Andrew, Franklin bergerak menutup pintu ruangan dan menguncinya dari luar, lalu menyusul langkah kaki Lina.
Setelahnya, Shella hanya tertegun sejenak, sebelum bergerak gelisah di tempatnya. Otaknya bekerja dengan keras, hingga ia merasa bahwa dirinya harus segera menyelamatkan diri. Tidak! Ia harus segera kabur dari ruangan ini!
"Easy, girl. Kau akan melukai dirimu sendiri," sahut Andrew dan tersenyum licik, membuat Shella meneguk salivanya dengan susah. Ia menoleh, lalu mendapati mata pria itu sedang menatap tajam ke arah kepalan tangannya yang berada di belakang.
Sial!!
Andrew tampak berdeham sesaat, lalu mendekati wajahnya ke telinga kiri milik Shella. Mata biru itu otomatis terpejam erat saat ia merasakan hembusan napas yang menggelitiknya, sebelum pria itu berbisik sesuatu di dalamnya.
"Wanna escape? Then, I will help you."
__ADS_1