My Dangerous Boy

My Dangerous Boy
Part 97 - The Kidnap


__ADS_3

Kegelapan itu menyita semua pandangan milik Shella. Rasa pusing itu begitu mendera saat ia berusaha untuk membuka mata. Mulutnya bergerak untuk berbicara, namun tidak ada sedikit pun suara yang ia keluarkan ataupun


terdengar.


Ia kenapa?


Shella menggerakkan tangannya, berusaha memegangi kepalanya yang terasa sangat pusing. Namun, gerakannya terhenti karena ada sesuatu yang dingin terlingkar di pergelangan tangannya, seakan-akan menahan Shella untuk jangan banyak bergerak di tempatnya ini.


Tu--tunggu...


Shella mengernyit, terlalu bingung dengan semua ini. Hingga samar-samar, kejadian-kejadian tadi mulai menyusup ke pikirannya dan membentuk sebuah ingatan, membuat Shella langsung bergerak gusar pada tempatnya.


"Jangan sampai mereka berhasil datang ke sini. Cegah mereka, tidak peduli apapun yang terjadi!"


Bentakan itu membuat Shella sedikit tersentak kaget pada tempatnya. Ia sontak mengerjap dan akhirnya Shella berhasil membuka matanya. Tapi, gadis itu langsung menyipitkan matanya ketika pandangannya bertemu dengan cahaya yang amat menyilaukan.


Aish...


"Sejak kapan pekerjaan kalian menjadi tidak becus seperti ini? Aku akan memecat kalian semua jika semua ini tidak berjalan lancar seperti yang kuharapkan!"


Melalui sudut matanya, Shella samar-samar dapat melihat ada seorang pria yang tengah bertelepon di ambang pintu depan. Sementara itu, di seluruh sudut ruangan ini terdapat beberapa pria bertubuh tegap yang berjaga.


"Kau sudah bangun?" tanya sebuah suara dari arah samping, dan itu sudah pasti jika orang itu sedang berbicara dengan Shella.

__ADS_1


Ia menolehkan kepalanya dengan sedikit susah. Entah kenapa seluruh saraf di lehernya menjadi terasa sangat kaku, seakan-akan Shella telah berada di dalam posisi yang salah selama berjam-jam.


Dahinya berkerut ketika dirinya menemukan seorang gadis yang tengah memandanginya dengan senyuman tipis, sementara ada juga seorang pria yang tengah merangkul bahu gadis tersebut.


Wajah mereka terlihat tidak asing. Dan, ia tahu jika kedua orang ini adalah orang yang ditemuinya saat berada di rumah kosong waktu itu.


"Hi, feel better?" tanya pria itu.


Nope...


Shella berusaha untuk berbicara, tapi sepertinya ada sesuatu yang menahan mulutnya untuk bergerak ataupun mengeluarkan suara. Di detik selanjutnya, ia langsung membelalakan matanya ketika menyadari bahwa ada sebuah lakban hitam yang ditempelkan di mulutnya.


Shella mulai mencerna apa yang sebenarnya sedang terjadi. Ia kemudian menggerakkan kakinya, namun apa yang ia dapat hanya beberapa besi dingin yang melingkar di kedua kakinya.


Damn it! Apa ia tengah diculik saat ini dan diikat di atas kursi?


"APA KAU BILANG?"


Bentakan yang cukup mengerikan itu membuat Shella kembali terlonjak kaget dan menoleh ke arah depan. Di sana, pria yang pertama kali ia lihat dari sudut mata tadi tampak sudah marah besar dengan sosok yang berada di seberang telepon.


"Tidak usah hiraukan dia. Ayahku memang sedikit pemarah," bisik gadis itu di sebelah telinga Shella, membuat bulu kuduk di belakang lehernya berdiri tegang.


Ia kembali menoleh ke arah samping dengan sebelah alis yang terangkat, menatap ke arah pria dan perempuan itu dengan tatapan bingung.

__ADS_1


Okay, tentu saja ia bingung. Shella tidak pernah melihat ada penculik yang begitu baik dengan orang yang diculiknya.


Ingin rasanya Shella berbicara dan mengeluarkan ucapannya, tapi lakban hitam ini terus mengunci seluruh suaranya.


"Jangan banyak bergerak. Aku janji akan melepaskanmu setelah kita berhasil membawa Zavier. Kau bisa pegang janjiku ini," seru gadis itu dengan tatapan yang serius, sebelum pria yang sedang merangkulnya itu berujar.


"Ya, setelah pekerjaan kita selesai, aku dan dia akan berpacaran seperti biasa," ujarnya, membuat gadis di sebelahnya hanya merona merah.


What? Tidak, ini tidak masuk akal. Kenapa dengan Zavier? Apa pria itu memang memiliki musuh?


"Lina!" panggil sebuah suara, membuat mereka bertiga secara serempak menoleh ke asal suara. Shella hanya menyipitkan matanya saat melihat pria yang tadinya sedang bertelepon ternyata sudah selesai dan sekarang tengah menatap tajam ke arahnya.


"Ya?" tanya gadis itu. Oh, ternyata gadis di sebelahnya ini bernama Lina.


"Jaga dia baik-baik. Jika dia beraksi ingin kabur atau apapun itu, siksa dia langsung. Aku akan pergi keluar sebentar," ucap pria yang bertubuh gendut dan berjenggot itu dengan nada dingin, membuat Shella sedikit melirik ke arah samping. Gadis di sebelahnya tampak mengangguk patuh.


Ergh... apa dia benar-benar akan disiksa jika masih berusaha untuk kabur?


Setelah menyampaikan pesan itu, pria gemuk tersebut langsung pergi keluar, meninggalkan mereka bertiga bersama dengan keempat penjaga yang berjaga di setiap sudut ruangan.


"Huh! Padahal kau cantik Shella. Aku sebenarnya tidak ingin menyiksamu, tapi yah, mau bagaimana lagi," keluh gadis itu tiba-tiba. Nadanya terdengar penuh rasa penyesalan yang amat dalam.


"Kau jangan berusaha untuk kabur, atau wajah cantikmu yang akan menerima akibatnya," tambahnya lagi seraya melirik ke arah Shella dengan tatapan peringatan.

__ADS_1


Mendengar itu hanya membuat Shella bergidik ngeri di tempat duduknya.


Hell!!


__ADS_2