My Dangerous Boy

My Dangerous Boy
Part 78 - What Is Going On?


__ADS_3

Oh my god, kenapa dengan lelaki ini?


Shella menggelengkan kepalanya dengan pelan, kemudian menyantap pasta di depannya dengan cepat. Tak bisa dipungkiri jika ini merupakan makanan favoritnya.


Dan ia harus memakan makanan pasta ini dengan cepat, sehingga hal tersebut dapat memungkinkan dirinya untuk keluar dari apartemen Zavier sesegera mungkin.


Ah, ada juga satu hal yang dipikirkan oleh Shella sekarang ini. Memangnya apartemen ini adalah tempat yang romantis bagi Zavier? Well, hal tersebut tidak bisa dipercaya.


Padahal tadi Shella pikir Zavier akan mengajaknya ke restoran atau kafe terdekat, namun ternyata... ugh.


Ckckck.


Shella lalu menyendokkan pasta terakhirnya ke dalam mulut, sebelum melirik ke arah Zavier. God, ia masih tidak percaya jika dirinya bisa menghabiskan makanan ini dalam sekejap.


Namun, di detik selanjutnya, Shella dapat menangkap jika mata coklat yang kelam itu masih menatap ke arahnya, membuat dirinya spontan mendesah panjang.


Hmm... pria ini pandai memasak juga.


"Aku sudah selesai. Jadi, bisakah aku pulang sekarang?" tanya Shella dan mengunyah makanan terakhirnya.


"Tidak boleh," sahut Zavier dengan cepat. Pria itu langsung menatap tajam ke arah Shella dan menopang dagunya dengan sebelah tangan. "Kau tidak boleh keluar sampai aku memakan pasta ini selesai."


Nice answer...


Shella mencebikkan bibirnya kesal. "Tapi, aku sudah selesai!" pekiknya tidak terima seraya memajukan bibir bawahnya jengkel.


"Tapi aku belum selesai," sahut Zavier dengan santai, sebelum bergerak menyesap secangkir kopi yang dibuatnya tadi.


"Kau," geram Shella dan mulai mengepalkan kedua tangannya. "Aku mau pulang!"


"Sudah kukatakan tidak, baby."


Shella menggeram marah. "Kau tidak boleh memaksaku. Aku akan keluar sekarang!" pekiknya dengan cepat dan beranjak dari tempat duduknya, sebelum berjalan menuju ke pintu apartemen dan memutar knopnya. Melihat itu, Zavier hanya mengangkat kedua alisnya dan tersenyum tipis.


"Kau tidak bisa membukanya karena pintunya sudah dikunci," sahut Zavier dari dalam.

__ADS_1


Shella spontan membelalakan matanya. Ia melotot dan memutar knop itu beberapa kali, namun pintu ini tetap tidak bisa dibuka.


What the... sejak kapan pria itu menguncinya? Shella tidak menyadari hal ini.


No...


"Kau penjahat!" jerit Shella, lalu mencoba mendobrak pintu yang berada di depannya.


Please, semoga saja dewi fortuna sedang berada di pihaknya dan membuatnya berhasil menghancurkan pintu sialan ini.


"ZAVIER!" pekik Shella dengan keras, membuat pria tersebut hanya tersenyum geli melihat tingkah anehnya. "Buka pintu ini!"


"Tidak, sampai aku selesai makan," sahut Zavier dengan santai. Tangan kanannya kembali menyuap sesendok pasta ke dalam mulutnya dengan gerakan perlahan. Lalu, mulutnya bergerak mengunyah makanan di dalamnya dengan super lambat.


Sial, lelaki ini...


"Buka! Atau aku akan menggunakan cara kasar," ancam Shella, namun Zavier hanya menyahutinya degan mengedikkan bahu tidak peduli dan tetap mengunyah makanannya dengan lamban. Ia menatap ke arah Shella dengan tatapan 'silahkan, jika itu maumu'.


Pria ini tampak sangat tidak peduli dengan ancamannya.


"Sudah kukatakan tidak, baby," sahut Zavier tersenyum. Lalu dengan gerakan sengaja, ia mengunyah makanannya semakin lamban, seakan-akan dirinya sedang menikmati pasta tersebut. Padahal nyatanya, ia hanya menikmati keadaan Shella yang terlihat menderita.


"Aku bersumpah setelah aku keluar dari sini, kau akan terjatuh dari lantai 20 dan langsung mati di tempat," seru Shella, kemudian menendang kasar 'pintu kurang ajar' yang berada di depannya.


Zavier sedikit memiringkan kepalanya, sebelum menelan ludahnya dengan susah. "Kalau begitu, aku akan mengurungmu selamanya di dalam sini."


"ZAVIER!"


"Come on, baby," ujar Zavier, sebelum memutar kedua bola matanya dengan malas.


"Temani aku untuk sebentar saja," tambahnya, lalu memberikan tatapan puppy eyesnya ke arah Shella.


"Kau menculikku dan mengurungku di dalam sini! Tentu saja aku tidak mau!" pekik Shella lagi. Ia menatap ke arah Zavier dengan tatapan marah, lalu mendengus keras.


"Ugh, kalau begitu kau tidak perlu keluar lagi dari sini. Aku akan bersamamu di sini selamanya," sahut Zavier, kemudian mengedipkan sebelah matanya ke arah perempuan itu.

__ADS_1


"Kau penjahat!"


"Yes, I am,"


"Penjahat gila."


"Thank you."


"Aku mau keluar!"


"Sudah kukatakan tidak. Aku masih tidak mau meninggal karena terjatuh dari lantai 20."


"Karena itulah, sekarang keluarkan aku dari sini! ZAVIER!"


"Bukankah tadi kau sudah bersumpah jika kau keluar dari sini, aku akan meninggal? Tidak, aku akan mengurungmu selamanya di dalam sini."


Shella menggertakkan giginya sejenak. "Aku akan menarik sumpahku jika kau mengeluarkanku dari tempat sialan ini."


"Tidak. Kau pasti sudah menyumpahiku seumur hidup," sahut Zavier tak kalah. Ia menyipitkan matanya ke arah Shella dan menatap tajam ke arah perempuan tersebut.


"Aku benar-benar akan membunuhmu--"


Shella yang tadinya hendak kembali membantah langsung menjerit kaget begitu Zavier tiba-tiba meninggalkan tempatnya dan berlari ke arahnya, kemudian memeluknya hingga mereka berdua terjatuh ke lantai. Ia mengerjap sesaat, sebelum mereka berguling di lantai dan Shella berada di dalam dekapan pria tersebut. Tak lama kemudian, mereka akhirnya berakhir dengan Shella yang berada di posisi atas dada bidang pria itu.


"A--apa yang kau laku--"


Beberapa waktu kemudian, suara beling kaca yang pecah terdengar di seluruh penjuru apartemen, sebelum tiba-tiba Shella dapat merasakan sebuah gerakan karena Zavier membalikkan tubuh mungilnya ke bawah tubuh pria tersebut.


"Jangan bergerak," bisik pria itu di telinga kiri Shella seraya mengelus rambut lembutnya. Ia berdesis sesaat, sebelum menatap ke arah mata biru yang cantik tersebut.


Zavier menyukai kedua matanya.


Namun, bukannya mendengarkan perkataan Zavier, perempuan tersebut malah membulatkan matanya dengan lebar setelah menyadari sesuatu. Ia tergagap sembari bergerak khawatir di tempatnya.


"Zavier! Wajahmu berdarah!" pekik Shella dan spontan memegangi wajah Zavier.

__ADS_1


__ADS_2