My Dangerous Boy

My Dangerous Boy
Part 101 - Who The Hell Is He?


__ADS_3

"Simpan pistol itu karena kita mungkin akan menggunakannya nanti. Sekarang, kurasa kita harus mencari cara keluar dari sini terlebih dahulu sebelum aku ketahuan telah membebaskanmu."


Tanpa sadar, Shella menahan napasnya sejenak. Ia menatap bingung ke arah Andrew yang sepertinya sedang berusaha untuk menampilkan senyuman termanis yang ia miliki.


Wait a second...


Beberapa pertanyaan langsung berkecambuk hebat di dalam pikiran Shella. Dan itu adalah...


Siapa pria ini?


Kenapa dia menolongnya? Bukannya dia adalah salah satu orang yang menculiknya waktu itu?


Atau, jangan-jangan, pria ini mempunyai niat tertentu dengannya?


Dan, oh ya... jauh dari semua itu, ia juga memiliki pertanyaan yang khusus untuk si bodoh Zavier.


Mafia? Haha, si bodoh itu merupakan seorang mafia yang terkenal? Ck, bahkan langit akan terbalik saat ini juga.


Dan, untuk Aron... kenapa Zavier bisa bersama dengan pria tersebut?


"Simpan saja pertanyaan itu di dalam otakmu, lady. Kau terlalu kepo karena berusaha untuk mengetahui semuanya," ujar Andrew dan memutar kedua bola matanya dengan malas. Ia mencebik sesaat.


Mata Shella langsung sedikit terbelalak, menyadari bahwa pria di depannya ini sangat mengerikan. Tentu saja mengerikan karena pria ini bisa membaca seluruh pikirannya.

__ADS_1


"Capek deh, Shella," tambah Andrew lagi dengan mata yang berkilat malas.


"Apa? Apa maumu? Kau hanya berbuat taktik denganku, kan?" tuduh Shella dan kembali mengangkat pistolnya. Ia mengarahkan mulut pistolnya ke depan dada Andrew dengan mantap.


Pria itu terlihat kembali memberengut dan melipat kedua tangannya di depan dada. Matanya melirik ke arah pistol yang sedang digenggam oleh gadis itu, sebelum kembali menurunkan benda tersebut dengan sedikit memaksa.


"Ugh, kau hanya membuang-buang waktu yang sangat berharga ini. Sebaiknya kita sekarang kabur dan keluar dari sini, Shella," erang Andrew dan menatap ke arah gadis itu dengan tatapan yang semakin gemas.


"Tidak mau," bantah Shella dan kembali menggerakkan pistolnya ke posisi semula, yaitu mengarahkan mulut benda tersebut ke arah dada bidang Andrew. "Aku tidak akan pernah percaya dengan seorang penculik seperti dirimu," tegasnya.


Andrew mengacak-acak rambutnya frustasi, lalu kembali menurunkan pistol itu dengan memaksa. Aih, ia bahkan sampai harus menggigit jari karena menghadapi tingkah laku Shella yang terlalu keras kepala seperti batu itu.


"Aku bukan seorang penculik, Shella," jawab Andrew dan pria itu tampaknya mulai tidak sabaran di tempatnya berdiri.


Kemudian, Shella dapat melihat Andrew mendesah pasrah. Sepertinya pria itu sudah malas untuk kembali menurunkan pistol yang sedang dipegangnya ini.


"Aku tidak pernah mengatakan kau buta. Kau sendiri yang mengatakannya," serunya tertahan.


Shella menyipitkan matanya. "Apa? Jadi kau pikir aku mulai menggila?"


"Oh my godness, tidak Shella. Tidak. Astaga, aku tidak percaya Zavier bisa menyukai seorang perempuan yang sungguh keras kepala sepertimu."


"Apa? Zavier? Ada apa dengannya? Kau mau membunuhnya?" tuduh Shella langsung, sebelum mengarahkan pistol yang sedang dipegangnya ke arah kepala pria tersebut. Sekali tembak, Shella yakin seratus persen jika kepala besar itu akan hancur seketika.

__ADS_1


"Shella! Kau lebih baik lupakan dulu semua pertanyaanmu karena kita sudah berada dalam bahaya sekarang. Aku janji akan memberitahumu nanti, oke?" tanya Andrew tidak sabaran.


Tapi, sepertinya pria itu benar-benar sudah tidak sabar untuk menanti jawaban Shella, karena di detik selanjutnya, ia langsung merebut pistol yang sedang diggenggam Shella dan menyimpannya ke saku celana gadis tersebut. Kemudian, ditariknya tangan gadis itu dengan sedikit memaksa.


Namun, bukan Shella namanya jika ia tidak memberontak. Gadis itu langsung menendang kaki Andrew dengan cepat, membuat cengkraman tersebut lepas begitu saja.


"Kubilang aku tidak percaya padamu! Kau yang menculikku, tapi sekarang kau malah menyelamatkanku. Apa kau sedang mempermainkanku?" Shella memekik keras, lalu kembali mengeluarkan pistolnya dan menodongkan benda tersebut ke arah Andrew.


"Astaga! Gadis kecil sialan ini!" gumam Andrew dengan nada yang kecil, namun Shella masih bisa mendengarnya.


"Ya, gadis kecil sialan ini tidak ingin mengikuti kemauan pria yang berotak miring di depannya ini. Puas?" ujar Shella dan memundurkan langkahnya ke belakang.


Melihat itu, Andrew hanya menghela napas lelah. "Persetanan dengan Zavier. Dia dengan seenak jidatnya menyuruhku untuk bekerja dengan Franklin. Yang benar saja!" ujarnya dan menggertakkan giginya, menahan rasa kesal yang mulai meluap-luap di otaknya.


Di detik selanjutnya, Andrew langsung berlari mendekati Shella, membuat gadis itu terkesiap dan ingin segera menghindar. Namun, baru beberapa langkah ia berlari, Shella dapat merasakan tubuhnya melayang ke atas dengan cepat hingga tiba-tiba saja, ia sudah dibopong oleh pria itu.


********!!!!


"Dan, tamatlah riwayatku karena telah dengan beraninya membopong harta karun milik Zavier," gumam Andrew yang sama sekali tidak dimengerti oleh Shella.


Setelahnya, pria itu melesat dengan cepat ke sudut ruangan, sebelum suara tembakan dari luar ruangan terdengar. Andrew terlihat mengerucutkan bibirnya dengan kesal seraya menatap ke arah Shella. Namun, gadis itu tampak masih terbelalak, sepertinya masih belum bisa mencerna apa yang baru saja terjadi pada dirinya.


"Kau, jangan cerewet dan tetap diam di tempat. Jangan sampai membuatku kewalahan karena sikapmu itu. Ingat, jangan bergerak jauh dari sisiku. Jika kau berniat untuk melanggar salah satu dari ucapanku ini, maka kau akan menerima ganjarannya nanti."

__ADS_1


Di detik selanjutnya, suara pintu yang dibuka terdengar, bersamaan dengan suara pistol yang ditembakkan ke arah mereka berdua.


__ADS_2