
"Sebenarnya, aku masih menyelidiki tentang kematian saudaramu yang sangat tidak wajar itu. Kurasa, keluarga kalian terlalu cepat untuk menyimpulkan kematian tersebut."
Dahi Zavier mengkerut sejenak. "Apa maksudmu?"
"Otakmu kenapa dangkal sekali? Bahkan kau terlihat susah sekali untuk menyerap apa semua maksudku. Aku sedang menyelidiki kembaranmu, Zavier!"
Zavier langsung melotot sebal. "IYA, aku tahu. Tapi yang kutanya, kenapa kau meragukan tentang kematiannya. Itu yang kumaksud. Kurasa otakmu-lah yang dangkal, bukan otakku!" pekik Zavier.
Aron mendengus, lalu mencibir kesal. "Ketua mafia macam apa kau ini? Bahkan kau tidak merasa aneh dengan kematian kembaranmu."
"Apa kau sedang berusaha untuk mengejekku?"
"Dasar bodoh!" gerutu Aron, membuat Zavier mendelik tajam ke arahnya. "Jadi begini, sejak aku selesai membaca biodatamu, ada sesuatu yang terus mengganggu pikiranku. Memang untuk yang pertama kalinya, aku berusaha untuk menghiraukannya, namun tidak bisa--"
"Jadi akhirnya kau menyelidiki semua itu?" potong Zavier dengan tepat.
"Ya, benar. Sejak pertama kali aku membaca biodatamu, aku memang sudah merasa sedikit aneh dengan kematian Zaviera, kembaranmu. Bagaimana bisa keluargamu menganggap Zaviera sudah meninggal, padahal dia hanya menghilang?"
"Kenapa malah kau yang repot tentang masalahku?" jawab Zavier cepat.
Aron menghela napas. "Dengarkan aku dulu. Aku tidak kepo, hanya saja, aku merasa sedikit kesal."
"Okay, silahkan berbicara. Aku hanya mendengarmu."
"Baiklah. Jadi begini, aku masih menyelidiki kasus Zaviera. Kau tahu, sebenarnya aku tidak begitu yakin jika perempuan itu telah meninggal. Kau juga boleh mengatakan jika aku kepo dan lain-lain, karena aku memang sudah menyelidiki seluruh hidupmu. Dan ada satu hal yang ingin kutanyakan, apa kau memiliki musuh terbesarmu?"
__ADS_1
"..." Zavier hanya mengangkat kedua bahunya.
"Yang benar?"
"..." Zavier memutar bola matanya.
"Bicaralah yang jelas!" pekik Aron kesal.
Zavier mengerjap-ngerjap, lalu membalas perkataan Aron, "Kau menyuruhku untuk jangan berbicara dulu dan hanya mendengarkan penjelasanmu," sahutnya dengan polos.
"IYA, TAPI--" Aron menarik napas panjang untuk sejenak. "Kau seharusnya menjawab saat aku menanyakanmu, dan kau hanya akan mendengar saat aku sedang menjelaskannya. ASTAGA!"
Dasar mafia ***** ini.
"Oh, oke. Aku memiliki banyak musuh di hidupku."
"Aku tidak tahu. Tapi, apa memangnya hal itu memiliki hubungan dengan kematian Zaviera?"
"Entahlah, tapi kurasa memang ada hubungannya. Kau tidak ingat jika ada seseorang yang ingin membakar pabrikmu, lalu ada seseorang yang ingin membunuhmu? Kemudian, kau baru saja mengatakan jika wanita tadi adalah Zaviera? Aku masih tidak percaya perempuan itu sudah meninggal," sahut Aron yang membuat Zavier berdecak kesal.
"Kau benar-benar seperti seorang detektif yang selalu mencurigakan sesuatu," tukas Zavier singkat.
Melihat sikap tidak peduli dari pria itu, otak Aron terasa menjadi panas sekarang. "Aku menjadi tidak yakin jika kau adalah seorang ketua mafia yang terkenal dalam bisnis gelap," sahut Aron malas, membuat Zavier memberengut jengkel.
"Apa kau tidak sadar jika ada seseorang yang ingin membunuhmu? Kau tidak sadar jika kau terus tertimpa banyak masalah sekaligus dalam beberapa hari ini? Terus kau tadi baru saja mengatakan bahwa kau bertemu dengan Zaviera. Memangnya kau tidak curiga?" tambah Aron lagi dengan tingkat kekesalan yang semakin tinggi.
__ADS_1
Zavier, kau ***** atau bodoh, sih?
Zavier mengulum bibirnya. Ia berusaha untuk kembali mengingat semua hal yang baru saja menimpanya, dan seperti kata Aron, kenapa ia sendiri tidak curiga dengan semua itu?
Okay, yang pertama, karena ia pikir jika itu hanya sebuah masalah sepele, mengingat sudah berapa banyak orang yang hendak membunuhnya hanya karena bisnis. Dan yang kedua, ia masih tidak yakin jika ini hanya perbuatan dari satu orang, bukan beberapa orang sekaligus.
"Jadi maksudmu, ada seseorang yang ingin membalas dendam padaku?" tanya Zavier yang masih sedikit tidak mengerti.
"Entahlah. Tapi begini, tadi kau mengatakan jika wanita itu adalah Zaviera, kan?"
"Aku masih tidak percaya dengan penglihatanku sendiri," sahut Zavier. "Kurasa dia benar-benar sudah meninggal."
Aron mengacak rambutnya dengan frustasi. "Kurasa dia belum meninggal. Aku sudah pernah mengecek CCTV yang berada di tepi jalan dan aku menemukan sesuatu yang tidak beres."
Zavier mengerutkan dahinya lagi, namun kali ini, pria itu terlihat sedikit lebih tertarik dengan ucapan Aron. "Apa maksudmu dengan sesuatu yang tidak beres dan dimana letak tepi jalan itu? Aku benar-benar tidak mengerti dengan apa yang kau maksud."
"Aku akan menjelaskannya dari awal. Kembaranmu yang bernama Zaviera, diketahui menghilang pada saat kalian sedang berumur 5 tahun. Para polisi telah mencarinya di seluruh Los Angeles hingga nyaris setahun, namun mereka masih tidak mendapatkan hasil apapun--"
"Dan karena itulah, kami menganggapnya sudah meninggal," potong Zavier, membuat Aron menganggukkan kepalanya singkat.
"Yes. Dan tempat yang terakhir kali Zaviera kunjungi waktu itu adalah taman yang berada di dekat rumah Shella. Aku tidak tahu apakah para polisi di sini memang bodoh atau memiliki mata yang buta, tapi aku benar-benar menemukan sesuatu di dalam CCTV tepi jalan waktu itu--"
Zavier dengan cepat kembali memotong perkataan Aron. "Ah, ya. Ada lagi yang ingin kutanyakan. Kenapa kau masih bisa mengecek rekaman CCTV yang nyaris mencapai 24 tahun lamanya? Setahuku, hal tersebut pasti akan susah untuk ditemukan lagi."
"Aku seorang hacker jika kau lupa," jelas Aron. "Dan orang-orang yang master sepertiku hanya menganggap masalah itu merupakan sebuah masalah kecil."
__ADS_1
Zavier mengangkat salah satu alisnya ke atas. "Lebih tepatnya, seorang hacker yang sungguh kepo terhadap urusan pribadi orang lain."