My Dangerous Boy

My Dangerous Boy
Part 37 - Two Rival


__ADS_3

"Oh my god. I still can't believe this," gumam Zavier sembari mempercepat langkahnya, berusaha menyusul daddynya yang sudah menghilang entah ke mana.


Memang dari dulu daddynya sudah sering sekali meretas seluruh alat elektroniknya, namun kegiatan itu berhenti setelah ia beranjak dewasa.


Dan Zavier sendiri masih tidak percaya ini. Bagaimana bisa daddynya kembali meretas seluruh privasinya, padahal dirinya sudah berusia 29 tahun?


"Seharusnya daddy tidak boleh meretasnya," gumamnya lagi.


Pertama, sebagian privasinya telah dibongkar oleh adiknya dengan memasang sebuah penyadap di saku jasnya. Sekarang yang kedua, seluruh privasinya sudah dibongkar habis-habisan oleh daddynya sendiri. Bahkan Zavier menjadi ragu apakah daddynya meretas ponselnya juga.


Benar-benar tidak bisa dibiarkan.


"Pantas saja anak manjaku itu bisa tertarik padamu. Aku tidak pernah menyangka kau secantik ini, bahkan melebihi seorang model."


Itu suara dadnya. Tapi, kenapa suara itu terkesan sedang memuji seseorang? Apa dia sedang berbicara dengan seseorang? Astaga, jangan sampai ia sedang berbicara dengan Shella.


Zavier semakin mempercepat langkahnya, diiringi dengan suara Clayton yang semakin terasa dekat.


Shit......


Kedua kakinya berayun cepat menuju ke ruang makan, hingga pria itu tiba-tiba berhenti berlari dan langsung terpaku pada tempatnya. Bagaimana tidak? Daddynya yang ia kenal biasanya selalu bersikap dingin kepada orang lain, tetapi langsung berubah menjadi begitu hangat ketika di depan Shella. Mereka berdua juga terlihat tertawa bersama-sama, tidak menyadari bahwa Zavier tengah berjalan ke tempat mereka.


"Dad," panggilnya merasa heran. "Kau sakit?"


Clayton menoleh dengan kerutan di dahinya. Senyuman yang tadinya tersungging di wajahnya langsung berubah menjadi kusam sesaat.

__ADS_1


"Anakku yang satu ini memang tidak sopan sekali saat berbicara denganku. Ck, aku tidak tahu apa dosa yang kuperbuat hingga membuatnya menjadi begini," keluh Clayton kepada Shella.


Gadis itu hanya tertawa, membuat Zavier semakin heran dengan semua ini. Hell, apa daddynya baru saja mengeluhkan tentang dirinya?


Oh, tidak bisa dibiarkan.


"Sudahlah, Mr. Turner. Anda jangan terlalu peduli kepada anak durharka itu. Biarkan saja dia! Aku juga sedang kesal dengannya," ujar Shella, semakin mendukung perkataan ayahnya.


Wajah Zavier menjadi keruh mendengar itu, sementara ayahnya dan Shella kembali berbincang-bincang, tidak peduli dengan dirinya yang menjadi tampak menyedihkan ini.


"Bawakan aku kopi," titah Zavier kepada salah satu pelayan. Ia dengan kesal menarik salah satu kursi makan di samping Shella dan mendudukkan dirinya di sana.


"Hei! Siapa yang menyuruhmu untuk duduk di sampingku? Awas sana! Masih banyak lagi tempat duduk di sebelah situ," usir Shella sebelum pria itu sempat mendaratkan bokongnya dengan sempurna di atas kursi. Perempuan itu tampak menunjuk ke arah kursi yang letaknya berada di hadapan Shella.


Zavier menatap gadis itu sejenak. Tentu saja ia tidak mau berpindah ke sana, karena saat ini dirinya sedang melindungi Shella. Mungkin saja daddynya ingin merampas gadis itu dari sisinya, mengingat bagaimana kelakuan pria paruh baya itu tadi.


"Zavier, sopanlah sedikit kepada perempuan cantik ini," ujar Clayton memperingati.


Tanpa sadar, Zavier langsung menatap tak percaya ke arah ayahnya dan mengumpat kasar dalam hati. Ada apa sebenarnya dengan ayahnya yang satu ini? Kenapa dia malah mendukung Shella dan menusuk dirinya dari belakang?


"Hi, Dad," sapa sebuah suara bariton secara tiba-tiba, membuat mereka semua langsung menoleh ke arah suara.


"Oh, hai juga Shella," sapa Christian kembali ketika melihat gadis cantik itu turut mengisi meja makan juga. Sepasang mata coklat itu tampak berbinar-binar sembari berjalan menuju ke arah Shella.


Zavier mencibir. Pesona Shella sepertinya menyebar begitu cepat, dan itu membuatnya merasa jengkel sekarang. Ia sama sekali tidak menyukainya.

__ADS_1


Shella milikku, batin Zavier tanpa sadar.


"Hei, brother. Jangan menatapnya seperti itu, atau aku akan mencongkel matamu keluar," seru Zavier jengkel sembari membawa Shella ke dalam dekapannya, seolah-olah sedang melindungi gadis itu dari kedua pria di depannya. Sepertinya mulai sekarang, ia akan menganggap kedua pria ini sebagai saingan.


"Hei, kenapa kau, Kak. Lepaskan Shella, atau aku akan memotong kedua tanganmu sekarang juga," protes Christian tidak terima.


Mata coklat milik Zavier dan Christian saling beradu geram, sementara Shella yang berada di dalam dekapan seorang pria tidak tahu harus berbuat apa. Gadis itu hanya menahan napasnya.


"Lepaskan."


"Tidak."


"Lepaskan."


"Tidak."


"Lepas, Kak."


"TIDAK."


Tiba-tiba, sebuah suara bariton menghentikan aksi mereka, sebelum mereka berbuat lebih jauh lagi.


"Sudahlah, kenapa dengan kalian? Zavier, lepaskan Shella. Dia terlihat sesak sekali di di dalam sana," ujar Clayton yang membuat Christian dan Zavier menoleh ke arah daddynya.


Christian langsung tersenyum penuh kemenangan ke arah kakaknya. "Dengar perkataan dad."

__ADS_1


Dengan sedikit berat hati, Zavier akhirnya melepaskan pelukannya dan beralih menatap cangkir kopinya. Lebih baik ia menyesap cairan pahit itu, daripada ia melihat wajah Christian dan tidak bisa menahan diri lagi untuk meninju rahang adiknya.


7 May 2020


__ADS_2