
"Menyedihkan," sahut daddy Shella sembari menggeleng-gelengkan kepalanya tidak percaya.
"Ya, begitulah," balas Zavier, lalu meneguk cairan teh yang manis tersebut.
"Jadi?" tanya William dan menautkan kedua alisnya penasaran.
Zavier kemudian mengangkat wajahnya sembari meletakkan cangkir itu di atas meja. Ia menatap ke arah William. "Hmm... ya, Dad?" tanyanya tidak terlalu mengerti.
"Jadi, apa kau menggodanya?" tanya William langsung, membuat Zavier hendak menyemburkan cairan teh yang sudah ia telan itu.
Apa dia sedang tidak salah dengar?
"E--eh, i--itu--"
William memicingkan matanya serius. "Kau benar-benar menggodanya?" tanyanya dengan nada yang mulai terdengar galak.
Yes, Dad, sahut sisi lain dari Zavier.
Pria itu mengatupkan mulutnya dengan rapat, tidak tahu harus menjawab apa. Ia celingak-celinguk, berharap segera mendapatkan pertolongan dari seseorang. Namun, nihil. Bahkan, Shella belum keluar dari kamarnya sampai sekarang.
Apa daddynya Shella marah jika ia berkelakuan seperti itu? Matilah dia...
"Zavier," seru William dengan tatapan yang mulai berkilat-kilat.
"E--eh? Tidak, Dad," jawab Zavier dengan cepat. Melihat mata geram milik William membuatnya enggan untuk menjelaskan yang sebenarnya.
Sial, daddynya Shella benar-benar akan marah jika ia menggoda anaknya itu.
"Kau tidak menggodanya?" tanya William, lalu menegakkan tubuhnya dengan heran. Ia menatap aneh ke arah Zavier. "Kau tidak tahu bagaimana caranya menggoda seorang perempuan agar dapat jatuh ke dalam pelukanmu?"
Zavier yang tadinya hendak kembali menyeruput teh itu untuk menutupi kecemasannya langsung menghentikan niatnya. Ia meletakkan cangkir itu di atas meja seraya menyatukan kedua alisnya.
__ADS_1
"Apa?" tanya Zavier, tiba-tiba menjadi heran dengan perubahan wajah pria di depannya.
"Apa kau perlu bantuanku untuk mengajarimu bagaimana caranya menggoda perempuan?" tanya William. Wajahnya tampak berubah menjadi raut wajah yang serius, seakan-akan ia memang serius dengan perkataannya.
What?!
Benak Zavier sekarang diliputi dengan tanda tanya. Dahinya sedikit berkeriting, merasa kikuk dengan pertanyaan daddy Shella tadi.
Okay, ia merasa sangat bingung sekarang. Sebenarnya, daddynya Shella sedang marah padanya, atau malah tengah mendukungnya dari belakang?
Ia tidak akan pernah mengerti dengan jalan pikiran orang tua.
Hah?
"Hmm... aku tidak mengerti," sahut Zavier, lalu menelan ludahnya susah payah saat otak kotornya kembali membayangkan tubuh mulus milik Shella.
Bagaimana kalau perempuan itu berada di bawahnya dan terus--
"Aku akan mengajarimu, sekarang." William menyinggungkan senyumannya.
"Jadi begini, Zavier, saat kau ingin menggoda seorang perempuan, seharusnya kau menunjukkan kilatan matamu yang nakal. Lalu, cobalah dekati dia dengan sedikit merayunya. Kujamin dia pasti akan tunduk padamu," jelasnya tanpa jeda, membuat Zavier tidak mengedipkan matanya selama beberapa saat.
Apa daddynya Shella sudah sangat berpengalaman dalam hal itu?
Oh, astaga Zavier. Tentu saja ia sudah sangat berpengalaman. Jika tidak, Shella tidak akan pernah dilahirkan di dunia ini.
Orang tua ini sungguh menakjubkan, berbeda dengan orang tua yang pernah ia temui. Biasanya, para orang tua pasti memiliki tingkat kecerewetan yang tinggi dan akan mengkhawatirkan anaknya. Tapi, ini tidak.
Mungkinkah William telah memberikan lampu hijau padanya? Apa daddynya Shella memang telah mempercayainya begitu saja?
It's such an amazing thing.
__ADS_1
Dan kalau begitu, apa Zavier bisa melakukan hubungan yang lebih jauh dari ini? Wow, itu akan menjadi hal yang mengasyikkan.
Tidak apa-apa daddy Shella, aku pasti akan memproduksikan banyak cucu untukmu secepat mungkin!
"Tapi--, kau hanya boleh menggodanya. Jangan melakukan hal yang lebih dari itu, atau aku yang akan memecatmu sebagai calon menantu," ucap William secara tiba-tiba, membuat Zavier yang tadinya sudah sangat senang langsung berubah menjadi pucat.
Ia memayunkan bibirnya ke bawah. Hilang sudah khayalannya mengenai hal tersebut. "Okay, Dad," jawabnya, walau Zavier masih tidak yakin apa ia bisa menahan hasratnya selama berada di dekat Shella.
Tapi, yang pasti, ia tidak mau dipecat menjadi menantu hanya karena hal ini. Dan, jika itu terjadi, maka hal tersebut akan menjadi yang paling buruk di sepanjang hidupnya.
"I trust you, Zavier. Jadi, tolong rahasiakan hal ini dari Shella, atau perempuan itu yang akan memarahiku karena telah memberikan lampu hijau padamu," ujar William, lagi. Ia menyunggingkan senyuman tipisnya, membuat kerutan di sekitar sudut bibirnya tampak terlihat samar.
Zavier segera menganggukan kepalanya dengan singkat. Well, ia pasti tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini.
Namun, sepertinya kesenangan yang merayap di hatinya itu hanya sementara, karena Zavier kembali teringat dengan dunia nyatanya.
Apa William akan menolaknya jika telah mengetahui bahwa dirinya adalah seorang ketua mafia yang sudah pernah membunuh orang? Mungkinkah?
Lamunan Zavier langsung buyar begitu telinganya tiba-tiba mendengar sebuah suara. Tanpa sadar, ia mencengkram erat celana jins yang sedang dipakainya.
"Dad!" sahut sebuah suara dari lantai atas, membuat Zavier maupun William serentak menoleh ke arah asal suara.
Itu adalah suara Shella.
Tampak seorang gadis yang sedang turun dari tangga dengan wajah yang ditekuk. Rambutnya terlihat sedikit basah, dan Zavier dapat menebak jika gadis itu baru saja selesai keramas.
Apa Shella malu karena Zavier telah mengatakan bahwa ia belum mandi tadi?
Sesampainya di tangga yang paling bawah, mata biru milik perempuan itu tampak menoleh ke arahnya, sebelum kembali melirik ke arah William.
"Dad! Kenapa kau membukakan pintu untuknya? Aku masih tidak ingin bertemu dengannya!" rengek Shella dan memajukan bibirnya kesal. Ia melangkah dan berjalan menuju ke sofa yang sedang diduduki oleh daddynya.
__ADS_1