
"I can explain this, Dad," ujar Shella ragu-ragu. Sementara itu, Zavier hanya menatap gadis tersebut dengan sebelah alis yang terangkat.
"She is my girlfriend, Sir," ujar Zavier dengan sopan dan langsung memotong perkataan Shella.
Shella menoleh dan menatapnya dengan tatapan penuh peringatan, namun Zavier hanya menyunggingkan senyuman tipis.
"Kalian berpacaran? Wow, amazing. Tapi, sejak kapan? Shella tidak pernah mengatakannya padaku," sahut William dengan tatapan yang berbinar-binar.
"Tidak, Dad. Kita bahkan baru berkenalan selama--"
"Sudah hampir sebulan, Sir. Mungkin Shella masih malu untuk mengatakannya karena ini adalah pertama kalinya ia berpacaran, betul kan?" ujar Zavier dengan tenang sembari menoleh ke arah Shella. Pria itu terlihat tersenyum penuh kemenangan dan kembali menatap ke arah William.
"Kenapa Shella?" tanya William dan beralih menatap ke arah Shella.
Shella menghembuskan napas kesal. "Tidak, daddy. Bagaimana bisa dad langsung mempercayai perkataannya daripada anakmu sendiri?" tanyanya yang membuat William langsung terdiam sejenak.
"Jadi begini, Dad. Dengarkan penjelasanku dulu. Aku tadi menemui pria ini sedang menggedor-gedor gerbang rumahku dan aku hendak mengabaikannya. Tapi, melihat tindakannya yang sangat memaksa dan suara gedorannya itu sungguh mengangguku, aku akhirnya keluar dari rumah. Apalagi setelah melihat pakaian yang dipakainya itu sudah lusuh dan kotor serta ia terus meminta makanan, akhirnya aku mempersilahkannya masuk dengan seluruh hati nuraniku. Lagipula, tindakanku tidak salah, kan, Dad?"
Penjelasan gadis itu membuat Zavier sontak terbatuk-batuk di tempatnya. Ia berdeham keras dan menatap tidak percaya ke arah Shella. Apa gadis itu sedang berusaha menyamakannya dengan orang tidak mampu?
"Tunggu, Sir. Penjelasan itu ---"
Shella mengangkat sebelah tangannya, menyuruh Zavier untuk diam terlebih dahulu. "Dan, Dad. Kurasa kita perlu mengantarkan lelaki ini ke rumah sakit jiwa karena ia terus mengaku diriku sebagai pacarnya. Ia terus mengatakan hal itu berulang-ulang, padahal --"
"Tidak, Sir. Jangan den--"
"Aku ti--"
"Sir. Jang--"
"Tidak mengenal--"
"Jangan dengarkan penjela--"
__ADS_1
"DIAMLAH KAU, ORANG GILA SIALAN," bentak Shella tiba-tiba , membuat kedua pria yang sedang duduk sama ruangan dengannya langsung tertegun di tempat.
"Jadi, Dad. Intinya, aku hanya mengizinkan orang asing yang tidak kukenal ini ke dalam rumah hanya karena sebatas kasihan," ujar Shella yakin.
Untuk beberapa saat, William menatap ke arah Zavier dan Shella secara bergantian, lalu mengusap tengkuknya. Shella tampak semakin bergembira dan harapannya mulai melambung tinggi karena berpikir bahwa daddynya telah mempercayai perkataannya.
"Kalian terlihat cocok. Kenapa tidak mau berpacaran saja?" tanya William tiba-tiba yang membuat harapan Shella langsung melenceng keluar.
"Apa! Dad tunggu, dia itu --"
"Benarkah, Sir?" tanya Zavier dan membulatkan matanya senang.
"Dad, tunggu. Jangan mengambil keputusan begitu saja sebel--"
"Lagipula Zavier, aku sendiri saja tidak mengerti dengan penjelasan anakku sendiri. Kau tahu, ia memang tidak pandai untuk berbohong dan mengarang cerita," ujar William lagi yang membuat wajah Shella langsung merah padam karena malu.
Sial, daddynya benar-benar selalu berterus terang saat berbicara. Astaga, padahal Shella sedang dalam suasana kritis saat ini, tetapi daddynya sendiri malah membuatnya semakin jatuh kritis.
"Dad, bukan begi--"
Sedangkan Shella sendiri hanya mengumpat kasar dalam hati dan memberengut sebal. Ia memajukan bibirnya sembari menatap ayahnya dengan tatapan memohon.
"Zavier, jangan memanggilku dengan sebutan 'Sir'. Panggil saja aku dengan panggilan 'daddy' agar sama dengan sebutan dari Shella. Lagipula kau mungkin adalah calon menantuku yang akan kusukai," ujar William, mengabaikan sisa-sisa harapan Shella yang perlahan mulai hangus.
"Daddy.." rengek Shella dan menggoyang-goyangkan tangan daddynya.
"Baiklah, Daddy," ujar Zavier gembira, membuat Shella langsung menusuk pria itu dengan tatapan tajamnya.
"Aku masih tidak percaya jika Clayton akan memiliki anak setampan dirimu," gumam William dan masih mengabaikan panggilan Shella.
"Apa hubungan daddy dengan ayahku?" tanya Zavier dan menyunggingkan senyuman tipisnya ke arah Shella, seakan-akan ia sedang mengejek perempuan itu.
Gadis itu memalingkan wajahnya, berusaha menahan diri untuk tidak segera menonjok wajah itu dan menambah luka Zavier.
__ADS_1
Holy shit.
"Kita adalah teman bisnis yang baik. Aku dan daddymu sama-sama memiliki perusahaan mobil. Tapi, terakhir kali kita bertemu adalah pada saat kau sedang berumur 2 tahun. Setelah itu, daddymu pergi ke Los Angeles untuk mengurus kampus dan rumah sakit miliknya," jelas William.
Zavier mengangguk-anggukkan kepalanya, sedangkan Shella langsung menggigit bibir bawahnya.
Ia baru ingat jika beberapa hari yang lalu ia menginap di mansion Zavier, dan yang lebih parahnya, daddynya Zavier berada di sana. Bahkan mereka sempat mengobrol dan bercanda gurau.
Oh, jangan sampai daddynya mengetahui hal ini.
"Zavier, apa kau ada pekerjaan? Atau kau langsung mewariskan perusahaan ayahmu?" tanya William lagi.
Shella semakin mengerucutkan bibirnya, menahan kesalnya setengah mati.
"Aku adalah seorang dosen yang bekerja di kampus ayahku. Atau lebih tepatnya, dosen Shella," ujar Zavier sembari tersenyum.
"Wow, that's great. Aku akan menitipkan Shella padamu. Tolong jaga dia baik-baik karena daddy jarang sekali ke sini untuk menjaganya," tukas William tanpa berpikir panjang lagi.
Shella sontak membelalakan matanya tidak terima. Apa-apaan ini!
"Apa! Dad, dia itu orang asi--"
"Baiklah, Dad," sahut Zavier.
Shella semakin kesal. Apa kedua pria ini sedang bekerja sama?
Setiap aksi bantahan yang ingin ia luncurkan pasti akan dipotong begitu saja. Geez...
"Aku tidak ma--"
"Terima kasih, Zavier. Aku percaya padamu sepenuhnya," ujar William dan memotong bantahan Shella untuk yang kesekian kalinya.
Sialan.
__ADS_1
7 May 2020