My Dangerous Boy

My Dangerous Boy
Part 105 - Getting Worst (3)


__ADS_3

"Heh? Donat bulat busuk?" Tatapan Franklin beralih menatap ke arah Shella, lalu menyeringai sejenak. "Zavier tidak menyelamatkanmu, Shella. Dia hanya ingin menyelamatkan Lina. Oh, salah, bukan Lina. Tapi, Zaviera," ucapnya guna untuk memancing emosi.


Tubuh Shella menegang seketika. Ia langsung menatap ke arah Lina yang entah kenapa disebut Zaviera itu, lalu menyipitkan kedua matanya. Zaviera...


Matanya bergerak menatap gadis itu yang tampaknya bernapas dengan tersenggal-senggal, lalu menggelengkan kepalanya pelan setelah menyadari sesuatu.


Tidak, dia bukan Zaviera. Adiknya seharusnya memiliki mata yang berwarna biru, bukan warna mata coklat seperti milik Zavier.


Otak Shella terasa pening sejenak, berusaha mencerna semua masalah berat ini. Aish, ia tidak mengerti sama sekali. Dari awal hingga akhir, bahkan cerita Andrew tadi tidak ada satupun yang berhasil dicerna olehnya.


"Apa aku harus menceritakannya sebelum membuatmu menyerah di dalam sini?" tanya Franklin, lalu melirik ke arah Zaviera.


Suara gemerlatuk dari gigi yang digertak satu sama lain terdengar, dan Shella tahu jika itu berasal dari Andrew. "Aku tidak akan pernah menyerah."


"Benarkah?" cemoh Franklin, sebelum ia mengeluarkan sebuah pistol yang sudah ia bawa sedari tadi. Diarahkannya mulut pistol itu ke arah Shella dan berhasil membuat gadis itu ketakutan setengah mati hingga semakin menyembunyikan dirinya di balik punggung Andrew.


Franklin tersenyum, lalu menggelengkan kepalanya penuh rasa kasihan. Ia kembali menggerakkan mulut pistolnya ke arah Andrew hingga membuat pria itu terkesiap sesaat.


"Kau mau menembakku? Tembaklah," ucap Andrew dengan nada yang menatang.


Namun, Franklin kembali menggelengkan kepalanya, tanda bahwa dia tidak ingin menembak mati Andrew. Kemudian, digerakkannya lagi benda itu ke arah kepala Zaviera, sebelum jari telunjuknya sudah bersiap untuk segera menekan pelatuk tersebut.


Andrew terbelalak lebar.

__ADS_1


"Bukan kau yang mati, tapi dia," ucap Franklin dengan keji seraya menekan mulut pistol itu untuk semakin mendekati kepala Zaviera, dan tepat setelah itu, ia bersiul senang. "Kalau kau tidak menyerah, maka dia yang menjadi sasaran empukku. Easy, right?"


Andrew mengumpat kasar dalam hati. Ia masih berusaha untuk tetap tenang sampai semua ini berakhir, namun tidak bisa. Emosinya sudah berhasil terpancing sejauh ini dan itu semua gara-gara ancaman Franklin tadi.


Kalau dirinya tidak menyerah, maka Zaviera yang akan menjadi sasaran Franklin...


Andrew mengepalkan kedua tangannya yang berada di sisi tubuh dengan kuat.


Kalau dirinya tidak menyerah, maka Zaviera yang akan menjadi sasaran Franklin...


Kalimat itu kembali mengulang di otaknya layaknya sebuah kaset yang telah rusak. Ia kemudian menggeram seperti singa yang telah melihat mangsanya di depan mata.


Kalau dirinya tidak menyerah, maka Zaviera yang akan menjadi sasaran Franklin...


Cukup sudah!!


Tapi, tidak, Franklin tidak pernah lengah begitu saja, kecuali jika dia memang membuat dirinya sendiri melemah di hadapan lawan.


"Apa maumu?" desis Andrew.


Dengan sengaja, Franklin semakin menodongkan senjata api itu ke kepala Zaviera, hingga membuat gadis itu harus memiringkan kepalanya sedikit akibat perlakuan tersebut. Zaviera menatap tajam ke arah Franklin.


"Aku hanya ingin kau tidak menyerangku dan tetap diam di tempat. Kalau kau berusaha untuk membunuhku ataupun menghancurkanku, maka akan kupastikan peluru ini menyarang di kepala cantiknya ini."

__ADS_1


Andrew mengangkat kepalanya dengan angkuh, masih enggan untuk melaksanakan itu. Hey, itu hal yang paling memalukan.


"Kau tahu, hal yang paling kuinginkan saat ini adalah, menghancurkan Zavier secara perlahan, sama seperti Clayton menghancurkanku hingga ke akarnya," ucap Franklin, sebelum menghentikan kalimatnya sejenak dan kembali melanjutkan. "Bukankah akan menyenangkan sekali melihat keluarga Turner hancur dan aku mendapatkan kembali gelar yang paling kuinginkan?"


Andrew kembali menggeram. "Kau egois."


"Yes, that's right. Aku tidak ingin siapapun yang akan menjadi saingan terbesarku. Dan, karena Clayton telah menghancurkan gelarku serta mempermalukanku dulu, maka dendam ini akan kulemparkan pada anak-anaknya, bukan?"


Psikopat, rutuk Shella dalam hati. Walau gadis itu tidak mengerti apa yang sedang dibicarakan oleh donat busuk itu, tapi kalimat itu sepertinya mengandung makna yang penuh amarah dan dendam.


"Kau gila," ujar Andrew datar, membuat Franklin terkekeh.


"Kau hanya mengulur-ulur waktuku. Sekarang, gunakan kedua lututmu untuk bersimpuh di depanku," ucap Franklin, sebelum matanya sedikit melirik ke arah Zaviera dengan keadaan yang sudah terlihat sangat mengenaskan.


"Kau pikir kau siapa?" bantah Andrew, lalu menunjukkan kode tangannya lagi di belakang punggung. Shella mengernyit heran ketika melihat tangan pria itu bergerak gesit tanpa ia tahu maknanya.


"Apa maksudmu?" bisik Shella dengan nada yang kecil, membuat Andrew hanya mendesah kesal.


"Aku? Aku adalah orang yang dapat memutuskan sampai kapan nyawa gadis ini bertahan," sahut Franklin seraya menatap pistolnya yang sedang ditodongkan ke arah Zaviera.


SEKARANG!! Andrew menunjukkan kode itu dengan susah payah, namun Shella tetap saja tidak mengerti apa maksud dari Andrew.


"Apa?" bisik Shella dengan nada yang kecil, membuat Andrew ingin menggigit jarinya sekarang juga.

__ADS_1


Apa kodenya ini masih belum cukup jelas bagi Shella?


"SEKARANG!" jerit Andrew pada akhirnya.


__ADS_2