My Dangerous Boy

My Dangerous Boy
Extra Part (3)


__ADS_3

"Karena kita hanya melakukannya dalam sekali, dan aku tidak pernah membuat Shella pingsan. Sialan itu telah sembarangan berbicara! ********!"


Zaviera melotot ngeri. Ia semakin menjambak rambut kakaknya, membuat pria itu mengerang sakit dan meronta-ronta meminta untuk dilepaskan.


"Kau baru saja menjelek-jelekkan pacarku yang tampan itu?!" teriak Sang Adik dengan histeris.


Zavier tersenyum penuh kurang ajar ke arah Zaviera. "******** itu-- ARGH!"


Ucapan Zavier berubah menjadi jeritan yang memilukan. Ia mengaduh kesakitan dengan suara yang cempreng, nyaris membuat gendang telinga Zaviera pecah karenanya.


Gadis itu mengepalkan tangan kanannya dengan kuat. Jika Zavier mencoba-coba untuk keluar dari penyiksaannya ini, akan ia pastikan jika wajah jelek itu berubah semakin jelek lagi.


Dengan amarah yang menggebu-gebu, ia semakin menjambak rambut coklat Zavier dan tersenyum miring.


"Mom! Tolong aku!" Mata biru Zavier beralih menatap ke arah Alicia, berbinar-binar meminta pertolongan dari Sang Ibu. Namun, wanita yang amat disayanginya itu hanya mendengus sebal.


"MOM! AKU BENAR-BENAR TIDAK BERBUAT HAL SEKEJI SEPERTI ITU," rengek Zavier tidak terima. Ia berusaha untuk kabur dari kekangan Zaviera.


"Mom!"


"MOM!? TOLONG ZAVIER!" jeritnya dengan isakan yang memilukan bagi pendengarnya.


Akhirnya, kedua mata coklat kelam itu kembali berbinar-binar bahagia begitu Alicia mengibaskan tangannya dengan sebelah tangan, menyuruh Zaviera untuk menghentikan aksinya. Wanita paruh baya itu berdiri dari tempat duduknya, lalu berjalan mendekat.


Tiba-tiba, suara pintu kamar yang terbuka terdengar, membuat ketiga kepala yang sedang berada di dalam ruangan itu menoleh ke asal suara secara bersamaan.


"Zavier." Gadis yang baru masuk itu terengah-engah. Ia tampak menghapus air keringat yang terus bercucuran di dahinya, sementara kedua mata biru itu menatap lurus ke arah pria yang dicarinya sedari tadi. Deru napasnya sedikit terputus-putus akibat rasa lelahnya.


Mulutnya lalu menyunggingkan senyuman lega. "Kupikir kau sudah pergi bekerja. Tadi barangmu ketinggal--" Ucapannya terpotong kala ia langsung menyadari sesuatu.


Mata biru laut itu membulat histeris, menatap Zaviera dan sedikit meringis sendiri. Seolah-olah tahu apa yang akan dikatakan oleh Shella nanti, Zaviera refleks melepaskan tangannya dari tubuh Zavier sambil mencengir tidak bersalah.


Oh, memang ia tidak bersalah.


Zavier menyipitkan matanya. Tiba-tiba, ada sebuah sosok berbayangan hitam yang samar-samar terbentuk dari arah belakang Shella dan sedikit menarik perhatiannya.


Sosok itu lebih terlihat seperti seorang pria yang mengikuti Shella sedari tadi. Emosi Zavier langsung meluap marah begitu saja, apalagi ketika ia telah mampu untuk menyadari siapa gerangan tersebut.


Andrew terlihat baru masuk ke dalam kamar dan berdiri di sebelah Shella. Kedua tangannya langsung terkepal erat hingga menunjukkan jari-jarinya yang memutih. Mata coklatnya menghunus ke arah Andrew dengan tatapan tajamnya.


Salah tingkah, pria itu tampak menggaruk belakang kepalanya. "Hi, Tante," sapa Andrew dan mengalihkan pandangannya dari tatapan mengerikan Zavier. Ia kemudian tersenyum kikuk.


Zavier melangkah cepat ke arah Andrew. Sesesekali ia sedikit meringis begitu luka yang membekas di perutnya terasa menyengat dirinya secara tiba-tiba.


Pria satu ini yang merangkap sebagai pacar Zaviera benar-benar keterlaluan. Bagaimana bisa ia dengan teganya berbohong kepada Alicia hingga membuat wanita yang telah melahirkannya itu salah paham?!


Brengsek!


Kalau bisa, Zavier juga pasti akan merobek paksa mulut Andrew karena telah berbohong hingga begitu parahnya. Ia benar-benar bersumpah sekarang!!


Namun, tangan kekarnya yang hendak menarik kerah baju Andrew dan berniat untuk membentak pria itu tidak terjadi saat Shella datang ke arahnya dengan panik. Langkahnya terhenti di tengah perjalanan.


"Zaviera yang melakukan ini padamu?!" seru Shella cemas sambil menelusuri wajah Zavier yang terlihat kusut dan kusam. Gadis itu kembali meringis.


Zaviera yang diujung sana hanya bungkam dan menggigit bibir bawahnya.


Untuk sejenak, Zavier langsung melembutkan tatapannya dan melupakan kejadian tadi. Ia mengangkup seluruh wajah Shella, kemudian tersenyum simpul.


"Tidak apa-apa. Ini hanya--" Mata coklatnya bergerak menatap Andrew untuk sementara, lalu menggertakkan giginya kesal, sebelum ia kembali mengubah tatapannya menjadi lembut dan beralih ke diri Shella. "--Luka kecil."


Andrew tersenyum kaku ketika melihat interaksi antara Zavier dan Shella. Pria itu sama sekali tidak merasa bersalah atas hal apa yang baru saja ia katakan pada Alicia hingga mampu menyebabkan mommy Zavier histeris seperti ini.


Satu kata untuk Zavier. Rasakan!


Kedua kakinya mengayuh menuju ke arah Zaviera yang sedari tadi hanya terdiam bingung, lalu merengkuh pinggang perempuannya. Ia tersenyum manis, kemudian mendaratkan sebuah kecupan di dahi Zaviera.


"Apa ini sakit?" tanya Shella. Wajahnya memasang raut cemas yang mungkin terlalu berlebihan bagi Zavier. Tapi, tidak bisa dipungkiri jika rasa bahagianya menguar keluar karena Shella terlihat sangat-sangat khawatir padanya.


Zavier menggelengkan kepalanya pelan. "Tidak terlalu." Tapi, aku ingin menangis karena rasa perihnya yang mendera itu.


Shella menunjuk ke arah wajah Zavier yang memiliki beberapa bekas luka, lalu tanpa malu sedikit pun, ia langsung menyingkap kaos Zavier ke atas hingga menampilkan perutnya yang memar.


Seperti yang telah terjadi dan melalui pengalaman hebat dari seorang Shella, gadis itu dapat menyimpulkan jika Zaviera baru saja mencubit habis perut Zavier. Memang adik pacarnya tersebut suka sekali mencubit orang, terutama pada pria.


Ia tidak tahu apa alasan Zaviera sampai mencubit Zavier sampai sedemikian parahnya, tapi Shella yakin kalau Zaviera seharusnya menasehati Zavier secara baik-baik. Bukan seperti ini.


Jika menurut Zaviera hal tersebut adalah hal yang menyenangkan, maka bagi Shella adalah kebalikannya. Mencubit seseorang sampai seperti ini adalah sebuah kekerasan dalam arti Shella.


"Kita pergi berobat sekarang. Titik!" tandas Shella langsung.


***


Andrew bertopang dagu, menatap lurus ke arah luar kaca kafe dengan bosan. Orang-orang yang berlalu lalang di luar sana menjadi objek pemandangannya saat ini.


Sudah hampir satu jam ia duduk di kafe ini. Entah hal apa yang sedang dipikirkannya, tapi yang pasti, Andrew sedang melamunkan sesuatu.


Brak!


Matanya berkedip sekali ketika Zaviera tiba-tiba saja datang. Gadis itu duduk di depannya dengan senyuman manis yang terhias di wajahnya, lalu menatap dalam ke arah mata Andrew.


Andrew sedikit memiringkan kepalanya, merasa heran dengan kelakuan dari pacarnya itu. Apalagi kedatangan Zaviera yang secara tiba-tiba itu membuat lamunannya buyar seketika.

__ADS_1


"Kenapa?" tanya Andrew dan memalingkan wajahnya dari pemandangan kaca kafe. Ia sepenuhnya terfokus kepada wajah Zaviera.


Mengangkat satu alisnya ke atas, Andrew mencondongkan badannya ke arah Zaviera. Ia menelisik wajah cantik yang dipenuhi dengan misteri itu.


Sementara itu, Zaviera langsung menghindari tatapan intimidasi dari Andrew.


Ia mengayuhkan tangannya, menyerbu cepat segelas jus jeruk milik Andrew yang tadinya sama sekali belum diminum. Tanpa ragu, ia langsung meminum jus itu dari sedotannya, membuat jus yang tadinya masih segelas penuh menjadi tinggal setengah.


Salah tingkah, Zaviera sesekali menggigit kecil sedotan kecil tersebut. Ia kemudian mengaduk asal jus itu, seakan-akan minuman itu sudah menjadi mainan imut baginya.


Geez...


Andrew sudah sangat hapal dengan kelakuan Zaviera. Jika perempuan itu terus salah bertingkah seperti sekarang ini, berarti ada sesuatu besar yang sedang disembunyikannya saat ini. Dan, itu apa?!


Zaviera berdeham sekali. "Umm..." Gadis itu menghentikan ucapannya untuk sejenak. Ia mengaitkan kedua tangannya dengan erat, menatap canggung ke arah Andrew.


Merasa malu, Zaviera spontan menunduk, lalu menggigit bibir bawahnya gugup.


"Kenapa?" tanya Andrew yang mulai tidak sabaran.


Meneguk salivanya susah payah, Zaviera memejamkan kedua matanya menahan malu. "Kiss me," ujar Zaviera, sebelum kedua pipinya yang  berkulit putih itu berubah menjadi rona merah yang menyebar secara samar-samar.


"Hah!?"


Andrew nyaris saja terjengkang ke arah belakang kalau saja punggungnya tidak mengenai sandaran kursi. Matanya membulat heran, memandangi wajah Zaviera hingga membuat perempuan itu tersenyum gugup.


Setelah tersadar dengan cepat, Andrew langsung saja menampilkan senyuman miring khasnya.


"Kenapa?" kekehnya dengan geli. Jadi, ini masalahnya hingga membuat Zaviera sangat gugup seperti itu.


"Hmm..." Zaviera hanya bertopang dagu.


Hening sesaat...


Karena terlalu lama menunggu jawaban, mata Zavier menjadi berbinar jengkel, menatap ke arah pacarnya itu yang terus terkekeh geli dengan mulut yang digembungkan, berusaha untuk tidak meledakkan tawanya lebih keras lagi.


Zaviera mendengus tidak senang ketika Andrew memandanginya dengan sorot tidak percaya. Melipat bibirnya ke dalam guna menahan rasa malu, Zaviera kembali berucap, "Aku aneh?"


Andrew menggelengkan kepalanya pelan, sebelum tiba-tiba saja pria itu memajukan wajahnya untuk mendekati diri Zaviera.


Tanpa sadar, Zaviera beringsut mundur.


Gadis itu sedikit terpana, memandangi wajah tampan milik Andrew yang sebenarnya sudah ia lihat setiap hari, namun tidak pernah sekali pun ia pernah merasa bosan dengannya.


Alis matanya yang tampak tebal, hidungnya yang mancung, mata hitam kelamnya yang selalu bisa menghipnotis Zaviera secara hidup-hidup, dan rahangnya yang terbentuk indah hingga tubuhnya yang tegap serta sedikit berotot.


Pria idamannya.


Ia benar-benar tidak tahu jika takdir yang dimilikinya akan seindah ini.


Tapi, setidaknya itu hanyalah masa-masa suramnya, sampai tiba-tiba saja seorang pria datang dan bekerja sebagai anak buahnya yang baru. Pria itu tanpa sadar telah mengubah sikapnya selama ini, dan Zaviera benar-benar mengakui jika ia telah jatuh cinta kepada Andrew.


Andrew miliknya, dan pria itu tetap akan menjadi miliknya sampai kapanpun.


"Kau... melamunkan apa?" Suara bariton milik Andrew terdengar, membuat Zaviera sedikit terlonjak kaget pada tempatnya. Mengerjap, ia memfokuskan pandangan ke arah Andrew.


Pria itu tengah tersenyum manis.


Zaviera semakin merona tanpa sadar. "Gila!?" gumamnya dan tersenyum miring. Senyuman yang selalu penuh makna dan rahasia.


Menyatukan kedua alisnya, Andrew malah beringut mundur, tiba-tiba takut dengan tatapan Zaviera.


Glek. Dia mau apa?


Keadaan mereka terbalik. Andrew yang tadinya mencondongkan badannya ke arah Zaviera langsung beringsut mundur, sementara gadis bermata coklat itu memajukan tubuhnya dan tersenyum penuh misteri.


"Sepertinya aku tidak memerlukan ijin darimu," ucap Zaviera, dan di detik selanjutnya, gadis itu langsung mempertipis jarak mereka berdua. Ia tersenyum manis, lalu hendak menempelkan bibirnya ke bibir Andrew yang sedikit merah, hingga...


Bruk!


Kursi yang diduduki oleh Andrew tertarik jauh ke arah belakang, membuat pria itu yang belum siap akan serangan mendadak tersebut refleks terjatuh ke atas lantai.


Suara bokong yang beradu dengan lantai keramik berwarna putih sukses membuat Andrew seketika menjadi bahan tontonan. Seluruh kepala yang berada di kafe itu berputar ke arah Andrew, menatap pria yang mengumpat kasar itu dengan heran.


Shit!? umpatnya dalam hati.


Andrew dapat mendengar suara terkesiap yang cukup keras dari arah Zaviera, sebelum mata coklat gadis itu membola lebar menatap ke belakangnya.


Mengaduh pelan, bola mata hitamnya yang kelam itu menatap ke sekitar, mencari-cari sang pelaku dengan amarah yang meluap-luap. Andrew berdiri dengan bokong yang terasa panas ketika tiba-tiba saja sebuah tangan kekar langsung mencekik lehernya dari arah belakang.


Andrew tersedak hebat. Ia meronta-ronta meminta untuk dilepaskan saat merasakan tangan itu semakin mengetat hingga membuatnya terasa akan mati di tempat.


"Lepas!!" Andrew berteriak dengan susah payah. Kedua kakinya menendang kesana kemari dengan brutal, meminta sedikit belas kasihan kepada sang pelaku.


Parfum ini... tangan kekar ini... Andrew benar-benar mengingatnya.


"Aku akan melapor kepada Mom bahwa kau tadi hendak berniat untuk memperkosa adikku!?!" Suara bariton itu berujar dengan nada yang jijik.


Zaviera spontan saja bangkit dari tempat duduknya, sementara kedua tangannya sudah terkepal dengan erat. "LEPASKAN ANDREW!" teriaknya histeris sambil menatap penuh permusuhan kepada Zavier.


Namun, bukannya mendengarkan, Zavier malah mencebik dan semakin mengetatkan cekikannya kepada Andrew, membuat napas pria itu mulai terputus-putus karena pasokan oksigen di paru-parunya menipis secara perlahan.

__ADS_1


"Zavier! Ampun! Aku minta maaf!" raung Andrew yang benar-benar mulai kesakitan dengan aksi Zavier. Ia melolong meminta belas kasih.


Mendengar itu, Zavier menatap datar ke arah Andrew. Wajahnya perlahan mendekat, membisikkan sesuatu kepada Andrew dengan nada dingin. "Aku... tidak akan pernah memaafkanmu."


Glek.


Andrew menelan ludahnya. Lidahnya tiba-tiba terasa kelu untuk berucap ataupun membalas perkataan Zavier. Pikirannya berdering-dering memastikan sesuatu, sementara benaknya mulai menjeritkan sebuah kalimat yang cukup mematikan.


Sang Iblis sedang membalas dendam kepadanya.


Memang salah jika Andrew memutuskan untuk bermain sebentar dengannya.


***


"ZAVIERA!" Pekikkan yang cukup membahana terdengar ke seluruh penjuru mansion. Derap langkah kaki yang berjalan dengan menggebu-gebu membuat Zavier yang berada di samping Alicia menampilkan wajah tak berdosanya.


Suasana pada hari minggu yang seharusnya dinikmati oleh para penghuni di dalam mansion terganggu oleh suara jeritan milik Alicia. Wanita itu benar-benar tidak habis pikir dengan tingkah laku kedua anaknya yang pasti akan selalu memiliki cara untuk membuatnya naik emosi.


"Kau mau lari ke mana!?" jerit Alicia tanpa mengurangi langkah kakinya yang semakin bergerak cepat. "SINI! Jelaskan pada Mom apa maksud dari foto ini!"


Alicia mencengkram erat benda tipis yang sedang di genggamnya, lalu menggertakkan giginya menahan kesal. Cahaya dari ponsel milik Alicia itu memancarkan sesuatu, dan sudah pasti jika sesuatu itulah yang membuat Alicia kesal seperti sekarang ini.


"ZAVIERA!?"


Zavier terbahak dalam hati, walau wajahnya masih menampikan raut wajah yang polos dan tak berdosa. Sedikit tergopoh-gopoh mengikuti langkah kaki Mommynya, Zavier akhirnya berhasil menyusul langkah Alicia.


"Mom, santai," ujar Zavier saat melihat mommynya celingak-celinguk untuk mencari anak gadis satu-satunya itu.


Menyatukan kedua alisnya dengan heran, Alicia menoleh dengan amarah yang menggebu-gebu. "BAGAIMANA AKU BISA SANTAI KALAU KAU SENDIRI YANG MENUNJUKKAN GAMBAR INI PADAKU!?"


Zavier tergelak dan mengerucutkan bibirnya sebal. "Seharusnya mommy tidak boleh protes," sahutnya dan melirik sekilas ke arah gambar itu. "Padahal aku sudah memprotet gambar itu secara susah payah."


Namun, berbanding terbalik dengan wajah polos yang ditampilkannya, Zavier terbahak-bahak jahat dalam benaknya. Ia menatap ke arah gambar yang baru ia kirim ke mommynya tadi, lalu mengulum senyum menahan tawa.


Bahkan orang bodoh dan orang sakit jiwa pun tahu jika itu adalah gambar sepasang sejoli yang sedang berciuman.


Anak buahnya memang benar-benar bisa diandalkan dengan baik. Sudut pandang yang diambil dari segala sudut membuat Zavier dapat memilih gambar yang lebih bagus. Bukankah dia hebat?!


Alicia mendelik tajam dan spontan menghentikan langkahnya. "What!? Dan kau sekarang berbangga hati karena telah berhasil memotretnya?!" Alicia mencibir. "Seharusnya kau juga turut cemas terhadap adikmu itu!!"


***


Zavier memelankan langkahnya begitu dirinya sampai di depan pintu berwarna putih. Suasana hatinya yang tadinya masih baik-biak saja berubah menjadi mendung karena terkena omelan mommymya tentang Zaviera, dan mungkin hanya Shella-lah yang bisa membuatnya cerah kembali.


Yang benar saja!? Ia bahkan telah dicam sebagai kakak yang tidak bertanggung jawab karena telah membiarkan Zaviera berciuman dengan Andrew. Alicia juga mengatakan jika semua itu terjadi karena kesalahan Zavier yang sangat fatal.


Ugh! Zavier benar-benar tidak bisa menerima ini. Sungguh tidak adil! Zaviera benar-benar seorang perempuan yang penuh dengan masalah.


Celingak celinguk untuk mengamankan situasi, pria itu kemudian bergerak membuka pintu berkayu itu secara perlahan. Hal yang sama juga ia terapkan saat menutup pintu itu, agar aksinya ini tidak dapat membangunkan seorang wanita yang sedang tertidur pulas di atas ranjang.


Zavier berbalik, lalu tercengang ketika menyadari jika wanita itu ternyata sudah duduk di atas ranjang dengan sebuah buku novel yang sedang dibacanya. Kacamata bulat membingkai wajah polos milik Shella yang menunjukkan raut serius.


Terlalu serius sampai tidak menyadari jika ada orang lain yang telah masuk ke dalam kamar.


Berdeham sejenak guna untuk memancing kekonsentrasian Shella, Zavier berkacak pinggang. Ia juga dapat menyimpulkan jika Shella sudah terbangun dari tadi bahkan sebelum ia masuk ke dalam kamar.


Seperti yang telah Zavier prediksikan, wajah cantik itu terangkat dari buku yang sedang dibacanya, lalu menoleh ke arahnya dengan tatapan tanda tanya.


"Kapan kau masuk?" Dahinya berkerut heran. Shella menutup buku novel setelah menandai batas halamannya dengan menggunakan pembatas buku, kemudian bergerak menaruhnya di atas nakas.


Zavier berjalan mendekat dan menyimpulkan senyuman manis. Pria itu naik ke atas ranjang, lalu menyandarkan kepalanya ke bahu Shella setelah mengecup singkat bibir wanitanya. Mata coklatnya terpejam lelah.


"Aku lelah."


Zavier dapat merasakan gerakan kecil dari sebelahnya, sebelum sebuah pelukan yang cukup hangat mendarat di perutnya. Lelaki itu terkekeh.


"Oh, ya? Tapi, bukannya kau tidak pergi bekerja hari ini? Bahkan aku sempat mengira jika kau tadi baru saja mengusili Zaviera," gumam Shella aneh. Ia mengelus rambut coklat milik Zavier seraya menatap lurus ke arah prianya.


Well, tidak mungkin jika Alicia tadi menjerit dengan suara kerasnya sampai seluruh penghuni di dalam mansion ini menggelengkan kepala tanda tidak percaya. Jelas sekali jika suara jeritan itu menembus ke balik dinding kamar ini hingga membuatnya harus terbangun dari tidur nyenyaknya.


"Kau tidak bohong, kan?" cetus Shella tidak yakin. Salah satu alisnya terangkat tinggi.


Mau tidak mau, Zavier akhirnya terkikik dengan keahlian Shella yang mampu membaca situasi yang sedang melandanya. "Kurasa perkataanmu itu benar."


Shella langsung menjitak dahi Zavier dengan kuat hingga membuat pria itu membuka matanya dan mengaduh, sebelum mendengus sebal.


"Kenapa lagi dengan kalian?!" ketus Shella dengan kesal.


Zavier mendongak, menatap Shella dengan mata polosnya. Setelahnya, ia menegakkan tubuh dan melipat kedua tangannya di atas dada.


"Jangan marah-marah, Baby. Itu tidak baik untuk bayi yang sedang berada di dalam perutmu itu. Aku tidak mau jika bayiku nanti akan menjadi pemarah sepertimu."


Shella mendelik tajam. "Apa! Bayi kita Zavier, bukan hanya bayimu," ralatnya tidak senang.


Zavier kembali terkikik. "Okay, okay. Bayi kita!"


Seakan tiba-tiba teringat sesuatu, Shella menyisir rambut panjangnya dengan menggunakan kelima jarinya gusar, lalu berdeham. "Gara-gara nafsu bejatmu itu, aku tidak diperbolehkan untuk kuliah lagi," serunya dan memayunkan bibirnya ke bawah. "Sialan!"


Wajah Zavier berubah menjadi cerah seketika. Entahlah, ia sama sekali tidak merasa sedih, meski Shella sangat-sangat kesal dengan nafsunya saat sedang berada di rumah sakit waktu itu. Bahkan perempuan itu sempat mengumpat kasar kepadanya.


"Jangan membahas itu lagi." Senyuman Zavier semakin cerah saja. "Lagipula kita akan segera memiliki bayi yang imut dan lucu sepertiku nanti."

__ADS_1


"Seperti kita, Zavier. Ini bukan hanya bayimu," ralat Shella yang mulai gemas dengan tingkah laku pacarnya.


"Ya, ya. Bayi kita. Aku tidak mungkin bisa membuat bayi itu sendirian," kekeh Zavier, lalu terbahak lepas dan menghindar diri ketika melihat Shella yang hendak mengetuk kepalanya dengan kepalan tangan.


__ADS_2