My Dangerous Boy

My Dangerous Boy
Part 106 - Are We Lose? (1)


__ADS_3

"SEKARANG!" jerit Andrew pada akhirnya.


Tubuh Shella sontak terpaku di tempat, sebelum mata birunya mengerjap sekali layaknya orang *****. Ia menatap bingung ke arah punggung Andrew, membuat pria yang berada di depannya hanya mendesah kesal.


Bahkan ia sudah mengatakan kode itu dengan lantang sampai membuat Franklin sendiri terkesiap mendengarnya, namun Shella kenapa malah mengulur-ulur waktu seperti ini? Harap sabar, Andrew!


"Lari, Shella lari!" teriak Andrew. Ia tak peduli lagi dengan kode-kode ataupun gadis itu terkejut karenanya, sebab apa yang Andrew pikirkan sekarang adalah membawa Shella kabur terlebih dahulu dari keadaan berbahaya seperti ini.


Dengan otak yang buntu, Shella hanya memekik begitu dirinya melayang ke atas dan akhirnya berakhir di dalam bopongan Andrew. Pria itu menatapnya dengan kesal, sebelum Shella dapat merasakan guncangan yang hebat karena Andrew berlari menuju ke pintu keluar.


Pria itu kemudian bergerak kesana kemari, menghindari beberapa peluru yang ditembakkan ke arahnya. Tapi, karena ia terlalu sibuk memikirkan keadaan Shella, sebuah peluru melesat cepat menuju ke lengannya dan menggesek kulitnya hingga berhasil membuatnya mengeluarkan setitik darah. Ia meringis pelan.


Oh, shit!


Shella terbelalak dan tergagap pelan. "Andrew tanganmu--"


"Diamlah, Shella. Aku masih kesal denganmu," sela Andrew yang sepertinya tidak peduli dengan luka itu. Beruntungnya peluru itu hanya tersampir dengan kulitnya dan bukan menembus tepat ke arah jantungnya, yang mungkin saja bisa membuat dirinya untuk langsung terbujur kaku di tempat.


"Aku akan menyusulmu nanti." Andrew mendobrak pintu lusuh itu dengan tubuhnya hingga membuat benda itu runtuh seketika. Bahkan para penjaga yang menjaga di pintu luar tersebut langsung terkejut dan berusaha untuk menghentikan aksi Andrew.


"Bagaimana dengan pacarmu?" tanya Shella, sebelum Andrew bergerak cepat menurunkan dirinya dari gendongan.


Andrew menggeram gemas. Perempuan cerewet. "Jangan khawatirkan aku. Sekarang, lari menjauhi tempat ini sesegera mungkin!"


Shella menatap tepat ke arah mata milik Andrew dan ia dapat menemukan kilatan serius di dalam sana. Ia menghela napas pelan.


Lalu, matanya beralih menatap ke arah para musuh yang berada di belakang dan tampak sedang mengejar mereka, sebelum kedua kakinya secara otomatis terkayuh meninggalkan tempat itu. "Jangan mati," seru Shella begitu saja hingga tubuh mungil itu menghilang di balik pepohonan.

__ADS_1


Andrew tersenyum nanar. Setelah merasa keadaan Shella sudah aman, ia kemudian berbalik dengan wajah yang berubah menjadi datar.


Hingga kemudian, belum sempat Andrew berbicara sepatah kata pun, sebuah peluru yang ditembakkan ke arahnya melesat cepat dan langsung menembus tepat ke arah perutnya, membuat ia spontan terbatuk-batuk dan terjatuh di atas tanah. Pria itu tidak sempat menghindar ataupun mengelak apa yang baru saja terjadi.


Andrew merintih dan memegangi perutnya yang mulai terasa panas. Matanya bergerak menatap tajam ke arah Franklin yang terlihat sudah berdiri di depannya dan tengah menyeringai melihat kesakitannya.


"Jangan mati! Aku masih ingin menyiksamu lagi," bisik Franklin dengan senyuman mencemooh. Andrew lalu dapat melihat mata Franklin bergerak menatap ke arah sosok Shella yang sedari tadi sudah menghilang di balik pepohonan, sebelum menyeringai.


Sementara itu, Zaviera yang berada di belakang hanya membulatkan matanya penuh, sebelum kembali memberontak meminta untuk dilepaskan.


"******** kalian, lepaskan aku! Membusuklah kalian di neraka! Aku benar-benar akan memastikan kalian--"


Plak.


Satu tamparan mendarat di pipinya hingga rasa panas itu menjalar ke mana-mana. Zaviera bergerak memegangi pipinya yang terasa panas, namun gerakannya berhenti kala ia baru menyadari bahwa dirinya sedang dipegang dengan erat saat ini.


The hell...


Ia menoleh cepat ke arah samping dan langsung menemukan bahwa ada seorang pria yang sedang menusukkan sebuah cairan asing dari jarum suntik ke arahnya. Zaviera sontak meringis.


Matanya tiba-tiba memburam sesaat, sedangkan kepalanya langsung terasa pusing. Gadis itu oleng ke kiri, namun lengannya yang ditahan membuat dirinya harus berdiri lagi dengan terpaksa.


Samar-samar, ia dapat melihat Franklin kembali berjalan ke arah Andrew yang sudah terkapar tidak berdaya di atas tanah, sebelum sesuatu yang seperti cairan disuntikkan ke arah leher lelaki itu.


Dan setelahnya, semuanya menjadi gelap.


***

__ADS_1


"Bagus sekali, Zavier," oceh Aron dengan nada yang datar. Ia menoleh ke arah samping, menatap ke arah pria yang tengah diikat di rantai dengan keadaan yang nyaris sama dengannya. Menyedihkan dan mengenaskan.


Yang ditatap hanya terdiam.


"Jadi, setelah semua waktu yang telah kukorbankan hanya untuk menolong Shella, kau malah menyerah begitu saja di dalam pertengahan jalan," tambah Aron lagi. Tangan pria itu yang tadinya hendak memijat kepalanya yang terasa pusing itu berhenti kala suara gemericit rantai yang diikat di tangannya berbunyi.


Aish, ia benci diikat seperti ini. Kedua tangan mereka yang tengah diikat di atas dan dihubungkan ke sebuah besi dengan kaki yang menapak lantai serta harus berdiri paksa seperti ini. Shit, ia capek.


Zavier akhirnya menoleh ke arah Aron dengan tatapan tajam. "Aku tidak memiliki pilihan yang lain lagi. Dia mengancam akan membunuh Zaviera dan kau tahu itu," desisnya, lalu mengumpat kasar ke arah udara.


Aron memutar kedua bola matanya. "Apa kau yakin Shella sudah selamat saat ini?" tanyanya.


"Aku tidak tahu, tapi kuharap iya."


Aron spontan mencebik jengkel. Ia menghela napas ke udara, sebelum memejamkan matanya sejenak. "Kenapa kau tidak memberitahuku tentang temanmu yang bernama Andrew itu?" desisnya kesal.


"Itu tidak penting. Aku hanya takut kalau kau akan mengacaukan seluruh rencanaku yang sudah kususun sejak lama ini."


"Tapi, setidaknya kau harus berbagi rencanamu sedikit padaku. Kau tahu, aku tadi bahkan akan menjadi orang gila kalau saja kau tidak memberitahu bahwa Shella sudah bersama orang yang aman saat ini."


Zavier menoleh. "Semoga saja semua rencanaku berjalan dengan lancar. Yang harus kita pastikan saat ini adalah Andrew dan Shella kabur terlebih dahulu, sehingga kita bisa dengan tenang memutuskan untuk menyelamatkan Zaviera dan keluar dari sini secepatnya."


Sepersekian detik setelahnya, suara pintu yang dibuka terdengar, membuat Zavier memalingkan mukanya ke arah depan untuk melihat siapa yang masuk ke dalam ruangan ini.


Franklin. Pria kelebihan lemak ini.


Tapi, ternyata bukan hanya Franklin. Zavier tanpa sadar menyipitkan matanya ketika melihat ada beberapa bayangan orang yang terbentuk secara samar-samar di belakang pria itu.

__ADS_1


Bayangan itu kian mendekat, hingga akhirnya Zavier dapat melihat dengan jelas siapa saja orang-orang itu.


Zaviera dan Andrew.


__ADS_2