My Dangerous Boy

My Dangerous Boy
Part 75 - Dangerous Boy (2)


__ADS_3

PRANG


Tiba-tiba saja, suara piring yang terjatuh terdengar keras di dalam dapur, membuat Zavier hanya mendengus kesal. Ia menatap lesu ke arah kepingan-kepingan piring yang sudah pecah itu, sebelum bergerak mengambil sapu dan menyapunya hingga bersih.


Setelahnya, Zavier kembali melirik ke sekitar dapurnya yang sudah tampak sangat berantakan.


Piring-piring kotor yang tertumpuk di dalam wastafel, beberapa sendok makan serta pisau yang menyebar ke seluruh penjuru dapur, dan di atas meja juga terdapat saus pasta yang berjatuhan.


Mengerikan sekali...


Ia kemudian menoleh ke arah tong sampah, lalu bergidik ngeri ketika melihatnya. Entah sudah berapa banyak piring dan gelas yang ia pecahkan dalam beberapa menit ini. Bahkan tempat sampah itu langsung terisi penuh hanya dengan kepingan-kepingan kaca.


Well done, Zavier.


Sial, ini hanya demi sepiring pasta, ralat, dua piring pasta yang akan Zavier sajikan. Padahal, pria itu sudah membeli terlebih dahulu makanan ini, sehingga apa yang harus ia lakukan sekarang hanyalah memanaskannya kembali.


Well, ia tidak memasak, hanya memanaskan makanan yang dibelinya saja. Namun, lihatlah keadaan dapurnya setelah Zavier selesai pakai dalam beberapa menit. Sungguh hancur dan berantakan.


****, ini semua gara-gara dua piring pasta itu.


Zavier tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi babynya nanti ketika melihat hal ini.


Oh, tidak-tidak, ini bukan salah pastanya, tapi salah dirinya sendiri.


Geez... jujur saja, Zavier sebenarnya ingin memikat Shella melalui makanan ini. Ia tahu jika perempuan itu menyukai makanan-makanan pasta seperti ini, sehingga Zavier memutuskan untuk membelinya, kemudian menghidangkannya di depan Shella.

__ADS_1


Tidak, maksudnya, ia membeli pasta itu, kemudian membawanya pulang. Dan setelahnya, saat Zavier telah berhasil mengajak Shella ke apartemennya, ia sendiri akan memanaskan pasta itu kembali.


Jadi, inti dari semua itu adalah, ia harus membuat Shella berpikir jika inilah dirinya. Pandai memasak pasta dan juga makanan apapun, walau padahal hal itu tidak nyata.


Out of all, Shella tidak mungkin akan terpikir jika Zavier hanya memanaskan makanan ini, bukan memasaknya, kan?


Oh, lord...


Zavier tiba-tiba tersenyum tipis, ketika menyadari bahwa dirinya telah selesai memanaskan dua piring pasta ini. Senyumannya semakin diperlebar saat melihat pasta yang ia panaskan sudah disusun dengan rapi.


Aku benar-benar adalah seorang pria yang sungguh romantis. Wait for me, baby. Kau pasti akan menjadi milikku sebentar lagi, batin Zavier dan memuji dirinya sendiri.


Berharap saja Shella terpikat dengan pesona pasta ini!


Wait... pesona pasta? Kau gila, Zavier.


"Ada apa Zavier? Apa yang sedang kau lakukan di dalam sana?" Tiba-tiba, suara yang sangat ia kenali itu menyapa gendang telinganya, membuat pria itu yang tadinya sedang tersenyum langsung mengubah wajahnya menjadi raut wajah yang terkejut.


"Zavier!" Suara itu terdengar semakin dekat dengan dirinya. Zavier panik, ia menoleh ke sekitar, lalu mendesah kesal karena dapurnya masih berantakan dan dirinya belum sempat untuk membersihkan hal ini.


"Jangan ke sini, Shella!" ucap Zavier histeris. Pria itu melepaskan celemek yang sedang ia pakai dengan gerakan cepat, lalu bergerak keluar dari dapur.


Dari jauh, Zavier dapat melihat kepala Shella yang sudah melongok dari balik dinding, membuat pria itu semakin mempercepat langkahnya dan menuju ke perempuan tersebut.


Ia kemudian menghalangi pandangan perempuan itu yang tampaknya sudah sangat penasaran dengan apa yang dirinya lakukan. Zavier beralih menutup mata Shella dengan menggunakan salah satu tangannya, lalu berbisik.

__ADS_1


"Jangan ke dapur, baby," ucapnya dan menangkup seluruh wajah Shella dengan menggunakan satu tangannya lagi.


Namun, gadis itu malah menggeser telapak tangan Zavier yang sedang menutupi matanya dengan risih, lalu mengernyit heran.


"Kau kenapa di dalam sana? Apa ada peperangan? Sepertinya dari tadi aku terus mendengar suara kaca yang pecah," ujar Shella dan langsung menatap ke arah mata coklat milik Zavier.


Pria itu menghela napas pelan. "Tidak ada peperangan apapun di dalam dapur. Kau hanya perlu menunggu dan duduk di manis di atas sofa itu saja," balas Zavier dan tersenyum, tapi ternyata hal itu masih tidak mampu untuk menutupi rasa penasaran dari Shella.


Gadis itu memegang salah satu tangan Zavier yang sedang menangkup wajahnya, lalu melepaskannya dengan kasar.


"Aku mau melihat--- Hei!"


Perkataan Shella terpotong kala Zavier tiba-tiba saja membopong gadis itu. Wajah cantiknya langsung memerah padam, entah karena malu atau terkejut.


Zavier tersenyum tipis, sebelum melangkahkan kakinya menuju ke ruang tamu. Ia terus berjalan hingga akhirnya pria itu melepaskan tubuh Shella di atas sofa.


"Tunggulah sebentar. Aku akan siap sebentar lagi," ucap Zavier tenang, lalu mencolek hidung mungil milik Shella. Ia terbahak kecil.


"Apa yang kau lakukan!" pekik perempuan itu dan spontan memegangi hidungnya yang langsung memerah akibat aksi Zavier. Ia lantas meringis dan meratapi hidung kesayangannya.


Hidungnya sekarang tampak sangat sama sekali dengan seorang badut yang berulang tahun. Great!


"Aku pergi dulu. Tetaplah di sini dan jangan bergerak sedikit pun," ujar Zavier dan menekan beberapa katanya, menandakan bahwa saat ini ia sedang tidak mau Shella melanggar perintahnya.


Tapi, bukannya mendengarkan, gadis itu malah kembali bangkit dari sofa dan beradu mata dengan Zavier. Ia kemudian melewati pria itu begitu saja.

__ADS_1


"Tidak! Aku masih ingin melihat apa yang kau lakukan di dalam dapur. Aku sedikit curiga pada kelakuanmu dan--- ZAVIER!"


Suara Shella yang tenang lantas berubah menjadi pekikan yang keras. Ia merasakan tubuhnya melayang sesaat, sebelum tiba-tiba sebuah tangan yang kekar menangkup wajahnya dengan sedikit kasar dan di detik selanjutnya, ia dapat merasakan jika bibirnya didaratkan oleh sebuah ciuman yang panas.


__ADS_2