My Dangerous Boy

My Dangerous Boy
Part 64 - My Twin (1)


__ADS_3

"Zaviera?"


Wanita itu berdecih sesaat, sebelum melepaskan tangan Zavier yang sedang mencengkram tangannya. Pria itu terlihat masih menegang pada tempatnya, membuatnya berhasil untuk langsung melarikan diri dengan mudah sebelum para polisi datang untuk menangkapnya.


"Tunggu--" ucap Zavier terpotong. Ia celingak-celinguk, mendapati bahwa wanita itu telah menghilang dari hadapannya dengan cepat.


Sial, rutuknya dalam hati. Zavier menoleh ke arah belakang, lalu menghela napas lega saat para polisi masih belum sampai di tempatnya.


Langsung saja ia menuju ke bagasi untuk mengeluarkan sebuah botol yang berisi dengan minyak, membuka tutupnya dan menyiramkan cairan itu ke mobilnya hingga habis tidak tersisa.


Setelah itu, Zavier kembali memasukkan botol kosong tersebut ke dalam bagasi. Ia kemudian berjalan ke depan mobil dan membuka pintu bagian depan. Pria itu mengambil korek api yang selalu ia simpan di dalam dashboard, kemudian membuka api kecil dari benda itu, sebelum melemparkannya ke arah mobilnya sendiri.


Beginilah caranya ia menghilangkan seluruh jejaknya, yaitu membakar habis barang-barangnya. Bukan hanya mobil ferrari kuning miliknya saja, bahkan benda lain seperti pabriknya, rumahnya, beserta mobil mahalnya yang lain sudah pernah bergabung dengan kobaran panas tersebut.


"Zaviera, kau bukan?" gumam Zavier dan menyebutkan nama itu sekali lagi. Namun, setelahnya, ia langsung menggelengkan kepalanya beberapa kali, berusaha mengusir nama gadis itu di dalam kepalanya.


Ia melangkahkan kakinya menuju ke dalam semak-semak, lalu berjalan dan menghilang di balik rumput liar itu. Setelah merasa tempatnya sudah cukup aman, Zavier mengeluarkan ponselnya dari saku celana dan mendial nomor seseorang.


Tak butuh waktu yang lama, pada dering kedua dari telepon itu, seseorang sudah mengangkatnya dengan cepat di seberang sana.


"Aku butuh bantuanmu sekarang."


Suara kekehan geli terdengar, membuat Zavier langsung merutuk kesal pada tempatnya.


"Oh, oke. Kau sedang berada di mana?"


Zavier mencebikkan bibirnya. "Jangan berpura-pura tidak tahu dimana aku berada. Aku tahu kau sedang berada di sekitar sini!" pekiknya sebal.

__ADS_1


"Darimana kau tahu?"


"Sudahlah, jangan banyak berbasa-basi. Aku tahu kau sedari tadi sedang melacakku melalui ponsel milikku."


Terdengar suara decakan dari seberang sana.


"Ck, kau pandai juga. Aku akan berada di tempatmu dalam waktu 5 menit. Tunggulah sebentar," kekeh suara itu lagi dari seberang sana.


***


"Hei, ada apa?" tanya Aron dan melambaikan tangannya ke arah Zavier yang terlihat sedang memasang muka masamnya.


"Aku butuh bantuanmu," ujar Zavier dengan sedikit enggan.


Aron terkekeh geli. "Kita bicara di dalam mobil saja."


Zavier beranjak dari atas tanah yang baru saja ia duduki. Ia memberengut jengkel, sebelum membuntuti Aron dari arah belakang.


"Entahlah," jawab Aron singkat.


Zavier mendengus. "Sejak kapan kau mengenaliku?"


"Aku--" Aron tampak berpikir sejenak. "Sepertinya sejak Shella memperkenalkanmu sebagai pacarnya," lanjutnya dengan sedikit menekan nada kalimatnya.


Zavier memiringkan kepalanya sedikit, merasa sedikit aneh dengan pengakuan Aron. Kalau begitu, apa yang diketahui oleh lelaki itu? Bahkan baru beberapa hari ini Zavier mengenal Aron.


"Bagaimana kau bisa mengetahuinya?" tanya Zavier.

__ADS_1


"Aku adalah seorang hacker. Dan Zavier, sepertinya kau harus mengganti keamananmu lagi karena aku bisa menembusnya dengan mudah. Aku tahu semuanya tentangmu sebab hal tersebut sudah ada di dalam biodatamu."


What? Hacker?


"Oh!" sahut Zavier sedikit terkejut. Tapi, dengan sigap ia langsung berusaha menetralisirnya, agar imagenya di depan Aron masih ada. "Jadi apa yang kau ketahui tentang masa laluku?"


"Aku tahu sedikit mengenai Zaviera."


Zavier menoleh ke arah Aron tanpa sadar, lalu menatap ke arah pria itu dengan serius.


"Zaviera?"


"Iya. Dan juga, aku sempat melihat aksimu tadi. Kau lumayan hebat dalam hal itu."


Zavier seketika menggerutu dalam hati, merasa kesal karena merasa Aron kepo dalam segala hal. Lihat, pria itu bahkan tahu apa saja yang ia lakukan hari ini. Sepertinya Zavier tidak memiliki harga diri lagi di depan Aron. Bayangkan saja, masa seorang ketua mafia yang malah distalk oleh orang kaki tangan ayahnya.


Sepertinya saat mandi pun, Zavier harus menutup semua dinding kamar mandinya dengan ketat. Tentu saja ia harus sedikit menjaga privasi. Sangat lucu sekali jika tiba-tiba keesokan harinya, Aron mengetahui seluruh detail tubuhnya, bahkan sampai ke berapa besar "miliknya". Yah...


Tidak boleh, Zavier masih perawan. Cuma Shella saja yang boleh melihatnya.


"Aku tidak menanyakan tentang tadi. Yang aku tanya sekarang, apa wanita tadi memang Zaviera? Aku masih tidak yakin dengan hal tersebut."


Aron melirik jengkel ke arah Zavier. "Aku tidak tahu tentang hal itu. Tadi, aku tidak sempat melihat wajah wanita itu. Dan tunggu, bukankah dia sudah meninggal?"


Zavier mengernyit, lalu menghela napas kesal. "Jadi kau benar-benar tidak mengetahui apapun?"


"Kau meragukanku? Oke, baiklah. Akan kuberi tahu sekarang."

__ADS_1


"Ya sudah, apa yang kau ketahui tentang hal ini?"


Aron tampak menarik napas panjang, sebelum mengeluarkannya secara perlahan. Ia melirik ke arah Zavier yang tampak sedikit menegang pada tempatnya. "Sebenarnya, aku masih menyelidiki tentang kematian saudaramu yang sangat tidak wajar itu. Kurasa, keluarga kalian terlalu cepat untuk menyimpulkan kematian tersebut."


__ADS_2